
Erka prustasi dan ketakutannya mengalahkan tingkat kewarasannya saat itu. Bu Halimah terus mendampingi putra tunggalnya itu dengan berusaha untuk kuat dan tabah."Erka sabarlah Dek, ingat kamu adalah penguat mereka jadi bangkitlah jangan seperti ini," nasehatnya Budi sambil memeluk tubuh adiknya itu.
"Abang bagaimana caranya aku sabar, anakku Bintang tidak tahu gimana kabarnya apa dia masih selamat atau… sedangkan istriku sedang berjuang dimeja operasi dan kemungkinan besar calon bayi kami juga akan…" Erka tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Maaf siapa suami dari pasien yang bernama Rindu?" Tanyanya Dokter.
"Maaf saya Dok, memangnya ada apa Dokter?" Erka menjawab pertanyaan dari dokter sambil berdiri dari duduknya.
"Istri Anda harus segera dioperasi karena kondisinya semakin parah, jadi kami harus segera meminta persetujuan Anda untuk segera mengoperasi istri bapak dan maaf kami tidak bisa menyelamatkan calon bayi Bapak," jelas Dokter perempuan itu.
Erka kembali dibuat semakin hancur, sedih dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Berikan yang terbaik untuk menantuku dokter, suaminya setuju dengan tindakan dokter yang paling penting itu yang terbaik untuk anak kami," timpalnya Bu Halimah.
"Apa rahim istriku harus diangkat, jadi gimana dengan kedepannya dengan istriku? Aku takut jika ia tahu semua ini aku yakin mentalnya akan terganggu," Tanyanya Erka.
"Harus pak karena jika tidak maka akan lebih berbahaya Pak, jadi kami mohon persetujuan bapak secepatnya sebelum terlambat," ujarnya Dokter.
Erka mengelus wajahnya dengan gusar, "Baiklah aku setuju Dokter lakukan saja yang terbaik untuk mereka,"
"Baiklah Pak,"
Dokter pun segera mengoperasi Rindu dan mengangkat rahimnya. Air matanya Erka tak berhenti mengalir di pipinya itu.
"Sabarlah dan perbanyak berdoa meminta kepada Allah SWT yang terbaik untuk istri dan anakmu, Abang juga sedih melihat kamu seperti ini Erka," ujarnya Rizal.
Sedangkan Annisa membantu kelahiran anak pertama Mitha. Karena memang selain membuka klinik dan praktek Annisa juga bekerja di rumah sakit tersebut. Bu Halimah tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan semua anggota keluarganya.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan oleh Rizal benar adanya, jangan merisaukan apapun yang belum tentu terjadi, kamu tetap harus yakin jika Bintang akan secepatnya ditemukan dan Rindu akan segera sembuhkan dari berbagai penyakitnya itu." Terang Budi kakak sepupunya sambil menepuk pundaknya Erka.
"Aku sudah menghubungi polisi kenalanku agar semakin menambah anggotanya untuk mencari anakmu, kami juga sedih Erka kalau kau seperti ini, jadi kamu harus bangkit dan kuat menjalaninya, memang bicara itu mudah tapi, untuk melaksanakannya dan melakukannya sangatlah sulit, tapi jika tidak ada keinginanmu yang kuat maka kamu akan hancur untuk selama-lamanya," ungkapnya Rizal.
Beberapa jam kemudian, Kejora dan Rindu sudah berada di dalam ruangan ICU untuk menjalani observasi setelah melakukan operasi. Sedangkan hingga detik ini, Bintang belum ditemukan juga.
Mitha dengan penuh perjuangan melahirkan bayinya yang berjenis kelamin laki-laki itu dengan selamat. Bayi yang cukup montok, lucu, putih dan tentunya ganteng itu tertidur pulas dalam box bayi.
"Abang gimana dengan kondisinya Mbak Rindu dengan Kejora?" Tanyanya Paramitha.
"Mereka sudah selesai dioperasi dan belum sadarkan diri setelah dioperasi, sedangkan Bintang belum ditemukan apakah dia selamat atau tidak," ujar Edi Prayogo yang sangat sedih dengan nasib malang yang menimpa anggota keluarganya itu.
