Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Tak Sabar


__ADS_3

"Hah! Serius? Kok bisa? Aku kira di negara kalian tidak ada kejadian seperti itu, pergaulan bebas maksudnya," Lucy terkejut setelah mendengar cerita Salma, yang ternyata gagal menikah karena calon suaminya menghamili wanita lain.


"Pergaulan bebas tetap ada, tapi tidak separah di sini," timpal Gita yang mengerti kemana arah tujuan pemikiran Lucy.


Lucy mengangguk, dia sendiri mengakui jika di negaranya ini memang terlalu bebas, bahkan terang-terangan melakukan hal seperti itu saja tak ada yang mencegahnya.


"Apa kamu tidak menyelidiki dulu, bisa saja wanita itu hanya menjebak kekasihmu itu," entah kenapa Lucy bisa berfikir seperti itu.


Salma menghembuskan nafas kasar, "Entahlah, dia bilang memang tidak mengingat apa pun, tapi saat bangun tidur, dia melihat ada bercak darah, dan perempuan itu sedang menangis di lantai," lanjut Salma.


Mereka saat ini berada di sebuah cafe dua puluh empat jam, padahal waktu sudah menginjak tengah malam, tapi ketiga perempuan itu masih betah duduk di cafe tersebut.


"Kenapa tidak tes DNA saja? Menurutku itu jalan terbaik untuk bisa membuktikan itu anak kekasihmu atau bukan," lagi-lagi Lucy memberi pendapat seperti itu.


Entah kenapa Fajar tak memiliki ide seperti itu, apa mungkin karena dia sendiri melihat ada noda darah dan keadaan perempuan itu yang tidak baik-baik saja? Atau, entahlah Salma merasa pusing sendiri memikirkan hal itu. Rasanya masih belum percaya dengan semuanya.


Gita menendang kaki Lucy di bawah meja, menurutnya perempuan berstatus sahabatnya itu terlalu ikut campur urusan orang lain, entah sejak kapan bisa sepeti itu. Padahal biasanya selalu cuek dengan masalah orang lain. Gita juga tak tega melihat wajah Salma yang diliputi awan hitam kembali.


"Salma, aku minta maaf jika terlalu ikut campur urusan mu. Rasanya aku tak rela jika perempuan itu memang menjebak kekasihmu. Hanya itu maksudku, maafkan aku ya," Lucy mengerti saat Gita menendangnya tadi, dia sadar jika terlalu ikut campur urusan orang yang bahkan baru dikenalnya.


"Tidak masalah Lucy, kamu tidak usah merasa bersalah. Aku baik-baik saja." Nyatanya ucapan baik-baik saja hanya terukir di bibir saja, sebab hatinya begitu hancur berkeping-keping, masih tidak menyangka jik akhir kisah cintanya akan seperti ini, sungguh tak pernah terpatri dalam khayalannya.

__ADS_1


Salma sebenarnya memikirkan semua ucapan Lucy, tapi dia tidak ingin mengusik kehidupan mantan kekasihnya itu lagi, biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri, entah akan seperti apa jalannya nanti.


Setelah obrolan itu, Lucy tak lagi menanyakan masalah tersebut, dia memilih membicarakan hal lain yang membuat Salma melupakan sejenak masalah yang dihadapinya.


Hingga menjelang pagi, mereka bertiga baru menginjakkan kaki di apartemen Gita, ketiganya memilih untuk tidur dalam satu kamar, meski harus desak-desakan tak masalah.


Selama satu minggu berada di tempat Gita, sedikit banyak membuat Salma melupakan sejenak masalahnya, dia saat ini harus bisa ikhlas menerima semuanya, ya meskipun itu sangat sangat sulit sekali, tapi bukankah saat ini seharusnya Fajar sudah menikah dengan perempuan itu? Ah, kenapa masih saja mengingat semua itu, rasa sakit ini kembali menganga jika mengingat semuanya.


Setelah sampai di negara tercinta, Salma hanya menginap di rumah semalam, esok hari dia akan pergi ke rumah Kakek yang berada di bogor, benar-benar ingin menyembuhkan luka dalamnya dengan tinggal ditempat yang masih asri, di perkampungan. Sebab jika melihat tempat yang pernah mereka kunjungi, dia selalu teringat akan semua yang terjadi, dan itu membuatnya makin terluka.


