Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Kecewa


__ADS_3

Rindu kian menggebu, bersamaan dengan berlalunya menit detik tanpa henti, begitulah gambaran yang Gita rasakan saat ini. Jika siang hari gadis itu akan menghabiskan waktu dengan skripsinya, berbeda dengan malam hari, gadis itu akan termenung menunggu kabar dari seseorang yang sudah menyeruak dalam hatinya. Mengusik setiap ketenangan dalam hidupnya, rasa khawatir dan rindu menyatu hingga menumbuhkan gelisah.


Sudah tiga hari sang kekasih hati pergi ke luar kota untuk memperdalam ilmu, mengikuti seminar kesehatan yang diadakan selama tiga hari. Tapi sudah malam ke tiga, sang pujaan hati tak kunjung memberinya kabar membahagiakan, hanya balasan singkat dari pesan yang dia kirimkan.


"Huhf, padahal dia hari lagi sidang, apa kira-kira dia bisa datang ya?" Gita sangat mengharapkan kehadiran lelaki itu, berharap saat melepas penat di dalam ruangan sidang yang dia lihat wajah tampan kekasih hatinya, tapi entahlah harapan itu akan menjadi nyata atau hanya khayalan semata.


Sebuah deringan yang berasal dari ponsel miliknya mengejutkan gadis itu dari khayalan. Dia pun segera meraih ponsel tersebut, senyumnya mengembang saat mengetahui siapa yang menghubunginya di tengah malam seperti ini.


"Maaf sayang, jadwal terlalu padat. Tapi lusa aku pastikan sudah pulang, semoga bisa datang saat kamu sidang," seseorang di seberang sana tersenyum menatap gadisnya yang juga tersenyum manis membalas senyuman itu.


"Aku harap Kakak bis hadir, tapi kalaupun tidak, ya tidak masalah. Aku tidak akan memaksa," ujar Gita, padahal gadis itu sangat mengharapkan kehadiran Salman, tapi tentu tak ingin membuat Salman terbebani.


"Akan aku usahakan ya," timpal pemuda itu


Gita mengangguk.


"Sebenarnya aku kangen banget sama kamu, pengen banget pulang sekarang juga, apalagi saat melihat senyum manisnya itu,"


Gita tersenyum kikuk, wajahnya pasti sudah bersemu merah mendengar pujian pemuda itu. Tapi dia mencoba bersikap senormal mungkin.


"Itu salah satu alasanku tidak mau menelpon mu seperti saat ini, maafkan aku ya," Gita mengangguk, dia paham sekali, sebab dirinya pun merasakan hal yang sama, rindu dengan pemuda itu.


Sebab biasanya mereka akan menghabiskan waktu bersama setiap hari. Tiga hari tanpa kehadiran pemuda itu rasanya sepi selalu melanda, ya meskipun dia selalu bersama kedua sahabatnya.


Cukup lama mereka berbincang, berharap rindu ini makin menipis, tapi nyatanya yang ada justru makin bertambah. Sebuah kecupan manis jarak jauh mengakhiri panggilan video tersebut.


Gita merebahkan diri sambil menatap langit-langit kamar, dia merasakan getaran di hatinya. Mencoba meraba hati yang kini mulai terisi nama selain sang Kakak tiri. Tapi di sudut hati terdalam, rasa itu masih ada untuk Indra, meski tak sebesar dulu. Kini dia juga bisa menerima Indra dengan semua sikap manisnya, tentu menganggap semua itu sebagai rasa sayang terhadap saudara.


Ya, setelah pertunangan itu, kini Indra terlihat lebih baik, tak menghindarinya dan bersikap seperti dulu lagi. Gita sempat bingung dengan perubahan pemuda itu.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


"Kamu sidang jam berapa?" tanya Indra saat mereka sedang menikmati sarapan berdua, ya cuma berdua sebab Papi dan Mama pagi buta sudah berangkat ke ibu kota. Sedangkan Riky? Jangan ditanya, pemuda itu masih bergulung dengan selimut di kamarnya.


"Abang tahu?" bukannya menjawab, Gita justru balik bertanya, dia sempat terkejut mendengar pertanyaan Indra, sebab dia tidak memberitahu pemuda itu.


"Mama bilang kemarin," jawab Indra lalu melahap basi goreng buatan Mbak Yuni.


"Oh Mama yang bilang. Padang aku sengaja enggak mau bilang, mau ngasih kejutan. Takut aku gagal Bang," Gita terlihat sendu, dia mengingat bagaimana beberapa temannya harus mengulang sidang untuk kedua bahkan ada yang tiga kali.


