
Hafidz memandang wajah sembab saudara kembarnya penuh kesedihan, tak menyangka keras kepalanya sang Papa membuat Gita terpuruk seperti ini. Mendengus kesal ketika mengingat sang Papa yang keras kepala, bahkan tidak belajar dari kejadian sebelumnya, sungguh egois juga menurutnya. Untung saja tadi dia pulang, jika tidak sudah pasti Gita merasakan kesedihan seorang diri di kamar ini.
"Adikmu udah tidur Bang?" suara seseorang dari ponselnya mengalihkan perhatian Hafidz, dia lupa jika sambungan telepon dengan sang Mama masih menyala.
"Udah Ma, Mama kok belum tidur? Telponnya juga belum di matiin?" tadi Hafidz sebenarnya sudah mengakhiri panggilan itu saat Gita sudah mulai terlelap setelah berbicara panjang lebar dengan sang Mama, tapi ternyata Mama belum memutus panggilan tersebut.
"Mama khawatir sama adik kamu. Papamu keterlaluan memang, nanti Mama akan bicara sama dia, Mama kesel juga lama-lama. Papa kamu memperlakukan kalian berdua terlalu keras, Mama sebenarnya tidak setuju, tapi kamu tahu sendiri kan, Papa kamu mana bisa dibantah," Mama mengomel di sebrang sana, merasa geram dengan mantan suaminya itu, ingin rasanya memukul wajahnya hingga babak belur.
"Biar Hafidz aja yang bicara lagi Ma, Hafidz juga kesel sama Papa, entah apa maunya." Hafidz akan berusaha untuk sang adik kali ini, dia tak ingin melihat Gita bersedih seperti saat ini, takut kesehatan gadis itu kembali menurun.
Benar saja malam semakin larut bahkan hampir menjelang pagi, ketika Hafidz mendengar Gita bergumam tidak jelas. Dia pun segera turun dari sofa untuk melihat keadaan Gita. Untung saja dia memilih untuk tidur di kamar itu menunggu Gita.
"Ya Allah panas banget, kamu demam dek. Kamu bertahan ya, Abang mau ambil kompres sama obat." Hafidz terkejut saat mendapati suhu tubuh Gita yang meningkat, bahkan gadis itu terlihat menggigil.
Hafidz menuruti anak tangga dengan tergesa, mencari kotak P3K dan mencari obat penurun panas, setelah itu menuju mengambil air panas dalam baskom dan membawa ke kamar Gita.
"Minum dulu obatnya ya, biar cepet turun panasnya." Hafidz memberikan sebuah obat penurun panas dana segelas air putih.
Gita pun langsung meminum obat tersebut, setelah itu kembali berbaring. Entah kenapa kepalanya terasa berputar-putar, tubuhnya terasa dingin. Sepertinya dia kelelahan atau karena memikirkan maslah tadi entahlah.
__ADS_1
Hafidz dengan telaten mengompres kening gadis itu, sambil sesekali mengusap puncak kepalanya. Melihat Gita sakit dia sungguh tak tega, apalagi saat akan tidur tadi gadis itu sudah menangis cukup lama, bahkan matanya masih terlihat membengkak akibat tangisannya tadi.
"Udah tidur lagi, biar besok sembuh. Abang janji besok akan mengantar kamu ke Bandung, tapi ahrus sehat dulu," tutur Hafid lembut.
Gita mengangguk lemah, "Abang tidur di sini aja, udah enggak usah di kompres cukup minum obat tadi aja Bang." Gita menepuk sisi kosong disebelahnya, dia tak tega membiarkan saudara kembarnya tidur di lantai atau di sofa.
"Udah Abang gampang, kamu tidur dulu," tolak Hafidz dia mana mungkin bisa memejamkan mata jika melihat Gita seperti ini, sudah bisa dipastikan dia akan begadang hingga pagi.
"Abang naik atau kembali ke kamar?" tanya Gita, meski sedang lemah dia bisa mengultimatum sang Abang.
"Baiklah," Hafidz pasrah dan menyusul tidur di sisi Gita. Tak lama setelah itu, Gita pun tertidur, sedangkan Hafidz masih terjaga.
Pagi hari saat terbangun Hafidz bernafas lega ketika menyentuh kening Gita, demamnya sudah menurun, dia berharap Gita akan baik-baik saja. Setelahnya dia pun meninggalkan gadis itu sendiri di dalam kamar menuju kamarnya untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.
