
"Ndra mau ikut makan siang bareng enggak?" Mbak Salsa, wanita satu-satunya yang ada dalam divisi mereka, mendekati Indra yang masih sibuk dengan pekerjaannya padahal waktu istirahat makan siang sudah tiba.
"Ah iya Mbak, ikutan dong, bentar dua menit lagi." Indra menoleh sebentar ke arah Mbak Salsa, tak lupa menyajikan senyum manisnya.
"Ndra, sebenarnya kamu itu manis banget, apalagi kalo senyum. Ditambah lesung pipi mu itu lho, seandainya aku belum nikah pasti udah naksir sama kamu Ndra," Indra sudah tak heran mendengar pujian dari Mbak Salsa, tiap hari wanita itu selalu mengatakan hal yang sama.
"Tapi sayang jones," Reza yang baru saja kembali dari toilet ikut menyahut. Tawa Mbak Salsa menggelegar memenuhi ruangan itu.
"Mending jones gue, dari pada macarin bocah yang baru masuk SMA, entar dikira pe dofil." Indra menghampiri kedua rekan kerjanya itu.
Reza berdecak, sebab dirinya saat ini memang sedang menjalin hubungan dengan gadis yang baru saja masuk SMA.
"Udah deh, kalian itu selalu saja. Kasian Adi udah nunggu terlalu lama di lobi. Ayo jalan sekarang." Mbak Salsa mendahului kedua pemuda itu yang terus berdebat hingga sampai di lantai bawah.
Sudah bukan rahasia lagi urusan pribadi mereka berempat, ya tepatnya mereka bertiga, sebab Mbak Salsa lebih tertutup dibanding tiga pemuda yang menjadi rekannya. Bahkan masalah percintaan Indra yang mencintai adik tirinya mereka semua mengetahui. Tentu saja berawal dari candaan sang manager dan membuat Indra terpaksa bercerita.
Tak seperti bisanya mereka memilih makan di luar kantor. Alasannya karena mereka baru menerima gaji dua hari yang lalu dan sesekali ingin menikmati makan siang yang lebih menggoda.
Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di sebuah cafe yang direkomendasikan oleh sesepuh, siapa lagi jika bukan Mbak Salsa tentunya.
Baru saja mereka masuk ke dalam kafe tersebut, kening Indra mengkerut saat mendapati seseorang yang dia kenal, duduk termenung sendirian, bahkan wajah itu menyiratkan sebuah kesedihan.
"Kalian pesan dulu aja, gue mau nyamperin temen." Indra berlalu meninggalkan mereka bertiga menuju seseorang yang sangat dia kenal itu. Pemuda berkulit sawo matang tersebut lebih dulu memperhatikan dan memastikan kembali jika yang dia lihat itu orang yang dia kenal. Setelah yakin, dia langsung menyapa seseorang tersebut.
"Meta?" sapanya.
Dan orang yang di sapa itu menoleh ke arah sumber suara, "Indra? Ngapain disini?" tanya Meta merasa heran dengan kehadiran Indra tiba-tiba.
"Harusnya gue yang tanya ngapain Lo disini? Dengan wajah menyedihkan itu?" Indra duduk dihadapan Meta, gadis itu memaksakan tersenyum , tentu saja Indra menyadari hal itu.
"Enggak apa-apa Ndra, lagi pengen cari udara segar," kilahnya masih dengan senyum paksa.
"Baiklah-baiklah, gue enggak akan maksa Lo untuk cerita. Tapi gue juga enggak bisa nemenin Lo disini terus, gue harus kerja lagi, gimana...." belum juga Indra menyelesaikan kalimatnya Meta lebih dulu menyela.
__ADS_1
"Enggak perlu repot-repot Ndra, gue baik-baik aja. Lo enggak usah khawatir," ujar Meta meyakinkan Indra.
Tentu Indra tak mempercayai ucapan Meta, dia juga tak tega melihat gadis itu seperti orang hilang. Dia tahu persis jika Meta tak memiliki saudara di kota ini, sebab kedua orang tuanya berasal dari luar pulau.
"Sebagai teman, gue tentu khawatir liat Lo kaya gini, mana sendirian lagi. Sekarang Lo ikut gue pulang, setidaknya Lo bisa cerita sama Gita, kalo enggak mau cerita sama gue. Dia pasti seneng kalo Lo datang." Indra sudah berdiri bahkan sebelum memesan makanan atau minuman, dia sudah lupa dengan para cacingnya yang sedang bermain musik di dalam perutnya.
"Kali ini gue maksa. Ayo." ucapnya lagi setelah melihat tatapan mata Meta yang seakan menolak keinginannya
Akhirnya Meta pun menyetujui permintaan pemuda itu, mungkin benar apa yang dikatakan Indra, dia lebih baik menceritakan apa yang dia rasakan pada sahabatnya Gita.
"Mbak Salsa, ijin datang telat ya. Dan minta tong bungkusin satu bawa ke kantor. Aku mau ngaterin dia." Indra menunjuk Meta dengan ekor matanya.
