
Naufal tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi itu. Ia sangat bahagia karena, biasanya Pelangi Arunnika Rahmany jika sedang dibonceng motor olehnya pasti tidak mau berpegangan dan bersentuhan langsung dengannya secara sengaja.
"Sedari dulu selalu kaku seperti ini jika aku bonceng," gumamnya Naufal.
Naufal segera menarik tangannya Kejora lalu melingkarkan tangannya di pinggangnya itu.
"Seperti ini caranya kalau dibonceng sama aku!" Teriaknya Naufal yang harus berteriak dengan mengeraskan suaranya agar Kejora mendengar apa yang dikatakannya.
"Kenapa aku merasa beberapa hari belakangan ini Pelangi seperti orang yang berbeda, tapi dari semua itu aku sangat menyukai sikap dan perilakunya Pelangi, semoga setelah ini aku lamar,ia bersedia menikah denganku karena rencananya sepulang dari makam Mama aku akan melamarnya langsung," batinnya Naufal.
"Pak Naufal, masih jauh enggak dari makam mamanya pak Naufal?" Tanyanya Kejora yang berteriak kencang agar suaranya sampai ke telinganya Naufal dengan baik.
"Aahh apa!?" Tanyanya Naufal yang pura-pura tidak mendengar perkataan dari Kejora Aysila Mandala Jauhari.
Kejora segera mendekatkan wajahnya ke telinganya Naufal walaupun agak ragu,tapi demi menghemat suaranya agar tidak berteriak-teriak seperti sebelumnya ia melakukan itu. Naufal diam-diam tersenyum bahagia melihat tingkahnya Kejora yang menurutnya sangat penurut.
"Pak Naufal yang terhormat yang paling ganteng sedunia apa jarak dari sini ke tempat pemakaman umum masih jauh gak?"
"Tidak jauh lagi, sekitar lima menit lagi kita sudah sampai, sabar yah kamu pasti akan segera bertemu dengan calon Mama mertuamu," jawabnya Naufal dengan senyuman sumringah.
Kejora yang mendengar jawaban dari Naufal seketika raut wajahnya memerah blushing saking bahagianya mendengar perkataan tersebut.
__ADS_1
"Ya Allah… apa maksud dari pak Naufal ngomong seperti itu yah? Tapi aku tidak boleh terlalu terbuai dalam ucapan Pak Naufal karena, nama Pelangi ini hanya status kebetulan aku sandang sedangkan Pelangi yang asli entah kemana orangnya," batinnya Kejora yang sedih memikirkan hal itu.
"Ke, kita singgah di toko bunga depan yah," pintanya Naufal.
Kejora hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari pria yang diam-diam dia sayangi.
"Assalamualaikum, Selamat datang Nak," sapanya sang penjaga toko bunga langganannya itu selama sekitar satu tahun lebih terakhir ini.
"Waalaikum salam Abang Dino, makasih banyak sudah disambut dengan baik," balasnya Naufal.
"Pasti mau ke makam Bu Nining kan?" Terka Dino.
"Kok Abang tahu?! Jangan-jangan Abang adalah cenayang, apa Abang sudah nambah profesi gitu," candanya Naufal.
"Abang Dino memang yang terbaik selalu memerhatiin apapun yang aku lakukan jika datang ke sini," pungkasnya Naufal dengan senyuman khasnya itu.
"Seperti gadis berhijab merah maroon itu yang selalu mengekor di belakangmu, ngomong-ngomong itu pacarmu atau calon istrimu? Cantik Jo orangnya cocok sangat dengan kamu, kalian pasangan yang serasi," pujinya Dino.
Kejora yang mendengar pujian dari penjual bunga itu tersenyum malu-malu, wajahnya langsung merah merona dengan senyuman lebarnya.
"Insya Allah… Abang doakan saja semoga Kejora menerima lamaranku dan bersedia untuk menikah denganku kelak," imbuhnya Naufal.
__ADS_1
"Amin, Abang yakin bahwa dia akan menerima kamu karena dilihat dari gerak geriknya aku yakin dia juga sayang sama kamu kok, lihatlah dari raut wajahnya sudah jelas terlihat jadi kamu tidak perlu takut dan merisaukan jika kamu akan ditolak oleh Nona manis yang sedang menghirup beberapa bunga asli itu yang baunya sangat wangi dipagi hari itu.
"Amin ya rabbal alamin, semoga saja Abang bantu doanya yah," harapnya Naufal.
"Kamu tunggu yah Abang rangkai bunganya dulu, tidak lama kok," jelas Dino.
"Pak bunga-bunganya cantik-cantik yah, kalau dapat bunga secantik dan sewangi ini setiap hari aku pasti sangat bahagia, tapi ngomong-ngomong siapa juga yang akan memberikan bunga untukku, aah ngacau yah pikiranku Pak," guraunya Kejora yang terdapat ketulusan hati meminta dan berharap ada seorang pria yang sukarela melakukan hal itu.
Naufal sama sekali tidak menggubris perkataan dari Kejora yang bernada permohonan itu,ia hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari Kejora perempuan yang sangat ia sayangi itu.
Berselang beberapa menit kemudian, pesanan mereka sudah jadi. Dino memberikan bunga khusus untuk Kejora sebagai bonus karena hari ini pesan bunga yang cukup banyak.
"Bawa ke motor,kamu jalan duluan aku akan nyusul kamu soalnya aku masih mau berbicara sebentar dengan pemilik toko bunga ini," ucapnya Naufal.
"Baik Pak, saya akan menjalankan perintahnya bapak," timpalnya Kejora.
"Abang Dino, mulai besok tolong bawa bunga setiap hari ke kafe untuk perempuan yang sangat aku cintai itu dengan ucapan yang berbeda-beda, ucapannya setiap pagi akan aku kirimkan ke nomor Whatssappnya Abang, tapi bunganya juga beda yah misalnya harus ini bunga mawar kuning, besok untuk plus kartu ucapannya, gimana apa Abang sanggup melakukannya? Ini uang mukanya untuk Abang beserta uang ongkirnya," jelasnya Naufal yang bernada permohonan itu.
Kejora menatap ke arah langit, karena ia berusaha untuk melawan air matanya yang menetes saking sedihnya harus kembali mengingat jika dia bukanlah Pelangi tapi, Kejora perempuan yang kebetulan kabur dari hari pernikahannya karena, tidak ingin menikah dengan pria yang sama sekali tidak dicintainya itu dan juga cacat.
Mesin motornya pun berhenti di depan pintu masuk makam TPU itu, Naufal terlebih dahulu membeli beberapa macam bunga untuk dia taburkan nantinya di atas pusara mama kandungnya itu.
__ADS_1
Sebuket bunga mawar merah dan putih khusus ia belikan untuk mamanya, karena kedua bunga itulah semasa hidup mamanya yang paling favorit di sukainya.