
Pelangi dengan segala kekuatan dan kemampuannya itu secepat kilat mendorong tubuh kekarnya Noah hingga terpelanting ke atas lantai.
Noah tanpa ragu dan segan segera mengecup bibir itu, hingga nafas mereka saling beradu, air saliva mereka saling bertukaran hingga teriakannya seseorang yang cukup lantang membuat keduanya tersentak terkejut mendengar suara bagaikan guntur dan petir di siang bolong saja.
"Noah!!" Jeritnya Bu Annisa.
"Aaauhh! Sakit!!" Keluhnya Noah.
Ketiga orang yang baru menginjakkan kakinya itu tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kedua pasangan suami istri itu.
"Ya Allah Noah, kalau mau itu jangan di sofa tapi di kamar, ini malah di sofa ruang tamu lagi," candanya Bu Annisa.
"Benar sekali apa yang Mami katakan, kan kamarnya Abang itu luas main apa saja boleh dengan kakak iparnya ipar kenapa meski pilih tempat yang orang lain bisa lihat kalian ciuman, untung saja hanya kiss gitu kalau yang lain waduh bisa gawat!" Tampiknya Neelam Ambar Rizaldi.
Puk!!!
"Aja sakit tahu!" Ketusnya Neelam yang memegangi puncak rambutnya itu yang terkena timpuk kakak pertamanya itu.
"Kamu itu masih bocah sudah tahu gituan!"
Neelam hanya memonyongkan bibirnya ke arah kakak sulungnya itu.
"Noah, kami sangat bahagia melihat kamu seperti ini dengan istrimu tapi,mami minta main kuda-kudaannya di dalam kamar kalian saja yah Nak," guraunya Bu Annisa.
__ADS_1
"Mami saja ngomong gitu, tapi Mbak berharap dengan keadaan yang seperti ini kalian segera dapat calon baby," imbuhnya Nazma sambil ikut mendudukkan bokongnya bersama dengan adik bungsunya dan maminya itu.
Pelangi tidak berani memperlihatkan wajahnya di depan mama mertua dan saudara iparnya itu. Pelangi terus menunduk dan meremas ujung hijabnya saking malunya karena kedapatan berr ciuuu maan dengan suaminya sendiri.
Noah sama sekali tidak menghiraukan perkataan dari anggota keluarganya itu. Ia hanya sesekali melirik sekilas ke arah Pelangi yang terus menundukkan kepalanya karena terlalu malu.
"Papi mana Mi?" Tanyanya Noah sambil menggenggam tangannya Pelangi.
Pelangi yang diperlakukan seperti itu mengira semua ini hanyalah akting saja biar kelihatan lebih alami lagi. Pelangi melihat ke arah Noah sedangkan Noah hanya tersenyum simpul.
"Papi kamu ada urusan penting di perusahaan baru saja nyampe sudah sibuk, padahal niatnya mami ke sini untuk istirahat dan santai," Keluhnya Bu Annisa sambil memijit pelipisnya itu.
Keluarga besarnya Rizaldi membangun perusahaan pelayaran yang berbasis antara negara. Noah yang selama ini menjadi CEO perusahaan besar tersebut sengaja hanya bekerja sampai siang setelah mendapatkan informasi tentang siapa Pelangi sebenarnya.
Pelangi tanpa bicara sedikitpun segera berjalan ke arah dapur dengan mempersembahkan senyumannya ke arahnya Nyonya Annisa dan saudari iparnya itu.
"Mami Noah punya kabar baik untuk kalian," imbuhnya Noah.
"Kabar baik, apa kakak ipar sudah hamil?" Celetuk Neelam.
"Hamil,gimana caranya main kuda-kudaannya saja sering gagal," ketusnya Noah.
Apa yang dikatakan oleh Noah membuat ketiga orang itu langsung kembali tertawa terbahak-bahak mendengar kejujuran dari Noah.
__ADS_1
"Ya ampun… pantesan tadi itu sepertinya sangat kaku dan tidak seperti orang yang sudah terlatih dan terbiasa," cibirnya Nazma seraya menggeleng kepalanya itu.
"Berarti kamu butuh latihan dan privat khusus kayaknya," timpalnya Bu Annisa.
"Nazma bantu adikmu itu agar dia segera belah duren dan pastikan gawangnya gol dengan baik agar tokcer dan manjur," sarannya Bu Annisa.
Noah menatap jengah ke arah mereka sambil memejamkan matanya saking tidak menyangka reaksi mereka yang luar biasa itu.
"Ya Allah… kalian ini yah aku ingin mengatakan jika Bintang masih hidup," ujarnya Noah dengan penuh keyakinan yang kuat.
"Apa!! Bintang masih hidup!" Beonya Nazma, Neelam dan ibu Annisa.
Noah melihat kedatangan Pelangi," nanti malam kita akan bahas semuanya ini jika Papi sudah balik dari kantor,"
Mereka langsung terdiam ketika Pelangi datang. Nazma segera mengalihkan pembicaraan mereka, agar Pelangi tidak merasa jika dia yang menjadi bahan pembicaraan mereka semua.
"Bagaimana dengan kakimu, apa kamu sudah tidak pernah mengalami kram, sakit atau yang lainnya?" Tanya Nazma yang kebetulan dia adalah seorang dokter umum yang sudah jongkok di hadapan adiknya.
Nazma memeriksa seluruh kakinya Noah dengan seksama. Noah hanya menatap ke arahnya Pelangi yang membawa nampan yang berisi beberapa gelas dengan satu teko yang berisi teh hangat sesuai kesukaannya ibu mertuanya.
Pelangi sama sekali tidak keberatan dengan permintaan dari suaminya. Karena pekerjaan seperti itu sudah biasa ia lakukan.
"Kenapa aku merasa ada yang aku rindukan, tapi tidak tahu siapa orangnya," batinnya Pelangi.
__ADS_1