Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Bersama Oma


__ADS_3

"Bagus dong keputusan Papa kamu itu, Oma setuju banget sama keputusan Papa kamu." Oma Laila tersenyum penuh arti setelah mendengar cerita dari Gita, tentang keputusan sang Papa.


"Gitu ya Oma, ternyata cuma aku aja yang kurang setuju sama keputusan Papa," lirih Gita.


"Lhoh kenapa?" Oma terkejut mendengar ucapan gadis itu, "Jangan bilang kalau calon cucu mantu Oma ini sudah kebelet nikah," goda Oma.


Gita tersenyum kikuk, kenapa semua orang menganggap seperti itu, padahal dia hanya tidak ingin LDR lagi, "Bukan itu Oma, aku cuma enggak siap buat LDR lagi sama Bang Indra," jujur Gita, membuat Oma tersenyum.


Ternyata begitu besar cinta gadis ini dengan cucunya. Cucu yang tidak memiliki ikatan darah dengannya, tapi dia begitu menyayangi cucu laki-lakinya tersebut, bahkan melebihi anak kandungnya sendiri.


Kedua perempuan beda generasi ini kini sedang berada di taman belakang rumah Oma. Gita sengaja datang ke rumah Oma Laila, ingin lebih mengenal wanita yang begitu menyayangi kekasihnya itu. Ternyata sambutan Oma begitu hangat, membuatnya langsung nyaman mengobrol berdua.


"Kamu sudah tahu tentang Indra?" tanya Oma menatap gadis yang duduk di sisinya tersebut.


Gita menggeleng, "Bang Indra cuma pernah bilang dia bukan anak kandung Papi Luky, tapi belum pernah cerita apa pun," jawabnya jujur, sebenarnya dia sangat penasaran dengan asal usul Indra. Kenapa bisa berada di keluarga itu, apa Indra anak angkat? Atau anak tiri? Entahlah. Yang terpenting Indra diakui dan disayangi oleh keluarga besarnya.


Oma mengangguk, "Meskipun dia bukan cucu kandung Oma, Oma sangat menyayanginya, alasannya karena kebaikan Bundanya Indra yang juga menantu Oma. Dia menganggap Oma seperti orang tuanya sendiri, tapi sayang dia lebih dulu pergi meninggalkan kami semua." Perubahan wajah Oma terlihat jelas, jika wanita itu merindukan menantunya yang telah tiada, yaitu Bundanya Indra.


Oma menyentuh salah satu tangan Gita, "Bukan maksud Oma membedakan Mama kamu dengan Bundanya Indra, Oma juga sayang sama Mama kamu, dia juga enggak kalah baik dengan Bundanya Indra." Oma sadar jika menantunya saat ini adalah Mama gadis yang kini duduk disampingnya, dia tak mau Gita salah sangka.


Gita tersenyum lalu mengangguk, "Iya Oma, aku ngerti," ujarnya.


"Oma akan ceritakan sedikit tentang Bundanya Indra. Wanita itu bernama Indah," Oma mengawali kisah masa lalu Indra dengan sang Bunda.


.


Flashback On


Indah seorang wanita berumur sekitar dua puluh lima tahun, seorang janda beranak satu. Sering kali datang ke rumah Oma bersama bosnya Bapak Hartanto yang menjadi klien Luky. Bisa dibilang Luky sudah menjadi kepercayaan keluarga Hartanto sejak masih muda.

__ADS_1


Dari sini Oma mengenal lebih jauh seorang Indah, mereka sering terlibat obrolan santai. Oma bahkan menganggap Indah seperti anak sendiri, berbeda dengan menantunya yang tak pernah akur dengan Oma.


"Bagaimana kabar Indra? Kenapa tidak kamu ajak ke sini saja?" tanya Oma pada Indah saat mereka bertemu di sebuah cafe siang ini.


"Alhamdulillah sehat Bu, kebetulan saya dari kantor langsung ke sini, jadi tidak mampir ke rumah dulu," jawab Indah.


