Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Belum Percaya Sepenuhnya


__ADS_3

Pagi hari yang seharusnya menjadi waktu istirahat untuk seorang Salman yang baru saja pulang dari luar kota tengah malam, tapi dia harus dibangunkan dengan nada dering dari ponselnya berulang kali. Mengetahui jika sang Papa yang menghubunginya berkali-kali itu pun dia paham, jika saat ini tenaga dan pikirannya sedang sangat dibutuhkan.


"Baik Pa, tunggu lima belas menit aku sampai." Tanpa pikir panjang, dia langsung membasuh muka, mengganti pakaian dan bergegas meninggalkan rumah, meninggalkan mandi pagi yang menyegarkan badan.


Awalnya dia berencana bangun jam sepuluh siang, sudah menyetel alarm di ponselnya. Niat awalnya ingin memberi kejutan pada sang kekasih, tapi semua rencananya gagal total. Pukul sembilan lewat dia harus ke rumah sakit dengan kondisi darurat, sejenak melupakan semua rencananya memberi kejutan pada Gita.


Operasi yang dilakukan dadakan ini memakan waktu cukup panjang, hingga waktu makan siang tiba. Dia melihat pergelangan tangannya, dimana jam pemberian gadis manis itu bertengger di sana. Dia menghela nafas saat melihat waktu sudah hampir pukul satu, itu artinya Gita sudah keluar dari ruang persidangan. Tapi dia tentu tak ingin mengecewakan kekasih hatinya tersebut, dia akan datang meski terlambat. Namun, panggilan seseorang membuatnya urung masuk ke dalam ruangannya.


"Man, bisa bicara sebentar? Ini masalah ibuku," ucap seseorang itu yang sangat dikenali oleh Salman.


Salman menimbang beberapa saat, dia sebenarnya ingin menolak, tapi melihat bola mata perempuan itu, rasanya tak tega dan akhirnya dia pun mengiyakan permintaan orang itu. Selain itu, ibu perempuan itu juga salah satu pasiennya.


"Baiklah, kita bicara di dalam." Baru saja Salman akan membuka pintu ruangannya perempuan itu lebih dulu mencegah.


"Kita bicara sambil makan siang gimana? Kamu pasti lapar, kan? Kata suster tadi kamu baru saja melakukan operasi hampir tiga jam," ujar perempuan itu.


"Tapi Lau," Salman tak melanjutkan ucapannya, sebab sepasang mata yang pernah membuatnya terlena itu kini menatapnya penuh permohonan. Meski dia pernah mengecewakannya dulu, tapi kini dia sudah memaafkan.


"Mau ya, kalau nanti aku juga enggak bisa Man, jam dua nanti harus dampingi bos bertemu klien, please kali ini saja," pinta perempuan itu.


Sejak dulu Salman memang tak bisa menolak permintaan perempuan ini. Perempuan pertama yang membuatnya jatuh cinta, meski akhirnya dia di tinggalkan juga. Akhirnya dia mengangguk meski terpaksa, untung tadi dia sudah mengirim pesan pada Gita, berharap gadis itu tidak merajuk.


Salman kira mereka akan makan di kantin rumah sakit, tapi nyatanya Claudia tak menyetujuinya, dia memiliki rekomendasi cafe baru yang sedang viral itu, dengan dalih meetingnya nanti berada di area kafe tersebut.


Salman berulangkali menghela nafas, mau bagaimana lagi dia terlanjur mengiyakan. Tak mungkin untuk menolaknya, bukan?


Makan siang itu mengalir begitu saja dengan awal pembicaraan tentang penyakit ibu Claudia, tapi lama kelamaan mereka tertawa bersama saat mengingat momentum waktu sekolah dulu, dan tanpa sadar aktifitas keduanya diperhatikan oleh sepasang mata yang terus menyelidik bahkan menumpahkan kecewakan.

__ADS_1


🥀🥀🥀


Sudah tiga hari sejak kejadian itu, Salman tak bisa menemukan kekasihnya, bahkan nomor gadis itu juga tidak aktif. Berulangkali dia datang ke rumah Gita, tapi hasilnya tetap nihil, gadis itu pergi dan merahasiakan kepergiannya pada semua penghuni rumah.


Pagi ini dia sengaja datang sedikit siang dari biasanya, sebab tak ingin melihat tatapan penuh kebencian dari dua orang pemuda penghuni rumah ini. Mungkin mereka sudah mengetahui perihal dirinya dan Gita.


"Oh Nak Salman, ayo masuk dulu. Pasti cari Gita, kan?" tebak Tante Sinta setelah membuka pintu rumahnya.


"Iya Tan, Gita di rumah?" tanya Salman, sedikit salah tingkah sepertinya Mama dari tunangannya itu sudah mengetahui jika mereka berdua sedang bermasalah.


