
Hari yang ditunggu pun datang, meski bukan Acra besar tapi cukup membuat beberapa Art sibuk dengan persiapan makanan yang akan disajikan. Awalnya memang siang hari sesuai ketentuan sang Papa, tapi Gita mengatakan jika siang akan mengganggu pekerjaan banyak orang apalagi hari ini bukan hari libur, pada akhirnya pertemuan dua keluarga itu diadakan malam hari, sekaligus makan malam bersama untuk pertama kalinya dikeluarkan besar tersebut.
Renaldy menyambut kedatangan tamu dengan ramah tak seperti dirinya saat bersama rekan bisnis atau para pekerja, kali ini lelaki paruh baya itu terlihat banyak menampakkan senyuman, senyum bahagia karena melihat putri satu-satunya bahagia.
Sesuai kesepakatan pertemuan kali ini bukanlah sebuah pertunangan tapi lebih membahas ke acara pernikahan dua sejoli itu, Renaldy tak ingin mereka bertunangan tapi langsung menikah. Belajar dari kejadian yang pernah terlewat satu tahun lebih, dia tak ingin putrinya kembali merasakan sakit karena lelaki.
Keluarga Indra pun tidak mempermasalahkan hal tersebut, pertunangan tidaklah terlalu penting, yang paling penting adalah pernikahan. Jadi, acara malam ini hanya sebatas lamaran biasa tanpa adanya tukar cincin, lalu pembahasan tentang pernikahan.
"Pa, aku enggak mau pernikahan yang terlalu mewah, pengennya yang sederhana saja," usul Gita saat mereka menanyakan gadis itu ingin sebuah pernikahan seperti apa.
"Tapi, Papa tetap ingin mengadakan pesta, kamu boleh menentukan pesta seperti apa, yang penting jangan hanya ijab kobul dan tidak ada acara resepsi. Papa ingin semua orang tahu seperti apa menantu Papa," tak setuju dengan keinginan Gita, sebab dirinya salah satu orang terpandang tak mungkin jika tidak melaksanakan pesta, nanti semua orang mengira yang tidak-tidak.
"Baiklah, terserah Papa," pasrah Gita.
Keputusan tersebut menghasilkan acara pernikahan itu akan diadakan akhir bulan depan, sebab niat baik harus segera dilaksanakan bukan?
Kebahagiaan sejoli itu makin terlihat, sebab tak lama lagi mereka akan bersatu. Perjuangan selama ini tidak sia-sia, meski banyak menitikan air mata itu tak masalah yang terpenting berakhir bahagia.
Hari-hari mereka lalui dengan berbagai macam persiapan pernikahan, mulai dari fitting baju, memilih undangan dan konsep pernikahan. Tak lupa Indra memesan cincin pernikahan spesial untuk orang yang paling spesial.
Ditengah persiapan pernikahan, mereka berdua menemui banyak perbedaan pendapat hingga terkadang menimbulkan sedikit cek cok, tapi semua itu tidak bertahan lama. Mungkin memang ujian mendekati hari pernikahan. Terkadang Gita yang terlalu posesif dengan Indra, sering kali gadis itu cemburu ketika Indra bertemu dengan klien perempuan. Padahal Indra selalu menjelaskan jika hubungan mereka hanya sekedar rekan bisnis tidak lebih.
Seperti pagi ini, Indra sudah memberi tahu pada calon istrinya jika dia akan mengadakan pertemuan dengan rekan bisnis perempuan. Dia sudah mengajak Gita untuk ikut, tapi gadis itu menolak.
"Serius enggak mau ikut? Tapi jangan salah paham ya, aku sebenarnya sengaja mengajak kamu biar enggak salah paham lagi seperti kemarin-kemarin," tutur Indra lewat pesawat telepon.
"Iya Abang, aku lagi males keluar. Ini aja masih di dalam selimut, udara di luar mendukung untuk tarik selimut lagi," sambung Gita dari seberang sana.
__ADS_1
Memang udara pagi ini mendung bercampur gerimis, tapi tak menyurutkan seorang Indra untuk tetap berangkat ke kantor. Apalagi kali ini ada meeting penting dengan rekan bisnisnya, tak mungkin dia meninggalkan begitu saja.
"Baiklah sayang, Abang berangkat dulu. Siang nanti kalau udah reda hujannya kita lihat bangunan rumah kita, sekaligus bertemu sama arsiteknya mumpung dia bisa hari ini. Kamu mau kamar seperti apa nanti bilang saja," Indra memilih mengakhiri panggilan telponnya, sebab dia harus segera ke kantor.
Setelah acara pertemuan dua keluarga beberapa hari lalu, Indra memang langsung merencanakan pembangunan rumah untuknya dan Gita. Dia ingin setelah menikah langsung pindah ke rumah mereka. Mungkin jika rumahnya belum jadi seratus persen, mereka akan tinggal sementara di apartemen, yang terpenting tidak bersama orang tua.
Siang ini Indra bertemu dengan rekan bisnis yang dia bicarakan tadi dengan Gita, memang hanya pertemuan singkat untuk penandatanganan kontrak kerja sama. Indra hanya sendiri tanpa seorang sekretaris yang selalu mengekor kemanapun dia pergi, karena sang sekretaris ijin tidak masuk hari ini, sebab anaknya sakit.
Tapi tak disangka, rekan bisnis yang seorang perempuan dan masih gadis itu juga datang sendiri tanpa sekretaris, membuat mereka seperti sepasang kekasih yang sedang makan siang bersama. Untung saja Indra tidak memesan makanan berat, dia berniat makan siang bareng Gita sebelum ke rumah baru mereka. Bahkan Indra rasanya ingin pergi lebih dulu, tak nyaman makan berdua dengan seorang gadis, ya meskipun itu rekan bisnisnya.