🥀🥀🥀
Dipandanginya tempat dimana orang terkasihnya berbaring, menabur bunga yang sempat dibeli dipinggir jalan, untung saja sepagi ini sudah ada penjual bunga segar. Lalu meletakkan sebuket bunga mawar putih di. atas pusaran itu. Tak lupa sebuket bunga lagi dia letakkan di atas pusaran samping kanannya. Melantunkan doa kebaikan untuk dua orang yang paling disayangi cukup lama.
"Bunda, maaf Indra baru datang lagi, sudah cukup lama semenjak aku pindah ke Jakarta belum sama sekali mengunjungi Bunda, maaf sekali lagi ya Bun," Indra berbicara dengan sang bunda, seakan wanita itu mendengar semua ucapannya.
__ADS_1
"Bun kalo saja Bunda masih ada, ingin sekali rasanya saat ini memeluk bunda, entah aku rasanya pengen nyerah dengan kehidupan ini Bun, tak ada yang perlu aku perjuangkan lagi," tak ada air mata yang menetes sedikit pun, entah mungkin air matanya sudah habis terkuras atau memang dia sangat pandai untuk tak mengeluarkan air mata. Tapi rasa perih menjalar dalam dada, sesak seakan terhimpit beban berat hingga sulit untuk menghembuskan nafas.
"Bun, maaf aku jadi cerita kaya gini sama Bunda. Habisnya aku bingung mau cerita sama siapa lagi Bun, aku enggak ingin orang lain mengasihi ku." Indra mengusap nisan batu bertulis nama sang Bunda seakan membelai puncak kepala wanita yang telah melahirkannya itu.
Diam sejenak menatap nisan tersebut, mengingat bagaiman Bundanya ketika masih hidup, wanita yang tak pernah menampakkan kesedihan dihadapan anak-anaknya, wanita lembut yang menyanyi semua anaknya tanpa terkecuali. Tapi kini Indra tak bisa merasakan lagi belaian lembur sang Bunda, meski sudah lama sekali tak mendapatkan kelembutan itu, dia masih teringat jelas bagaiman kelembutan sang Bunda dahulu.
"Jangan pikirkan ucapan ku tadi ya Bun, aku janji sama Bunda untuk tidak menyerah dalam hal apa pun, tadi aku hanya sedang kalut, sekarang aku sadar jika kehidupan masih akan terus berjalan, tak sepantasnya aku menyerah saat ini juga, bahkan sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau dan cita-citakan. Bunda saja bisa melewati semua kehidupan sulit itu, kenapa aku tidak? Aku juga pasti bisa Bun." Indra tersenyum, ternyata saat terdiam tadi dia mengingat semua perjuangan sang Bunda untuknya tanpa adanya seorang suami, pasti lebih sulit dari pada masalahnya kali ini.
"Aku pamit ya Bun, salam buat Aisah. Doakan aku ya Bun, supaya kuat menghadapi ujian hidup ini, assalamualaikum Bun." Indra beranjak dari duduknya meninggalkan makam tersebut. Kini hatinya menjadi lebih tenang setelah mendatangi makam sang Bunda, langkahnya makin yakin untuk melalui rintangan yang sudah menghadangnya didepan mata. Kini dia akan pulang untuk istirahat, sebab semalam dia hanya tidur sekitar dua jam.
Semalam setelah dari rumah Gita, pemuda itu menenangkan diri terlebih dahulu di apartemen Deril, hingga hampir tengah malam setelah itu dia tak pulang ke apartemen melainkan langsung ke Bandung, rindu dengan sang Bunda dan ingin mengadu masalahnya dengan Bundanya itu.
Sampai di rumah, dia langsung ke kamar memeriksa ponsel yang sejak subuh tadi dia tinggal, banyak sekali pesan masuk dan telpon yang tidak terjawab. Memilih membuka beberapa pesan yang masuk, paling banyak tentu saja dari Gita, dia sudah menebak pesan apa yang gadis itu kirimkan, memilih untuk mengabaikan sebentar pesan dari kekasihnya itu, dia lebih tertarik dengan pesan dari seseorang yang selama ini tak pernah sekalipun mengirim pesan padanya.
"Datanglah besok ke rumah Om bersama Opa dan Oma serta Papamu, Om tunggu jam dua siang, lewat sedikit saja kalian tidak akan diterima." Om
Renaldy.
Indra membelalakkan matanya saat membaca pesan tersebut, bukannya takut dia justru bahagia mendapatkan pesan yang berisi sedikit ancaman itu.
__ADS_1
"Aku pasti datang Om," ucapnya lalu membalas pesan tersebut dengan penuh rasa haru.
🥀🥀🥀