
Sepeninggal Salman Gita kembali masuk, dia melewati Indra begitu saja, kesal dengan pemuda itu yang bersikap posesif seperti itu. Dia juga butuh berteman dengan lawan jenis selain Indra tentunya, karena jika terus bersama pemuda itu hatinya selalu terluka mengingat status mereka.
Indra mengejar gadis itu, dia tahu Gita marah padanya, tapi dia benar-benar khawatir sebab Gita tak pernah pulang malam sebelumnya. Meskipun saat ini baru pukul delapan malam, tapi menurutnya itu sudah malam bagi gadis seperti Gita.
"Kamu marah?" tanya Indra.
"Pikir sendiri!" cetus Gita dengan ketus.
"Kalau gitu aku minta maaf, aku cuma khawatir sama kamu Git, apalagi kamu baru mengenal laki-laki itu." Indra menahan tangan Gita saat gadis itu akan menaiki anak tangga.
Gita bergeming, dia ingin mendengar apa lagi alasan yang akan dilontarkan oleh Indra.
"Aku enggak mau kejadian sama Taka terulang lagi Git, apalagi kalau mereka tahu siapa Papa kamu, hanya itu yang aku takutkan. Takut kamu dimanfaatkan oleh orang lain," tambahnya menatap Gita yang masih enggan menatapnya.
"Sebagai Abang, tentu aku tidak rela adikku disakiti sama laki-laki lain. Aku hanya ingin yang terbaik buat kamu," ujarnya lagi.
Gita menghela nafas berat, dia melepaskan tangan Indra sebab tangan itu membuat jantungnya tak terkendali, apalagi setelah mendengar ucapan terakhir Indra. Dia mengerti Indra khawatir dengannya, tapi menurutnya itu terlalu berlebihan. Gita memutuskan untuk turun dari tangga, duduk di sofa ruang keluarga dan Indra mengikutinya.
"Makasih Bang udah perhatian sama aku, dan juga maaf udah buat Bang Indra khawatir. Tapi aku yakin kalo ini berbeda, aku kenal siapa keluarga Kak Salman bahkan adiknya juga sahabatku," ucap Gita lembut, sebab sudah bisa menguasai emosinya.
"Bukannya kamu juga kena keluarga Taka, tapi Taka juga berani nyakitin kamu," sahut Indra.
"Ya tapi kan beda Bang, Taka itu di suruh Tante Sita, kalau Kak Salman aku yakin dia tidak ada yang menyuruhnya," Gita kembali tersulut emosi saat Indra tak menerima alasannya.
"Udah deh Bang, biarkan aku kenal cowok selain Abang dan Bang Hafidz, aku juga pengen bebas Bang," Gita mengeluarkan unek-uneknya.
"Bebas dari belenggu cintaku ke kamu Bang!" ingin rasanya Gita berteriak seperti itu tapi dia tak mampu.
Indra menghela nafas berat, "Yaudah terserah kamu, tapi jangan cegah aku berbuat lebih sama cowok itu kalau dia sampai nyakitin kamu," ujarnya tak mau dibantah.
"Iya, terserah Abang saja. Aku pusing mau tidur." Baru saja Gita akan beranjak tapi lagi-lagi Indra menghalanginya.
__ADS_1
"Apalagi sih Bang? Mending Abang pulang sana!" usirnya.
Harapannya ingin menghindar dari Indra untuk beberapa saat, tapi pemuda itu justru datang tanpa diundang dan kini membuatnya kesal. Bukan kesal karena keposesifan Indra, tapi lebih karena dia tak bisa menahan gejolak di hatinya. Apalagi saat tadi melihat wajah Indra begitu kesal saat dirinya pulang dengan Salman, dia merasa Indra cemburu, tapi sepertinya tidak, pemuda itu mengkhawatirkan dirinya karena rasa tanggungjawab sebagai seorang Abang.
"Kamu ikut pulang ya, kalau kamu di rumah aku bisa mantau kamu dengan mudah. Terlalu berbahaya kamu di sini sendirian," bujuk Indra, tapi lagi-lagi membuat Gita kesal.
"Bang, di sini aku enggak sendirian, ada Bapak, ibu, dan semua para pekerja. Jadi, Abang enggak usah khawatir berlebihan deh. Enggak mungkin juga Kak Salman berani nyusup masuk ke dalam rumah dan nyulik aku," cetus Gita geram dengan pemikiran Indra, sekalian saja dia memperjelas kemungkinan yang sangat mustahil itu.
"Kamu itu, ah sudahlah. Kalau gitu aku pulang, besok aku datang lagi." Indra beranjak dari duduknya hendak meninggalkan rumah tersebut.
"Enggak perlu!" sahut Gita tanpa menatap Indra dan memilih meninggalkan ruang keluarga, dimana Indra masih mematung dan menatapnya menaiki anak tangga.
"Oh satu lagi Bang, sebaiknya Bang Indra cari pacar, biar ada kesibukan. Dan bisa ngerasain gimana rasanya jatuh cinta!" seru Gita sebelum menghilang di balik tembok.
