Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Perasaan Yang Sama


__ADS_3

Indra menarik gadis itu dalam pelukannya, dia tak tahu apa penyebab Gita meneteskan air mata, apa karena dia lancang membuka buku diary gadis itu, atau sebab mengingatkan akan luka pengkhianatan yang dilakukan mantan tunangan Gita.


Gita tak menolak saat Indra memeluknya, tapi dia juga tak membalas pelukan itu. Seperti mimpi saat mendengar pengakuan pemuda yang kini memeluknya, bahagia? Tentu saja, tapi ada ganjalan yang membuatnya bersedih. Membuatnya sulit mengartikan rasa saat ini.


"Aku minta maaf, membuatmu menangis," sesal Indra.


"Katakan sejujurnya jika rasa yang dulu ada kini sudah memudar bahkan menghilang, aku tak masalah," dia tak berani berharap lebih, apalagi curhatan dalam buku itu sudah berlalu lebih dari satu tahun.


Gita bingung harus berbicara dari mana, karenanya di memilih diam mendengarkan ucapan pemuda itu yang terus memeluknya. Nyaman, tentu saja dia merasa nyaman berada dalam pelukan pemuda itu, merasa dilindungi dan sangat dicintai oleh pemuda itu apalagi setelah pengakuannya tadi.


"Apakah mungkin kita bisa bersatu, seandainya rasa itu masih ada?" tanya Gita masih dalam pelukan Indra, dia tak berani menatap pemuda tersebut.


Indra melonggarkan pelukannya supaya bisa menatap wajah gadis yang tingginya hampir sama dengan dirinya, tepatnya sebatas telinganya. Sebab gadis ini bisa dibilang tinggi jika dibandingkan dengan gadis pribumi lainnya.


"Maksudnya?" tanya Indra menatap Gita yang juga membalas tatapannya.


"Mama, Papi? Bagaimana dengan mereka? Aku enggak mau mereka terluka hanya karena kita," jawab gadis itu, sebenarnya sejak tadi hal itulah yang membuatnya bersedih, dia tak mau merusak kebahagiaan sang Mama.


"Jangan khawatir, kita tidak ada hubungan darah, bukuan? Untuk Mama, beliau yang menyuruhku menyusul mu ke sini, sedangkan Papi, dia juga mendukung, tidak akan menjadi masalah untuk hubungan mereka berdua, sebab aku bukan anak kandung Papi," jelas Indra lembut, terpaksa dia jujur. Kejujuran yang sangat sulit, sebab selama ini dia menganggap Papi adalah Papi kandungnya.


Gita terkejut mendengar ucapan pemuda itu, tapi dilihat dari sorot matanya Indra tidak berbohong sama sekali. "Abang jangan bercanda!" protes Gita yang masih takut jika Indra membohonginya. Dia melupakan rasa haru sebab kejujuran pemuda itu.


"Aku serius. Nanti Papi akan menjelaskan semuanya." Indra menatap gadis itu yang menunggu jawaban darinya.


Gita menghela nafas, dia melepaskan diri dari pelukan pemuda itu, kembali duduk di tempatnya.


"Kok Mama bisa tahu?" akhirnya pertanyaan itu meluncur juga, dia sangat penasaran kenapa sang Mama bisa mengetahuinya.


...****************...


Sudah dua hari setelah menemukan buku itu dan membaca semua isinya, membuat Indra makin diliputi rasa rindu yang mendera. Kerja pun dia tidak konsentrasi sama sekali, membuatnya mendapatkan beberapa kali teguran dari Mbak Salsa. Sore ini dia kembali lebih awal, tujuan utamanya adalah kamar gadis yang sangat dirindukannya, bahkan dia melupakan kamar miliknya. Dia kembali ke kamar hanya untuk mandi dan berganti pakaian, setelah itu kembali ke kamar Gita lagi.


Saat sedang duduk di di sisi ranjang, sambil membaca buku biru muda itu, entah untuk keberatan kalinya. Dia dikejutkan dengan suara Mama Sinta yang entah sejak kapan berada di kamar tersebut.

__ADS_1


"Jujur sama Mama, kamu juga memiliki perasaan yang sama bukan? Lalu kenapa kamu hanya diam? Takut Papi kamu marah?" tanya Mama.


"Iya Ma, aku baru menyadari saat Gita bertunangan. Aku memang bodoh Ma. Alasanku bukan karena takut sama Papi, tapi lebih tepatnya karena kebodohanku sendiri hingga tidak menyadari perasaan ini," Indra menghela nafas sejenak.


"Gita pasti sakit sekali saat aku mengatakan hanya menganggapnya sebagai adik, aku begitu bodoh menyadari semua itu Ma, apakah pantas jika berharap Gita masih memiliki perasaan yang sama?" Indra menjadi tidak percaya diri, mengingat bagaimana dia membuat gadis itu terluka karena sikapnya.


Mama menepuk pundak Indra perlahan, mencoba menenangkan pemuda itu, dia tahu Indra begitu menyayangi putrinya terlihat jelas dari sorot mata pemuda itu.


"Mama yakin, Gita masih memiliki perasaan yang sama, apalagi setelah pengkhianatan itu," Indra terkejut mendengar ucapan Mama Sinta, tak menyangka wanita paruh baya ini sudah mengetahui penyebab putusnya pertunangan sang putri.


"Kamu enggak usah terkejut, Mama sudah tahu sejak lama. Salma yang menceritakan semuanya," seakan Mama tahu apa yang ada dalam pikiran Indra.


