
Suara langkah kaki kecil mendekati mereka yang sejak tadi berdiri mematung tanpa ada yang berbicara dan berniat untuk memecahkan keheningan diantara mereka. Hingga suara seseorang anak kecil mampu membuat mereka langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Papa!!" Teriaknya Senja yang berlari kencang lalu memeluk erat tubuhnya pria yang berdiri di ambang pintu.
Teriakannya Senja dari arah dalam ruangan dapur mampu memecahkan keheningan yang tercipta diantara dua orang dewasa tersebut.
"Papa!!" teriak Senja sembari memeluk tubuh papanya yang sedari tadi berdiri mematung tanpa ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutnya setelah melihat pemilik rumah yang didatanginya itu.
Erka langsung menggendong tubuh putrinya itu tapi, tatapan matanya terus terarah pada Rindu.
"Kenapa kita harus bertemu dalam keadaan seperti ini Abang, aku sangat merindukanmu Abang, tapi mungkin rinduku ini tidak pantas aku lagi miliki untukmu karena kamu sudah memiliki dunia sendiri," batinnya Rindu yang sangat pintar menyembunyikan perasaannya di hadapan pria yang sudah memberikan dia dua orang putri sekaligus.
"Rindu, aku sangat merindukanmu sayangku, tapi apa aku masih pantas untuk bisa memiliki dan mencintaimu seperti dulu lagi setelah kepergianku yang begitu lama tanpa mengabarimu sedikitpun, mungkin kamu sudah menikah dengan pria pilihanmu," gumamnya Erka.
__ADS_1
Senja menarik-narik kain celana Papanya, "Papa, ini Aunty cantik temannya Senja, apa Papa tidak pengen saling kenalan gitu dengan Aunty Rindu?" Tanyanya Senja dengan polosnya.
"Lain kali saja Papa kenalan dengan temannya Senja, yuk kita pulang sayang, Nenek sudah nungguin kita untuk pergi ziarah ke makamnya Mama kamu kasihan nenek sudah nungguin lama loh," jelasnya Erka.
"Papayo Aunty cantik, Senja pamit pulang dulu yah, nanti baru tak kesini lagi main," ujarnya Senja ketika berpamitan untuk pulang bersama dengan papanya itu.
Rindu hanya tersenyum melepas kepergian pria yang sangat dicintainya setulus hatinya hingga ia menolak pria yang begitu serius, sayang, dan mencintainya bahkan telah berkorban untuknya sejak ia memutuskan untuk pindah dan tinggal di kampung halaman Bapakmu.
"Mungkin aku harus belajar mengikhlaskan kamu Abang, kita harus jalani hidup masing-masing."
Rindu terpuruk dalam tangisnya,ia tidak tahu bagaimana menghadapi kehidupannya selanjutnya. Pria yang amat dicintainya itu telah menjadi suami wanita lain walaupun perempuan itu sudah meninggal dunia dan juga menjadi Papa dari seorang anak gadis kecil yang menarik perhatiannya beberapa hari terakhir ini.
"Kamu begitu tulus menyayangi putri kecilmu itu jelas terlihat, sedangkan kedua anak kembarku sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayangmu Abang padahal mereka sama-sama anakmu darah dagingmu juga, tapi aku tidak akan mengijinkan kamu untuk mengetahui jika kamu memiliki dua orang putri, aku akan berusaha untuk memisahkan kalian dengan cara apapun itu akak aku tempuh," kesalnya Rindu yang sangat membenci Erka.
__ADS_1
Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.
Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.
"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."
"Kamu pria yang tidak bisa dipercaya sedikitpun, kamu sendiri yang berjanji tapi,malah kamu yang menginkarinya. Dimana janji manismu yang akan datang melamarku dan akan kembali suatu saat untuk memenuhi janjimu, tetapi apa yang aku dapatkan kamu malah menikah dengan perempuan lain, dasar pria brengsek, bajingan!!" Jeritnya Rindu yang menutup mulutnya agar suaranya tidak kedengaran hingga ke luar.
Rindu kembali dibuat terenyuh setelah mendengar perkataan dari mulutnya Erka Mandala Jauhari.
"Tapi, Abang aku sama sekali tidak bermaksud dan berniat menjadi orang ketiga diantara hubungan rumah tangga Abang,nanti orang akan mengira aku adalah perempuan pelakor lagi yang akan merebut suami wanita lain!" dengusnya Rindu.
"Kalau kamu tidak ingin jadi pelakor makanya datang saja di Kafe Sentosa hanya seorang diri dan kamu akan mengetahui semua tentang apa yang akan aku katakan dan pasti kamu ingin ketahui hal tersebut iya kan jadi datang saja di kafetaria yang sudah aku sebutkan tadi dan ingat sesudah shalat ashar aku menunggu kehadiranmu karena sudah lama aku ingin makan bersamamu aku juga sudah lama merindukan suapan langsung dari tanganmu," jelasnya Erka yang sedikit memberikan bumbu candaan dalam percakapannya tersebut.
__ADS_1
Bi Surti tanpa sengaja melihat Rindu yang duduk sambil menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.
"Apa yang terjadi pada Nyonya Rindu karena semenjak kedatangan pria itu bertamu kesedihan itu jelas terlihat dari wajahnya Nyonya, ada hubungan apa dengan papanya Senja,apa mereka sudah saling kenal sebelumnya yah dan juga pria itu aku pernah melihatnya tapi,di mana?" Lirihnya Bi Surti yang ikut sedih melihat kesedihan majikannya itu.