Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 43


__ADS_3

Rindu dan kedua anak kembarnya sudah berjalan menuju salah satu mall terbesar yang ada di Ibu kota Jakarta.


"Bintang, Ingat jangan sampai Mama capek yah kamu sebagai anak pertamanya papa harus sebagai pelindung mereka yang yah Nak, karena papa yakin Bintang dan Kejora pasti bisa menjalankan tugas yang papa berikan, Papa sangat ingin ikut bersama kalian tapi papa sangat sibuk hari ini banyak anak mahasiswa yang akan mengikuti ujian jadi aku tidak bisa absen ke kampus PPIP hari ini," pintanya Erka panjang lebar.


Bintang dan Kejora menaikkan kedua jari mereka masing-masing pertanda mereka siap selalu. Kedua anak kembarnya sudah duduk dibangku sekolah menengah pertama sehingga sudah bisa diandalkan dengan baik.


"Rindu kenapa enggak sekalian kamu diantar sama Pak Somad saja Nak,kamu itu lagi hamil besar loh pasti pergerakan kamu terbatas kalau setir mobil," cegahnya Bu Halimah yang sangat khawatir melihat anak menantunya dalam keadaan hamil besar.


"Insya Allah kami akan baik-baik saja Ma, doakan saja kami akan pulang dengan keadaan selamat," pungkasnya Rindu Adinda Chandani.


"Kalau gitu kamu nyetirnya yang pelan-pelan saja yah, Bintang dan Kejora kamu jagain Mama kalian dengan baik yah kalau Mama nakal jewer saja telinganya," candanya Bu Halimah.


"Assalamualaikum Ma,"


"Waalaikum salam,"


Erka Mandala Jauhari sudah berangkat ke kampus tempat ia mengajar. Karena hari ini banyak anak mahasiswanya yang akan mengikuti berbagai macam ujian. Sehingga Erka tidak bisa mengantar anak dan istrinya ke Mall.


Berselang beberapa menit kemudian, mobil yang ditumpangi ketiga perempuan cantik itu sudah bergabung dengan beberapa pengendara lainnya.


Tapi, sejak di pertigaan jalan yang belum terlalu jauh dari perumahannya,ada mobil sedan putih yang sedari tadi mengikuti mobil yang mereka pakai.


"Mama, kita belanja perlengkapannya yang banyak yah Ma untuk Dede bayi," ujarnya Bintang Airen Mandala.


"Betul sekali tuh Ma, saya yang akan bantu Mama untuk pilihkan pakaian untuk adek boys dengan mainannya juga yah," rengeknya Kejora Aysila Mandala anak keduanya itu.


Rindu melirik sekilas ke arah belakang," iya sayang, Mama serahkan pada kalian saja yah karena Mama hanya akan membantu kalian saja untuk memilih mana yang paling baik," tukasnya Rindu yang tersenyum tipis.


Hanya butuh waktu beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat basmen parkiran Mall yang mereka datangi. Toko pertama yang mereka datangi adalah tempat pakaian lalu tempat perlengkapan bayi dan berbagai pernak pernik lainnya.


"Apa kalian masih mau jalan-jalan atau mau makan atau pulang saja?" Tanyanya Rindu setelah menyelesaikan pembayaran beberapa belanjaannya.


"Kita pulang saja dulu Ma, karena aku sudah capek," Jawabnya Bintang sambil menguap karena sudah mengantuk.


"Oke kita pulang saja dulu,"

__ADS_1


Mereka pun pulang bersama, karena sudah malam juga. Rindu segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, tapi ia sedikit heran dengan sebuah mobil dan dua pengendara motor yang seolah mengikuti mereka terus.


Rindu terus menatap mobil dan motor itu melalui kaca spion mobilnya,"Ya Allah… kenapa mereka terus mengikuti kami, siapa sebenarnya mereka?"


Di depan tidak jauh dari tempat mereka,ada jembatan. Rindu semakin menambah kecepatan mobilnya hingga hpnya yang berdering sedari tadi tidak ia hiraukan. Sedangkan kedua anak kembarnya terlelap dalam tidurnya hingga tanpa terusik dengan apa yang dilakukan oleh mamanya itu.


"Ya Allah… kenapa Rindu tidak mengangkat telponnya, Bintang sama Kejora juga padahal sudah jam delapan," gumamnya Erka yang sangat khawatir dengan keadaan anak dan istrinya.


Bu Halimah juga ikut menunggu anak cucu dan menantunya di depan teras rumahnya.


"Erka kenapa Rindu dan cucuku belum pulang juga yah, apa yang terjadi padanya? Apa kamu sudah menelpon mereka?" tanyanya ibu Halimah.


"Sudah Ma, tapi mereka sama sekali tidak ada yang mengangkat telponnya," keluhnya Erka.


*Ya Allah… jaga dan lindungilah mereka hingga pulang ke rumah,"


Beberapa menit kemudian, mereka masih berada didepan rumahnya hingga Edi berjalan dengan tergesa-gesa karena istrinya Paramitha akan melahirkan.