"Sekarang kamu susul mereka, katakan semuanya pada Gita tentang perasaanmu, Mama yakin Gita masih menjaga perasaan itu hingga saat ini." Indra kembali terkejut mendengar ucapan Mama, kali ini keterkejutannya tak bisa disembunyikan.


"Mama akan menanggung semuanya, jadi kamu enggak usah khawatir. Tapi rahasiakan dari mereka berdua. Mama sudah membelikan tiket untukmu, besok kamu berangkat." Mama memberikan sebuah tiket penerbangan antar benua.


"Kamu enggak usah khawatir, semua dokumen sudah lengkap. Bahkan cuti kerja juga sudah dapat, jadi tidak ada alasan untuk menolak," Mama tahu jika Indra akan menolaknya, sebab itu dia sudah mempersiapkan semuanya tentu saja sang suami ikut andil dalam hal ini.


"Terimakasih Ma, aku enggak tahu harus membalas dengan cara apa?" Indra memeluk wanita yang sudah dia anggap sebagai Mamanya itu.


"Berterimakasih lah sama Papi mu, dia yang sudah mengurus semuanya," ucap Mama setelah pelukan mereka terlepas.


"Iya Ma,"


"Satu lagi, kalau Gita marah tentang buku itu, katakan saja, jika Mama yang memang sengaja meletakkan buku itu di meja. Biar kamu membacanya, sebab buku itu awalnya berada di dalam lemari, Mama takutnya Gita nanti salah paham, dikira kamu menggeledah seluruh isi kamarnya," ucapan Mama ada benarnya juga, membuat pemuda itu mengangguk dia pasti akan menceritakan semuanya pada Gita.


Dan kini dia telah menceritakan semua pada gadis itu, yang sudah tenang tidak lagi menangis seperti tadi.


"Aku minta maaf untuk kesalahan ku yang selalu menyangkal perasaan ini, aku tahu kamu pasti terluka saat itu," Indra menatap gadis yang duduk dihadapannya tanpa sekat itu.


"Udah enggak usah minta maaf lagi, nanti aku malah enggak mau maafin. Bosen dari tadi denger kata maaf terus," timpal gadis itu kesal.


"Baiklah, sekarang aku mau tanya lagi, apakah perasan itu masih sama seperti dulu, atau sekarang kamu sudah menemukan pemuda yang peka dengan perasaan mu, dan tentu saja membalas perasaan itu," Indra penasaran sebab gadis itu belum menjawab pertanyaan yang sangat penting ini.

__ADS_1


"Abang benar, aku sudah menemukan pemuda yang seperti Abang katakan," jawab Gita dengan senyum manisnya.


Tapi pemuda dihadapannya ini terlihat tak seceria tadi setelah mendengar jawabannya. Senyuman gadis itu makin melebar, sebab dia berhasil menjahili pemuda dihadapannya ini, biarkan saja dia sedikit kesal, anggap saja sebagai balas dendam.


"Yaudah sel...." Gita langsung menyela saat Indra kembali membuka mulutnya.


"Dan pemuda itu saat ini berada di hadapanku. Kita memiliki perasaan yang sama, bukan kah itu sangat luar biasa?"


Gita terkejut saat Indra kembali memeluknya, kali ini begitu erat seakan meluapkan rasa rindu yang sudah dipendam begitu lama.


"Terimakasih, aku sangat bahagia," ucap Indra masih memeluk gadis itu.


Gita tentu saja membalas pelukan pemuda itu, dia juga rindu dengan pemuda yang kini memeluknya. Pelukan itu begitu nyaman, ditambah wangi maskulin yang menguar dari tubuh pemuda itu. Mungkin aroma itu akan menjadi aroma favoritnya mulai saat ini.


Indra melepaskan pelukannya, kini kedua tangan nya berpindah ke bagian wajah gadis itu, membingkai wajah manis itu yang kini tersenyum menatapnya. Jarak itu semakin menipis, bahkan dia bisa merasakan hembusan hangat yang menyapu wajahnya.


Gita terhanyut dalam belaian pemuda itu, bahkan dia tak menolak saat Indra menempelkan kening mereka. Hingga dia merasakan sebuah benda kenyal menempel di bibirnya. Lagi-lagi tak ada penolakan darinya, membuat pemuda itu makin semangat melancarkan aksinya. Meskipun terasa begitu kaku, tapi dia tetap menikmatinya. Apa itu tadi? Ah, sadar Gita. Dia pun sekuat tenaga mendorong tubuh Indra.


"Ish, kau mencuri first kiss ku!" protes gadis itu.


Indra tak menghiraukan ucapan Gita, dia justru tersenyum menatap gadis itu. Dia mengusap sisa perbuatannya yang masih menempel di bibir Gita. Rasanya ingin kembali merasakan manisnya benda kenyal berwarna merah muda tersebut, tapi tak mungkin, dia tak mau terjerumus makin mendalam.


"Kalau Bang Hafidz tahu, pasti Abang udah tonjok sama dia." Gita masih terlihat kesal.


"Aku tidak peduli, yang penting sudah berhasil mengambil first kiss kamu. Ah kita sama, jadi kamu pun tidak akan rugi." Indra tersenyum menatap gadis itu.


Bugh


"Ih, menyebalkan!" Gita memukul dada pemuda itu dan berlalu masuk ke dalam apartemen.


Sedangkan Indra tak bisa lagi menahan tawanya, dan berlalu menyusul gadis itu.


.

__ADS_1


.


.🥀🥀🥀🥀🥀🥀


__ADS_2