Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 63


__ADS_3

Mobil dengan tipe dan gaya Eropa itu membelah jalan Ibu kota Paris Perancis. Berselang beberapa menit kemudian, mobil itu singgah di salah satu butik ternama. Noah Javier Rizaldi mengandeng tangannya Pelangi ke dalam ruangan butik itu.


"Auhh huhu sakit!" Keluh Pelangi yang mengusap puncak kepalanya yang tertutup hijab merah maroon itu.


Noah tertawa terbahak-bahak melihat reaksi dari Pelangi yang terantuk pintu, karena wajahnya Pelangi merah saking malunya dan juga kesal karena ditertawai oleh Noah


Boy yang duduk dibalik kemudi mobilnya itu keheranan melihat reaksi dari Noah bosnya yang sudah hampir enam tahun bekerja tapi, baru kali ini melihatnya Noah yang tertawa lepas dan sebahagia itu.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya, silahkan masuk ke dalam!" Sambutannya pelayan Butik itu dengan ramah.


"Thanks, katakan pada pemilik butik kalau Noah Javier Rizaldi dari Indonesia sudah datang,"


"Baik Tuan Noah," balasnya dalam bahasa Prancis.


"Thank you Madam Zahara," timpalnya Noah kepada asistennya sang pemilik butik yang asli dari Aljazair.


Noah berjalan ke arah salah satu kursi dan duduk di atasnya. Sedangkan Pelangi berkeliling butik sembari melihat-lihat koleksi pakaian, gaun pengantin dan gaun pesta.


"Semua pakaiannya yang ada disini modelnya bagus-bagus, pastinya mahal-mahal, kalau aku tidak mungkin bisa beli sepotong pakaian pun kagak bisa apalagi satu," lirihnya Pelangi sambil terus mengelus kualitas kain dari beberapa pakaian tersebut yang tersimpan rapi di dalam lemari dan juga yang terpasang langsung dimanekin.


"Assalamualaikum Tuan Noah," sapanya Madam Maryam yang sudah berdiri di depan Noah.


"Waalaikum salam Madam,"


"Gaun pengantin yang Anda pesan sudah jadi, kalau gitu tolong ikut saya untuk mencocokkan dengan Istrinya Tuan Noah," pintanya Madam Maryam.


"Baik Madam, tapi saya panggil istri saya dulu," imbuhnya Noah.


"Silahkan Tuan, kalau gitu saya pamit dulu saya tunggu kalian di dalam kantorku," ucapnya Madam Maryam.


Noah segera berjalan ke arah Pelangi yang sedang mengagumi keindahan dari beberapa pakaian yang terpajang rapi.

__ADS_1


"Sayang,Madam Maryam sudah datang,ayo kita segera ke kamarnya," tuturnya Noah sambil menarik tangannya Pelangi tanpa menunggu Pelangi berucap sepatah katapun lagi.


Mereka berdua ke arah dalam, tanpa menunggu lama, Pelangi segera mencoba gaun pengantin yang berwarna gold itu ditubuhnya. Noah orang yang pertama melihat penampilannya Pelangi dalam balutan gaun pengantin yang sangat cocok ditubuhnya.


"Perfekto," ucap Madam Maryam.


Pelangi yang mendapatkan banyak pujian cukup tidak yakin dan percaya, karena seumur hidupnya baru ini kedua kalinya ia memakai pakaian sebagus itu dalam hidupnya.


"Andaikan Kakek dan Nenek masih hidup pasti mereka akan sangat bahagia melihatku, tapi ngomong-ngomong apa yang terjadi di kafe, apa mereka merindukan aku, apa Naufal sama sekali tidak mencari keberadaanku," batinnya Pelangi yang bengong memikirkan apa yang terjadi padanya selama ini.


Noah segera menyentuh lengannya Pelangi yang tiba-tiba terdiam mematung tanpa sebab," Pelangi Arunnika Rahamny!" Teriaknya Noah tepat ditelinganya Pelangi.


Saking terkejutnya ketika nama aslinya kembali disebut oleh bibir seksinya Noah. Hingga ia melototkan matanya itu ke arahnya Noah suami pura-puranya itu.


"Tuan Noah, kenapa Tuan selalu memanggil nama asliku kalau ingin membuyarkan lamunanku!?" Ketusnya Pelangi.


Noah tersenyum tipis," makanya jangan ngelamun dijadikan hoby, itu tidak ada gunanya juga," dengusnya Noah sambil mengetuk keningnya Pelangi.


Madam Maryam tersenyum menyambut kedatangan kedua pasangan suami istri itu," istri Tuan Muda Noah memang sangat cantik, pantesan Tuan Noah sangat bahagia dan senyuman selalu tersungging di bibirnya Tuan Muda," imbuhnya Madam Maryam sembari menyambut kedatangan Pelangi dengan cipika-cipiki.


"Madam bisa saja mujinya," tampiknya Pelangi.


Pelangi tanpa pikir panjang masuk ke dalam kamar pas untuk mencocokkan dan mencoba pakaian itu. Tapi, lagi-lagi Pelangi bukannya memakai gaun itu malah kembali memikirkan banyak pikiran.


Pelangi menatap pria yang menjadi suaminya itu," Ku kumpulkan kepingan hati


Yang kau hancurkan jadi serpihan


Kali ini kamu terlalu


Hingga harga diriku terinjak.

__ADS_1


Menancapkan di hati


Perihnya meradang tak sembuh sembuh


Walau aku s'lalu bertahan


Tapi kali ini aku runtuh.


Kamu terlalu tau lemah aku


Mencintaimu dan mudah memaafkan


Hanya bila nanti kamu terluka


Seperti yang kurasa


Anggaplah ini karmamu,"


Sedangkan jauh dari tempat itu, Kejora Aysila Mandala sudah duduk di belakangnya Naufal. Mereka akan berangkat ke makam mamanya Naufal.


"Kejora pegangan yang erat," pintanya Naufal.


Kejora segera menuruti perintah dari Naufal dengan memegang ujung pakaiannya Naufal.


"Sedari dulu selalu kaku seperti ini jika aku bonceng," gumamnya Naufal.


Naufal segera menarik tangannya Kejora lalu melingkarkan tangannya di pinggangnya itu.


"Seperti ini caranya kalau dibonceng sama aku!" Teriaknya Naufal yang harus berteriak dengan mengeraskan suaranya agar Kejora mendengar apa yang dikatakannya.


Kejora duduk dengan anteng sambil tersenyum malu-malu, senyuman itu terlihat jelas dari kaca spion motornya. Naufal sangat bahagia melihat hal itu.

__ADS_1


__ADS_2