
Kejora Aysila Mandala Jauhari salah tingkah, karena keceplosan menyebut jika Ia punya saudara kembar yang menghilang sejak peristiwa kecelakaan maut kala itu.
"Iya Pak aku punya,"
"Kok baru tahu, kalau kamu punya saudara seingat aku kamu anak tunggal," tuturnya Naufal.
Kejora terkejut karena keceplosan menyebut jika dia adalah anak kembar.
"Ya Allah… apa yang harus aku lakukan kalau seperti ini, semoga saja Pak Naufal tidak bertanya lagi tentang apa yang aku katakan tadi dan semoga melupakan apa yang sudah aku katakan," batinnya Kejora.
Naufal baru saja ingin bertanya lebih lanjut tentang apa yang Ia utarakan sebelumnya, tiba-tiba langit mendung, angin berhembus kencang hingga menerbangkan banyaknya dedaunan dari pohon yang kebetulan tumbuh di sekitar area makam tersebut. Ujung hijabnya Kejora diterbangkan angin dan menutupi wajah cantiknya Kejora.
"Pelangi,ayo kita pulang, sepertinya akan turun hujan," ajaknya Naufal yang segera bangkit dari jongkoknya dengan menarik tangannya Kejora.
Mereka semakin mempercepat langkahnya karena, sudah turun rintik-rintik hujan gerimis yang menerpa tubuh mereka.
"Pak ayok cepat, jangan lama larinya," teriaknya Kejora yang berlari kencang mendahului Naufal.
Mereka sudah berada di jalan raya, nafas keduanya ngos-ngosan. Hal itu terlihat jelas dari raut wajah keduanya. Kejora yang ingin menarik tangannya Naufal, tapi Naufal segera menghentikan apa yang dilakukan oleh Kejora.
"Stop!! Tidak usah berlari lagi percuma juga berlari kita sudah basah," cegahnya Naufal sambil merentangkan kedua tangannya sambil seolah ingin menampung air hujan yang jatuh dari langit mengenai telapak tangannya itu.
Kejora segera menghentikan langkahnya itu,ia tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Naufal yang seperti anak-anak kecil saja yang sangat bahagia bermain hujan-hujanan.
Kejora pun akhirnya ikut mengikuti apa yang dilakukan oleh Naufal, mereka berlarian sambil berkejar-kejaran satu sama lainnya.
"Ayo pak kejar aku kalau pak Naufal mampu!" Teriaknya Kejora yang berlari sambil menenteng sendalnya ke arah motornya Naufal yang terparkir di tepi jalan.
__ADS_1
Kejora tertawa riang sambil berlarian di atas jalan raya,tapi langkahnya terhenti ketika tangan kekarnya Naufal mampu menangkap tangannya. Sehingga tubuhnya tertarik kuat kearah badannya Naufal. Mereka akhirnya saling berpelukan karena, Kejora tidak mampu menahan kekuatan tarikannya Naufal.
Wajah keduanya hampir saja berbenturan satu sama lainnya, hingga tatapan keduanya saling bertemu satu sama lainnya. Naufal menyingkirkan ujung hijabnya Kejora yang menutupi wajah cantiknya Kejora.
Kamu sangat cantik jika wajahmu terkena air hujan seperti ini," ucapnya Naufal sembari menyentuh dengan lembut pipinya Kejora.
Mereka berdiri saling berhadapan di samping motor. Hujan semakin turun dengan lebatnya hingga pakaian mereka berdua basah kuyup.
Naufal kemudian berlutut di hadapannya Kejora, dengan kakinya bertumpu satu di atas aspal tangannya memegang tangan kanannya Kejora," Pelangi Arunnika Rahmany mau kah kamu menikah denganku?" Tanyanya Naufal seraya mengeluarkan sebuah kotak perhiasan buludru berwarna merah.
Bagaikan gayung bersambut, Kejora tanpa pikir panjang langsung menjawab permintaan lamaran dari Naufal.
"Saya mau menjadi istrimu dan juga calon Ibu dari anak-anakmu sekaligus jadi teman hidupnya Pak Naufal hingga akhir waktuku di dunia ini," ucap Kejora.
Betapa bahagianya Naufal, karena awalnya dia ragu dan bimbang sekaligus takut jika, apa yang dia inginkan akan ditolak. Tapi, semua ketakutan dan kebimbangan itu berubah jadi kebahagiaan yang membuncah dalam hatinya.
