Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Dasar Gita


__ADS_3

Acara pernikahan Mama memang telah usai, tapi di rumah itu masih ramai, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Teman-teman Hafidz sengaja datang di malam hari, selain untuk memberi selamat dan mendoakan kedua mempelai, mereka juga ingin bertemu dengan Hafidz tentunya.


"Baru beberapa bulan di London, penampilan Lo udah kayak orang bule aje Fizd," celetuk Devin saat mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.


"Bule rambutnya iya, mukanya mah masih pribumi," cibir Indra yang tak menyetujui ucapan Devin.


Pasalnya Hafidz mewarnai seluruh rambut hitamnya dengan warna pirang mirip bule, hanya saja wajahnya tetap wajah-wajah Asia. Entah apa alasannya hingga Hafidz mengubah warna rambutnya tersebut.


Hafidz hanya terkekeh mendengar celotehan Devan dan Indra, dia tak mau memberi alasan kenapa rambutnya dicat seperti itu.


"Lo enggak keseret pergaulan orang Sono kan yang penting?" tanya Devan, dia tahu Hafidz orangnya seperti apa saat masih satu kampus dulu, sangat disayangkan jika pemuda itu mengikuti pergaulan orang London.


"Kagak lah! Gue tahu batasan. Meskipun terkadang set an dalam diri gue berteriak mengajak ke tempat yang enggak seharusnya gue datangin, tapi gue masih sadar," jawab Hafidz.


Mereka berempat melanjutkan obrolannya, hingga kedatangan Gita yang membawa minuman dan beberapa cemilan.


"Silahkan diminum abang-abang sekalian," ucap gadis itu.


"Ganteng-ganteng gini dibilang abang-abang, kaya Abang bakso aja," protes Devin.


"Untung cantik, kalo enggak udah gue jitak!" tambahnya.


Gita hanya terkekeh mendengar ucapan Devin, pemuda itu masih sama seperti dulu, paling mencairkan suasana. Berbeda dengan Deril yang sedikit bicara, sama seperti kembarannya.


"Lo jitak dia, gue bales sepuluh kali lipat," bukan Hafidz tentunya yang mengatakan itu, tapi Indra. Membuat Gita terkejut, meski bercanda dia merasa ucapan Indra sungguh-sungguh. Makin tak menentu perasaan gadis itu.


"Sih posesif, Hafidz yang Abangnya aja tenang gitu, nah Lo bukan siapa-siapa nya," cibir Devin.


"Gue juga abangnya kali," Indra tak mau kalah.


Hafidz melirik Gita, dia tahu betul seperti apa perasaan kembarannya itu saat ini.


"Yaudah aku masuk dulu ya," pamit Gita, tak ingin berlama-lama berada satu tempat dengan Indra saat ini.


"Eits mau kemana? Sini aja dulu." Indra menarik tangan Gita hingga gadis itu terduduk tepat di sisinya.

__ADS_1


Tentu saja hati Gita tidak baik-baik saja, rasanya sesak bahkan seakan tak bisa bernafas, apalagi saat tangan Indra belum lepas dari pergelangan tangannya. Rasanya dia ingin berteriak sekuat tenaga, supaya Indra tahu jika dirinya tidak tahan diperlakukan seperti ini. Membuatnya makin terluka saat menyadari jika mereka kini bersaudara.


Jika saja itu terjadi sebelum seratus mereka berubah, tentu saja Gita akan sangat bahagia. Gita kembali dibuat terkejut saat tangan Indra berpindah ke puncak kepalanya, mengacak rambutnya dengan sesantai mungkin.


Hafidz yang duduk di sisi kiri gadis itu hanya bisa mengusap tangan Gita, memberi kekuatan. Dia merasa kasihan dengan Gita, apalagi melihat perlakuan Indra yang begitu manis.


Kenapa sih Bang Indra baru sekarang melakukan ini sama aku? Setelah kita tak mungkin bisa bersatu. Teriak Gita dalam hati.


"Maaf Bang, aku mau ke kamar dulu, besok ada ujian soalnya," pamit Gita beralasan. Padahal besok tak ada ujian atau apa pun, bahkan kuliahnya saja berangkat siang, tapi demi menghindari Indra, dia memilih untuk berbohong.


