
Indra berjalan tergesa menuju kamar di lantai dua yang tadi siang menjadi kamar rias untuk pengantin, khawatir terjadi sesuatu dengan sang Oma, sebab tadi dia sempat melihat bagiamana keadaan Oma yang sepertinya kelelahan, dengan wajah sayu dan bola mata cekung, mungkin karena Oma begadang semalam.
Membuka pintu kamar tersebut yang ternyata tidak terkunci, mengernyitkan keadaan kamar tersebut begitu sunyi dan sepi. Masih berfikir positif, dia pun menuju ke arah kamar utama dimana letak ranjang, karena ada sekat pemisah untuk masuk ke dalam kamar utama.
Ceklek
Dia terkejut saat pintu utama tertutup, tak ada siapa pun di depan pintu, sepertinya pintu sengaja ditutup dari luar, tapi siapa yang iseng menutup pintu dari luar? Pemuda itu menggelengkan kepala, lalu meneruskan perjalanan menuju kamar utama, membuka pintu kamar tersebut dan
Prok prok prok
Tepuk tangan bergemuruh di dalam kamar tersebut, lima orang yang sangat dia kenali terbahak sambil bertepuk tangan tanpa dosa. Disini dia masih bingung apa yang mereka tertawa kan.
"Dimana Oma?" tanya pemuda itu yang belum curiga sedikit pun.
"Oma udah pulang sejak tadi," jawab adik luknut yang tadi menelponnya menggunakan ponsel Oma.
"Lalu?" tanya Indra masih bingung.
Tawa Devin menggema di seluruh ruangan tersebut, "Lo belum nyadar?" cibirnya.
Indra terlihat masih bingung, setelah menyadari apa yang terjadi dia pun berdecak lalu menatap lima pemuda itu dengan tatapan tajam, tapi mereka justru tertawa terutama Riky dan Devin.
"Sialan kalian semua!" umpatnya kesal, lalu keluar dari kamar tersebut berniat kembali ke kamarnya. Tapi pintu kamar itu ternyata terkunci dan tak bisa dibuka. Berdecak berulang kali, lalu dia pasrah memilih tiduran di sofa.
"Santai dong, lagian Lo enggak mungkin garap istri Lo malam ini, kasihan dia capek. Kita udah baik hati sama Lo dengan nyelamatin istri Lo malam ini," ucap Devin tanpa rasa bersalah.
Empat pemuda itu membenarkan ucapan Devin, tapi Indra hanya memutar bola matanya jengah. Dia memikirkan bagaimana jika Gita menunggu dirinya kembali, pasti gadis itu akan sangat sedih, apalagi ini malam pengantin mereka. Ah sial!
"Sabar Ndra masih ada besok, iya enggak Dev?" Gavin pura-pura menenangkan Indra, padahal dia juga ikut senang melihat temannya menderita di malam pertama.
"Yoi! Lo lupa? Gue aja harus nunggu satu minggu dan gue sabar banget waktu itu, lah Lo cuma semalam doang," jawab Devin.
Indra mendengus kesal, "Awas ya, gue bakalan bales kalian semua," ucapnya tanpa menatap mereka, terlalu malas sebab mereka yang membuatnya malam ini harus tidur tanpa Gita, ah padahal dia ingin sekali semalaman memeluk tubuh istrinya itu.
Mereka berlima sengaja ingin mengerjai Indra, dengan menahan pemuda itu didalam kamar tersebut. Ide itu tercetus dari si tengil Devin, sebab malam pengantinnya waktu itu dia habiskan bersama sahabatnya, karena Meta sang istri tiba-tiba kedatangan tamu bulanan, dan kini Devin ingin Indra merasakan hal yang sama. Kurang ajar sekali bukan si Devin?
__ADS_1
"Fidz, Lo emang tega kalau Gita di kamar sendirian? Please lah bukain pintu, Gita pasti panik," mencoba peruntungan dengan merayu Hafidz, Kakak iparnya.
Hafidz menggeleng, "Santai dong, Gita aman terkendali, gue yakin dia juga sudah molor," ucapnya tak menerima rayuan Indra.
"Ck, tega banget kalian," kepalanya sebab semua teman-temannya sepakat untuk mengurung dirinya di kamar ini bersama mereka.
"Lagian kita enggak bisa keluar, karena dikunci dari luar," timpal Deril yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
Indra mendengus berulang kali, kesal dengan mereka semua.
"Minum dulu, biar melek!" Riky membawa nampan berisi kopi panas yang baru diseduh, meletakkan nampan berisi enam gelas kopi itu di atas meja.
"Lo juga anak kecil ngapain ikut-ikutan sih? Awas Lo ya, potong uang jajan." Ancam Indra pada Riky, tapi adiknya itu hanya tersenyum tak takut dengan ancaman sang Abang.
"Gue juga pengen liat gimana menderitanya Abang gue di malam pertama? Ah pasti nyesek banget, kan? Harusnya udah tidur dengan meluk istri, eh ini masih meluk bantal," cibir Riky sukses membuat mereka semua tertawa kecuali Indra tentunya.
Bugh
Indra melempar bantal sofa tepat mengenai wajah adik luknutnya itu, tapi Riky justru terbahak mendapatkan lemparan bantal, sebab berhasil membuat sang Abang kesal.
