Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Cerita Salma


__ADS_3

"Lo pasti kaget, 'kan gue tiba-tiba ada di sini?" tanya Salma dijawab anggukan oleh Gita.


Saat ini mereka berada di dalam kamar Gita, setelah selesai makan malam berdua dengan menu masakan olahan dari Gita.


"Beberapa bulan lalu gue juga ke sini, liburan sama sepupu gue, tapi gue nyesel enggak tahu alamat Lo. Sebelum ke sini, gue minta alamat apartemen Lo ini dari Tante Sinta," Salma terus melanjutkan awal mula di bisa sampai tempat ini.


"Dan lo pasti bertanya-tanya kenapa gue tiba-tiba datang?" Salma melihat ke arah Gita yang duduk di sisinya, dan gadis itu terlihat mengangguk.


"Jawaban pertama, karena gue mau minta maaf. Maaf karena kesalahan Abang, entah kenapa gue merasa semua yang terjadi saat ini, imbas dari pernyataan Abang gue." Kedua bola mata Salma terlihat berkaca-kaca saat mengingat semua yang terjadi padanya.


Gita menggeleng, "Enggak Ma, Lo enggak ada sangkut pautnya dengan semua yang terjadi antar gue dan Abang Lo, itu semua adalah takdir." Gita menggenggam tangan sahabatnya itu, berharap bisa menenangkan Salma meski dia belum mengetahui penyebab kedua mata gadis itu berembun.


"Dan asal Lo tahu, gue udah maafin Abang Lo," tambahnya.


"Gue justru bersyukur Ma, dengan kejadian itu Bang Indra menyadari perasaannya ke gue. Dan kini gue merasa lebih bahagia dari sebelumnya," batin Gita.


Salma memeluk Gita erat, entah kenapa perasaan bersalah itu masih terus menghantuinya padahal yang salah bukan dirinya tapi abangnya.


"Lalu tujuan kedua Lo?" tanya Gita setelah melepaskan pelukan keduanya.


"Gue kabur," jawab Salma.


"What?! Ngaco Lo, kenapa kabur? Gue enggak mau ya dibilang menyembunyikan anak orang," reaksi dari Gita itu justru membuat Salma terkekeh, tak percaya jika sahabatnya itu bereaksi sangat berlebihan.


"Kak Fajar mau nikah," ujar Salma.


Gita tak mengerti dengan perkataan gadis itu, dia menatap ke dalam dua bola mata Salma, "Nikah sama Lo, kan?" tanyanya karena Salma tetap diam meski dia tahu jika dirinya kebingungan.


Gelengan dari kepala Salma membuat Gita makin terkejut, hingga dia menutup mulutnya yang menganga, "Ah jangan becanda Lo. Pasti gue di prank, sebenarnya Lo ke sini mau ngasih undangan ke gue, kan?" meski sedikit ragu dengan alasan yang dia ucapkan, tapi Gita tetap belum percaya dengan Salma.


"Kak Fajar nikah sama Raya," ucap Salma lirih, perih saat mengingat dua nama itu.


Gita kembali memeluk sahabatnya, mencoba memberi ketenangan pada gadis itu, dia tahu pasti sakit sekali melihat orang yang kita cintai menikah dengan orang lain, apalagi hubungan Salma dan Fajar sudah dimulai sejak gadis itu kelas satu SMA. Tapi kembali lagi pada takdir, selama apapun mereka pacaran, jika bukan jodoh pasti akan berakhir pula. Contohnya seperti Salma ini. Padahal yang dia tahu, Salma dan Fajar jarang sekali bersitegang, mereka marahan paling lama tidak lebih dari dua puluh empat jam sudah baikan lagi.


"Raya adik tingkat kita yang pernah Lo ceritain?" tanya Gita dan Salma hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Kok bisa?" gimana Gita, tapi Salma masih bisa mendengarnya.


Flashback On


Salma sedang istirahat makan siang, ketika mendapatkan sebuah notifikasi dari media sosialnya. DM dari seseorang yang dia tidak sukai, sebab pernah mengatakan terang-terangan jika menyukai Fajar kekasihnya, meski begitu dia tetap melihat isi pesan tersebut. Ternyata pesan itu berisi ajakan untuk bertemu, tanpa pikir panjang Salma pun mengiyakannya, meski dia penasaran apa yang akan di sampaikan oleh gadis bernama Raya itu.


Waktu yang ditentukan pun tiba, hari minggu siang di sebuah cafe, Salma datang lebih dulu, dan tak berapa lama Raya pun datang dengan wajah seperti biasa, tidak ramah sama sekali.


"Gue langsung ke intinya aja ya," ucap gadis bernama Raya itu, sangat kaku dan sinis, berbeda saat di pesan bahkan memanggilnya dengan sebutan 'Kak'


"Iya silahkan, apa yang ingin kamu katakan?" Salma mencoba bersikap setenang mungkin.


Raya memberikan sebuah benda yang dia ambil dari dalam tasnya. Salma tidak mengerti, kenapa Raya memberikan benda itu padanya? Apa hubungannya dengan dirinya coba?


"Maksudnya apa ini?" tanya Salma masih dengan sikap tenang, dia tidak mau menerka-nerka.


"Itu anaknya Mas Fajar," jawaban gadis itu membuat Salma terkejut, tapi dia tak mau percaya begitu saja.


"Jangan fitnah ya, kamu pasti mengada-ada, kan?" Salma masih tenang, dia mencoba mengendalikan emosinya.