"Lain kali Ibu akan main ke rumah mu, kangen sama Indra," Oma Laila memang beberapa kali sudah bertemu dengan Indra, balita berusia kurang lebih tiga tahun itu begitu menggemaskan, membuatnya selalu merindukan balita tersebut.


"Di rumah kesepian, semuanya mementingkan pekerjaan. Mungkin kalau Indra mau Ibu ajak, rumah akan ramai," wajah itu kini terlihat sendu, mengingat dia selalu ditinggal pergi oleh anak dan suaminya bekerja.


"Sebentar lagi pasti ramai Bu, kalau Bu Ambar sudah melahirkan. Ibu pasti akan betah di rumah," Indah mencoba menghibur wanita yang duduk dihadapannya ini, mengingat menantu wanita itu sedang hamil besar.


Bukannya bahagia Oma Laila justru terlihat murung, "Aku tidak yakin jika wanita itu mengandung anak Luky," ucapnya membuat Indah terkejut, tapi tak berani menanyakan hal yang bukan urusannya.


"Luky itu sangat bodoh, karena terlalu mencintai istrinya. Padahal Ibu beberapa kali memergoki wanita itu dengan laki-laki lain, tapi Luky tidak pernah percaya. Dia lebih percaya wanita sundel itu. Dia tidak tahu saja, kalau istrinya itu sering keluyuran, padahal lagi hamil," Oma Laila menceritakan tentang menantunya tanpa Indah minta.


Indah hanya bisa memberi semangat pada Oma Laila, sebab dia tidak tahu harus berkomentar apa. Karena kehidupannya saja tak semulus yang orang lain bayangkan. Ditipu oleh laki-laki yang pernah menjadi suaminya, membesarkan anak dengan kerja kerasnya sendiri tanpa bantuan siapa pun.


Tak pernah menyangka, jika di dalam rahimnya tumbuh janin buah cinta dengan mantan suami yang telah menalaknya. Dia berjanji akan menyayangi anak itu sepenuh hati, tanpa memberi tahu mantan suaminya jika dia sedang mengandung.


Oma mengetahui semua kisah Indah, sebab memaksa wanita itu untuk bercerita, dan akhirnya dia simpati dengan kisah hidup Indah yang berjuang membesarkan anak sendiri tanpa orang lain, sebab orang tua Indah sudah tidak ada. Dia hanya anak panti, yang ditinggal oleh kedua orang tuanya.


Sejak saat itu Oma lebih dekat dengan Indah, apalagi kelembutan wanita tersebut, membuatnya merasa memiliki seorang anak perempuan. Jika saja kedua anak lelakinya belum memiliki istri, sudah pasti dia akan menjodohkan dengan salah satunya, tapi sayang keduanya sudah berkeluarga, bahkan anak keduanya sudah memiliki seorang putri, meskipun mereka tinggal jauh di luar kota.


Waktu berlalu begitu cepat, Oma Laila makin akrab dengan Indra, bahkan balita itu sering kali bermain di rumah Oma dengan pengasuhnya saat sang Bunda bekerja, membaut Oma sedikit terhibur dengan kehadiran balita tersebut.


Suatu hari, Ambar dikabarkan berada di rumah sakit karena akan melahirkan. Padahal tadi pagi saat wanita itu keluar rumah, dia masih terlihat baik-baik saja. Meskipun Oma tak menyukai Ambar, dia tetap datang ke rumah sakit dimana Ambar akan melahirkan.


"Apa kamu masih belum percaya sama Mamah, kalau istri kamu itu tidak seperti yang kamu pikirkan? Lihat siapa yang membawa istri kamu ke rumah sakit?" Oma menunjuk seorang lelaki berwajah bule, yang sering kali dia lihat bersama Ambar.

