Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 96


__ADS_3

Baru saja Veri ingin memulai kegiatannya, pintu kamarnya terbuka lebar, masuklah seorang perempuan paruh baya yang sekitar berusia 50an tahun yang hanya terdapat beberapa kerutan saja di bawah kelopak matanya.


"Veri Ahmed Ali Winata!!" teriaknya perempuan itu yang sudah naik pitam melihat tingkah laku putra sulungnya itu dengan seorang perempuan berada dibawah tubuhnya.


Seorang perempuan muda mendorong kuat pintu berdaun dua rumahnya itu dengan sekuat tenaga. Ia berjalan tergesa-gesa menuju ke arah lantai dua rumahnya tepatnya kamar kakak sulungnya itu. Tapi, belum sampai naik ke atas tangga ia bertemu dengan Mamanya.


"Mami, apa Mbak Najwa sudah pulang?" Tanyanya Nagita Ayana Agatha yang baru saja pulang.


Bu Annisa yang ditanya segera menolehkan kepalanya ke arah kedatangan anak keduanya itu.


"Sepertinya belum, karena mobilnya belum ada." Jawabnya Bu Annisa yang segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu mencoba mencari keberadaan anak sulungnya itu.


"Oh gitu yah,"


"Kenapa enggak kamu telpon saja nomornya mbakmu?" Usulnya Bu Annisa.

__ADS_1


"Sudah Mi, tapi ngak direspon sedikitpun juga, mungkin kakak punya pasien yang gawat jadi enggak sempat angkat telponku," ujarnya Nagita.


Nyonya Annisa hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari mulut putrinya itu.


Berselang beberapa menit kemudian, Nagita kembali berpamitan kepada maminya karena, hendak bertemu dengan teman lamanya dari luar negeri, sebenarnya bukan sekedar teman lamanya, tapi laki-laki itu adalah mantan kekasihnya yang mengajaknya reunian karena mereka teman satu kampus dulu.


"Baru datang kok langsung pergi lagi Nak?"


Nagita hanya tersenyum nyengir lebar di depan maminya itu," ada urusan yang sangat penting Mi, saya pamit dulu entar teman-teman nungguin lama lagi," ujar Nagita sambil mengecup sekilas pipi maminya itu.


Sedang di tempat lain..


Veri tersentak terkejut melihat keberanian Najwa, sedangkan Najwa berjalan ke arah Veri yang berdiri tanpa sepatah katapun, hanya Jakungnya yang naik turun, hingga ia kesusahan menelan salivanya sendiri.


Nafasnya tercekat di pangkal ujung lehernya hingga seolah pasokan udara semakin menipis yang masuk ke dalam hidungnya. Najwa tersenyum penuh arti sambil berjalan mengelilingi Veri yang masih berdiri seperti patung Pancoran saja.

__ADS_1


Najwa menyentuh setiap inci kulitnya Veri dengan penuh kelembutan dengan jemari lentiknya itu," kenapa terdiam saja, dimana keberananmu tadi pagi yang menantangku untuk melakukannya agar aku segera ha…," ucapannya Najwa terpotong karena Veri langsung menggendong tubuhnya Najwa ala bridal style.


Veri membaringkan tubuhnya Najwa diatas ranjang dengan penuh kelembutan yang diatas seprei tersebut sudah terdapat beberapa kelopak bunga mawar merah yang sangat cantik, indah dan harum. Dalam hatinya, sudah mulai nampak takut hingga nyalinya yang tadi besar sekarang menciut seketika itu. Tubuhnya pun gemetaran karena mulai ragu dengan apa yang akan dilakukan oleh Veri.


Dengan penuh kelembutan,Veri segera melakukan apa yang sudah hampir membuatnya gila dalam sekejap mata. Pria dewasa yang baru pertama kali melihat langsung dengan mata kepalanya itu.


"Kamu sangat cantik seperti ini, menjadi penurut dan aku berjanji akan membuat kamu akan memiliki keturunanku sekaligus penerus keluarga besar Veri Ahmed Ali Winata," Veri berucap seperti itu ketika berhasil mengungkung tubuhnya Najwa.


"Itu tidak mungkin bisa terjadi karena, saya sudah divonis tidak bisa memiliki seorang anak, ini kata dokter kandungan," tegasnya Najwa


"Ingat baik-baik jika Allah SWT berkehendak dan menghendaki kamu hamil keputusan dokter akan berubah dalam sekejap mata,apa kamu lupa istrinya Nabi Ibrahim as Siti Sarah yang sudah sangat tua, tapi karena kekuasaannya Allah mereka masih bisa punya keturunan," tuturnya Beri.


Veri Ahmed Ali!" Teriaknya seseorang dari arah luar kamar.


Najwa segera meraih bedcover untuk menutupi seluruh tubuhnya yang sudah terlihat oleh bundanya Veri. Untungnya keponakannya yang masih anak sekolah menengah atas itu, ia buru-buru menutup matanya.

__ADS_1


"Aline Adita Bahar, cepat tutup matamu dan membalik ke arah tembok," pintanya Bu Sandra Dewi Winata.


Aline Adita yang baru berusia remaja itu, tidak pantas melihat kejadian yang tidak terduga tersebut.


__ADS_2