Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Meta dan Devin


__ADS_3

Seorang gadis dengan setelan rok span hitam, kemeja putih belapis blazer warna moca, rambut kuncir kuda serta riasan natural itu kini duduk termenung di dalam ruangan yang baru beberapa hari dia tempati. Dia menghela nafas ketika mengingat seorang pemuda yang saat ini masih berada di lantai bawah bersama seorang temannya. Bukannya dia tak memiliki perasaan spesial terhadap pemuda itu, hanya saja masih ada sedikit keraguan.


Dia ragu akan perasaan sesungguhnya, apakah ini benar cinta atau hanya rasa kagum terhadap pemuda yang selalu ada di saat dirinya susah, bahkan bisa mengerti semua keadaan dan perasaan yang sedang dialaminya. Apalagi pemuda itu selalu menjaganya, tak pernah sekalipun berbuat di luar batas, meski mereka sering bersama.


"Balik ke rumah atau kemana?" tanya Devin saat menjemputnya di rumah Gita waktu itu.


"Gue belum siap pulang Dev, cariin gue kerjaan gitu, gue mau di sini dulu." Dia menatap sekilas pemuda yang saat ini sedang menyetir mobil dan fokus di jalanan.


"Kebetulan banget, Lo bantu gue aja di cafe. Itu cafe yang pernah gue ceritain, di sini belum ada managernya, kalo Lo mau bisa banget, tapi ya itu gajinya paling cuma bisa buat jajan,"


"Wah, mau banget. Sebagai seseorang yang kabur dari rumah, dapat gaji hanya sekedar untuk jajan aja udah luar biasa." Sinar mata yang tadi terlihat redup kini memancarkan binar bahagia, sebab pelariannya kali ini pasti akan sukses besar.


Keduanya langsung menuju cafe tersebut. Devin memperkenalkan Meta pada semua karyawan, sambutan bahagia terpancar dari mereka semua apalagi Meta terlihat sangat ramah dan baik.


"Lo boleh kerja mulai besok atau lusa terserah," ujar Devin setelah mereka berada di ruang khusus untuk manager.


"Eh tapi Dev, gue tinggal di mana coba? Enggak mungkin dong tinggal di rumah Gita," Meta baru teringat jika dirinya tidak memiliki tempat tinggal, ah tidak hanya tempat tinggal tapi semua keperluan sehari-hari tak dimilikinya, hanya beberapa potong baju yang dia beli bersama Gita.


"Gue bantu cari kosan," tanpa mengeluh pemuda itu langsung mengajak Meta untuk mencari kos disekitar cafe tersebut, tak sampai di situ, dia juga membelikan beberapa keperluan Meta tanpa sepengetahuan gadis itu. Mau menolak? Tentu tak bisa sebab semuanya sudah berada di depan mata, entah dia memesan semua itu dari mana? Tapi sepertinya pesanan online.


Beberapa hari kemudian pemuda itu datang lagi ke cafe, kali ini tujuannya untuk menjemputnya, mengantar pulang sampai kosan, padahal jarak kosan dan cafe tak terlalu jauh.


"Mumpung gue di sini, kalo enggak disini juga Lo bakalan pulang sendiri," itulah alasan yang diberikan oleh Devin saat dia menolak, tapi kali ini pemuda itu tidak mengendarai mobil yang biasanya dia pakai, justru memakai sepeda motor yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


"Ini motor Bang Fahmi, sengaja gue pinjam," seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Meta, pemuda itu pun langsung mengkonfirmasi.


"Kita makan malam dulu ya, gue laper, perjalanan jauh kagak sempet istirahat," tentu tanpa persetujuannya mereka saat ini sudah duduk di sebuah restoran.


"Ngapain sih jauh-jauh ke sini? Padahal besok Lo kan harus kerja?" tanya Meta, tak habis pikir dengan pemuda dihadapannya ini.


"Gue kangen sama Lo! Emang Lo enggak kangen gitu sama gue?" jawaban itu langsung membuat hati Meta menghangat, tapi setelah itu dia tersenyum getir, dengan perasaanya sendiri.

__ADS_1


"Kangen banget malah, tapi yang gue kangenin traktirannya bukan orangnya." Meta tertawa melihat wajah cemberut Devin. Sebenarnya dia juga merindukan pemuda dihadapannya ini.


"Ta, kita nikah aja yuk! Gue rasanya kagak bisa jauh-jauh dari Lo, kalo kita nikah....."


"Ish ngaco! Emang nikah segampang itu? Sesepele itu? Bilang nikah kok tiap hari," cibir Meta memotong ucapan Devin, sebab pemuda itu berulang kali mengatakan hal yang sama.


"Gue serius! Gue cinta sama Lo Ta,"


Meta hanya berdecak, selalu itu juga yang dia lakukan saat pemuda itu mengutarakan cinta, padahal hatinya begitu berbunga.


"Udah makan aja biar kenyang, karena cinta kagak bakal buat Lo kenyang," cetus Meta ketus.


Kali ini Devin yang berdecak.