"Tante! Tolong Mitha sudah mau lahiran!" Teriaknya Edi.


"Sini cepat Abang antar kalian ke rumah sakit,"


Mereka segera masuk ke dalam mobil," Bi Yuni tolong semua perlengkapannya Mitha Mbak bawa ke rumah sakit,Mang Udin bantu Bi Yuni yah,"pintanya Bu Halimah.


Perjalanan malam itu cukup padat dan di sekitar jembatan mereka lalui cukup macet karena terjadi kecelakaan beruntun. Erka sempat sepintas melihat ke arah mobil itu.


"Ya Allah… kenapa aku sangat takut dengan anak dan Istriku apa yang terjadi pada mereka?" Batinnya Erka.


"Maaf pak,apa yang terjadi di depan?" Tanyanya Erka yang kebetulan memelankan mobilnya karena jalan memang lagi macet.


"Di depan ada kecelakaan mobil Pak, tiga korban dalam mobil itu dan katanya ada anak yang jatuh ke dalam sungai sedangkan dua yang lainnya sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat," jelasnya Pria itu.


"Makasih banyak atas informasinya Pak."


Mobil mereka segera melaju setelah kondisi jalan sudah kembali kondusif. Mitha segera dibawa kedalam ruangan khusus untuk ruang bersalin.

__ADS_1


"Pak dokter, Bu dokter tolong istriku dia akan melahirkan!'" jeritnya Edi Prayogo yang menggendong tubuhnya Mitha yang sesekali mengeluh kesakitan itu.


Erka pun ikut berlari ke arah ruang bersalin tapi, kedua pasang matanya melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Rindu sedang berada di atas bangkar rumah sakit yang didorong kuat oleh beberapa perawat dan dokter.


Erka ingin memastikan hal itu, tapi apa yang terjadi hatinya hancur seketika melihat ternyata itu adalah istrinya sendiri.


"Tidak, Rindu!!" Pekiknya Erka yang berteriak histeris membuat beberapa orang mengalihkan perhatiannya ke arah Erka yang berlari kencang mengikuti rombongan beberapa suster.


Bu Halimah cukup terkejut dan mengikuti langkah putranya itu. Dia pun tidak menduga jika anak menantu dan cucunya berada dy rumah sakit yang sama dengan anak keponakannya.


"Kejora! Rindu!!" Teriak Bu Halimah sebelum jatuh pingsan di atas lantai keramik untung ada beberapa orang yang melihatnya segera membantunya sehingga tidak terjatuh menimpa lantai keramik yang dingin.


"Apa yang terjadi dengan istriku Dokter?" Tanyanya Erka seraya terus mengikuti langkah perawat menuju ruang operasi.


"Pasien mengalami kecelakaan Pak tidak jauh dari sini, tepatnya di jembatan,"


Erka menutup mulutnya saking tidak menduga jika anak dan istrinya lah yang menjadi korban kecelakaan tersebut.


"Bagaimana dengan anakku pak anak kembarku?" Erka kembali berteriak.


"Maaf Pak untuk saat ini hanya satu yang sempat kami selamatkan, satu anak bapak belum ditemukan karena jatuh ke dalam sungai," jelas salah satu perawat tersebut.


Edi Prayogo yang tidak jauh dari tempat tersebut, terkejut dengan berita kecelakaan maut itu. Mitha pun ikut kaget dan menganggu kesehatannya.


"Ya Allah… apa yang terjadi pada Mbak Rindu dengan Kejora dan Bintang Abang, aku ingin melihat mereka!" Pintanya Mitha yang segera bangkit dari baringnya.


Tetapi, Edi segera mencegah apa yang akan dilakukan oleh Mitha mengingat jika Istrinya akan melahirkan.


"Sayang, ingat kamu itu akan melahirkan anak kita sayang tolong tenanglah dan sabar doakan saja yang terbaik untuk mereka," bujuknya Edi yang diam-diam meneteskan air matanya itu.


Sedangkan Erka sudah seperti orang gila duduk di depan ruangan operasi. Kejora sudah selesai dioperasi sedangkan Rindu belum. Bu Halimah pun sudah sadar. Annisa dan suaminya Rizal setelah mendengar berita dan informasi kecelakaan tersebut segera mendatangi rumah sakit. Begitupun juga dengan Budi Utomo kakak sepupunya Erka juga sudah hadir.


"Erka sabarlah Dek, ingat kamu adalah penguat mereka jadi bangkitlah jangan seperti ini," nasehatnya Budi sambil memeluk tubuh adiknya itu.


"Abang bagaimana caranya aku sabar, anakku Bintang tidak tahu gimana kabarnya apa dia masih selamat atau… sedangkan istriku sedang berjuang dimeja operasi dan kemungkinan besar calon bayi kami juga akan…" Erka tidak sanggup melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2