Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Membuka Hati


__ADS_3

Hingga tengah malam Gita belum bisa memejamkan mata, dia teringat akan pesan yang disampaikan oleh Bu Nurul. Pesan itu seakan berputar di otaknya tiada henti.


"Kalau menurut Ibu, lebih baik Neng Gita buang jauh-jauh perasaan itu, karena sampai kapan pun kalian tetap tidak akan bisa bersama, kecuali Mama sama Papi Luky bercerai, tapi Neng Gita pasti enggak mau itu terjadi, kan?"


"Setiap dekat sama Mas Indra dan dia memberi perhatian lebih, Neng Gita anggap saja itu sebagai perhatian seorang Kakak ke adiknya. Jangan pernah merasa jika Mas Indra melakukan itu karena rasa suka, toh dia juga sudah bilang sendiri kan, kalau menganggap Neng Gita sebagai adik, tidak lebih. Berarti dia melakukan itu juga karena tanggungjawab seorang Kakak pada adiknya, apalagi sekarang Hafidz jauh dari kalian, pasti Mas Indra merasa dirinya memiliki tanggungjawab yang sama seperti Hafidz. Toh Hafidz juga melakukan hal seperti itu saat bersama Non Gita, kan?"


Gita membenarkan semua perkataan Bu Nurul, jika dipikir-pikir Hafidz justru lebih dari Indra, tapi yang namanya saudara tetap tidak mungkin berfikir jika itu perhatian karena rasa suka. Tentu saja berbeda saat Indra melakukannya.


Gita menghela nafas dalam-dalam, mulai saat ini dia akan bersikap seperti apa yang dikatakan oleh Bu Nurul. Semoga saja dia benar-benar bisa menghapus nama Indra dalam hatinya.


"Atau gue cariin pacar buat Bang Indra aja ya, kalau Bang Indra punya pacar, gue pasti mudah buat luapain dia, tapi siapa? Selama ini dia aja enggak pernah pacaran, entah apa alasannya," gumam Gita.


"Dahlah tidur sekarang, besok gue masuk pagi," putusnya.


Gadis itu pun tertidur diwaktu menjelang pagi. Hingga dia kesiangan saat bangun di pagi hari, untung saja Bu Nurul membangunkannya.


"Neng Gita di bawah ada temannya," ucap Bu Nurul saat memasuki kamar Gita setelah gadis itu mempersilakan masuk.


"Siapa Bu?" tanya Gita.


"Ibu lupa tanya, cowok orangnya pake kacamata," jelas Bu Nurul.


Gita mengingat siapa teman cowoknya yang memakai kacamata? Tapi sepertinya tidak ada, kecuali, ah tapi enggak mungkin.


"Yaudah suruh tunggu bentar Bu, aku mau mandi dulu,"


Bu Nurul pun meninggalkan kamar Gadis itu, membiarkan Gita mandi dan memberi tahu tamunya untuk menunggu sebentar.


"Siapa sih lagi-lagi namu? Mana ini udah siang, gue pasti telat," gumamnya.

__ADS_1


Tak sampai sepuluh menit, Gita sudah siap berangkat ke kampus, seperti biasa di saat seperti ini gadis itu pasti meninggalkan sarapannya, meskipun cacing dalam perutnya sudah demo tapi dia abaikan yang terpenting sekarang tidak telat ke kampus.


Gita langsung menemui tamunya itu, dan ternyata Bu Nurul yang menemaninya. Dia tak bisa melihat wajah seseorang tersebut, sebab duduknya membelakanginya.


"Eh, ada apa Kak pagi-pagi ke sini? Ada masalah sama Salma?" tanya Gita saat mengetahui siapa tamu yang datang di pagi buta itu. Seingatnya hanya Riky yang pernah datang ke rumah itu pagi-pagi seperti ini.


"Em, itu, mau jemput kamu, kata Salma kamu pasti telat bangun, enggak tahu dia bisa nebak seperti itu," ucap Salman memberi alasan, dan memang Salma yang menyuruh mengatakan alasan tersebut.


Gita tersenyum canggung, bisa saja alasan yang dilontarkan oleh Salman. Pasti Salma yang memberi tahu, apalagi tadi malam sebelum tidur dia sempat chat Salma untuk membangunkannya pagi tadi, tapi ternyata tidak dibangunkan justru mengirim sang Abang ke rumahnya.


"Yaudah Kak, kalau gitu kita berangkat," ajak Gita.