🥀🥀🥀🥀


Seorang gadis tersenyum bahagia saat melihat langit yang begitu cerah, dengan udara yang sama sekali tidak segar dan lebih banyak mengandung polusi. Tapi itu semua tidak penting baginya, yang terpenting saat ini dia sudah bisa menghirup udara yang selama setahun lebih ini dia tinggalkan. Menginjak bumi di mana dia dilahirkan.


Tujuan utamanya kali ini bukan ke rumah sang Papa, tapi ke apartemen pemuda itu. Entahlah dia begitu bersemangat, bahkan baru saja merasakan perjalanan berjam-jam, tapi masih bisa tersenyum ceria.


"Abang enggak bilang kalau aku pulang, kan?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Gita.


"Seperti keinginan mu," jawab Hafidz. Dia sengaja menjemput gadis itu, sebab pekerjaannya tidak terlalu padat.


"Kamu istirahat dulu dia apartemen Abang, kalau mau ketemu Indra nanti malam aja, sekarang dia masih kerja. Paling sore atau malam baru pulang," Hafidz tahu keinginan gadis ini, jika saat ini pasti ingin langsung bertemu dengan Indra, tapi dia tentu melarangnya, apalagi Indra masih bekerja dan adiknya ini baru tiba, bukankah lebih baik istirahat dulu.

__ADS_1


Gita mengerucutkan bibirnya, dia sudah bisa menebak akan hal ini, meski begitu dia pun menyetujui usulan sang Abang. Beristirahat di apartemen abangnya. Kenapa tidak pulang ke rumah Papa? Entahlah Gita masih merasa aneh jika harus menginap di rumah itu, ya meskipun sang Papa sudah pindah rumah tidak di rumah yang dulu.


Apartemen Hafidz dan Indra ada di tempat yang sama bahkan di lantai yang sama pula, hanya berbatas satu unit apartemen. Jadi, Gita tersenyum saat menemukan ide gilanya.


"Kamu istirahat dulu, kalau mau makan, di kulkas ada makanan, tinggal kamu angetin. Abang ke kantor lagi, enggak bisa nemenin dulu." Hafidz berlalu tanpa mendengar jawaban saudara kembarnya, satu jam lagi dia harus menemui klien bersama orang kepercayaan sang Papa.


Gita merebahkan diri sejenak, dia akan memulai aksinya setelah beristirahat sebentar dan membersihkan diri. Untung saja waktu masih tengah hari, masih cukup lama sampai Indra pulang ke apartemen.


Sore hari, setelah rasa lelahnya sedikit berkurang, Gita memulai aksinya. Yang pertama dia lakukan adalah mencoba masuk ke apartemen Indra, tapi dia tidak punya kode untuk membuka pintu.


"Coba dulu lah, siapa tahu keberuntungan ku." Gadis itu mulai menekan angka pin untuk membuka pintu tersebut, pertama dia gagal, percobaan ke dia pun masih sama, gagal.


"Ohhh, gue tahu." Dia kembali menekan tombol pin, teringat sandi dalam ponsel pemuda itu, yang ternyata tanggal lahirnya. Sebegitu bucinnya seorang Indra, hingga sandi dalam ponsel dan apartemen adalah tanggal lahir gadis itu.


"Akhirnya! Dia pasti enggak akan menyangka kalau aku bisa membuka pintu apartemennya," gumam gadis itu dan bergegas masuk sebelum ada orang lain yang melihat.


Gita mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, terlihat rapi seperti apartemen sang Abang. Membuatnya tersenyum. Jika apartemen Hafidz terlihat rapi, tentu Gita tidak heran, sebab pemuda itu seperti tak punya lelah, sebelum bekerja abangnya itu terlebih dahulu membersihkan apartemen, masak dan lain sebagainya. Tapi apartemen Indra terlihat bersih dan rapi membuatnya sedikit tidak percaya saja. Ah enggak usah memikirkan hal itu, ingat tujuan awal menyusup ke dalam apartemennya ini.


Tujuan utamanya adalah dapur, ya dia ingin memasak sesuatu untuk pemuda itu. Gita tersenyum saat membayangkan bagaimana reaksi Indra saat melihatnya berada di apartemen ini. Ah rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan pemuda itu.


.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2