Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 60


__ADS_3

Jika kebaikan dibalas kejahatan maka itu adalah zhalim.


Tapi, jika kejahatan dibalas kebaikan itu adalah mulia dan terpuji


Kejora segera berlari ke arah pintu depan setelah menyadarinya kedatangan Naufal atasannya di kafe tempat ia bekerja. Tanpa memakai alas kaki, Kejora Aysila Mandala menemui pria yang beberapa bulan ini mengganggu kenyamanan tidurnya. Senyuman pria itu yang mampu mengusik ketenangan istirahatnya itu.


Klakson motor seseorang mampu mengalihkan perhatiannya dari pohon yang cukup rindang itu ke pagar kayu rumah kontrakannya yang tersisa dua minggu lagi akan selesai masa kontrakannya m Sedangkan uang sewanya belum cukup.


"Pak Naufal!" Cicit Kejora yang tersenyum manis.


"Ehh pak Naufal," serunya Kejora yang segera memperlambat laju langkah kakinya menuju motor gede yang sudah terparkir di depannya itu.


Naufal tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih dan tersusun rapi itu.


"Hari ini kamu ada acara enggak?" Tanyanya Naufal.


"Saya hari ini sepertinya tidak ada Pak, memangnya kenapa Pak Naufal?" Tanyanya Kejora dengan penuh selidik.


"Kalau gitu kamu mau ikut aku gak kesuatu tempat untuk bertemu seseorang yang sangat penting dalam hidupku," pintanya Naufal.


"Boleh juga, tapi aku ke dalam dulu yah Pak kebetulan aku belum mandi soalnya, bapak silahkan nunggunya di dalam saja,gak enak kalau harus menunggu diluar," sarannya Kejora.


Kejora tanpa menunggu jawaban dari perkataannya dijawab oleh Naufal, ia segera meninggalkan Naufal yang juga melepas helmnya lalu mengekor di belakangnya Kejora.


Naufal kali ini adalah yang pertama datang dan berkunjung untuk langsung menyambangi rumah sederhana miliknya Kejora Aysila Mandala yang terbilang cukup sederhana itu.

__ADS_1


"Rumahnya cukup kecil,tapi aku lihat Pelangi bahagia tinggal di rumah yang modelnya seperti ini, aku salut dengan sikapnya yang sederhana itu," gumamnya Naufal.


Pelangi mandi yang cukup lama agar penampilannya kali ini tidak membuat Naufal berjalan bersamanya dengan tidak percaya diri.


"Harumnya busa sabun ini," gumamnya Kejora yang segera menyudahi acara mandinya.


Sebenarnya Kejora sudah mandi pagi ini, hanya saja ia ingin memperlihatkan penampilannya yang terbaik hari ini.


"Semoga saja Pelangi punya pakaian yang bagus, tapi ups aku lupa tadi Pak Naufal kasih aku paper bag ngomong-ngomong isinya apa yah," cicitnya Kejora yang segera berjalan ke arah ranjangnya yang kebetulan tadi ia lempar paper bagnya.


Naufal duduk di kursi yang ada di depan teras rumahnya Kejora di salah satu kursi yang sudah hampir lapuk salah satu kaki penyangganya.


"Semoga saja pakaian yang aku pilih acak itu cocok di tubuhnya," cicitnya Naufal yang melihat ke arah sangkar burung milik ibu kosan nya Pelangi.


"Ini pakaian yang cukup perfect aku pakai, sepertinya Pak Naufal hafal banget dengan ukuranku," lirih Pelangi.


Naufal mengalihkan perhatiannya ke arah pintu yang berderit, Kejora berdiri sambil tersenyum lebar di hadapan Naufal.


"Alhamdulillah pakaiannya sangat cocok di tubuhmu, pasti kamu masih ingat beberapa bulan yang lalu kamu aku suruh datang ke tukang jahit dan kamu juga bertanya-tanya tentang apa tujuanku aku suruh kamu datang ini nih alasannya, saya menjahitkan kamu pakaian yang khusus untuk bertemu dengan mamaku," ungkap Naufal.


