
Gita menuruni anak tangga dengan tergesa, gara-gara semalam tak bisa memejamkan mata hingga tengah malam, akhirnya dia bangun kesiangan. Bukan tanpa alasan dirinya tak bisa memejamkan mata, tentu saja alasannya siapa lagi jika bukan Indra. Semalam pemuda itu benar-benar membantunya hingga hampir tengah malam. Meskipun tak banyak perbincangan diantara keduanya semalam, tapi tetap saja membuat jantung Gita tidak aman. Apalagi Indra yang begitu perhatian, bahkan membuatkan coklat panas saat dirinya akan tidur, dengan alasan supaya tidur nyenyak. Entah itu hanya alasan dirinya saja atau memang benar adanya, Gita tak tahu.
Gita terburu-buru sebab dia ada jadwal kuliah pukul tujuh pagi, padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lebih. Perjalanan dari rumah ke kampus memang hanya sekitar lima belas menit jika jalanan tidak macet, tapi jika macet bisa sampai satu jam lamanya.
"Ma, Pi, maaf Gita enggak bisa ikut sarapan. Udah kesiangan." Gita meraih gelas berisi susu yang selalu Mamanya siapkan saat sarapan dan menegak isinya hingga habis separo.
Di ruang makan hanya ada Papi dan Mama, sepertinya Riky dan Indra sudah berangkat lebih dulu.
"Nebeng gue aja Kak, kita kan searah," tawar Riky saat melihat Gita keluar dari dalam rumah menuju garasi.
Ternyata Riky belum berangkat ke sekolah, tapi dia tak berniat untuk ikut dengan adik tirinya itu, "Udah kamu berangkat aja," tolaknya halus.
Riky mengangguk dan langsung tancap gas meninggalkan kediamannya tanpa sepatah katapun.
Sepeninggal Riky, Gita bergegas menuju garasi, motor Indra masih terparkir cantik ditempatnya, berarti pemuda itu belum berangkat, pikirnya.
Saat melihat mobil kesayangannya, Gita nampak terkejut mendapati dua ban mobil depannya kempes tanpa pemberitahuan. Padahal dia terburu-buru dan hampir telat.
"CK, kok bisa kempes sih? Enggak tahu apa kalo gue lagi buru-buru?" Gita mendengus kesal.
"Tau gini tadi ikut Riky," Gita menghela nafas berulangkali. Lalu mencoba memesan ojek online, meskipun sudah dipastikan akan telat masuk kelas pagi ini. Tidak apalah yang penting dia masuk, dari pada absen.
"Kok belum berangkat, katanya masuk pagi?" pertanyaan seseorang mengejutkan gadis itu yang sedang fokus memesan ojek online.
"Ah, ini bannya kempes." Gita menunjuk ban mobilnya yang kempes.
"Bareng sama aku aja, lagian kita searah," tawar orang itu yang tak lain adalah Indra.
Gita menghela nafas, lagi-lagi dirinya terjebak di posisi seperti ini. Jika menolak sudah dipastikan akan terlambat, tapi jika tidak dia harus menguatkan hatinya, apalagi Indra menggunakan motor, bukan mobil. Dan itu berakibat tidak baik untuk jantung dan hatinya.
"Ayo buruan, nanti malah telat lho," celetuk Indra saat menyadari Gita hanya diam tak merespon tawarannya.
"Tapi Bang, aku udah pesen ojol," tolaknya.
"Kelamaan, nanti kamu malah telat,"
Dengan perasaan berat, akhirnya Gita pun berangkat bersama Indra. Dengan terpaksa membatalkan ojek online yang baru dia pesan.
"Pegangan yang kuat," titah Indra, sebab dirinya melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Gita yang awalnya hanya hanya berpegangan pada kemeja pemuda itu, kini memberanikan diri untuk memeluk Indra, meski jantungnya seakan ingin melompat dari tempatnya. Berbeda dengan hatinya yang terasa diiris sembilu, perih. Apalagi saat mengingat status mereka saat ini. Saudara tiri.
__ADS_1
Jika saja tak ada status yang membuatnya sulit, sudah pasti Gita akan sangat bahagia berada di posisi ini. Tapi itu hanya bisa dia rasakan lewat khayalan semata.
Berulangkali gadis itu menghela nafas, tak boleh perasaanya itu terus tumbuh, jika dia tak ingin jatuh sejauh-jauhnya. Lebih baik mulai sekarang dia harus menghindar sebisa mungkin dari Indra, meskipun menurutnya akan sangat sulit.
"Benerin dulu rambut dan bajumu, masih ada waktu sepuluh menit sebelum jam tujuh." Indra menerima helm dari tangan Gita, tapi hal selanjutnya membuat Gita frustasi, sebab tanpa permisi pemuda itu merapikan rambu Gita yang sedikit berantakan.
Tak ingin terlena dengan perlakuan manis Indra, Gita pun memilih berpamitan dan mengucapkan terimakasih. Dan Indra pun melanjutkan perjalanan setelah Gita tak terlihat dari pandangannya.
🥀🥀🥀
"Gue bisa gila kalo kaya gini terus! Tapi gue enggak bisa berbuat apa pun," Gita terlihat frustasi setelah menceritakan semua yang terjadi pada dirinya beberapa hari terakhir pada kedua sahabatnya.
"Menurut gue, coba deh Lo cari pacar gitu. Siapa tahu dengan begitu Lo bisa move on dari Abang Lo itu," saran ngaco yang diberikan oleh sahabatnya, Alya.
"Kalo gitu sih namanya pelarian, jangan deh! Menurut gue itu akan menyakiti orang lain, memaksa orang lain masuk dalam masalah kita. Bukannya masalah selesai malah tambah panjang," Salma tak setuju dengan usulan Alya yang memang belum pengalaman dalam urusan percintaan.
