
Sesuai tebakannya Gita menikmati makanan khas Korea itu dengan menceritakan berbagai macam drama yang pernah dilihatnya, bahkan ada beberapa yang pernah diceritakan tapi seakan gadis itu lupa dan menceritakan lagi. Indra hanya pasrah dan mendengarkan semua yang dikisahkan oleh gadis itu.
Selesai makan mereka pun langsung menuju lokasi pembangunan rumah yang sudah setengah jadi, tapi Indra masih butuh pendapat Gita untuk masalah kamar, meskipun gadis itu sudah menyerahkan semua urusan padanya, tapi dia takut jika tak sesuai keinginan Gita.
"Wah bagus bang! Aku suka," cetus gadis itu saat pertama kali melihat calon rumah mereka.
Halaman luas, sepertinya dia ingin membuat halaman itu dipenuhi bunga dan kolam ikan atau air mancur, supaya menambah keasrian halaman tersebut.
"Nanti disini dikasih air mancur ya Bang, terus kita tanam berbagai macam bunga, aku pasti akan rajin dirumah untuk merawat mereka semua nantinya." Gita menunjuk halaman yang masih kosong tersebut.
Indra tersenyum melihat gadis itu sudah kembali dalam mode aslinya, "Iya, nanti kamu yang atur mau dibuat seperti apa," ujarnya.
Indra memakaikan helm di kepal Gita, lalu memakai di kepalanya sendiri untuk melindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan tentunya, apalagi ini disebuah bangunan yang belum jadi.
"Sekarang kita masuk." Indra merangkul pundak gadis tersebut membawa masuk ke dalam rumah yang masih belum terpasang pintu, tapi bangunan sudah berdiri kokoh.
"Selamat siang bos muda," sapa seroang pemuda yang seumuran dengan Indra.
"Ck, becanda Lo enggak lucu Ky." Indra menepuk pundak pemuda itu yang justru membuat si empunya tertawa.
"Gimana perkembangannya?" tanya Indra menanyakan perkembangan rumah tersebut.
"Hem lumayan, paling enggak ada satu bulan sudah bisa ditempati, menurut keterangan dari mandornya," jawab pemuda bernama Eky tersebut.
"Lo enggak mau kenalin calon Nyonya nih?" Eky melirik ke arah Gita sekilas, meski dia merasa familiar dengan wajah gadis itu, tapi dia belum pernah mengenalnya sama sekali.
__ADS_1
"Sayang kenalin ini Eky, teman Abang waktu kuliah dulu meski kami beda jurusan, dan Ky ini calon istri gue namanya Gita," Indra mengenalkan mereka berdua.
"Salam kenal Mbak Gita," Gita mengangguk dengan senyum diwajahnya.
Setelah sedikit berbincang, mereka pun naik ke lantai dua, Gita mengutarakan kamar seperti apa yang dia inginkan pada Eky, dan pemuda itu pun mengiyakan sambil sesekali mencatat apa yang diinginkan oleh Gita. Setelah dirasa cukup, Eky pun berpamitan karena dia akan bertemu dengan klien lain, kedua sejoli itu tak keberatan sama sekali, Eky bisa datang saja mereka sangat bersyukur mengingat pemuda itu sangatlah sibuk.
Setelah kepergian Eky, mereka berdua memilih turun dari lantai dua, melihat sekeliling rumah tersebut yang ternyata bukan halaman saja yang luas, melainkan belakang dan samping rumah masih cukup luas, untuk membuat satu kolam renang pribadi rasanya masih cukup.
"Terimakasih sayang, udah bantu Abang bangun rumah ini, Abang janji akan mengganti semuanya nanti." Indra meraih tangan Gita untuk digenggam, dia begitu bersyukur mendapatkan gadis sepeti Gita yang mau membantunya dalam membangun rumah untuk mereka, karena uang Indra belum cukup untuk membangun sebuah rumah.
Awalnya Indra menolak, dia tak ingin dipandang rendah oleh keluarga Gita, tapi gadis itu memaksa dengan alasan rumah tersebut akan dihuni oleh mereka berdua, jadi tidak masalah jika Gita ikut andil dalam membangun rumah itu, dia juga tidak akan menceritakan hal tersebut pada sang Papa.
Gita menggeleng, "Itu bukan uang aku Bang, tapi uang Mama. Mama waktu itu mendengar saat kita membicarakan masalah rumah dan tanya sama aku, terus aku jelaskan tanpa maksud apa pun. Tapi ternyata Mama justru memberiku beberapa uang untuk pembangunan rumah ini, waktu itu aku enggak boleh bilang kalau ini dari Mama, karena sudah pasti Abang akan menolak," jelas Gita dengan kalimat panjangnya.
