
Indra mengendarai motornya dengan kecepatan penuh, melewati jalan yang sekiranya tidak ada kemacetan. Dia harus fokus supaya selamat sampai di tempat yang akan dia tuju. Mencoba untuk terus konsentrasi dengan jalanan meski rasa takut dan khawatir memenuhi pikirannya. Hingga beberapa saat berlalu dia sudah sampai disebuah gedung yang amat sangat dihindari untuk dikunjungi.
Pemuda itu berjalan tergesa menuju sebuah tempat yang dia yakini seseorang yang dikhawatirkannya berada di sana, tiba-tiba jantungnya berdetak melebihi batas normal saat melihat seseorang yang menghubunginya tadi sedang duduk dengan wajah tertunduk, dia pun segera menghampirinya.
"Fidz? Mereka baik-baik aja, kan?" meski tak yakin dengan pertanyaannya itu dia tetap berharap Hafidz menjawab iya. Diluar dugaannya sebab pemuda dihadapannya ini menjawab dengan gelengan kepala.
"Kita belum tahu Ndra," jawab Hafidz lirih.
Indra merutuki dirinya sendiri atas kejadian ini, jika saja pertemuannya dengan klien terjadi siang tadi, sudah pasti mereka tidak akan berada di sini sekarang. Dia hanya bisa pasrah dan menyesali semuanya saat ini.
"Gue bingung mau kasih tahu Mama," Hafidz tak kalah khawatir dengan Indra, apalagi dia merasa tak sanggup saat haru memberitahu sang Mama tentang kejadian ini.
Indra membenarkan ucapan Hafidz, Mama Sinta pasti akan sangat terpukul jika mendengar kabar ini.
"Tapi Mama harus segera dikasih tahu Fidz, biar gue yang telfon Papi, nanti biar Papi yang ngasih tahu Mama," putus Indra, dia juga tak akan sanggup menyampaikan secara langsung berita ini.
Cukup lama mereka menunggu dokter keluar dari ruang IGD, membuat kekhawatiran semua yang ada di sana makin bertambah.
Ceklek
Pintu IGD terbuka, terlihat dokter yang tadi menangani Gita dan Riky keluar ruangan. Dokter itu langsung di serang dengan pertanyaan dari semua orang yang ada di sana.
"Bapak Renaldy bisa ikut saya sebentar," ucap dokter itu dan diangguki oleh Papa.
Sedangkan Hafidz dan Indra hanya bisa menatap kepergian dua orang itu tanpa bisa berbuat apa pun.
__ADS_1
Tak lama setelah kepergian keduanya, seorang perawat datang menghampiri mereka, "Keluarganya Riky Pratama?" ucap perawat itu menatap dua pemuda yang duduk di depan IGD tersebut.
"Kami berdua sus, gimana keadaan adik kami?" tanya Hafidz, sebab Indra memilih diam, entah apa yang sedang dipikirkan pemuda itu.
"Dia sudah lebih baik, dan boleh pulang setelah ini, silahkan saya antar untuk menemuinya." Perawat itu masuk kembali ke dalam ruang IGD tersebut, diikuti Hafidz dan Indra. Keduanya bernafas lega saat mendengar jika Riky baik-baik saja, tapi Gita gimana kabar gadis itu?
Perasaan campur aduk saat memasuki ruangan itu, keduanya melihat sekeliling tapi Gita tak terlihat diantara semua pasien yang ada, entah berada dimana Gita.
"Silahkan," perawat tersebut membuka sebuah tirai dan nampaklah seorang Riky yang sedang berbaring di brangkar dengan perban di kepala, kaki dan juga tangan.
"Bang," Riky menatap keduanya dengan tatapan penuh penyesalan, bahkan buliran bening menetes dari mata indahnya.
"Gue minta maaf enggak bisa jagain Kak Gita, gue salah. Gue nyesel," ucapnya penuh penyesalan, entah seperti apa keadaan Gita hingga membuat seorang Riky menangis seperti saat ini.
Kenapa tiba-tiba dadanya terasa sesak mendengar ucapan Riky, Indra pun menyesal karena sudah ingkar janji dengan gadis itu. Dia berharap Gita akan baik-baik saja, meskipun dia merasa ada sesuatu yang tak biasa.