"Iya gue juga enggak mau kali nyakitin orang lain demi diri gue sendiri. Biarlah ini semua berjalan apa adanya, gue pasrah aja keknya. Gue akan angkat tangan kalo udah enggak kuat dan kalian berdua harus siap-siap kalo gue udah angkat tangan," ujar Gita menyerah, tak tahu harus berbuat apa lagi.
Ketiga gadis itu kini sedang berada di sebuah kafe, setelah pulang kuliah mereka memutuskan untuk nongkrong terlebih dahulu, mendinginkan otak yang terasa panas karena skripsi yang tidak kelar-kelar.
"Angkat tangan kaya uji nyali aja Lo!" protes Alya.
Salma menepuk pundak gadis itu, memberi kekuatan dan semangat. Sebab dia pun tak memiliki solusi yang tepat untuk Gita. Yang terpenting saat ini dengarkan saja apa yang Gita katakan tanpa harus memberi solusi, dengan begitu pasti Gita akan lebih tenang setelah berbagi keluh kesahnya.
"Karin sama Tama?" Gita menatap dua orang yang sangat dia kenali, mereka baru saja masuk di kafe tersebut.
Salma melihat ke arah pandangan Gita, dia mengernyitkan dahi saat mengenali salah seorang dari dua orang itu.
"Lo kenal Kak Ryan Git?" tanya Salma.
"Rian? Oh Ryantaka? Cowok itu?" Gita menunjuk Tak dengan ekor matanya, dan Salma mengangguk.
"Mantan Gue," jawab Gita.
"Lo kok kenal?" kini Gita yang bertanya.
"Dia koas di rumah sakit yang sama dengan cowok gue Kak Fajar. Beberapa kali ke rumah juga nemuin Bang Salman," jawab Salma.
Gita mengangguk, "Pantesan dia di Bandung, ternyata koas di sini. Tapi kok sama Karin ya?" entah Gita bertanya pada siapa, sebab kedua sahabatnya tentu tak memiliki jawaban.
"Ganteng Mayan Lo Git. Kenapa putus sih?" tanya Alya penasaran
__ADS_1
"CK, ganteng tapi tukang selingkuh. Ogah dong gue," jawab Gita.
"Kasian, Lo diselingkuhi? Cantik gini aja diselingkuhi apalagi gue?" Alya mendramatisir seolah dirinya yang terluka.
"Bukan. Tapi gue yang dijadiin selingkuhan sama dia, mana gue kagak tahu lagi. Tau-tau dia bawa cewek, dan bilang kalo gue cuman selingkuhan. Lebih nyesek, kan?"
Brakk
"Apa!?" Alya menggebrak meja, membuat sebagian pengunjung menatap ke arah mereka bertiga dengan tatapan berbeda-beda.
"Bisa diem enggak sih Al? Lo itua berlebihan tahu enggak?" Salma menarik tangan Alya supaya duduk lagi.
"Maaf, gue kelepasan," cicit Alya.
"Gita?" mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara, dan terkejut saat mendapati Taka sudah berdiri di samping Gita dan seorang gadis mengikuti pemuda itu.
Gita mendengus, dia ingin beranjak dari duduknya dan meninggalkan kafe tersebut, tapi tarikan di tangannya membuatnya bergeming.
"Git, ini enggak seperti yang Lo lihat. Gue kebetulan aja ketemu sama Taka, dia masih sayang sama Lo Git." Ternyata Karin, mantan sahabatnya yang menarik Gita.
"Gue enggak peduli, mau kalian udah nikah atau apa. Bukan urusan gue." Gita mencoba melepaskan tangannya dari Karin, dan berhasil. Gadis itu pun langsung pergi meninggalkan mereka, disusul oleh Alya secepat kilat.
"Kak Ryan maaf, aku duluan." Salma hendak meninggalkan tempat itu, tapi ucapan Taka membuatnya berhenti.
"Boleh minta nomor Gita? Gue mau minta maaf sama dia. Mau jelasin semuanya sama dia, please." Taka mengiba, berharap Salma memberikan nomor gadis itu.
"Maaf Kak, aku enggak berani kasih nomor Gita tanpa persetujuan darinya. Permisi ya Kak." Kali ini Salma benar-benar meninggalkan mereka berdua, tanpa mempedulikan teriakan dari Taka.
Taka menghela nafas kasar, "Gue sebenarnya sayang sama dia Rin. Gue bela-belain koas di Bandung, berharap ketemu sama dia, tapi dia malah menghindar. Rasa itu tumbuh setelah dia benar-benar pergi, dan gue baru menyadari itu. Gue akuin gue memang salah sama dia, udah buat dia kecewa. Itu semua sebenarnya gue lakuin demi kedua orang tua gue, karena waktu itu Tante Sita mengancam akan berhenti bekerja sama dengan bokap gue," Taka menghela nafas sejenak.
"Dan Lo tahu cewek yang gue akuin sebagai pacar itu sebenarnya sepupu gue sendiri. Teman-teman gue termasuk Indra enggak ada yang tahu kalo itu sepupu gue. Kita juga bekerjasama waktu itu," tambahnya.
"Sabar Ka, Lo pasti bisa dapetin hatinya lagi, asal Lo terus berusaha. Dia juga masih marah sama gue, dan gue sadar akan kesalahan gue dulu," Karin mencoba menenangkan Taka, berharap pemuda itu tak menyerah begitu saja.
"Bodohnya gue Rin! Benar-benar bodoh banget!" Taka mengumpat dirinya sendiri yang menyia-nyiakan gadis secantik dan sebaik Gita.
🥀🥀🥀
Penyesalan tidak ada artinya ya ges ya.
Jangan lupa like dan komen.
__ADS_1