Lagi-lagi Gita menggeleng, mengiyakan genggaman tangan mereka, "Mama bilang, Abang juga anak Mama. Dan Mama tidak akan membedakan setiap anaknya, bukan hanya Abang yang akan mendapatkan ini, tapi suatu saat Riky juga akan dapat sama seperti Abang. Jangan ragukan seberapa kaya Mama, meskipun yang kita lihat Mama sepeti wanita biasa, tapi sebenarnya Mama wanita hebat dengan berbagai macam bisnis yang dimiliki," jelas Gita, mengungkapkan apa yang pernah Mama bilang.
"Tapi aku bahkan bukan siapa-siapa mereka, tak ada hubungan darah antara aku dan Papi," kenyataanya memang seperti itu, Indra tak lagi memiliki siapa pun di sini sekarang.
"Abang! Bukankah saudara itu tidak hanya karena ikatan darah? Dari kecil Papi yang udah mengasuh Abang, meskipun kalian tidak ada ikatan darah, Papi itu tetap Papi Abang!" Gita geram mendengar penuturan Indra yang seakan menyerah dengan keadaan.
"Lagian dulu Bunda itu sekretaris Kakek aku, Mama mengenal beliau meski hanya sebentar. Mama bilang Bunda sekretaris wanita pertama yang disukai oleh Nenek, karena sikap sopan santunnya. Mama cerita kalau Nenek dulu tidak pernah menyetujui jika Kakek punya sekretaris perempuan, tapi melihat Bunda, Nenek langsung suka. Itu yang Mama ceritakan beberapa waktu lalu," jelas Gita dan Indra baru mengetahui hal tersebut.
"Tapi Abang tetep enggak enak," keukeh Indra membuat Gita berdecak, pemuda ini keras kepala sekali.
"Sudahlah Bang, enggak usah dipikirin. Tenang aja semuanya tidak akan sampai ke telinga Papa. Anggap aja semua ini rejeki buat kita Bang, atau mungkin hadiah untuk pernikahan kita nanti, supaya Abang tidak merasa terbebani," putus Gita, mencoba membuat Indra tak lagi insecure dengan keadaannya dirinya.
__ADS_1
"Baiklah, Abang akan berterimakasih sama Mama nanti kalau pas pulang." Ujar Indra mengalah, meski rasa tak enak masih saja tumbuh dihatinya.
Setelah puas keliling, keduanya pun memutusakan untuk pulang ke rumah, karena hari makin sore. Dalam perjalanan pulang Indra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, tak ingin terburu-buru, sengaja supaya lebih lama berdua dengan gadis cantik di sisinya ini. Meski Gita kini sedang menatap layar ponsel, entah apa yang gadis itu lihat hingga melupakan dirinya.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyanya penasaran.
"Oh ini Bang, dapat kabar baik dari Meta, katanya dia positif. Wah ikut seneng aku, dia cerita setelah tahu kalau hamil enggak mau deket-deket sama Bang Devin, katanya mual. Lucu banget deh, pasti Bang Devin kesal enggak bisa meluk istrinya tiap malam." Gita terkekeh menceritakan hal yang membuatnya tersenyum sejak tadi, berbeda dengan Indra dia justru waspada takut sekali kejadian Devin menimpanya nanti, ah tidak mungkin itu terjadi, pikirnya.
"Gimana kalau besok kita ke rumah mereka, Bang? Aku juga kangen sama Meta, udah lama enggak ketemu." Kali ini Gita menatap Indra penuh permohonan, jika sudah seperti itu dia tak bisa menolak sama sekali.
"Makasih Bang," Gita tersenyum bahagia ketika melihat Indra mengangguk.
"Sayang, bukankah itu Karin ya? Kenapa dia diseret Gitu?" Indra menatap seorang perempuan dan laki-laki dihadapannya mobilnya.
Terlihat Karin sedang diseret keluar arena sebuah hotel, bahkan tak segan lelaki yang menyerangnya itu membentak gadis tersebut.
"Berhenti Bang, aku mau lihat keadaan Karin, kasihan dia." Gita langsung keluar dari mobil saat Indra menghentikan mobilnya.
Pemuda itu benar-benar bersyukur mendapatkan gadis sepeti Gita, meski sudah disakiti berulang kali dia tetap membantu temannya saat dalam kesulitan. Meskipun dia tahu jika Gita belum memaafkan Karin sepenuhnya apalagi setelah mendengar ucapan perempuan itu dengan Gavin beberapa waktu lalu.
.
.
.🥀🥀🥀🥀
__ADS_1