
"Kenapa jika kau bersama denganku kamu tidak pernah tersenyum seperti awal kamu datang ke dalam hidupku," lirihnya Noah yang terpaku di atas kursi rodanya.
Ridwan melirik sekilas ke arah Pelangi yang menaiki anak tangga dengan tak bosan-bosannya menghirup aroma bunga itu.
"Nyonya Muda entah kenapa aku menyukai senyuman tulusmu," batinnya Ridwan.
Noah merasa kesal diperlakukan dengan dingin oleh Pelangi.
"Dimas apa aku kurang ganteng?"
"Tidak kok Tuan Muda, kamu ganteng melebihi artis ibukota Jakarta,"
"Apa uangku kurang banyak?"
"Tidak, Tuan Muda Noah orang kaya,"
Noah melihat ke luar mobil dan memperhatikan deretan gedung-gedung pencakar langit yang berjejer di pinggir jalan Ibu kota Malaysia.
"Tapi kenapa wanita itu seolah enggan untuk berdekatan denganku padahal aku adalah suaminya? Apa karena aku yang pernah ngomong sama dia kalau aku menikahinya karena permintaan dari papi dan mami saja," lirihnya Noah.
Dimas yang mendengar perkataan yang sangat lirih itu dari Tuan Mudanya. Dimas tersenyum simpul menanggapi perkataan dari tuannya.
"Gimana dengan tugas yang aku berikan padamu?"
Dimas segera memberikan tab yang sudah berisi data-data tentang Kejora dan Pelangi. Noah sangat terkejut melihat data kedua gadis tersebut.
"Ini tidak mungkin," cicitnya Noah.
"Mereka orang yang berbeda Tuan, hanya kebetulan saja anak buah kita salah tangkap waktu itu karena jalanan yang dilalui oleh Nona Kejora calon istrinya Tuan sama dengan yang dilalui oleh gadis yang bernama Pelangi Arunnika Rahmany," ungkap Dimas.
"Jadi, Pelangi ini siapa kenapa wajah mereka sangat mirip dan tidak ada bedanya hanya saja mereka ada yang memakai hijab,"
"Datanya ada selanjutnya kok Tuan Muda tentang biodata lengkap Pelangi,"
__ADS_1
Noah kembali terkejut melihat siapa Pelangi," cucu angkat dari Pak Dedy Rahmany, gadis tersebut ditemukan terapung di dalam air sungai sekitar kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, apa jangan-jangan dia adalah Bintang Airen Mandala kakak kembarnya Kejora!?" Ungkap Noah.
"Bisa jadi Tuan Muda,apa lagi Tuan Muda sempat ngomong kalau Non Kejora memiliki liontin kalung dengan inisial huruf B apa Tuan masih ingat?"
"Betul sekali apa yang kamu katakan aku yakin jika perempuan itu adalah Bintang, Dimas kamu utus seseorang untuk ke rumahnya Papa mertuaku dan lakukan segera prosedur pengambilan darah untuk melaksanan tes DNA secepatnya," perintahnya Noah.
Dimas segera menjalankan perintah baru dari atasannya itu.
"Berarti gadis kecilku masih hidup, aku sangat bahagia dan perempuan yang berada bersamaku yang sudah tinggal menetap di kediamanku ini adalah Bintang istri sahku, aku harus segera bertindak jangan sampai istriku diambil oleh orang lain,"
Noah segera bangkit dari duduknya dan sudah bertekad untuk berjalan dengan normal dan tidak mau berpura-pura menjadi pria lumpuh di depan orang lain, karena perempuan yang sejak Ia masih kecil masih hidup sekaligus menjadi istrinya.
"Bintang, Abang akan membuat kamu bahagia dan membuat kau jatuh cinta padaku, karena kamu istriku jadi aku berhak melakukan apapun itu pada tubuh dan dirimu," gumam Noah Javier Rizaldi.
Noah berjalan menaiki undakan tangga satu persatu, beberapa asisten rumah tangganya dan juga anak buahnya, melihat Noah berjalan normal seperti dulu lagi. Mereka tersenyum bahagia karena sudah hampir empat tahun duduk dan beraktifitas menggunakan kursi roda.
Noah masuk ke dalam kamarnya Bintang yang kebetulan tidak dikunci," tumben kamarnya pintunya enggak dikunci, apa yang dilakukan olehnya sampai-sampai aku masuk ke dalam kamarnya tanpa disadarinya, apa dia sedang tidur?"
Pelangi yang mendengar seseorang berjalan di dalam ruangan kamarnya segera membuka sedikit pintu kamarnya itu.
Pelangi pun berteriak disela pintu kamar mandinya tanpa bisa melihat dengan jelas siapa orang yang berada di dalam kamar pribadinya itu.