Indra tak berminat untuk menikmati kopi tersebut, dia memilih mencari ponsel untuk menghubungi sang istri, tapi dia merutuki dirinya sendiri saat mengingat ponselnya berada di kamarnya dan Gita.
"Ah sial!" umpatnya.
Akhirnya dia memilih untuk memejamkan mata, tak ingin ikut bergabung dengan sahabat-sahabatnya yang sepertinya sedang bermain game. Meski matanya terpejam tapi hati dan pikirannya melayang memikirkan sang istri yang sudah pasti menunggu dirinya kembali, takut Gita berfikir yang tidak-tidak karena ditinggal saat malam pengantin. Tanpa dia ketahui, jika sang istri kini sudah terlelap dengan tenang, sebab rasa lelah seharian yang membuatnya tertidur lebih dahulu.
🥀🥀🥀🥀
Pagi hari saat terbangun, tubuhnya terasa pegal semua, sebab dia tertidur di sofa. Bergegas turun dari sofa, ingin segera menemui sang istri yang masih berada di kamarnya. Tapi dia bingung saat terbangun dia hanya sendirian di kamar tersebut, kamar sudah terlihat rapi.
"Sengaja banget ninggalin gue sendirian di sini," kesalnya saat menyadari semuanya sudah pergi meninggalkan kamar tersebut.
Indra pun langsung keluar kamar yang ternyata pintunya sudah tak terkunci seperti semalam, bergegas naik ke lantai paling atas dimana sang istri berada di sana, mengabaikan muka bantalnya yang belum cuci muka, tak peduli dengan tatapan orang yang berpapasan dengannya.
Membuka pintu kamar dengan tergesa, dan langsung mencari keberadaan sang istri, ternyata istrinya itu sedang berada di depan meja rias, menyisir rambutnya yang masih basah.
__ADS_1
"Maaf, semalam kamu pasti nungguin Abang ya?" Kedua tangannya dia lingkarkan di depan leher Gita, sambil mencium rambut panjang istrinya itu yang masih basah.
Gita tersenyum, mereka saling tatap lewat pantulan cermin, "Enggak tuh, aku malah tidur nyenyak banget. Lagian aku tahu Abang enggak akan kembali, Bang Hafidz chat aku semalam, ngasih tahu katanya kalian ada projek penting," jawabnya masih dengan senyum manis yang membuat Indra meleleh.
Indra menghela nafas panjang, "Emang kamu enggak curiga gitu? Mana ada malam pengantin lebih milih bahas pekerjaan. Kamu tahu, itu cuma akal-akalan mereka, dan semalam Abang disekap sama mereka, enggak bisa keluar kamar dan lebih parahnya lagi tidur di sofa sampai pagi, eh malah mereka ninggalin lagi," Indra kesal ketika mengingat kejadian semalam hingga pagi ini, rasanya ingin sekali memberi pelajaran mereka semua.
Gita terbahak mendengar penderitaan sang suami, merasa lucu karena wajah Indra begitu menggemaskan saat kesal seperti saat ini.
"Kok malah ngetawain sih sayang?" sungutnya kesal karena Gita justru menertawakan penderitaannya.
"Maaf Bang, habisnya lucu sih. Tapi aku harus berterimakasih sama mereka, karena udah pengertian sama aku. Kalau enggak kayak gitu mungkin saat ini badanku udah remuk," ujar Gita masih dengan sedikit tawa di bibirnya.
"Kamu mungkin selamat tadi malam, tapi jangan harap hari ini selamat seperti semalam." Indra menggendong tubuh sang istri yang masih tertawa itu menuju tempat tidur.
Bugh
Menjatuhkan tubuh Gita perlahan lalu mengungkung tubuh istrinya itu. Menatap wajah cantik sang istri yang menurutnya makin bertambah cantik setelah mereka menikah.
"Bang, sana mandi dulu." Gita mendorong tubuh Indra perlahan, tapi pemuda itu tetap bergeming di tempatnya.
Mendapatkan tatapan sedalam itu dari sang suami, entah kenapa membuat jantungnya berdetak tak menentu, hingga dia tak bisa mengendalikannya dengan baik. Dia juga yakin jika kini wajahnya sudah memerah menahan malu. Apalagi saat wajah itu makin dekat dengan wajahnya, seketika tanpa sadar dia pun memejamkan mata, cukup lama tak terjadi apa pun, hingga dia mendengar bisikan di telinga kanannya.
"Untuk apa mandi sekarang, kalau nanti juga akan mandi lagi? Kayaknya ada yang sudah enggak sabar pengen di unboxing," bisik Indra.
Seketika Gita langsung membuka matanya dan mendorong tubuh sang suami sekuat mungkin. "Ish, nyebelin!" ujarnya.
"Ayo kita mulai sekarang." Meski di dorong dengan keras tubuh pemuda itu tak bergeser sedikitpun dari tempatnya.
Baru saja Indra memajukan wajahnya kembali, suara bel berbunyi membuat pemuda itu berdecak dan membiarkan sang istri membuka pintu kamar.
"Abang mandi dulu sana, setelah itu kita sarapan," titah Gita sebelum benar-benar keluar dari kamar untuk membuka pintu.
Akhirnya Indra pun menuruti perintah sang istri, sebenarnya dia sejak tadi juga mau mandi, tapi sengaja menggoda istrinya itu lebih dahulu.
🥀🥀🥀
__ADS_1