Indra menganga mendengar ucapan Gita, tak pernah terpikirkan dalam benaknya untuk mencari kekasih, entahlah dia masih betah menyendiri. Menurutnya memiliki kekasih hanya akan menyia-nyiakan waktu istirahatnya, belum lagi kalau kekasihnya minta di jemput sana sini, dia belum siap untuk jadi sopir pribadi.
Indra menggelengkan kepala lalu melenggang meninggalkan kediaman Mama Sinta. Sebelumnya dia berpamitan lebih dulu dengan Bu Nurul.
Selama perjalanan pulang, Indra memikirkan ucapan Gita. Apa sebaiknya dia menerima saran gadis itu? Tapi dia benar-benar belum siap kecewa dan patah hati nantinya.
🥀🥀🥀
Gita menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, ucapannya tadi saat di tengah tangga justru mengusiknya. Bagaimana jika Indra benar-benar memiliki kekasih? Apakah hatinya akan baik-baik saja? Tapi sepertinya itu akan lebih baik, meskipun nantinya hatinya akan hancur, tapi setidaknya dia memiliki alasan lain untuk melupakan Indra yang semakin tak bisa digapai.
"Huhf, jadi rindu Mama, rindu Bang Hafidz," gumamnya. Sebab jika ada Hafidz dia sudah pasti akan mencurahkan semaunya pada pemuda itu, meskipun terkadang respon Hafidz tak sesuai keinginannya, tapi setidaknya ada yang mendengarkan curhatannya.
Drrrrtt Drrttt Drrttt
Deringan ponsel membuat Gita tersadar dari khayalannya, dia pun langsung menerima panggilan tersebut.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya seseorang di seberang sana setelah Gita menerima panggilannya.
__ADS_1
"Kak Salman enggak usah khawatir, aku baik-baik saja. Bang Indra tidak akan mungkin menyakiti ku," cetus Gita seakan tahu ke khawatiran Salman.
"Alhamdulillah, syukurlah. Aku kira abang mu marah besar, keliatan dari wajahnya. Makanya aku khawatir dia menyakiti kamu,"
Gita tersenyum, tentu saja Salman tak melihatnya. "Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku Kak," timpalnya.
Mereka berdua kembali mengobrol hingga beberapa menit, setelah telponnya berakhir Gita menghela nafas berat, mengingat semua ucapan Salman yang besok ingin menjemputnya lagi. Tapi dia menjawab tidak perlu, sebab esok dia berangkat siang, tapi ternyata Salman tidak menyerah dengan berbagai alasan. Akhirnya Gita pasrah dan menurut apa kata pemuda itu.
"Aku harus benar-benar membuka hatiku buat dia, semoga seiring berjalannya waktu rasa itu akan berubah untuk Bang Indra. Aku enggak mau seperti ini terus. Meskipun ada yang mengatakan saudara tiri boleh menikah, tapi aku ragu. Sebab ada yang bilang kalau saudara tiri tidak boleh menikah. Ah, entahlah, aku bingung sendiri," gumam gadis itu frustasi.
Gita kembali di kejutkan dengan deringan ponsel miliknya, kali ini dia berdecak sebal saat mengetahui siapa yang menelpon, tapi dia tetap menerima panggilan itu.
"Apa?" ucapnya ketus dengan orang di seberang sana.
"Lo pulang deh Kak, gue pusing Bang Indra ngomelin gue mulu. Dia bilang Lo pergi gara-gara gue! Cepetan pulang deh! Atau gue jemput!"
"Enggak perlu, gue masih mau di sini. Emang bener itu alasan gue pergi dari rumah, wlek!" Gita menjulurkan lidahnya yang mana membuat Riky kesal apalagi mereka dalam panggilan video.
"Tega Lo ya! Gue juga mau kabur dari rumah kalo gitu! Kuping gue budeg dengerin Bang Indra ngomel!" Riky terlihat kesal tapi justru membuat Gita terbahak, dia bahagia mendengar Riky menderita.
Tentu saja Gita tak begitu percaya jika Indra ngomel, paling Riky yang melebih-lebihkan, supaya dia mau pulang. Tapi dia tak semudah itu dibujuk untuk pulang, sebelum Mama kembali.
"Kacian adik ku yang paling ganteng, sini-sini Kakak peluk," cetus Gita sambil terkekeh.
"CK, awas Lo ya Kak! Gue tandai!" ancam Riky.
Gita tertawa mendengar ancaman Riky, "Silahkan mau di tandai atau mau di sematkan, atau kalau enggak di bintangi sekalian. Oh satu lagi, di tambah ke favorit juga lebih baik, gue suka. Biar makin ep ye pe," cetusnya tak jelas.
"Aneh!" timpal Riky lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Gita tertawa, setidaknya malam ini Riky membuat moodnya kembali bagus. Dan bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan Indra lagi.
__ADS_1
🥀🥀🥀🥀
Jangan lupa like dan komennya ya.