
Bintang sangat bahagia bertemu dengan Erka, entah apa yang dirasakannya sehingga ia merasa sangat bahagia melihat pria yang sudah menjadi tetangganya itu. Bintang segera mengambil tangannya Erka kemudian ia cium dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Om Erka!" Teriaknya Bintang lalu segera berjalan ke arah Erka yang berjalan juga kearahnya dengan langkah kakinya yang lebar dan panjang.
"Bintang, Kejora mana, kok kamu sendirian? Kamu baik-baik saja kan sudah terjatuh?" Tanyanya Erka yang memberondong banyak pertanyaan untuk Bintang seorang.
Sedangkan Bintang dibuat pusing karena kebingungan mau jawab pertanyaan yang mana lebih duluan.
"Ya Allah… kenapa papanya Senja seperti papaku sendiri, andai papa kami juga tinggal dengan kami pasti akan bahagia sekali, tapi sayangnya melihat wajahnya saja sudah lama kami tidak lihat semenjak kami pindah ke Jakarta, hanya paman Angga saja yang selalu ada yang selalu menyayangi kami setulus hatinya," batinnya Bintang dengan tatapan mendamba seorang ayah di hadapannya Erka.
"Aku sangat yakin jika kamu adalah putriku, tapi keyakinan kuatku itu akan terbantu jika aku segera melakukan prosedur tes DNA, jika mamamu terus menghindar dan menolak kenyataan itu dengan terpaksa aku akan menempuh dengan jalur hukum, saya akan menyewa pengacara terhebat di ibu kota Jakarta," Erka membatin.
Mereka saling berpandangan satu sama lainnya dan sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Keramaian hiruk pikuk dari anak-anak yang tercipta di sekitarnya sama sekali tidak mengusik ketenangan pikiran mereka.
"Om Erka mau jemput Senja yah?" Tanyanya Bintang yang spontan memegang kedua tangannya Erka dengan penuh semangat dan tersenyum bahagia.
"Enggak kok, hari ini Senja belum bisa masuk sekolah karena kebetulan masih sakit," jawab Erka.
__ADS_1
"Ooh gitu yah, aku kira adek Senja sudah baikan ternyata masih sakit, saya sama Kejora pengen jenguk Senja Om,tapi mama ngelarang kami untuk menginjak rumahnya Om lagi, Mama sangat marah kalau sampai tahu kami ke sana," jelasnya dengan wajahnya yang memelas.
"Sebaiknya kita cari tempat yang bagus untuk kita tempati berbincang-bincang karena, ada yang ingin Om bicarakan dengan kamu dan ini sangat penting." Imbuhnya Erka lalu berjalan sambil menarik tangannya Bintang menuju tempat kantin sekolah.
Mereka pun berjalan ke arah luar sekolah sesuai petunjuk dari Bintang sendiri yang mengatakan ada tempat makan baru yang tempatnya bagus dan makanannya enak-enak tapi, murah.
Sedangkan di dalam kantin sekolah, seorang anak kecil ngomel-ngomel karena sudah kelaparan menunggu kedatangan kakak kembarnya.
"Ya Allah… Bintang kemana sih? Katanya janjiannya makan di sini tapi, sampai sekarang batang hidungnya enggak muncul juga!" Kesalnya Kejora Aysila Mandala seraya mengaduk-aduk minuman dinginnya itu.
Baru saja ingin berdiri karena ingin melihat apa kakaknya akan segera nyusulnya atau tidak. Tapi, sudut ekor matanya segera melihat kedatangan kakaknya itu dengan seorang pria yang sangat dikenalnya itu.
"Bintang! Aku di sini!" Teriak Kejora dengan tangannya yang sedari tadi melambai dengan memberikan kode kepada saudaranya itu.
Bintang segera bereaksi untuk menarik tangannya Erka agar segera mengikuti langkah kakinya menuju meja yang telah dipilih oleh Kejora.
Kejora segera meraih tangan kanannya Erka lalu ia mencium punggung tangan itu dengan takzim. Kejora merasa ada getaran aneh yang dirasakannya jika berdekatan dengan Erka papanya Senja.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku, aku selalu bahagia dan gembira jika Om Erka di sampingku ataupun di dekatku, apa seperti ini rasanya jika kita memiliki seorang ayah, sebaiknya pulang sekolah nanti aku akan bertanya tentang papa, aku juga ingin seperti Senja dan yang lainnya yang memiliki keluarga lengkap kasihan Mama juga beberapa hari ini selalu sedih dan diam-diam menangis," cicitnya Kejora yang masih berdiri menanti kedatangan Erka dan kakaknya itu.
Mereka sudah duduk saling berhadapan sambil menikmati beberapa makanan yang sudah dipesan khusus oleh Erka untuk kedua putri kembarnya itu.
"Apa kalian ingin pesan lagi enggak?" Tanyanya Erka seraya memperhatikan kedua gadis kecilnya itu yang sudah memperlihatkan kecantikan diusianya yang belum delapan belas tahun itu.
Bintang segera mencegah Erka dengan menaikkan kedua tangannya ke depan wajahnya Erka, "Om, ini sudah banyak loh, tidak usah mesan lagi entar kami gak bisa habisin kan jadinya mubazzir Om, kasihan uangnya sudah susah payah nyarinya tapi, hanya dihamburkan tanpa bermanfaat sedikitpun lebih disumbangkan sama orang yang tidak mampu atau anak-anak panti asuhan saja," tukasnya Bintang.
"Betul sekali Om apa yang dikatakan oleh Bintang, walaupun om misalnya punya banyak uang tapi, kita tidak baik membelanjakan uang dengan barang-barang yang sama sekali tidak kita butuhkan kata mama jangan beli apapun itu jika menuruti keinginan semata tapi harus sesuai dengan kebutuhan yang memang kita butuhkan saat itu," timpalnya Kejora.
Erka tersenyum bangga mendengar celotehan yang bernada menasehati itu. Ia bangga karena anaknya masih kecil tapi, sudah diajari dengan amalan dan perbuatan yang sangat baik dan mencerminkan kedewasaan dalam berbelanja.
"Kalau itu keinginan kalian,Om tidak akan pesan lagi, kalau gitu gimana kalau kita mulai saja makannya karena aku sudah sangat lapar jadi yuk makan, tapi jangan lupa baca doa sebelum makan yah princess!" pintanya Erka.
Kedua gadis kecilnya segera mematuhi apa yang dikatakan oleh Erka, mereka memulai makan siangnya kala itu sebelum bel tanda jam istirahat selesai.
Mereka menikmati dan menyantap makanan yang tersaji di hadapannya ketiga orang beda generasi tersebut.
__ADS_1
"Ya Allah… semoga dugaanku benar adanya jika, mereka adalah anak kembarku," gumam Erka sembari sesekali menyuap makanan ke dalam mulutnya itu.