"Hatijah, tolong ambilkan handukku di atas ranjang, aku lupa ambil soalnya," pintanya Pelangi seraya mengayunkan tangannya ke arah Noah suaminya sendiri.
Noah menuruti semua perintahnya Pelangi tanpa sepatah katapun agar tidak ketahuan jika, Noah lah yang ada bukan Hatijah asisten rumah tangganya. Sedangkan Hatijah yang baru datang diberikan kode oleh Noah agar segera pergi dari sana. Noah segera mengunci pintu kamar itu dengan rapat. Noah tersenyum penuh arti setelah berhasil mengunci rapat pintu itu.
"Hatijah, makasih banyak yah, tapi apa aku boleh minta tolong lagi enggak?! Tolong bersihin punggung aku soalnya tanganku kesusahan nih," Teriaknya Pelangi kemudian.
Noah reflek berjalan masuk tanpa pikir panjang memenuhi permintaan dari istrinya itu. Noah langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Pelangi. Noah kesulitan menelan air liurnya sendiri saking terkejutnya, melihat Pelangi dalam keadaan tanpa busana apapun yang sedang berendam di dalam bathtub walaupun, tertutupi beberapa busa sabun aromaterapi.
"Ya Allah… kuatkan lah aku, aku tidak sanggup jika seperti ini terus lama-lama aku bisa menerkamnya," lirih Noah yang tangannya bergetar sambil memijit pelan punggungnya Pelangi.
"Tangan kamu lembut juga yah Hatijah, padahal kamu pasti sedari dulu sudah bekerja disini, Hatijah apa kamu suka bekerja dengan pria yang wajahnya selalu datar itu dan senyumnya yang sangat mahal,"
__ADS_1
"Iya," jawabnya Noah yang berusaha untuk menirukan suara Hatijah.
Pelangi sempat kaget dan tidak percaya mendengar suaranya Hatijah yang sangat serak itu.
"Ijah, suaramu serak seksi banget deh, aku cemburu mendengarnya," candanya Pelangi sambil rebahan di sandaran bathub nya dengan kedua kelopak matanya yang tertutup.
"Ijah kamu tahu gak, aku itu pengen balik ke Jakarta ngumpul bareng sama teman kerja aku di kafe ketemu sama pak Naufal yang gantengnya seperti oppa Lee Minho, disini hanya setiap hari lihat wajah kaku, coba Tuan Noah itu tersenyum pasti sangat ganteng dan aku yakin akan lebih ganteng dari Pak Naufal," pujinya Pelangi.
Noah wajahnya berseri-seri bahagia mendengar pujian dari mulut istrinya sendiri.
"Sudah cukup! kamu tunggu aku diluar saja, aku minta tolong bawa ke tukang laundry pakaian kotor aku sudah lumayan banyak Ijah,"
"Iya Non,"
Noah segera keluar dari dalam kamar mandi yang cukup membuatnya seperti kesusahan bernafas dan degupan jantungnya cukup keras dan kencang. Noah berusaha untuk menetralkan perasaannya itu, saking kelimpungan dengan situasi yang terjadi di antara kedua pasangan suami istri itu. Pelangi berjalan ke arah luar kamar mandi.
Pelangi melihat Noah suaminya yang sedang duduk santai di atas sofa sambil membaca majalah male yang tersedia di atas meja.
"Aahhh!! Tuan Noah!" Teriaknya Pelangi seraya menutupi bagian dada dan bagian bawahnya yang hanya memakai handuk yang cukup pendek hingga sebagian besar tubuhnya terekspos langsung dengan kentara.
"Tidak perlu berteriak histeris seperti itu kali, aku sudah lihat semua yang ada tubuhmu," sarkasnya Noah dengan seringai liciknya.
"Apa!" Pekiknya Pelangi.
"Orang yang membantu kamu membersihkan seluruh tubuhmu adalah…" ucapannya Noah terhenti karena secepat kilat Pelangi sudah berlari ke arahnya Noah dan menutup mulutnya Noah.
"Stop! Tidak perlu perkataannya dilanjutkan entar ada orang yang dengar, katanya orang dinding pun punya telinga," ujar Pelangi yang sudah duduk di atas kedua pahanya Noah dalam keadaan hanya memakai handuk saja.
Noah tersenyum melihat gaya dan cara duduknya Pelangi.
"Apaan senyum-senyum gitu!"
Noah hanya memberikan kode dengan tatapan matanya yang mengarah kebawah. Pelangi semakin terkejut melihat apa yang dilakukannya.
__ADS_1
"Aahh!!" Jeritnya Pelangi yang kembali menyilankan kedua tangannya di hadapan dadanya.
"Jangan berteriak, diamlah aku suka kamu seperti ini, aku ingin melihat dan memandangi wajahmu yang cantik alami tanpa make up," jelas Noah yang baru kali berkata jujur tentang apa yang sedang ia rasakan.