Naufal segera menyematkan sebuah cincin yang sangat cantik itu dijari manisnya Kejora. Air mata bahagiaannya Kejora bercampur menjadi satu bagian dengan air hujan. Naufal memeluk tubuhnya Kejora dengan erat.
"Pak kita pulang yuk, aku kedinginan," pintanya Kejora.
Naufal dengan terpaksa melepaskan pelukannya dari tubuhnya Kejora. Mereka bergandengan tangan mendekati motornya yang mandi hujan itu. Naufal segera mengendari motornya dengan sangat hati-hati, karena kondisi jalan yang penuh dengan air hujan.
Naufal mengantar pulang Kejora hingga ke depan pintunya. Kejora yang melihat Naufal menggigil kedinginan segera menawarkan kepada Naufal untuk berganti pakaian di dalam rumahnya
"Pak,masuk saja dulu, kasihan sama bapak jika pulang dalam keadaan basah kuyup dan gemetaran karena kedinginan seperti itu," ujar Kejora.
"Tapi,"
__ADS_1
"Tidak ada kata tapi," kilahnya Kejora yang segera menarik tangannya Naufal untuk membuat masuk ke dalam rumahnya yang hanya memiliki satu kamar tidur saja.
Buk.. prang…
Pintu rumahnya tertutup saking kencangnya angin yang bertiup siang menjelang sore itu. Naufal duduk di kursi panjang yang terletak sudut rumah itu. Kejora mengambil sebuah handuk berwarna biru untuk Naufal.
"Pakai ini pak untuk mengeringkan rambut dan tubuhnya bapak,"
Naufal segera meraih handuk tersebut tanpa ragu karena tubuhnya benar-benar merasakan kedinginan. Kejora masuk ke dalam kamar mandi karena segera ingin mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang barusan ia hangatkan di kompornya.
Berselang beberapa menit kemudian, seluruh pakaiannya Naufal ia jemur tepat di depan kipas angin yang nyala sejak tadi. Kejora keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk hingga dari betis hingga pahanya terekspos dengan jelas dimatanya Naufal. Kejora melupakan jika Naufal masih ada di dalam rumahnya itu.
Naufal kesusahan menelan air liurnya sendiri saking terkesima dan terpesonanya melihat rambut panjangnya Kejora masih meneteskan air bekas mandinya. Tanpa disadari oleh Naufal, ia melangkahkan kakinya menuju tempat berdirinya Kejora.
Kejora terdiam terpaku melihat bentuk tubuhnya Naufal yang kotak-kotak dengan dada bidangnya.
"Apa yang terjadi padaku, kenapa aku bahagia melihat pak Naufal dalam keadaan seperti itu,"
Naufal tanpa ragu langsung memegang tengkuk lehernya Kejora, ia kemudian mee luuu maat bibir merah merona miliknya Kejora. Apa yang dilakukan oleh Naufal sama sekali tidak dicegah oleh Kejora. Disinilah peran dan pengaruh pihak ketiga sangat mendominasi di waktu itu. Dua anak manusia saling berbagi cinta dan kasih dalam ikatan yang tak semestinya terjadi.
Naufal sudah mengungkung tubuhnya Kejora, ini adalah pengalaman pertama mereka Tapi nalar dan intuisi yang mengantarkan mereka pada perbuatan yang seharusnya tidak boleh terjadi.
"Hemmhpp,"
Rasa sakit dan perih yang dirasakan Kejora ketika si jago mampu menembus pertahanan yang dikawal dan dijaga dengan ketat itu.
"Aahhh!!" Suara teriaknya Kejora di sore itu disertai dengan hujan yang turun begitu lebatnya mampu meredam suara rintihan kesakitan dan nafas keduanya ngos-ngosan saling beradu membuat mereka lupa daratan.
__ADS_1
Naufal tersenyum tipis penuh kebahagiaan ketika mengetahui telah berhasil menjadi orang pertama yang meraih hal terpenting dalam kehidupan Kejora. Ia mengecup sekilas keningnya Kejora lalu buru-buru menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya Kejora yang tidak terbungkus sehelai benang pun.
Air matanya Kejora luruh karena baru tersadar tentang apa yang barusan ia lakukan. Penyesalan selalu datang di belakang bestie. Naufal yang melihat air matanya Kejora segera membantu untuk menyekanya.