"Oh oke, belajar yang rajin ya," lagi-lagi Indra membuat hati Gita runtuh berkeping-keping, entah apa maksud dari perkataan itu. Apa Indra menganggap Gita seorang gadis kecil yang butuh penyemangat darinya.


Gita hanya mengangguk, lalu meninggalkan mereka di ruang keluarga.


Gita menghela nafas berulang kali saat sudah sampai di dalam kamar. Merebahkan diri di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Beberapa detik kemudian gadis itu menggelengkan kepala, entah apa yang dia pikirkan.


"Huhf, enggak kebayang gimana kehidupan gue di hari selanjutnya kalo ketemu sama dia terus." Gumamnya sambil menggelengkan kepala lagi.


"Indra, Indra! Kenapa sih gue mesti jatuh cinta sama Lo?" gumamnya lagi.


"Kenapa juga Lo mesti ngelakuin kek gitu sih? Gue kan jadi merasa tersanjung. Hati, Lo gimana sih dia itu cuma nganggep Lo kaya adiknya sendiri enggak lebih, huhf!"


"Udah pulang mereka?" tanya Gita saat mengetahui siapa yang masuk ke kamarnya.


"Iya baru aja, aku suruh nginep di sini enggak mau, katanya mau nginep di rumah Indra," jawab Hafidz yang sudah masuk ke dalam kamar itu.


Gita bangkit, menatap Hafidz yang terus berjalan ke arahnya.


"Laper Bang, ternyata patah hati juga butuhin tenaga," celetuknya.


"Makan kalo laper, masih banyak makanan di bawah," timpal Hafidz.


Gita melihat jam di dinding kamarnya.


"Dah malem Bang, temenin ya, takut," rengeknya.

__ADS_1


Hafidz berdecak, lalu keluar kamar lebih dahulu diikuti oleh Gita.


Ternyata bukan hanya Gita yang makan malam itu, tapi Hafidz juga ikut makan bersama adik kembarnya itu. Mereka menikmati makanan sambil mengobrol santai, lupa jika malam makin larut.


"Kalian ngapain masih nongkrong di dapur? Belum tidur?" tanya Mama yang baru saja memasuki ruang makan dengan membawa botol kosong.


"Mama juga ngapain jam segini belum tidur, tumben? Biasanya jam sembilan aja udah ngantuk," Gita justru balik bertanya.


"Mama haus, air di kamar habis," jawab sang Mama.


Hafidz menendang kaki Gita dibawah meja, lalu meliriknya sekilas.


Gita justru tertawa setelah mendapat tendangan di kakinya, "Maaf Ma lupa, pengantin baru kok ya. Ih Mama ketahuan," celetuknya makin melebarkan tawanya.


Lagi-lagi Hafidz menendang kaki kembarannya di bawah sana, berharap menghentikan aksinya menggoda Mama.


"Kamu ngomong apa sih Git? Mama enggak ngerti, udah ah, Mama mau balik ke kamar lagi." Mama meninggalkan mereka berdua dengan perasaan sedikit malu.


"Silahkan Ma, lanjutkan ya Ma, biar aku cepet punya dedek," Gita terkikik saat mengatakan hal tersebut, dia tahu Mamanya masih mendengar tapi sengaja tak membalas ucapannya.


"Jangan gitu Dek, kasian Mama. Pasti malu tadi, udah aku kasih kode untuk diem malam nyerocos aja," protes Hafidz.


"Ih, lucu tau Bang godain Mama gitu, tadi Abang liat kan wajah Mama udah kaya kepiting rebus, makanya aku godain sekalian," Gita kembali terkekeh saat membayangkan wajah sang Mama sebelum meninggalkan ruang makan tadi.


Sedangkan di sisi lain, Mama menghela nafas berulang kali saat sudah sampai di dalam kamar.


"Kenapa sayang?" tanya sang suami yang terus memperhatikan gerak gerik istrinya itu.


"Enggak Mas, tadi ada Gita sama Hafidz di dapur," jawabnya lalu menyerahkan air minum yang baru saja dia ambil.


"Digodain sama Gita, malu aku Mas,"


Sang suami justru terkekeh mendengar ucapan Mama yang mengatakan malu dengan putrinya sendiri.


"Ngapain harus malu sih? Sama anak sendiri?" tanyanya.

__ADS_1


"Malau aja gitu, Gita emang deh," keluh Mama.


🥀🥀🥀😍


__ADS_2