__ADS_1


"Entahlah Mah, aku belum memikirkan itu, sekarang yang terpenting Ambar dan bayinya." Luky sebenarnya marah melihat lelaki lain yang mengantar Ambar ke rumah sakit, padahal pagi tadi dia sudah berpesan pada Ambar untuk tetap di rumah, tapi lihatlah wanita itu masih saja keluyuran.


Kepercayaan Luky makin runtuh terhadap istrinya, ketika dia menemani Ambar memperjuangkan anak mereka, dia tak sengaja melihat bekas kecupan di dada sang istri, meskipun samar tapi dia yakin itu bukan karena gigitan serangga atau yang lain, tapi itu bekas kecupan. Padahal dia sudah beberapa hari tak menggauli istrinya, lalu itu kecupan siapa? Ah! Rasanya ingin marah saat itu juga, tapi tak dia lakukan sebab Ambar sedang berjuang melahirkan putranya.


"Mas Luky, kamu urus anak itu, aku tidak mau mengurusnya. Bukankah kamu sudah tahu, apa hubunganku dengan laki-laki itu? Aku yakin kamu sudah menyadarinya. Maaf, aku memilih dia, karena hidupku akan terjamin jika dengannya. Aku juga bisa bebas dari wanita seperti ibu mu itu," ucap Ambar setelah beberapa jam melahirkan, bahkan setelah itu wanita tersebut meninggalkan rumah sakit bersama lelaki berwajah bule tersebut.


Ingin rasanya Luky menghajar laki-laki itu, tapi dia sadar itu justru akan membahayakannya. Yang terpenting saat ini adalah putranya yang baru saja lahir.


Setelah kelahiran putra pertama Luky, Oma sama sekali tak mau menyentuhnya, dia masih sakit hati dengan ibu anak itu. Tapi Indah, wanita itu selalu menyempatkan diri datang ke rumah Oma Laila, mengurus cucu yang tidak diakuinya. Membuat Oma makin menyayangi wanita itu.


Hingga setahun berlalu, Luky memutuskan menikahi Indah, sebab ketulusan wanita tersebut mengurus anaknya. Bukan hanya itu, dia juga mencintai wanita tersebut dengan segala kelebihan dan kekurangan Indah. Tentu saja Oma merasa bahagia, karena Indah benar-benar menjadi anaknya.


Hingga akhirnya Oma turun tangan dengan mengubah nama ibu kandung cucunya dengan nama Indah, karena menurutnya Indah lebih tepat menjadi ibu kandungnya dari pada Ambar yang entah kemana, sejak saat pertama anaknya lahir.


Flashback Off


"Kamu mungkin tahu selama ini Oma memperlakukan Riky dengan tak adil, meskipun Oma tahu jika Riky anak kandung Luky, sebab kami pernah melakukan tes DNA. Tapi rasa sakit hati Oma sama Mamanya makin menjadi saat melihat anak itu, padahal Oma sadar Riky tidak menanggung dosa Mamanya. Oma menyesal sebenarnya tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Bahkan Riky tak mau bertemu dengan Oma, meskipun dia berkunjung ke sini, dia akan mengurung diri di dalam kamar dan pulang tanpa berpamitan dengan Oma, tapi Oma memaklumi itu," lanjut Oma tentang cucu kandungnya, Riky.


"Gita yakin, suatu saat Riky akan memaafkan Oma." Gita mengusap punggung tangan wanita itu.


Oma tersenyum, "Apa kamu masih mau menikah dengan Indra setelah mengetahui dia siapa?" tanya Oma mengalihkan topik pembicaraan.


Gita tersenyum lalu mengangguk, "Tidak ada alasan untuk meninggalkan Bang Indra, Oma. Aku tidak peduli siapa Bang Indra, karena menurutku cinta tak memandang status...." Gita tak melanjutkan ucapannya sebab dia terkejut saat mendengar benda jatuh.


Brak


"Riky!" Seru Oma dan Gita secara bersamaan.


.

__ADS_1


.


🥀🥀🥀


__ADS_2