Perkataan Naufal mampu membuat hatinya Kejora yang awalnya berbunga-bunga bahagia tapi, sekarang drastis berubah saking terkejutnya mendengar perkataan sekaligus kejujuran dari Naufal yang mengatakan jika pakaian itu khusus dijahit untuk Pelangi bukan dia.


"Saya harus sadar diri kalau perempuan yang di sayangi oleh Naufal atasanmu adalah gadis yang wajahnya mirip denganmu namanya Pelangi Arunnika Rahmany," batinnya Kejora.


"Pe, apa yang terjadi padamu kamu baik-baik saja kan? Kalau kamu kurang enak badan kita batalkan saja dulu rencana perginya," ujarnya Naufal yang mulai khawatir dengan kondisinya Pelangi.

__ADS_1


Raut wajahnya kecewa, sendu tapi mau tidak mau ia haruslah berusaha untuk menampilkan wajah kebahagiaannya, walaupun dalam hatinya terluka dan sedih tentunya.


"Tidak apa-apa, a-ku baik kok, yuk kita berangkatnya gak enak kalau mamanya nungguin kita terlalu lama," elaknya lalu ajaknya Kejora yang menutupi kenyataan yang dialaminya.


Apa yang dikatakan oleh Kejora membuat Naufal mengerutkan keningnya karena heran dengan sikapnya Pelangi kali. Naufal segera menghentikan langkahnya dan menarik tangannya Pelangi agar segera berhenti. Naufal tidak ingin ada kesalahpahaman dan migy bingung apa sebenarnya yang terjadi padanya Pelangi.


"Tapi, Pe apa kamu lupa jika mamaku meninggal dunia satu tahun lalu, apa karena benturan di kepalamu dua bulan lalu sehingga banyak hal penting yang kamu lupakan?" Tebaknya Naufal sambil memperbaiki letak hijabnya Kejora Aysila Mandala yang sedikit miring itu.


"Be-nar se-ka-li itu gara-gara sebabnya makanya aku sering lupa hal-hal penting jadi tolong kedepannya di maklumi Pak," kilahnya Kejora.


Dengan puppy eyes yang diperlihatkan oleh Pelangi mampu membuat jantungnya Noah Javier Rizaldi berdetak kencang wajahnya merona memerah saking terpananya melihat Pelangi memperlihatkan wajah imutnya itu.


Noah langsung menunjuk ke arah pipinya itu," saya bisa mengabulkan semua itu tapi, ada syaratnya," ujarnya Noah.


Pelangi menatap intens ke arah Noah tanpa berkedip sedikitpun, ia tanpa ragu, bimbang dan risih ataupun gentar langsung mengecup pipi bagian kanannya Noah.


Noah cukup terkejut diperlakukan seperti itu untuk pertama kalinya dari seorang wanita, apalagi perempuan itu adalah istrinya sendiri sekaligus cinta pertamanya sejak masa kecilnya.


Noah tersipu hingga pipinya memerah seperti buah tomat saja," Setelah ingatanmu pulih aku yakin kamu akan mengetahui dan mengingat kenangan masa lalu kita sewaktu kecil Bintang Airen Mandala Jauhari." Tatapan itu sesekali mengarah ke wajahnya Pelangi.


Kendaraan roda empat itu sudah melaju dengan kecepatan sedang, semilir angin sepoi-sepoi menerpa ujung hijabnya Pelangi Arunnika Rahmany.


"Kalau gitu kita berangkat mumpung cuacanya tidak terlalu panas jadi anakan dijalannya,"


Naufal menarik tangannya Kejora yang terdiam mematung meresapi apa yang seharusnya lagi dia katakan jika, terdesak seperti sekarang ini agar tidak ketahuan dengan apa yang dia katakan.

__ADS_1


__ADS_2