Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 95


__ADS_3

Najwa duduk di depan meja kerjanya sambil memikirkan apa akan hadir sesuai dengan perkataan dan permintaan dari Pria yang baru dikenalnya itu.


"Bismillahirrahmanirrahim semoga membawa kebaikan apa yang aku lakukan nantinya," batinnya Najwa.


Najwa segera masuk ke dalam kamar mandi yang kebetulan terletak di dalam pojok ruangan prakteknya di rumah sakit. Hanya memoles make up minimalis saja, Najwa Ayumi Arista Rizaldi, tetap tidak menghilangkan kadar kecantikan alami dan naturalnya itu.


Hpnya berulang kali berdering hingga membuatnya si penelpon mengalah dan menyerah," kenapa Mbak Najwa enggak angkat telponnya," omelnya Nagita Ayana Agatha adik keduanya Najwa yang berprofesi sebagai seorang desainer interior itu.


Najwa segera mengendarai mobilnya menuju jalan hotel yang sudah ditentukan oleh Veri Ahmed Ali. Walaupun banyak keraguan, kebimbangan dan ketakutan yang mendera pikiran dan hatinya itu.


Najwa sama sekali tidak membuka hpnya, saking berkonsentrasi mengendarai mobilnya hingga ia tidak menggubris panggilan berulang kali dari adiknya.


Hanya butuh waktu sebentar saja, mobilnya sudah terparkir khusus di tempat parkir khusus tamu hotel. Najwa berjalan ke arah resepsionis hotel untuk bertanya apa benar atas nama pria yang bernama Veri Ahmed Ali Winata.


"Maaf Mbak,apa disini benar ada pria yang menyewa hotel Mbak bernama Veri Ahmed Ali Winata?" Tanyanya Najwa tanpa ragu sedikitpun.


Kedua resepsionis tersebut saling bertatapan satu dengan yang lainnya seraya mengerutkan keningnya mereka, karena asisten pribadi pemilik hotel tersebut ternyata ada seorang perempuan yang masih awet muda di usianya yang sudah hampir dua puluh sembilan tahun itu.


Kedua resepsionis menelusuri seluruh tubuhnya Najwa hingga ke atas ujung rambutnya itu. Mereka belum menjawab pertanyaan Najwa hingga ia harus menunggu beberapa saat kemudian, barulah mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan.


"Benar sekali Mbak ada yang menyewa salah satu kamar kami di lantai empat belas nomor 213," terangnya salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Makasih banyak atas informasinya, thanks Mbak,"


"Sama-sama," balasnya mereka.


Najwa segera beranjak dari meja resepsionis menuju kamar yang sudah disebutkan oleh resepsionis.


"Hey,apa jangan-jangan itu adalah kekasihnya Pak Veri, karena selama saya hampir lima tahun bekerja di sini, baru kali ini ada wanita yang diajak bertemu dengan pak Veri," imbuhnya Naira.


"Betul jigy, saya pun sama, karena Pak Verie selama ini terkenal dengan workholik dan selalu dilihat bersama dengan Tuan Muda Afrizal Rayanza Dirgantara dengan seorang gadis mana pernah,iya yang gak sih," terkanya Vika.


Najwa masuk kedalam lift, dengan perasaan bimbang hingga beberapa kali ia bolak balik keluar masuk lift. Ketakutan dan kecemasan jelas terlihat dari mimik wajahnya itu.


Dia kembali terlihat ragu dan bimbang hal itu terlihat jelas dari sikapnya yang kadang mengangkat tangannya berulang kali untuk mengetuk pintunya tapi,ia kembali mengurungkan dirinya sendiri.


"Sebaiknya aku pulang saja, ini tidak baik untuk kami berdua," Gumamnya seraya berbalik membelakangi pintu itu yang tiba-tiba terbuka lebar.


"Selamat datang, saya kira kamu tidak bakalan datang memenuhi tantanganku, atau kamu hendak pergi lagi karena ketakutan tidak sanggup memenuhi tantanganku ini," ucapnya pria yang berada di belakang punggungnya Najwa.


Najwa tanpa ragu segera berbalik badan dan langsung main nyelonong masuk ke dalam kamar tersebut tanpa sepatah katapun. Veri menyunggingkan senyumnya penuh maksud itu.


"Saya sudah yakin jika kamu pasti akan datang memenuhi tantangan ini," gumamnya Veri yang kemudian menutup rapat pintu itu kemudian mengunci kenop pintunya.

__ADS_1


Najwa mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut, ia tanpa aba-aba langsung melempar handbagnya, lalu membuka seluruh kain yang menutupi dan membungkus sekujur tubuhnya itu. Hanya tersisa beberapa benang yang paling terdalamnya.


Veri tersentak terkejut melihat keberanian Najwa, sedangkan Najwa berjalan ke arah Veri yang berdiri tanpa sepatah katapun, hanya Jakungnya yang naik turun, hingga ia kesusahan menelan salivanya sendiri.


Nafasnya tercekat di pangkal ujung lehernya hingga seolah pasokan udara semakin menipis yang masuk ke dalam hidungnya. Najwa tersenyum penuh arti sambil berjalan mengelilingi Veri yang masih berdiri seperti patung Pancoran saja.


Najwa menyentuh setiap inci kulitnya Veri dengan penuh kelembutan dengan jemari lentiknya itu," kenapa terdiam saja, dimana keberananmu tadi pagi yang menantangku untuk melakukannya agar aku segera ha…," ucapannya Najwa terpotong karena Veri langsung menggendong tubuhnya Najwa ala bridal style.


Veri membaringkan tubuhnya Najwa diatas ranjang dengan penuh kelembutan yang diatas seprei tersebut sudah terdapat beberapa kelopak bunga mawar merah yang sangat cantik, indah dan harum. Dalam hatinya, sudah mulai nampak takut hingga nyalinya yang tadi besar sekarang menciut seketika itu. Tubuhnya pun gemetaran karena mulai ragu dengan apa yang akan dilakukan oleh Veri.


Dengan penuh kelembutan,Veri segera melakukan apa yang sudah hampir membuatnya gila dalam sekejap mata. Pria dewasa yang baru pertama kali melihat langsung dengan mata kepalanya itu.


"Kamu sangat cantik seperti ini, menjadi penurut dan aku berjanji akan membuat kamu akan memiliki keturunanku sekaligus penerus keluarga besar Veri Ahmed Ali Winata," Veri berucap seperti itu ketika berhasil mengungkung tubuhnya Najwa.


"Itu tidak mungkin bisa terjadi karena, saya sudah divonis tidak bisa memiliki seorang anak, ini kata dokter kandungan," tegasnya Najwa


"Ingat baik-baik jika Allah SWT berkehendak dan menghendaki kamu hamil keputusan dokter akan berubah dalam sekejap mata,apa kamu lupa istrinya Nabi Ibrahim as Siti Sarah yang sudah sangat tua, tapi karena kekuasaannya Allah mereka masih bisa punya keturunan," tuturnya Veri.


Baru saja Veri ingin memulai kegiatannya, pintu kamarnya terbuka lebar, masuklah seorang perempuan paruh baya yang sekitar berusia 50an tahun yang hanya terdapat beberapa kerutan saja di bawah kelopak matanya.


"Veri Ahmed Ali Winata!!" teriaknya perempuan itu yang sudah naik pitam melihat tingkah laku putra sulungnya itu dengan seorang perempuan berada dibawah tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2