Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Hari-hari Tanpa Mu


__ADS_3

Sinar matahari pagi ini begitu cerah menelusup masuk ke dalam sebuah kamar di lantai dua melewati celah kecil jendela yang masih tertutup gorden, membaut si pemilik kamar tersebut langsung membuka gorden tersebut. Tersenyum saat melihat matahari itu yang begitu cerah secerah hatinya.


Kejadian semalam sukses membuatnya kembali tersenyum manis pagi ini, menampilkan lesung pipi yang hanya terlihat saat wajah itu tersenyum. Alasannya tentu karena seorang gadis yang mungkin saat ini sedang terlelap dan bermimpi indah dalam tidurnya, gadis yang kini jauh di benua lain tapi tetap berada paling dekat dengan Palung hatinya.


Saat ini yang dia harapkan hanya berada dalam mimpi indah gadis itu. Ah, terlalu lebay sepertinya. Tapi bukankah keinginannya itu sangat manis jika benar-benar terjadi, apalagi jika mereka saling melempar senyum seperti semalam, ya meskipun hanya lewat virtual.


Tok Tok Tok


Siapa sih yang mengganggu pagi indahnya ini? Sungguh menyebalkan, saat dirinya sedang membayangkan wajah manis gadis itu, tapi si pengganggu datang tanpa komando.


"Bang, mari kita adu skill!" seseorang yang masuk tanpa permisi setelah mengganggu kebahagiaannya itu kini melempar bola basket ke arahnya dan


Hap!


Bola itu langsung terjerat oleh kedua tangannya, tentu dia tak membiarkan bola sialan itu merusak tatanan kamarnya yang rapi.


"Gue ganti baju dulu." Melempar kembali bola tersebut kearah Riky kemudian mengganti baju koko yang masih melekat di tubuhnya dengan kaos olahraga.


Kini kedua pemuda itu sedang mengelilingi lapangan, pemanasan sebelum melakukan aksi sesungguhnya. Hampir tiap minggu kedua kakak beradik itu melakukan olahraga, ya kecuali saat penyakit malas tiba tentunya.


"Biasanya ada yang nonton kita main, ya meskipun satu orang dan buat rusuh, tapi sekarang enggak ada." Riky menoleh sekilas ke arah sebuah kursi dan meja yang terletak di teras samping lapangan basket mini itu. Wajahnya benar-benar menyiratkan kerinduan mendalam pada sesosok gadis yang selalu jadi tujuan kejahilannya.


"Semalam Hafidz telpon," ujar Indra santai, meski sebenarnya dia pun merindukan gadis itu, tapi setidaknya rasa rindu itu sedikit terobati setelah melihat gadis itu tertawa dan cemberut.


"Tega enggak kasih tahu gue!" Riky terlihat kesal benar-benar kesal, dia juga ingin berbicara dan menggoda gadis itu.


"Nanti bisa telpon lagi, gue udah punya nomornya," kedua bola mata Riky berbinar saat mendengar penuturan abangnya itu.


Setelah merasa cukup dengan pemanasan yang mereka lakukan, kini keduanya beradu skill bermain basket, seperti biasa keduanya tidak ada yang mau mengalah, hingga lelah menghampiri akhirnya mereka memutuskan mengakhiri permainan itu.


Pagi ini Indra memiliki janji dengan seseorang di sebuah cafe, padahal dia sudah mengatakan lebih baik bertemu di rumah saja, tapi seseorang itu ngotot ingin bertemu di kafe ini. Tapi hampir lima menit dia menunggu, orang itu belum juga memperlihatkan batang hidungnya. Tapi seseorang yang baru memasuki cafe tersebut membuatnya sedikit terkejut, lalu dia memutuskan untuk memanggil saja.


"Meta! Hey!" serunya pada gadis itu.


"Eh, Indra. Kok sendiri?" Meta duduk di hadapan Indra tanpa dipersilahkan.


"Lagi nungguin Devin, Lo kok di sini sih? Gue kira udah balik ke Jakarta?" tanyanya.


Meta tersenyum," Gue kerja di sini Ndra, ini kafe kan milik Devin sama Bang Fahmi, makanya waktu itu gue ada di sini," jawab Meta.

__ADS_1


"Oh, jadi kafe ini milik mereka, pantesan si Devin ngotot ngajak ketemu di sini," Indra memang mengetahui jika sahabatnya itu sedang merintis usaha baru dengan orang yang sudah berpengalaman dalam bidangnya, yaitu Bang Fahmi, pemilik beberapa kafe di ibu kota yang sangat terkenal, dan kini mereka membuka di kota kembang ini.


"Devin nya masih di luar, tadi berangkat bareng gue," sahut Meta.


Indra mengernyitkan dahi, seperti ada sesuatu yang janggal menurutnya. "Kalian berdua?" tanyanya.


"Iya kenapa?" jawab seseorang yang baru datang siapa lagi jika bukan Devin. Padahal dia tidak mengetahui apa maksud dari pertanyaan Indra.


"Jangan bilang Lo nginep bareng Meta! Yah parah Lo! Teman sendiri Lo embat juga," Indra menuduh Devin seperti itu sebab dia tahu betul seperti apa pemuda dihadapannya ini, hidup bebas dan bebas memilih wanita manapun untuk menghangatkan ranjangnya, sungguh luar binasa!


Devin tersenyum tidak membenarkan atau menyanggah ucapan sahabatnya itu, tapi justru merangkul pundak Meta dan menggoda gadis tersebut.


"Saran Indra sungguh luar biasa, gimana kalau nanti malam aku nginep di kosan kamu? Kayaknya enggak begitu buruk." Devin menarik turunkan satu alisnya menggoda Meta.


