
"Jangan pulang dulu, Bang!" seru Gita saat Indra akan membelokkan motornya ke arah rumah mereka.
"Baiklah!" suara Indra hampir tak terdengar di telinga Gita sebab kebisingan dari suara kendaraan yang saling bersahut-sahutan.
Matahari telah tenggelam dengan damainya ketika kedua insan itu baru saja keluar dari sebuah tempat ibadah khusus untuk muslim. Tadi saat kumandang adzan menggema, keduanya memutuskan untuk ke masjid terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan yang entah kemana tujuannya, sebab keduanya pun tidak tahu kemana mereka akan pergi.
"Kamu pake aja, udah pasti dingin nanti di jalan. Apalagi kamu cuma pake kaos pendek gitu." Indra memberikan jaket denim miliknya yang tersimpan rapi di dalam jok motornya.
"Abang gimana?" wajah gadis itu kini sudah tak muram seperti tadi, tapi kelopak matanya tak bisa berbohong sebab masih terlihat bengkak bekas tangisan sepanjang perjalanan dari taman sampai ke tempat ini.
"Aku pake kemeja panjang dan kaos, jadi tidak akan kedinginan," Indra menunjukkan kaos berwarna hita yang melekat di tubuhnya.
Gita mengangguk, sebab udara malam di kota ini sedikit lebih dingin dibanding di ibu kota, apalagi dirinya yang hanya memakai kaos pendek rumahan dan celana jeans panjang, untung saja dia tadi sempat mengganti celananya dengan celana panjang, jika tidak sudah pasti dia akan kedinginan sepanjang jalan.
"Mau kemana?" tanya Indra saat keduanya sudah memasuki jalanan.
"Aku enggak tahu, terserah Abang, yang penting jangan pulang dulu, aku belum siap ketemu Mama," jawab Gita, dia takut Mamanya kecewa dengan keputusan yang dia ambil, meskipun tujuan Salman sepertinya sama dengan dirinya, tapi tetap dialah yang memutuskan pertunangan itu lebih dahulu.
Indra membawa Gita ke sebuah tempat yang tidak terlalu jauh dari kota, keduanya masuk ke dalam cafe outdoor itu, menyajikan pemandangan indah kota di malam hari dari tempat ini, gemerlap lampu bak bintang bertebaran di angkasa. Tapi sayang, langit begitu gelap seakan siap menurunkan hujan malam ini.
"Bagus kan tempatnya?" tanya Indra.
Gita mengangguk, "Iya, aku bahkan belum pernah ke tempat ini dimalam hari, ternyata lebih indah." Gita melihat sekeliling, seakan bisa menyegarkan pikirannya yang sempat buntu.
"Bang, kenapa bisa di taman tadi?" pertanyaan itu sebenarnya sudah terpikirkan sejak dia melihat pemuda itu ada di sana, tapi selalu lupa untuk menanyakannya.
"Kebetulan pas pulang kantor tadi, aku lihat kalian baru keluar rumah, sengaja mengikuti," jawaban Indra itu membuat Gita menoleh seketika.
"Berarti mendengar semua percakapan kami?" tebaknya.
Gelengan dari kepala Indra membuat Gita sedikit lega.
__ADS_1
"Aku mendekat saat kamu berdiri. Bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Indra.
Gita pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan air mata gadis itu kembali runtuh. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bagaikan pedang yang terus menggores luka yang telah terbuka, membuat luka itu makin menganga, bukan sebuah luka berdarah, tapi rasanya melebihinya. Membuat Indra merasa bersalah sebab mengingatkan tentang kesedihan itu lagi. Dia pun mengusap punggung gadis itu, berharap bisa menenangkan, meskipun sebenarnya dia juga merasakan sakit mendengar kenyataan itu.
Setiap kata yang keluar dari bibir Gita, membaut emosinya makin meledak, ingin sekali menghabisi lelaki itu saat ini juga. Sungguh keterlaluan perbuatannya tak bisa dimaafkan begitu saja.
Mungkin jika orang lain akan bahagia saat seseorang yang dicintai telah berakhir dengan kekasihnya, tapi buat Indra itu bukan sebuah kebahagiaan, apalagi saat gadis ini menangis, rasa ingin memeluk tetap ada, tapi dia sungguh tak seberani itu.
"Boleh menangis dan bersedih, tapi jangan sampai terlarut dalam kesedihan, sebab pria itu tak pantas ditangisi, air mata mu terlalu berharga." Indra berusaha mengusap air mata gadis itu dengan sapu tangan miliknya.
"Aku, aku tidak menangisinya Bang, aku menangis karena kebodohannya sendiri, langsung percaya saja dengan orang asing yang baru ku kenal, tanpa mencari masa lalunya terlebih dahulu. Menyesal, itu yang kurasakan saat ini. Begitu bodohnya aku yang mulai jatuh cinta dengannya, tapi dia justru menjatuhkan ku seperti ini." Sapu tangan itu kini sudah berpindah tangan dan Gita mengusap air matanya sendiri.
Indra mengernyitkan dahi mendengar ucapan terkahir Gita, "Bukannya kalian saling jatuh cinta sejak lama?" tanyanya.
Gita menggeleng, "Aku sudah mengatakan padanya jika hati ini milik orang lain, tapi dia tetap keukeh meyakinkan jika suatu saat aku bisa membalas cintanya, itu yang membuatku yakin memilihnya," ucapnya.
