Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 31


__ADS_3

Keributan yang sempat terjadi di depan kantor Erka segera dibereskan dengan aman dan damai. Kesalahpahaman yang sempat terjadi pun sudah diluruskan dengan baik oleh Budi dan Erka sendiri.


Budi selaku dosen sekaligus kakak sepupunya Erka segera berpamitan dari hadapan kedua pasangan suami istri bucin itu.


"Erka, aku pamit dulu masih ada kelas soalnya," pamitnya Budi.


"Kenapa buru-buru anak-anak juga masih istirahat kok," sanggahnya Erka yang melarang sepupunya itu cepat angkat kaki dari hadapan mereka.


Rindu tersenyum tipis sebelum berbicara," Pak Budi kita makan siang bareng saja disini kebetulan saya masak banyak tadi untuk Abang Erka," ajaknya Rindu yang menawarkan kepada Budi.


Budi menatap ke arah Erka untuk meminta persetujuan, Erka menganggukkan kepalanya tanda setuju, "Tapi, apa aku tidak menggangu nih kalau ikut gabung?"


"Kami sama sekali tidak merasa terganggu kok pak, malahan saya dengan Abang Erka merasa bersyukur karena Pak Budi menyempatkan waktunya untuk mencicipi masakan sederhanaku, kalau Pak Budi tidak keberatan makan makanan rumahan yang sederhana ini," imbuhnya Rindu.

__ADS_1


"Karena kalian sudah memaksa aku berbaik hati dan meluangkan waktu untuk menikmati sajian makan siang masakan adik ipar kalau seperti ini," candanya Pak Budi.


Mereka kemudian berjalan ke arah dalam ruangannya Erka. Rindu sempat terkagum-kagum melihat ruangannya Erka yang sudah mirip dengan kamar hotel bintang lima saja.


Rindu dengan telaten dan terampil menyiapkan makanan itu ke atas piring hingga semua makanan yang sempat berada di dalam rantang susun sudah tersaji begitu cantik dan menggoda selera makan mereka.


Pak Budi sempat terdiam karena terlintas dalam ingatan beberapa kenangan masa lalu bersama istrinya yang sekarang status mereka sudah diambang ujung tanduk.


"Ya Allah… aku sangat merindukan kehadiran Istriku Rara, walaupun kami tidak lama lagi bercerai tapi aku sangat tidak menginginkan hal itu terjadi dalam hidup kami,ya Allah… berilah kami waktu dan kesempatan untuk berkumpul dan bersatu seperti dulu lagi," Budi Rahman Hendrawan membatin.


Erka memberikan kode kepada istrinya untuk lebih mendekat ke arahnya Rindu," nanti Abang akan jelaskan oke," bisiknya Erka


Rindu Adinda Chandani hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari mulut suaminya itu dengan senyuman termanisnya.

__ADS_1


"Makasih banyak Abang sudah membantu istriku untuk menjelaskan kepada mereka semua," ujarnya Erka Mandala Jauhari untuk membuyarkan lamunannya Budi.


Budi salah tingkah karena ketahuan sedang memikirkan kemelut dan masalah dalam biduk rumah tangganya itu, "Ehh, itu tidak apa-apa kok lagian itu sudah menjadi kewajiban aku untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan juga memberikan pelajaran kepada beberapa orang yang telah menyebarkan isu dan fitnah yang tidak benar jadi tidak perlu berterima kasih padaku," tukasnya Budi.


"Kalau gitu mari kita cicipi masakan istriku yang pasti akan menggoyang lidah karena kepedesan sambalnya," ujarnya Erka yang segera meraih piring yang sudah berisi nasi putih dari dalam genggaman tangannya Rindu.


"Sepertinya aku bakal makan banyak nih," tuturnya Budi yang sudah menuang beberapa jenis makanan ke atas piringnya.


Mereka makan sambil sesekali bercanda dan bercengkrama santai siang itu menjelang sore. Budi kembali teringat dengan masakan istri dan mamanya yang ada di kampung.


"Kenapa masakan istrimu ini mirip banget dengan masakan Ibuku di kampung sama-sama lezat dan menggugah selera makan bagi siapa saja," pujinya Budi yang mulutnya sudah penuh dengan makanan.


Rindu tersenyum sumringah melihat ada orang yang memuji masakannya itu," kalau begitu Pak Budi boleh mampir ke rumah kapan-kapan untuk makan bersama mungkin, iya kan Abang?"

__ADS_1


Erka spontan menganggukkan kepalanya yang sedang mengunyah makanan yang mulutnya penuh makanan.


__ADS_2