Salma masih belum percaya seratus persen, meski sebenarnya dia takut jika kenyataan itu benar adanya. Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Fajar, menyuruhnya untuk menyusul dia di kafe. Tak butuh waktu lama, Fajar akhirnya datang.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya pemuda itu saat mendapati kekasih hatinya mengusap air mata.


Tapi Salma segera menepis tangan Fajar yang ingin mengusap air matanya.


"Apa ada sesuatu yang ingin Kakak sampaikan ke aku?" tanya Salma, dia ingin mendengar dari mulut kekasihnya itu langsung.


Fajar mengernyitkan dahi, dia tidak merasa ingin berbicara apa pun dengan Salma. Ada sih, tapi dia belum siap saat ini. Tidak mungkin, kan jika Salma sudah mengetahuinya?


"Enggak ada. Ada apa sebenarnya?" tanyanya.


"Aku ulangi lagi, apa ada sesuatu yang ingin Kakak sampaikan pada ku? Apa Kakak menyimpan rahasia dariku?" tanya Salma tak menghiraukan pertanyaan Fajar.


"Sudah lah Mas, katakan saja. Dia sudah tahu semuanya," tiba-tiba Raya sudah berada di belakang Fajar, entah sejak kapan sebab keduanya tidak menyadari.

__ADS_1


"Kau? Akhh!" Fajar meremas rambutnya, frustasi. Tak menyangka akan secepat ini Salma mengetahui kebenarannya.


"Maafkan aku sayang, waktu itu aku mabuk, dia memanfaatkan ku. Aku tidak sadar." Fajar menggenggam tangan Salma, gadis itu tak bisa berontak lagi, sebab dia merasa tubuhnya lunak seperti tak bertulang, mengetahui kenyataan itu.


Salma menggeleng, "Kamu harus nikahi dia, dan batalkan pernikahan kita. Anak mu lebih membutuhkanmu dibanding aku. Mungkin ini terkahir kalinya kita bertemu, biarkan aku yang akan menjelaskan sendiri sama kedua orang tua ku." Salma mencoba tegar, dia berdiri sekuat tenaga. Entah kenapa di saat seperti ini seseorang yang dia ingat adalah Gita, ya dulu Gita pasti merasakan sakit yang sama seperti dirinya saat ini. Mungkin benar ini adalah karma.


Fajar meraih tangan Salma, "Aku enggak mau membatalkan pernikahan kita, aku mencintai kamu sayang, tolong maafkan aku. Kita tetap akan menikah." Fajar memohon, tapi keputusan Salma sudah bulat, dia akan tetap membatalkan pernikahan ini.


"Lepas! Tolong lepaskan! Aku akan memaafkan mu kalau kamu bertanggungjawab." Salma mencoba melepaskan cengkraman dipergelangan tangannya.


"Kak, kalau kamu memang cinta dan sayang sama aku, biarkan aku bahagia tanpa mu, karena jika terus bersama mu, aku tidak yakin kebahagiaan berpihak pada ku. Jadi lepaskan aku! Ingat Kak, cinta itu tidak selamanya harus memiliki," Salma terus berusaha melepas tangan Fajar, tapi pemuda itu bergeming, tak mau melepaskan cengkraman tangannya, hingga


Bugh


"Lepas! Enggak seharusnya Lo sepeti ini." Ryan entah datang dari mana tiba-tiba langsung memukul wajah pemuda itu.


"Ayo Ma, aku antar pulang." Ryan menarik tangan Salam dan membawa pergi gadis itu dari dua orang yang membuat Salma menangis.


Selama perjalanan keheningan menguasai dalam mobil itu, hanya isakan kecil dari bibir Salma yang terdengar.


"Kamu yang sabar ya, dibalik semua ini pasti ada hikmahnya." Tutur Ryan memecah keheningan dalam mobil tersebut.


Salma mengangguk, "Apa Kak Ryan sudah tahu?" tanyanya.


Ryan mengangguk, "Aku sudah tahu beberapa hari yang lalu. Fajar cerita semuanya, dia memang benar-benar mabuk waktu itu, bukan aku membelanya, bukan. Tapi semua itu memang harus dipertanggungjawabkan mau itu sengaja atau tidak." Ucapnya sambil melirik Salma sekilas.


Tak berapa lama mereka sampai di kediaman Gita, gadis itu langsung masuk ke dalam rumah, setelah mobil Ryan meninggalkan kediamannya.


Hari itu juga dia mengatakan semuanya pada kedua orang tua, tentang gagalnya pernikahan mereka, meski awalnya kedua orang tuanya sangat marah besar, tapi akhirnya bisa menerima meski mereka harus menanggung malu sebab gagalnya pernikahan anak mereka.


Hingga malam hari, Fajar dan kedua orang tuanya datang. Salma sengaja tidak menemui, tapi dia bisa melihat jika wajah Fajar babak belur, pasti ulah Papa dan Kakaknya. Untung saja dia sudah memperingati sang Papa dan Kakaknya untuk tidak melukai Fajar, seperti yang dilakukan Gita saat itu. Lagi-lagi Salma terus mengingat Gita, ternyata dia mengalami hal yang sama saat ini.


Dua hari kemudian, setelah mendengar dari Ryan jika Fajar akan menikah dengan Raya Minggu depan, membaut Salma memutuskan untuk pergi dari rumah, tepatnya ke London.


Flashback off

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2