
Kecelakaan, kehilangan calon bayinya dan juga keadaan salah satu putri kembarnya menimbulkan trauma dan guncangan hebat pada psikis, mental dan kondisi kejiwaan.
Siapapun yang berada diposisinya Rindu akan mengalami guncangan mental dan psikis yang sangat hebat, ditambah kondisi fisik yang kadang sakit akibat benturan benda keras ketika kecelakaan dan juga bekas operasi pun sering kambuh.
Tapi, perhatian dan kasih sayang dari suami dan anggota keluarganya yang lain mampu membuatnya segera bangkit dari keterpurukannya.
Apa yang terjadi pada Rindu Adinda Chandani membuat Erka Mandala Jauhari tidak rutin setiap hari mengajar di kampus PIP pelayaran.
Mitha segera berjalan ke arah kamarnya lalu menggendong bayinya kemudian melanjutkannya perjalanannya ke arah dalam kamarnya Rindu.
"Mbak ini bayinya Mbak sedang tertidur, apa Mbak mau gendong?" Tanyanya Mitha yang sangat sedih melihat kakak iparnya.
Edi Prayogo yang melihat inisiatif istrinya itu tidak mungkin mencegahnya, karena ia juga akan melakukan hal itu sebenarnya hanya belum ia sampaikan niatnya. Rindu melihat bayi mungil yang menatapnya juga membuat Rindu meneteskan air matanya.
"Putranya Mama," cicitnya Rindu.
__ADS_1
Perkataan yang baru saja diucapkan oleh Paramitha istri dari adik sepupunya seolah seperti secercah cahaya yang mampu membuat Rindu berubah perlahan menjadi membaik.
"Anaknya Mama haus yah sayang, tunggu Mama berikan asi untuk kamu anakku yang paling ganteng," ucapnya Rindu lalu segera memberikan asi kepada anaknya Mitha.
Erka mengajak Edi Prayogo dan Paramitha. Mereka duduk saling berhadapan satu sama lainnya. Erka tidak habis pikir dengan apa yang terjadi pada keputusan adik iparnya itu.
"Mitha, Abang sangat senang dengan apa yang kamu lakukan, tapi apa kamu sudah pikirkan dengan baik karena aku takutnya istriku tidak akan membiarkan kamu mendekati ataupun mengambil anakmu kembali," ujarnya Erka sambil memijat keningnya.
Mitha menyentuh punggung tangannya Edi," Abang aku memang berniat untuk memberikan anakku untuk Mbak Rindu kok, apa lagi aku tahu insya Allah… aku masih sanggup melahirkan beberapa bayi lagi, sedangkan Mbak Rindu gimanapun caranya dia tidak akan bisa hamil lagi, aku hanya sedih melihat Mbak Rindu yang harus terpuruk bahkan bisa berbahaya jika, tidak segera ditangani apa Abang ingin Mbak Rindu masuk rumah sakit jiwa!?" Tegasnya Mitha.
Edi tidak menyangka, jika Istrinya memiliki inisiatif dan saran serta memberikan jalan keluar untuk keluarganya yang sedang mengalami cobaan yang begitu berat.
Bu Halimah yang baru bergabung dengan mereka tersenyum bahagia," ya Allah… semoga apa yang kamu lakukan ini bernilai ibadah nak, semoga Allah SWT membalas kebaikanmu dikemudian hari, Tante bahagia mendengarnya walaupun kami mungkin sedikit egois langsung setuju dengan pilihanmu sendiri,"
"Tapi, Mitha apa kamu tidak akan menyesal dengan keputusan kamu ini?" Tanyanya Erka dengan serius.
__ADS_1
"Insyaallah Abang, iye saya tidak akan pernah berubah dan menyesali keputusanku ini, aku sudah memikirkan dengan matang dan baik-baik, Tante tidak perlu risaukan apapun yang sudah saya putuskan," sanggahnya Mitha dengan senyumannya.
Erka berlutut di hadapan Edi,"terima kasih banyak dek, Abang tak tahu gimana caranya untuk membalas kebaikan kalian berdua, tapi Abang berharap semoga apa yang kita lakukan ini berguna untuk Mbakmu dan dia segera sembuh dari penyakitnya,"
Edi berdiri dari duduknya sembari membantu Erka untuk berdiri," jangan seperti ini Abang,kita ini saudara sudah sepatutnya dalam keluarga saling membantu, apalah artinya yang kami berikan ini jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Paman Jauhari dulu untuk ayah dan mamaku Abang, mungkin Abang sudah melupakan hal itu karena kita semua masih kecil tapi, jasa-jasa dan kebaikan paman hingga kapan pun kami tidak akan mampu untuk melupakannya," terangnya Edi yang langsung memeluk tubuh kakak sepupunya itu.
Bu Halimah terharu melihat betapa besar kasih sayang dan rasa kekeluargaan dari anak-anaknya yang tercipta dalam segala kesempatan dan keadaan apapun itu.
Mereka berjalan naik ke arah kamarnya Rindu untuk melihat apa yang terjadi padanya. Betapa terharunya melihat apa yang terjadi pada Rindu. Sudah hampir lima bulan, Rindu seperti mayat hidup dan hampir saja dilarikan ke rumah sakit jiwa,andai saja Mitha dan Edi tidak bergerak cepat.
"Sayang putranya Mama sudah bobo yah,lihat ke pintu ada Papa,Nenek, Paman muda dan Tante muda ada untuk melihat kamu," tuturnya Rindu yang seperti orang yang sama sekali tidak pernah sakit gangguan mental.
Erka berjalan ke arah Rindu seraya memeluk tubuhnya Rindu dengan penuh kasih sayang. Air matanya menetes membasahi pipinya itu.
"Ya Allah… makasih banyak atas nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan kepada keluargaku," cicitnya Erka.
__ADS_1
Waktu terus berlalu, trauma yang dialami oleh Kejora pun sudah sembuh dan berangsur membaik. Walaupun masih kadang ada rasa takut jika naik mobil. Erka sama sekali tidak mengijinkan Rindu mengendarai mobilnya seorang diri.
Erka mencari supir pribadi yang benar-benar bisa diandalkan untuk menjaga dan melindungi Rindu di jalan raya.