Plak!


Meta memukul paha pemuda itu dengan keras, tatapan matanya menusuk sepasang mata elang itu dengan begitu tajam.


"Messum aja pikirannya! Enggak ada hal lain apa yang lebih bermanfaat untuk dipikirkan?" Meta melepas paksa tangan Devin disepanjang bahunya.


Indra hanya berdecak malas melihat kelakuan mereka berdua, entah apa maksud Devin memintanya bertemu, apa hanya ingin pamer kemesraan. Tunggu apa, kemesraan? Sejak kapan mereka berdua terlihat mesra?


"Gita kemana ya Ndra? Gue DM enggak dibuka sama sekali, nomornya aja gue lupa. Maklum hape lama di rumah," ucapan Meta mengejutkan Indra dari lamunannya, ternyata mereka berdua sudah berada dalam mode biasa.


"What! Dia udah berangkat? Sempet bilang mau liburan ke London gitu sih, tapi nomornya kok enggak bisa dihubungi ya?" tanya Meta.


"Hapenya ditinggal di rumah. Dia pergi enggak cuma untuk liburan, tapi kuliah," wajah Indra berubah sendu saat mengatakan hal itu, dia pun menghela nafas untuk mengurangi rasa sedihnya.


"Yah! LDR dong? Rasain tuh LDR, ups mau LDR atau enggak sama aja ya, kan enggak bisa digapai udah hak milik orang lain," Devin terkekeh melihat sahabatnya itu, rasanya puas bisa menggodanya.


"Mereka udah putus," sambar Indra mengoreksi.


"Serius?!"


"Wah!"


Meta dan Devin menjawab serempak, jika Meta terkejut berbeda dengan Devin yang makin tersenyum lebar.


"Seneng dong Lo! Kalau gue seneng banget!"

__ADS_1


"Itu kan Lo! Gue kagak! Yang ada nyesek liat dia nangis, rasanya pengen gue hajar si kacamata itu, brengsekkkk!" umpat Indra saat mengingat bagaimana Gita yang saat itu menangis.


"Kok bisa sih? Gue jadi kagak tega sama Gita," Meta pun tak bisa membayangkan betapa terpuruknya sahabtnya itu.


"Lo tanya sendiri sama dia, kalo gue yang cerita kayaknya kurang pas. Entar gue kirim nomornya,"


Meta mengangguk, kemudian dia melihat jam dipergelangan tangannya, dan terkejut saat hari sudah sangat siang.


"Eh gue pamit deh, laporan gue belum selesai, harus lapor sama Pak Bos nanti siang," Meta melirik Devin sekilas saat mengatakan 'Pak Bos'.


Setelah mendapatkan persetujuan dari dua pemuda itu, Meta pun memasuki kafe tersebut lebih dalam.


"Kalian ada sesuatu?" tanya Indra setelah tak terlihat lagi Meta dari pandangannya.


Devin mengangguk, "Gue udah yakin sama dia, tapi dia kayaknya masih ragu sama gue," ucapnya sendu, mengingat bagiamana penolakan demi penolakan yang Meta lakukan.


"Jelas lah dia kagak percaya sama Lo, dia tahu seperti apa kehidupan Lo selama ini, itu pasti alasan utama dia nolak Lo," tepat seperti yang Indra ucapkan dan si korban penolakan pun mengangguk.


"Gue udah berubah Ndra, udah enggak pernah tidur bareng mereka-mereka lagi, setelah waktu itu. Tepatnya setelah gue nolongin dia. Ya, meksipun terkadang gue masih ke club', tapi cuma untuk menghibur diri aja," sekelabet bayangan Meta terlintas dalam benaknya saat gadis itu mabuk dan mercacau tak jelas.


"Berarti Lo harus berusaha lebih keras lagi, buat dia yakin sama Lo, kalo memang Lo serius sama dia," tutur Indra seakan dirinya paling berhasil dalam masalah percintaan, padahal nol besar. Pertama mencintai perempuan saja dia tak berani mengungkapkan. Kilahnya selalu mengatakan belum saatnya.


"Yups Lo bener banget, dan sekarang gue sedang berusaha. Ya salah satunya ini, buat dia bekerja di tempat gue, ya meskipun jarak kita jauh,"


"Kenapa enggak Lo suruh balik aja, kerja di ibu kota, kalian kan bisa selalu bareng," saran Indra yang tentu saja sudah dilakukan oleh pemuda itu.


"Dia belum mau ketemu bokapnya, katanya enggak akan pulang kalo bokapnya enggak nyari, tapi sampai sekarang enggak ada berita pernah hilang." Devin mengangkat kedua bahunya.


"Kagak bakalan lah ada laporan anak seorang pengusaha hilang, eh enggak hilang tapi kabur. Lo pikir reputasi bokapnya Meta enggak bakalan ambles kalo ada berita kek gitu? Pastinya bokapnya sedang mencari, tapi hanya anak buah atau utusannya saja yang mencari," tentu saja Indra belajar dari kisah keluarga Hafidz, yang menyembunyikan tentang penyakit Mama Sinta dan justru menggantikan Mama dengan orang lain, meski itu kembarannya.


Devin membenarkan apa yang dikatakan Indra, pasti saat ini Papa Meta sedang pusing mencari keberadaan putrinya itu.


"Menurut gue Lo harus lebih dulu dapetin hati dia sebelum Papanya dapetin dia di sini," ucap Indra memprovokasi, tapi niatnya menyemangati sahabatnya itu.


.


.


.

__ADS_1


.


🥀🥀🥀🥀🥀


__ADS_2