"Abang yakin kamu pasti bisa, percayalah. Dan jangan lupa berdoa sama Yang Maha Kuasa," Indra memberi semangat gadis itu, membuat Gita tersenyum penuh haru.


"Jam berapa nanti?" tanya Indra lagi.


"Em, jam sembilan Bang. Tapi aku enggak tahu dapat giliran ke berapa, tapi yang pasti ada tiga peserta dari jam sembilan sampai istirahat siang," jawab Gita.


Indra mengangguk, setelah itu dia berpamitan untuk ke kantor. Tentu saja Gita pun melakukan hal yang sama keluar rumah menuju kampus.


"Gita.." lirih Alya dan Salma secara bersamaan, mereka pun langsung memeluk gadis itu.


"Kenapa kalian sedih? Ish, gue bahagia tapi malah kalian sedih. Menyebalkan tau enggak?" ucap Gita tanpa membalas pelukan kedua sahabatnya.


"Lo jangan gini Git, Lo pasti bisa, kita bakalan bantu revisi lagi deh. Bakalan bantu sampe Lo berhasil." Salma masih memeluk erat sahabatnya.


"Ish kalian ini, apa sih maksudnya. Gue itu lolos, dan harusnya kalian juga ikut bahagia doang," protes Gita sambil terkikik, sebenarnya dia hanya mengeprank dia sahabatnya ini dan ternyata berhasil.


"Gita!" seru mereka berdua melepaskan pelukan itu secara paksa lalu kembali memeluknya erat.


Gita terkejut saat mendapati seseorang berdiri di belakang dia gadis itu, kemudian dia melepas pelukan tersebut dengan paksa.

__ADS_1


"Bang?" sapanya pada pemuda itu yang kini tersenyum ramah ke arahnya.


"Selamat ya, kamu berhasil. Enggak sia-sia tiap malam begadang." Pemuda itu yang tak lain adalah Indra terus mendekat dan memberikan sebuket bunga yang ada ditangannya.


Gita tersenyum dan langsung memeluk pemuda itu, dia bahagia sebab Indra menyempatkan diri untuk datang ditengah kesibukannya bekerja. Jika keadaan ini terjadi sebelum dia bertunangan dengan Salman, sudah pasti hatinya akan bimbang. Tapi kini, dia menyadari jika Indra hanya menganggapnya sebagai adik.


"Makasih Bang, Abang benar-benar Kakak terbaik dan ngertiin aku," ucap gadis itu setelah melepaskan pelukannya.


Indra tersenyum miring, jika dulu dia sering mengatakan Gita adalah adiknya, tapi entah kenapa rasanya tak rela jika Gita mengatakan dirinya adalah Kakak. Bukankah itu keinginannya sejak dulu?


"Bunga dari ku, sedangkan ini dari Abangmu yang ada di benua lain." Indra menyerahkan sebuah paper bag pada gadis itu, setelah Gita menerima buket bunga darinya.


"Apa ini Bang?" tanyanya.


"Enggak tahu, kamu lihat sendiri aja,"


Gita pun penasaran dan dia segera membuka paper bag yang ternyata isinya sebuah kotak bersampul warna gold, terlihat elegan.


"Waow! Tiket ke liburan ke London!" seru Gita, setelah membaca secarik kertas yang ada di dalam kotak itu. Ya, kotak itu hanya berisi sebuah kertas yang diisi dengan tulisan tangan Hafidz. Berati Hafidz sudah menyiapkan itu semua sebelum dia berangkat ke London.


"Lihat saja Bang, akan aku kuras habis hartamu di sana nanti," gumam Gita membayangkan dia berbelanja dengan uang sang Kakak.


Tapi kebahagiaan itu lenyap begitu saja, saat menyadari orang yang dia tunggu ternyata tak nampak batang hidungnya. Wajahnya berubah sendu, padahal dia tahu kekasihnya itu sudah pulang semalam dan sampai saat ini belum menemuinya.


Indra mengerti kesedihan yang Gita rasakan, dia pun menepuk pelan pundak gadis itu. "Dia mungkin sedang sibuk, sudah enggak usah bersedih," ucapnya.


Gita mengangguk, meski hatinya benar-benar bersedih saat ini.


"Bang Salman padahal tadi bilang mau datang, coba dihubungi aja," titah Salma, dia ikut kecewa dengan Kakaknya.

__ADS_1


Gita pun membuka ponsel miliknya, ternyata benar, pemuda itu mengirim pesan jika dia sedang sibuk dan meminta maaf tidak bisa datang. Akan mengganti waktu itu nanti malam untuk diner berdua. Gita menghela nafas panjang, kemudian memasukkan kembali ponselnya dalam tas, tak berniat membalas pesan itu sama sekali sebab masih kecewa.


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2