"Kenapa Gita? Dimana dia?" tanyanya tak sabar ingin melihat kekasihnya itu.
Riky menggeleng, "Gue enggak tahu, setahu Gue tadi dia pingsan saat dibawa ke sini. Gue nyesel enggak bisa jagain dia," ujar Riky penuh sesal.
Hafidz menepuk pundak Indra sama seperti saat melakukan itu pada Riky, dia juga sebenarnya rapuh sedikit mengetahui keadaan Gita, dia berharap saudara kembarnya itu baik-baik saja. Saat ini hanya itu yang bisa dilakukannya.
"Sekarang kita sama-sama berdoa untuk Gita, semoga dia baik-baik saja," ucap Hafidz.
"Gue mau ketemu dia Fidz, tapi dimana dia sekarang?" Indra tak bisa terus berdiam diri tanpa mengetahui seperti apa keadaan Gita sesungguhnya. Dadanya masih terasa begitu sesak jika mengingat gadis yang dia sayangi itu, ah ingin sekali marah dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Gita baru saja di bawa ke ruang ICU," ucapan seseorang yang baru saja datang mengejutkan tiga pemuda tersebut.
Seakan udara di dalam IGD itu habis terkuras, sebab tiga pemuda itu merasakan sesak di dada tiba-tiba, bahkan rasanya sangat sulit untuk bernafas setelah mendengar semua perkataan Papa Renaldy.
Indra merasa tulangnya seakan melunak tak bisa menopang bobot tubuhnya, dia tertunduk mendengar kenyataan itu. Penyesalannya makin mendalam saat mengetahui hal itu.
"Gita pasti baik-baik saja Ndra." Hafidz membantu Indra untuk kembali berdiri, dia mengatakan hal itu supaya Indra lebih kuat, meskipun ucapannya tidak mempan sedikit pun, sebab kini Gita tidak baik-baik saja seperti yang dia katakan.
"Kalian boleh jenguk dia, tapi satu persatu. Ayo Papa juga mau jenguk Gita." Ternyata Papa Renaldy belum menemui Gita, sebab saat dia masuk ruang IGD, dokter dan perawat baru saja memindahkan Gita ke sana.
Ketiga pria berbeda generasi tersebut melangkahkan kaki menuju ruang ICU, merak sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Gita. Papa Renaldy yang lebih dulu masuk ke dalam ruangan itu.
"Kenapa semua ini bisa terjadi Fidz?" Indra menatap nanar ruang ICU tersebut, nampaklah gadis yang dia sayangi terbaring lemah di sana dengan berbagai selang untuk menopang hidupnya. Tak kuasa rasanya melihat gadis itu menderita seperti saat ini.
"Namanya musibah tidak pandang bulu Ndra, sebaiknya kita berdoa untuk kesembuhan Gita, gue yakin Gita kuat melewati semua ini dengan baik, dia gadis kuat Ndra meskipun terlihat lemah saat bersama kita," Hafidz pun merasakan hal yang sama seperti yang Indra rasakan, tapi dia harus lebih kuat dari sahabatnya itu.
Keduanya diam seribu bahasa setelah ucapan Hafidz itu, mereka memandangi Papa Renaldy yang sedang duduk disisi Gita, mereka juga tahu jika Papa Renaldy juga sangat terpukul akan kejadian ini, terlihat jika lelaki paruh baya itu kini sedang menangis sambil sesekali mencium kening putrinya.
"Sayangnya Papa, bangun ya. Papa janji akan nurutin semua keinginan kamu kalau kamu bangun, apa pun itu." Renaldy mencium punggung tangan Gita berulang kali, tak sanggup melihat putri tercintanya seperti ini. Air mata itu membuktikan betapa sayangnya dia dengan Sagita, gadisnya yang kini sudah tumbuh dewasa.
"Mama juga pasti sangat sedih kalau lihat kamu seperti ini. Kamu bilang enggak mau buat Mama sedih, kan? Ayo bangun sebelum Mama sampai ke sini sayang." Renaldy terus mengucapkan kata penyemangat untuk Gita supaya cepat sadar, meskipun dia tak begitu yakin, sebab dokter mengatakan butuh beberapa waktu untuk gadis itu sadarkan diri.
.
🥀🥀🥀🥀
__ADS_1