Malam itu, Devin benar-benar mengantar Meta pulang ke kosan, tapi sayang saat di jalan hujan lebat, hingga membuat keduanya basah kuyup. Tentu Meta tak tega mengusir pemuda itu, hujan lebat seperti ini, bahkan pemuda itu belum memesan penginapan, tak mungkin kan hotel menerima orang yang basah kuyup seperti itu. Sedangkan cafe di jam seperti ini sudah tutup, dan dipastikan yang memegang pintu cafe juga sudah pulang.


"Gue enggak punya baju cowok, gimana dong Dev? Punyanya cuma ini." Meta menyerahkan hoodie berwarna abu pada Devin, pemuda itu tentu langsung menerimanya.


"Ini juga enggak apa-apa, tapi...." Devin menunjuk celananya yang juga basah kuyup, tak mungkin kan dia memakai celana milik Meta.


"Gini aja, Lo mandi biar baju dan celana Lo gue cuci terus gue keringin pake hairdryer terus gue setrika," usulnya.


"Lo mandi dulu, gue terkahir."


Dan malam itu Devin benar-benar menginap di kosan Meta, tentu saja tidak melakukan apa pun, karena Devin memilih tidur di sofa, sedangkan si pemilik kos tidur di kamarnya.


"Udah selesai Ta?" Meta terkejut dan tersadar dari lamunannya saat mendapati Devin sudah berdiri diambang pintu dengan senyum manisnya.


"Eh udah Dev. Indra kemana?" tanyanya sebab Devin masuk ke dalam ruangan sendirian tanpa pemuda itu.


"Udah gue usir, gangguin orang pacaran sih," jawab Devin enteng.

__ADS_1


Meta mengernyitkan dahi bingung, siapa yang pacaran?


"Emang ada yang pacaran gitu?" tanyanya.


"Kita berdua," jawabnya enteng.


"Ish ngaku-ngaku!" protes Meta yang sudah berpindah posisi duduk di sofa.


"Biar enggak ngaku-ngaku lagi, ayo kita jadian, Ta." Devin menatap gadis yang duduk dihadapannya itu.


"Mana ada orang ngajak jadian kok kaya gini? Ngajak jadian itu ya di tempat yang romantis, bukan asal jeplak di mana pun berada." Meta membalas tatapan itu penuh intimidasi.


Tapi Devin tak menyerah sampai di situ, kini dia mendekati gadis tersebut, duduk dihadapan gadis itu dengan bertumpu kedua lutunya. Menyentuh jari jemari Meta lembut, menatap gadis dihadapannya ini dengan lembut pula.


"Gue serius Ta, gue sayang dan cinta sama Lo, entah sejak kapan. Yang pasti cinta ini tumbuh semakin merekah, sehari saja tidak tahu kabarmu, kegelisahan selalu menghantui. Kalo Lo enggak percaya, gue bakalan menghadap bokap Lo, buat lamar Lo langsung," ujar Devin spontan, padahal dia tidak berfikir sampai seperti ini tadi. Dia hanya ingin mengajak gadis itu berkeliling mencari udara segar.


"Dev, gue, gue enggak tahu." Meta menggeleng, sebab bibirnya terasa kelu saat akan berucap lebih panjang lagi.


"Oke, enggak usah jawab sekarang kalo Lo belum bisa jawab. Gue hanya ingin ngungkapin perasan gue sebenarnya sama Lo Ta, gue serius sama Lo." Devin masih menatap sepasang mata indah itu. Kemudian dia tersenyum saat gadis itu mengalihkan pandangannya, mungkin Meta terlalu gugup hingga memilih menyerah lebih dulu.


Devin bangkit dia ikut duduk di samping gadis itu, kedua tangannya belum melepaskan jari jemari milik Meta.


"Gue kirim periksa laporan dulu, setelah ini kita jalan. Hari minggu saatnya bersenang-senang bukan bekerja," setelah mendapat anggukan dari Meta dia pun melepaskan jari jemari milik gadis itu, padahal dia masih ingin berlama-lama menyentuh jari mungil dan halus tersebut, tapi sengatan listrik yang menyentuh seluruh inti tubuhnya membuatnya tersadar, jika tidak baik berlama-lama dalam posisi seperti itu.


Tautan jari itu terlepas terasa ada yang kosong di sudut hatinya, kehangatan yang tadi dia rasakan kini hampa. Dia hanya bisa melirik sekilas si pemilik tangan yang tadi menyentuhnya lembut itu, tak berani menatap lebih lama, terlalu malu untuk melakukan hal itu.


"Bilang aja kalau mau jawab sekarang, gue siap banget Ta, karena gue yakin Lo pasti nerima gue, keliatan sejak tadi curi pandang, gue ganteng, kan?"


Meta berdecak, pemuda ini sudah kembali ke habitat awalnya. Mungkin beberapa saat lalu dia sedang kesurupan, jadi bisa berbicara semanis itu. Dia pun memilih meninggalkan ruangan tersebut, melihat keadaan di bawah seperti apa.


.

__ADS_1


.


.🥀🥀🥀


__ADS_2