"Maaf Mbak Salsa nanti bareng sama Adi, biar si pe dofil naik taksi." Reza menatap Indra penuh kekesalan, dia juga menyesal kenapa tadi tidak membawa kendaraan sendiri.
"Hati-hati bawa anak orang Ndra," celetuk Mbak Salsa, seakan tahu apa yang sedang terjadi dengan gadis itu.
Keduanya meninggalkan kafe tersebut, setelah mengucapkan terimakasih pada Mbak Salsa. Indra mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan lebih, sebab membutuhkan waktu sedikit lama untuk sampai di rumahnya. Tak ingin datang ke kantor terlalu telat tentunya.
"Lo masuk aja ke kamar Gita, sambil nunggu dia pulang. Tadi Gita bilang secepatnya pulang." Indra mengantar Meta sampai di depan pintu kamar gadis itu.
"Udah enggak apa-apa, Gita pasti enggak keberatan. Gue harus ke kantor lagi, kalo Lo butuh sesuatu ada Mbak Yuni dibawah, gue pergi dulu." Indra meninggalkan Meta setelah memastikan gadis itu masuk ke dalam kamar Gita.
Meski ragu, Meta masuk ke dalam kamar tesebut dan merebahkan diri diatas kasur empuk yang ada di dalamnya. Ini kali kedua dia masuk ke kamar milik Gita yang ada di rumah ini.
Pemuda dengan tinggi seratus tujuh puluh tiga centimeter itu kembali melesat menelusuri jalanan kota yang sedikit lenggang, dia sedikit bernafas lega sebab Meta sudah berada di rumahnya. Dia sedikit tahu tentang kehidupan gadis itu.
🥀🥀🥀
"Kak, makan siang dulu ya. Ini sudah lewat jam makan siang, pasti Kakak lapar, kan? Aku juga iya," ujar Gita saat akan membuka pintu mobil. Mereka baru saja tiba di rumah Gita, setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam.
"Baiklah, aku turun dan makan siang di sini,"
Keduanya masuk ke dalam rumah bersamaan, tapi rumah itu terlihat sepi seperti saat mereka pergi tadi.
__ADS_1
"Kakak tunggu di ruang makan langsung aja, aku mau manggil temenku di kamar." Gita meninggalkan Salman yang masih berdiri di ruang keluarga.
Salman tak langsung menuju ruang makan, dia lebih memilih duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Lebih nyaman menurutnya dari pada di ruang makan.
Gita masuk kedalam kamar, mendapati Meta yang terlelap dengan damainya. Dia pun urung membangunkan sahabatnya itu, dan memilih ke luar kamar lagi setelah meletakkan tas yang tadi dia bawa.
"Teman kamu mana?" tanya Salman saat mendapati Gita turun dari lantai dua tanpa temannya.
"Dia tidur, aku enggak tega buat bangunin. Ayo kita makan siang dulu aja." Gita masuk ke ruang makan lebih dulu, menyiapkan makanan terlebih dahulu. Sebab jika siang hari seperti ini, makanan tidak langsung disajikan diatas meja makan, karena jarang sekali ada yang makan siang di rumah, kecuali hari libur.
Salman memperhatikan Gita yang sedang mondar mandir menyiapkan makanan untuk mereka berdua, dia membayangkan jika nanti mereka sudah menikah, pemandangan tersebut akan dia lihat setiap hari di rumah.
"Mau pake apa Kak?" pertanyaan yang terlontar dari bibir Gita membuat Salman terbangun dari khayalannya.
"Sayur sama ikan goreng aja," jawab Salman.
"Ini SOP jamur, Kakak mau?" tanyanya memastikan sebab dia tak menyukai tumbuhan yang tidak berklorofil tersebut saat sudah menjadi makanan, menurutnya tekstur jamur itu aneh dan rasanya pun aneh, dia sampai heran dengan orang yang menyukai masakan dari olahan jamur, seperti sang Mama.
Salman mengangguk.
Keduanya menikmati makanan tersebut tenang, tanpa ada gurauan hanya ada sedikit obrolan saja.
Selesai makan, Salman lebih dulu menemani Gita, dan dia berpamitan pulang saat sahabat Gita turun dari lantai dua. Memberi ruang untuk mereka berdua berbicara.
"Kakak mau kemana setelah ini?" tanya Gita saat mengantar Salman sampai depan rumah.
"Langsung pulang, tapi nanti malam kayaknya harus ke rumah sakit, paling sampai jam sebelasan aja. Nanti aku telpon kalo udah sampai rumah," jawab Salman.
"Aku pulang ya sayang." Salman memeluk Gita sebentar lalu mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala gadis itu.
"Hati-hati Kak." Gita melambaikan tangan saat mobil Salman sudah mulai berjalan.
Gadis itu menghela nafas sejak setelah mobil Salman hilang dibalik pintu gerbang rumah nya. Entah kenapa keraguan itu kembali muncul mungkin setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Padahal dia sudah yakin dengan pemuda itu setelah mereka bertunangan. Tapi entah kenapa keraguan itu kembali di rasa.
__ADS_1
.
🥀🥀🥀