Keduanya pun berpamitan dengan Bu Nurul.


"Harusnya enggak usah repot-repot Kak, aku jadi enggak enak ini," ujar Gita saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Sama sekali enggak repot kok, lagian hari ini aku juga jadwalnya agak siang, jadi bisa antar kamu dulu," timpal Salman, tentu saja dia tidak merasa direpotkan sebab itu misinya untuk mendekati Gita. Apalagi dia sudah mendapatkan lampu hijau dari kedua orang tuanya, terutama sang Mama yang sudah mengenal Gita.


"Em, kamu kapan ada waktu? Aku ingin ajak jalan-jalan atau kemana saja, boleh kan? Enggak ada yang marah juga, kan?" tanya Salman memecah keheningan, dia merasa harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.


Gita mendapat pertanyaan seperti itu merasa sedikit aneh, beberapa detik kemudian dirinya tersadar jika Salman memiliki maksud tertentu selain menjemput ke rumah karena kemauan Salma.


Ah, mungkin ini saatnya dia membuka hati untuk orang lain, supaya lebih mudah menghapus cintanya terhadap sang Kakak tiri.


"Kok diam?" ucapan Salman menyadarkan Gita dari lamunannya.


"Kapan ya Kak, bisanya weekend keknya deh, selain hari itu aku kuliah, pasti Kak Salman juga kerja, kan?" jawab Gita, tak mungkin dia membolos kuliah hanya untuk jalan-jalan.


"Dua hari lagi kalo enggak salah tanggal merah, kalau kamu libur mau kan kita jalan-jalan?"

__ADS_1


"Coba lihat sikon aja ya Kak, aku enggak bisa janji," jawab gadis itu.


Karena mereka sudah sampai di depan kampus, akhirnya mereka bertukar nomor sebelum Gita masuk ke dalam kelas. Setelah sampai kelas gadis itu sudah di tunggu oleh kedua sahabatnya.


"Lo nyuruh Abang Lo jemput gue Ma?" tanya Gita sebelum kedua sahabatnya buka suara.


Salma menggidikan bahu, "Dia yang inisiatif sendiri, sumpah gue kagak nyuruh!" jawab Salma.


"Ayolah Git, gue rasa Bang Salman suka sama Lo deh, saatnya move on dari Babang Indra, biar Bang Indra buat gue." Alya memejamkan mata sambil tersenyum membayangkan dia menjadi kekasih Indra.


"Kita lihat saja nanti," sahut Gita. Setelah itu dosen pun masuk ke dalam kelas.


🥀🥀🥀🥀


"Abang Lo ngajakin makan siang Ma, kalian berdua ikut ya. Gue enggak enak kalo cuma berdua, kita kan baru ketemu beberapa kali, pasti akan canggung banget, tadi aja kita banyak diem di dalam mobil," ujar Gita setelah dosen keluar dari ruangan.


"Boleh deh, tapi Lo ngomong sama Bang Salman, gue enggak mau di marahin sama dia," timpal Salma.


"Sip!" Gita membalas pesan dari Salman.


"Gue mau tanya Ma, beneran Abang Lo bilang mau deketin gue?" tanya Gita.


"Dia bilangnya sih gitu, awalnya sih semalam setelah pulang dari rumah Lo itu, Papa sama Mama muji kue yang Lo bikin, terus gue bilang kalo itu bikinan Lo. Dan gue juga bilang sama mereka kayaknya Bang Salman tertarik sama Lo gitu, eh Mama malah ngedukung, kalo Papa sih terserah Bang Salman aja katanya. Bang Salman juga sempet mau minta nomor Lo, tapi gue suruh minta sendiri, dan tiba-tiba tadi pagi dia bilang mau jemput Lo gitu," jelas Salma panjang lebar.


"Coba Lo buka hati buat Abang gue ya Git, semisal nantinya Lo tetep belom bisa move on dari dia, setidaknya Lo udah kasih kesempatan sama Bang Salman, gue udah jelasin sama dia tentang perasaan Lo sama Indra," tambahnya.


Gita mengangguk, "Iya, sepertinya Abang Lo juga baik sih, enggak ada salahnya juga. Semoga aja Abang Lo sabar nunggu perasaan gue sama Indra mengikis," timpal Gita, berharap Salman tidak mengecewakannya.


🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


Like dan komen kalian semangat buat ku🥰


__ADS_2