Tapi sepetinya berbeda dengan gadis yang kini sedang menikmati makanan miliknya, dia seperti ingin berlama-lama duduk berdua dengan Indra, terlihat dari cara makan gadis itu yang terlalu pelan dan berbagai makanan yang dipesannya.
"Kenapa tidak pesan makan siang Pak?" tanya gadis itu setelah menelan makanan di mulutnya.
"Oh maaf Bu Leoni, saya sudah janji sama calon istri untuk makan siang bersama," jawab Indra sengaja mengatakan hal tersebut padahal dia tidak janji sama sekali dengan Gita, hanya alasan saja supaya orang dihadapannya ini segera menyelesaikan makannya.
Hingga seseorang datang menghampiri mereka dengan wajah garang, menatap Indra dengan tatapan permusuhan. Kecemburuannya tak bisa dikendalikan ketika melihat calon suaminya duduk dan makan berdua dengan seorang perempuan. Dia sengaja menyusul calon suaminya ke cafe ini, karena Indra sebelumnya sudah mengatakan dimana dia berada.
Indra hanya bisa menghela nafas melihat wajah Gita yang kini berada dihadapannya, sudah bisa ditebak apa yang selanjutnya terjadi.
"Boleh ikut duduk, kan? Saya calon istrinya Bang Indra." Gita duduk begitu saja meskipun mereka belum mempersilakan. Kesal sekali melihat perempuan yang kini menatapnya penuh selidik itu, sepertinya perempuan itu tak menyukai kehadirannya. Tahu begini dia ikut Indra meeting tadi, biar perempuan itu sadar.
"Sayang, kamu mau pesan apa?" tanya Indra yang mengira jika Gita akan makan siang juga disana.
"Enggak, aku enggak laper. Kalian berdua aja yang makan, aku akan menunggu sampai selesai," ucap Gita menyindir, karena makanan Indra sudah ludes, sedangkan makanan rekan bisnis Indra masih tersisa banyak.
"Kalau begitu kalian berdua boleh duluan, saya di sini sendiri tidak masalah." Leoni menatap Indra dan hanya melirik Gita sekilas, menurutnya Gita tidak selevel dengannya, terlihat dari penampilan gadis itu yang terkesan sederhana.
__ADS_1
Padahal memang Gita tak begitu menyukai keglamoran, dia lebih suka tampil apa adanya, tentu saja hal itu belum lama dia lakoni, karena dulu dia lebih suka hal-hal yang berbau kemewahan. Hobinya itu hilang setelah bertemu dengan saudara kembarnya yang tetap terlihat tampan meski hanya memakai pakaian biasa.
"Ayo Bang, dia bisa sendiri di sini. Kenapa enggak dari tadi kamu tinggalin aja sih?" meski bicara cukup panjang, tapi gadis itu masih saja sewot.
"Maaf Leoni, kamu pergi dulu kalau begitu ya." Indra tentu tak mau menolak permintaan sang kekasih, biarkan Leoni kesal dengannya itu lebih baik daripada Gita yang kesal dengan dirinya.
"Silahkan Pak." Leoni mempersilakan mereka pergi dengan tidak ikhlas, niatnya ingin berlama-lama bersama Indra pupus sudah karena kedatangan calon istrinya. Sepeninggal dua sejoli itu pun Leoni meninggalkan cafe tersebut, tak menghabiskan makanan yang masih tersisa banyak, bahkan ada yang belum disentuh sama sekali.
"Sial banget sih! Gara-gara calon bininya rencana gue berduaan sama dia gagal. Kayaknya takut kesaing sama gue," dengan percaya dirinya Leoni mengatakan hal tersebut.
Di sisi lain kedua insan itu kini sudah berada di dalam mobil, dengan Gita yang selalu menghindari tatapan mata dengan Indra, dia masih kesal dengan pemuda itu.
"Sayang, udah ya, kamu kalau cemberut gitu jelek lho," bujuk Indra saat mobil berhenti di lampu merah.
"Oh jadi aku jelek perempuan itu yang cantik? Yaudah sana temenin lagi tuh perempuan gatel." Entah kenapa rasanya begitu kesal mengingat tadi, mungkin efek datang bulan yang membuatnya seperti ini.
"Ya Allah sayang, Abang minta maaf kalau begitu. Sekarang maunya kemana? Makan siang dimana? Pasti belum makan, kan?" Indra mencoba mengalah meski dia rasa dirinya tak bersalah, karena jika dia tak mengalah tidak akan pernah ada selesainya. Bukankah wanita itu selalu benar meskipun dia salah?
"Terserah," ujar Gita yang membuat Indra makin pusing, sebab kata 'terserah' bermakna luar biasa yang bisa menumbuhkan bom atom seketika.
Berfikir sejenak, menimang biasanya Gita suka makan di resto mana dan akhirnya tanpa menanyakan pada Gita, Indra menuju sebuah resto khas makanan Korea. Dia yakin kekasihnya itu akan bersemangat jika berhubungan dengan negara tersebut. Pasti saat makan nanti akan menceritakan drama-drama yang sering ditonton, dan aktornya menyukai makanan seperti apa. Meski sering tak mengerti Indra tetap menjadi pendengar yang baik.
"Tau aja aku maunya ke sini," meski tak ada senyum diwajahnya, yang terpenting nada bicaranya mulai lembur dan itu membuat Indra bersyukur dengan pilihannya.
.
.🥀🥀🥀🥀
__ADS_1