Mitha menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan hal itu, "padahal tadi pagi mereka masih sempat melihat ketiganya dengan hati yang gembira riang melihat kepergiannya untuk ke Mall.
"Semoga saja Abang Erka kuat yah Abang pasti dia sangat terpukul dan sedih dengan cobaan yang Allah berikan untuk mereka tapi, saya berharap semoga mereka bisa kuat dan sabar menghadapi dan menjalaninya," tutur Mitha yang masih berbaring karena baru saja selesai melahirkan.
Pihak kepolisian menemukan beberapa bukti jika, kecelakaan tersebut adalah murni sabotase dari beberapa orang. Banyaknya bukti yang mengarah ke hal tersebut, sehingga disimpulkan jika kecelakaan maut itu murni karena campur tangan orang yang jahat.
Pelaku utamanya sudah dikejar oleh pihak kepolisian. Mereka sudah masuk kedalam daftar buronan orang yang dalam pencarian polisi. Rindu duduk di atas ranjangnya dengan tatapan kosongnya. Dia sudah mengetahui apa yang terjadi pada calon bayinya dan juga anak sulungnya.
"Tidak!! Pasti ini tidak mungkin terjadi, anakku pasti sedang tidur di dalam kamarnya," teriaknya Rindu di dalam kamarnya.
Erka yang baru saja selesai mandi terkejut mendengar teriakannya istrinya Rindu. Ia segera berlari ke arah ranjangnya.
"Rindu apa yang terjadi padamu sayang? Kenapa meski berteriak tolong katakan pada Abang jika ada yang kamu butuhkan," bujuknya Erka.
Rindu menatap ke arah suaminya itu," Abang aku ingin anakku kembali padaku, aku ingin bertemu dengan Bintang, saya mohon penuhi permintaanku ini aku sangat ingin menggendong bayi kita Abang," rengeknya Rindu dengan linangan air matanya.
__ADS_1
"Ya Allah… apa yang harus aku lakukan ya Allah…" Erka semakin terpuruk dalam tangisnya dengan sedih melihat kondisi dari istrinya yang kondisi mentalnya terganggunya.
"Erka sebaiknya istrimu dibawa ke dokter psikiater khusus," sarannya Bu Halimah.
"Insya Allah… besok aku akan mencoba membawa Rindu ke sana kebetulan aku ada teman yang aku kenal akan membantu Rindu,"
Keesokan harinya Rindu dibawah ke rumah sakit dan diperiksa dengan seksama. Malahan dokter menyarankan agar Rindu dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa.
"Maaf, makasih banyak atas bantuannya tapi, sampai kapan pun saya tidak akan memasukkan istriku ke dalam rumah sakit jiwa," tegasnya Erka.
Semakin hari kondisi Rindu semakin memprihatinkan, semua anggota keluarganya itu turut prihatin dengan keadaan dan ujian yang diterima oleh Erka yang bertubi-tubi.
Erka pulang ke rumahnya dengan hati yang sangat sedih dan juga pusing memikirkan bagaimana caranya agar Rindu Adinda Chandani sembuh total.
"Anakku, bayiku kamu sayang Mama kan Nak," racaunya Rindu.
Apa yang terjadi pada pasangan suami istri itu dilihat langsung oleh Mitha tanpa ada yang memaksanya semua yang akan ia katakan adalah keinginannya sendi yang muncul dari dalam hatinya.
Mitha segera berjalan ke arah kamarnya lalu menggendong bayinya kemudian melanjutkannya perjalanannya ke arah dalam kamarnya Rindu.
"Mbak ini bayinya Mbak sedang tertidur, apa Mbak mau gendong?" Tanyanya Mitha yang sangat sedih melihat kakak iparnya.
Edi Prayogo yang melihat inisiatif istrinya itu tidak mungkin mencegahnya, karena ia juga akan melakukan hal itu sebenarnya hanya belum ia sampaikan niatnya. Rindu melihat bayi mungil yang menatapnya juga membuat Rindu meneteskan air matanya.
"Putranya Mama," cicitnya Rindu.
Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...
__ADS_1