Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 84


__ADS_3

Pelangi dibuat penuh kebahagiaan oleh suaminya malam itu. Noah benar-benar memanjakan istrinya itu. Noah menangkupkan kedua tangannya ke atas dagunya Pelangi Arunnika Rahmany.


"Sebaiknya Tuan Besar dan Tuan Muda serta Non Kejora duduk dulu mungkin sambil menyantap kue buatanku yang tidak ada tandingan rasanya dengan teh hangat," candanya bi Yuni.


"Benar sekali apa yang bibi katakan,ayok Nak duduk supaya lebih enak ngobrolnya," pintanya Erka.


"Makasih banyak Om, thanks Bibi," imbuh Naufal.


"Malam ini aku nyatakan padamu bahwa cintaku hanya untuk Pelangi bukan perempuan lain untuk selamanya," Noah menyeka ujung bibirnya Pelangi dengan senyuman khasnya karena melihat ada sisa-sisa salivanya disana.


Dadanya tiba-tiba berdetak tidak karuan, setelah mendengar pernyataan cintanya Noah Javier Rizaldi pengusaha muda yang sudah menjadi suaminya itu.


"Kenapa jantungku berdetak kencang, wajahku juga seperti panas hanya mendengar perkataannya barusan, apa yang terjadi padaku, apa jangan-jangan aku juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dia ungkapkan?" Pelangi mengalami kebingungan pada dirinya sendiri.


Noah berdiri dari duduknya kemudian mengulurkan tangannya ke depannya Pelangi," ayok kita pulang sudah jam dua belas malam lewat, kamu juga sudah kedinginan, besok kita lanjut jalan-jalannya," imbuhnya Noah.


Tapi, apa yang dikatakan oleh Noah seolah hanya angin lalu. Pelangi terdiam dengan tatapan padangan matanya yang kosong. Dari mimik wajahnya tersirat banyak hal yang sulit untuk diungkapkan lewat kata-kata dan lidahnya keluh seketika itu untuk mengungkapkan perasaannya.


"Kok terdiam, Pelangi sayang apa yang terjadi padamu?" Tanyanya Noah sambil melingkarkan tangannya di pinggang Pelangi yang masih terdiam itu.


"Abang apa boleh sepulang dari sini, kita tinggalnya di Jakarta saja, soalnya aku sangat merindukan kota Jakarta yang selama ini aku tinggalkan," rengeknya Pelangi dengan memperlihatkan puppy eyes nya itu.

__ADS_1


Noah memajukan wajahnya ke telinganya Pelangi," boleh saja kita balik ke Indonesia asalkan malam ini kamu bisa serahkan semuanya padaku apa yang kamu miliki," seraya tersenyum penuh arti.


Tanpa banyak pikir Pelangi langsung saja menyetujui permintaan dari suaminya itu dengan menganggukkan kepalanya.


"Ya Allah… ini anak kemarin selalu nolak untuk itu tapi, pas aku janjikan untuk kembali ke Indonesia ia manut saja tanpa banyak pikir," gumamnya Noah.


Noah pun segera menarik tangannya Bintang Airen Mandala Jauhari ke parkiran mobil. Sang anak buahnya yang ditugaskan berjaga disekitar mobil dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Noah tapi, segera dicegah oleh Noah sendiri.


"Tidak perlu repot-repot, aku sendiri yang akan membukakan pintu untuk istriku tercinta," ujarnya Noah sambil memutar telapak tangannya di hadapan beberapa anak buahnya itu.


Sesampainya di hotel, Noah tanpa ragu dan risih belum masuk ke loby ia langsung menggendong tubuh istrinya itu dengan ala bridal style. Pelangi yang tidak siap cukup terkejut hingga berteriak kecil dan tangannya langsung mengalungkan di lehernya Noah.


"Aah Abang takut!" Teriaknya Pelangi.


Pelangi kembali menurut dengan sendirinya tanpa ada drama pengancaman apapun.


"Kalau kamu bersikap seperti ini selalu mendengarkan apa yang aku katakan pasti aku sangat bahagia," ujarnya Noah.


Pelangi tersenyum lebar dalam gendongan suaminya itu. Dia tidak menyangka jika malam ini hatinya semakin berdebar jika berdekatan atau pun kedua pasang mata mereka bersirobot. Tatapan dari beberapa pasang mata yang melihat ke arah mereka, sama sekali tidak dihiraukan oleh Noah.


Pintu kamar hotelnya terbuka karena anak buahnya dengan sigap membukakan kuncinya, karena kondisi tangannya yang tidak memungkinkan untuk membukanya apalagi hanya sekedar membuka saja.

__ADS_1


Pelangi begitu terkejut melihat dekorasi kamar hotelnya yang sebelum ia tinggalkan hanya nampak biasa saja, tapi apa yang dilihatnya sekarang. Kamar itu dipenuhi dengan kelopak bunga mawar merah yang sangat cantik dan pastinya sangat harum memenuhi setiap sudut kamarnya itu.


"Gimana dengan yang Abang berikan untukmu, apa kamu suka?" Tanyanya Noah sembari menurunkan dengan perlahan tubuhnya Pelangi ke atas lantai.


Pelangi bukannya menjawab pertanyaan dari suaminya itu, malahan dia berlari berputar kesetiap sudut ruangan sambil menggenggam beberapa kelopak bunga lalu melemparkannya ke atas hingga seperti hujan bunga saja.


Pelangi kemudian berhamburan ke dalam pelukannya Noah tatapan matanya keduanya saling bertatapan," suamiku aku sangat menyukai apa yang Abang lakukan!" Pelangi sedikit mengeraskan volume suaranya.


Noah pun membalas pelukannya Pelangi," kalau kamu suka Abang sangat bahagia mendengarnya,"


Noah tanpa ucapan sepatah kata pun lagi langsung mengecup bibirnya Pelangi. Awalnya hanya sekedar iiii saaaa paaan biasa saja, lambat laun semakin menuntut. Pelangi pun tidak mau kalah, lidah mereka sama membelit. Noah sedikit memiringkan posisi kepalanya agar lebih leluasa ataupun memudahkan apa yang dia lakukan saat itu


Mereka saling bertukar saliva hingga,pasokan udara semakin menipis, tapi seakan tak ada yang mau mengalah. Sudut bibirnya Noah terangkat ke atas pertanda ia tersenyum penuh kebahagiaan. Andai nafas mereka tidak tersedak barulah mereka menghentikan aktifitasnya.


Pelangi kemudian mendekatkan bibirnya ke telinganya Noah sambil berbisik," aku juga mencintai suamiku Noah Javier Rizaldi untuk selamanya, i love you forever,"


Ucapan itu membuat Noah semakin kegirangan karena akhirnya ia mendapatkan cintanya Pelangi atau Bintang Airen Mandala Jauhari, tunangan sejak masa kecilnya itu yang menghilang karena, kecelakaan maut yang direncanakan oleh seseorang yang sebentar lagi akan terbongkar jati dirinya siapa pengacau itu sebenarnya.


"Abang bertanya sekali lagi padamu, apa kah sudah siap untuk memenuhi tanggung jawabmu sebagai istriku?" Noah menyentuh bibir mungilnya Pelangi.


Tanpa adanya keraguan terbersit di dalam hatinya itu, Pelangi langsung mengiyakan permintaan dari suaminya tanpa keraguan sedikitpun. Baginya ia tidak ingin berdosa jika menunda-nunda terus hal itu, apa lagi dia sudah yakin dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


"Saya Pelangi Arunnika Rahmany bersedia untuk menyerahkan seutuhnya seluruh kehidupanku pada suamiku seorang,"


__ADS_2