Indra sebenarnya penasaran siapa pria yang dicintai gadis ini, tapi dia tak ingin terlihat seperti mengorek informasi lebih dalam. Takut Gita mencurigainya.
Keduanya pulang setelah malam makin larut dan tanda-tanda tumpahnya rintik hujan sudah terlihat jelas, bahkan mereka berdua basah kuyup karena air itu. Indra sebenarnya sudah menawarkan untuk berteduh, tapi Gita menolak mentah-mentah, dia ingin menghapus semua luka dengan air yang jatuh dari langit itu, berharap esok bisa melupakan semua luka yang kini masih menganga.
"Berendam air hangat, setelah itu tidur, persiapan untuk perjalanan panjang," pesan Indra sebelum mereka berdua memasuki kamar masing-masing.
"Terimakasih untuk semuanya Bang," Gita tersenyum sebelum menghilang dibalik pintu.
Senyuman itu membuat dada Indra begitu sesak, sebab menyiratkan sebuah luka di sana, meski senyuman itu begitu tulus untuknya.
"Aku akan buat perhitungan sama dokter itu." Indra mengepalkan kedua tangannya, sebab emosinya mulai memuncak kala mengingat semua yang dikatakan oleh Gita tadi.
🥀🥀🥀🥀
Salman sedikit ragu saat akan mengetuk pintu sebuah kamar hotel, dia tahu di dalam kamar nanti riwayat hidupnya mungkin akan segera berakhir, tapi dia sadar dirinya salah dan harus mempertanggungjawabkan semuanya.
__ADS_1
Baru saja akan mengetuk, tapi pintu sudah terbuka lebih dulu, menampilkan sosok tinggi gagah dan masih terlihat garis ketampanan diwajahnya, meski usianya sudah hampir memasuki angka lima. Pria berkacamata itu mengernyitkan dahi saat mendapati Salman berisi di depan pintu kamarnya, tapi dia teringat akan ucapan sang putri tadi malam dan dia pun langsung mempersilakan masuk.
"Om, aku datang ke sini pertama untuk bersilaturahmi," ucap Salman sedikit gugup apalagi saat tatapan mata elang itu menembus Palung hati terdalamnya, rasanya tak kuasa untuk melanjutkan kata-kata yang sudah tersusun rapi sejak semalam.
"Yang kedua, aku mau minta maaf sama Om, sebab sudah menyakiti putri Om. Kami berdua sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini dengan suatu alasan yang tidak bisa saya sebutkan, maaf Om." Salman sungguh tak berani menatap mata pria dihadapannya ini, takut nyalinya menciut kembali.
Terdengar helaan nafas berat dari Renaldy, dia sudah bisa menguasai emosinya kembali. Sebenarnya ingin sekali menghajar pemuda dihadapannya ini, tapi dia teringat akan pesan putrinya yang tidak boleh menyentuh pemuda dihadapannya tersebut, entah dengan alasan apa.
"Saya akan memaafkan kamu jika putri saya sudah memafkanmu. Sebenarnya hukuman ini terlalu baik buat lelaki brengsekkk sepertimu, tapi saya bisa apa kalau putri kesayangan saya itu sudah memperingati. Harusnya kamu berterimakasih dengannya." Renaldi menatap pemuda itu tajam menusuk.
"Silahkan pergi, dan jangan pernah menampakkan diri dihadapan keluarga kami, atau kamu tidak akan pernah selamat!" ancam Renaldi.
Salman mengangguk, dia pun berpamitan meskipun orang yang dia pamiti tak merespon sedikit pun.
"Maafkan Papa sayang, mungkin ini karma buat Papa karena telah menyia-nyiakan Mama mu, tapi kenapa kamu harus kena imbasnya? Papa rasanya tidak tega melihatmu bersedih seperti ini." Renaldy memeluk Gita yang sejak tadi berada di dalam kamar hotel itu, mendengarkan semua pembicaraan kedua pria berbeda generasi tersebut.
Gita menggeleng, "Papa enggak bersalah dalam hal ini, semuanya karena kebodohannya Pa. Untuk kedepannya aku akan lebih hati-hati lagi dengan yang namanya lelaki," cetusnya.
"Dan jangan pernah menerima lelaki seperti Papa mu ini, carilah lelaki yang benar-benar tulus dan sayang sama kamu bukan karena harta ataupun obsesi seperti Papa terhadap Mama mu," Gita mendongak menatap sang Papa, dia tidak mengerti dengan ucapan obsesi yang dimaksud.
"Maksudnya Pa?" tanyanya.
"Papa hampir sama dengan pemuda itu, awalnya Papa terobsesi dengan Mama mu yang cerdas, bahkan disaat yang lain belum lulus S1, Mama kamu sudah menyelesaikan pendidikan S2 dan sudah bekerja, siapa yang tidak tertarik dengannya? Papa pun tertarik dengan Mama mu hingga akhirnya memilih Mama mu walaupun belum mencintainya, ya, meskipun akhirnya cinta itu tumbuh juga," Papa mengingat saat pertama kali bertemu dengan Sinta, meskipun wajahnya mirip dengan Sita, tapi terlihat jelas jika Sinta adalah wanita berpendidikan tinggi, terlihat dari sikapnya.
Gita mendengus, dia melepaskan diri dari pelukan sang Papa dan duduk di tepi ranjang.
"Semoga nanti aku mendapatkan suami yang benar-benar tulus tanpa modus seperti Papa," ucapnya sedikit kesal.
.
.
__ADS_1
.🥀🥀🥀