"Iya, dia di rumah. Beberapa hari ini dia menginap di rumah Tantenya, membantu persiapan akikah cucu pertma Tantenya. Emang dia enggak hilang sama kamu?" sebenarnya Mama Sinta sudah tahu jika anak gadisnya dengan sang kekasih sedang tidak baik-baik saja, tapi dia pura-pura tidak tahu.


Salman tersenyum lalu menggeleng.


"Selesaikan masalah kalian, jangan sampai masalah itu berlarut-larut, tidak baik. Ayo Tante antar ke atas, kalau kamu sendiri yang datang pasti dia tidak mau membukakan pintu. Tante tahu seperti apa anak gadis Tante itu, selain manja dia juga sulit untuk memaafkan seseorang yang berbuat salah padanya. Kamu yang sabar ya." Tutur Tante Sinta.


Tante Sinta mengetuk pintu kamar Gita yang masih terkunci rapat. "Nak, ini Mama. Buka pintunya, Mama mau bicara," ucap Tante Sinta.


Tak lama terdengar putaran kunci dari dalam, dan pintu terbuka. Nampaklah gadis penghuni kamar itu, dengan wajah kusut dan rambut berantakan, sepetinya Gita baru saja bangun, atau mungkin malas untuk bangun.


"Mama, kok ada dia sih Ma? Aku enggak mau bicara sama dia, suruh dia pulang aja." Gita melirik sekilas pada Salman, dia masih marah dengan pemuda itu.


Mama tersenyum, merapikan rambut Gita yang tak karuan itu, "Jangan biarkan masalah berlarut-larut, tidak baik. Kalian sudah sama-sama dewasa, pasti bisa menyelesaikan masalah tanpa bantuan Mama. Dan kamu juga harus beri kesempatan pada Salman untuk menjelaskan semuanya," ujar Mama membuat Gita tak bisa menolak permintaan sang Mama tersebut.


"Mama tinggal, tapi kalian jangan macam-macam ya." Sebenarnya Mama percaya jika mereka tak mungkin melakukan hal diluar batas, tapi setidaknya ancaman itu bisa membuat mereka lebih hati-hati.


Selepas kepergian Mama Sinta, Salman langsung memeluk Gita yang berjalan ke arah balkon. Tentu Gita terkejut dengan sikap spontan pemuda itu, dia mencoba melepaskan pelukan dari Salman, tapi nihil, dia tak bisa begitu saja terbebas dari pemuda itu.

__ADS_1


"Ingat ucapan Mama, jangan macam-macam." Cetus Gita.


"Aku enggak macam-macam, cuma peluk aja. Apa kamu enggak kangen? Kita sudah satu minggu enggak ketemu, aku kangen sama kamu. Aku juga minta maaf, aku salah." Salman tak sedikit pun melepas pelukan itu, bahkan kini dia mengecup beberapa kali puncak kepala Gita, padahal gadis itu belum mandi, tapi menurutnya tetap wangi.


"Lepas ih! Kalau enggak mau lepas, aku enggak akan memaafkan. Lepas!" Ancaman itu berhasil membuat Salman melepaskan pelukannya.


"Ada yang mau kamu jelaskan?" tanya Gita saat mereka sudah berada di balkon, duduk di sebuah kursi yang ada di sana, memandang komplek perumahan mewah itu, bukan pemandangan yang menarik sebenarnya.


Salman menjelaskan secara perlahan, berharap penjelasannya tak membuat Gita makin salah paham.


"Perempuan itu pasti bukan hanya adik kelas saat sekolah SMA, pasti memiliki tempat tersendiri di hati kami, kan?" tebak Gita setelah Salman menjelaskan semuanya.


"Iya, tapi itu dulu. Kami saling jatuh cinta saat masih sekolah. Dan dia meninggalkan ku, menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya, karena waktu itu aku masih kuliah dan belum berkeinginan untuk menikah," jawab Salman.


"Tapi sampai sekarang kamu masih menyukainya?"


"Sayang, please. Itu masa lalu, sekarang di sini hanya ada kamu dan kamu." Salman menunjuk dadanya sendiri.


"Baiklah, tapi aku masih belum percaya. Udah kan, bicaranya? Kalau udah kamu bisa keluar, aku mau mandi." Gita beranjak dari duduknya, tapi dengan gesit Salman menarik tangan gadis itu, hingga terjatuh dipangkuannya.


"Tolong katakan kalau kamu sudah memaafkan aku," ucap Salman seperti berbisik di telinga Gita.


"Hem," hanya itu yang keluar dari mulut gadis itu. Dia pun beranjak dari pangkuan pemuda itu, rasanya tak nyaman berada dalam posisi sangat intim ini menurutnya.


"Terimakasih sayang, aku tunggu di bawah. Setelah ini kamu mau pergi kemana pun akan aku antar." Salman ikut berdiri, dia meninggalkan kamar Gita, tak lupa menutup pintu kamar itu.


Dia tersenyum penuh kelegaan, meskipun Gita terlihat masih marah, tapi setidaknya Gita tidak menolak lagi kehadirannya.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2