Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Calon Mantu


__ADS_3

Gavin mengetuk meja belajarnya berulang kali menggunakan bolpoin, kedua tamunya baru saja pergi lima menit yang lalu. Dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Hafidz tadi dan satu hal yang baru disadarinya tentang pemuda itu.


"Gue inget sekarang, Hafidz itu cowok yang dulu ngehalangin gue ketemu Gita waktu di parkiran kampus, pantes gue merasa enggak asing sama dia," gumamnya menjawab pikirannya selama ini tentang Hafidz.


"Dan bodohnya gue baru tahu kalo Hafidz itu Kakaknya Gita," gumamnya lagi, dia memang mengetahui jika Gita menemukan saudara kandungnya yang sempat hilang dari berita di sosial media, tapi dia tidak pernah ingin tahu seperti apa wajah saudara Gita itu, dan tenyata dia mengenalnya.


"Menarik sih, tunggu gue Sagita, gue segera datang." Membereskan beberapa dokumen yang berserakan diatas meja dengan begitu semangat, sebab akan kembali bertemu dengan gadis cantik yang dulu pernah dia sakiti.


"Mari kita mulai permainan ini." Tersenyum miring membayangkan bagaimana wajah Indra saat dia bersama Gita.


Ya, meskipun kedua pemuda yang tadi datang ke kantornya tidak mengatakan secara langsung jika Gita kekasih Indra, Gavin bisa menebaknya dari sorot mata Indra yang penuh kekesalan saat memandang dirinya tadi.


"Mbak, kalo Papa nyariin, bilang lagi ketemu calon mantu gitu ya," pesannya pada sekretaris nya. Dengan percaya dirinya secara tidak langsung mengakui Gita sebagai calon istrinya, padahal jika Gita dalam keadaan baik-baik saja tidak mungkin gadis itu mau bertemu dengannya, apalagi menjadi calon istri sangatlah tidak mungkin sekali.


"Serius? Wah, Bapak pasti sangat bahagia sekali kalau mendengar hal ini," sekretaris itu tersenyum bahagia mendengar ucapan bos mudanya itu.


Gavin mengangguk tanpa menimpali ucapan sekretarisnya itu, berjalan dengan santai meninggalkan wanita tersebut yang masih bertahan dengan senyum manisnya. Gavin bersiul sambil memainkan kunci mobil ditangannya saat berada di dalam lift. Entah kenapa dia begitu bahagia saat ini, apa karena akan bertemu kembali dengan Gita setelah sekian lama mereka tidak berjumpa, atau karena hal lain entahlah.


Pemuda itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit dimana Gita dirawat. Tak butuh waktu lama dia pun sudah sampai di rumah sakit itu, berjalan dengan santai menuju ruang VVIP dimana ruangan Gita berada.


Ceklek


Membuka pintu ruang perawatan itu, tersenyum saat melihat Om Renaldy yang akan keluar dari ruangan tersebut, pria paruh baya itu menuntunya untuk masuk dan mengurungkan niatnya keluar ruangan Gita.


"Terimakasih kamu bersedia datang, Gita sedang di toilet dengan Mamanya, kamu tunggu aja sebentar." Om Renaldy menepuk pundak Gavin pelan, tadi sempat tidak yakin jika pemuda itu akan datang menemui Gita.

__ADS_1


"Tidak masalah Om," timpal Gavin, dia memang tak begitu dekat dengan Om Renaldy, selama menjalin hubungan dengan Gita pemuda itu hanya beberapa kali bertemu dengan Papa gadis tersebut, dan saat itu mereka masih sekolah SMA.


Meskipun hubungan Gavin dan Gita dulu cukup lama, jarang sekali pemuda itu datang ke rumah Gita, paling hanya mengantar atau menjemput Gita saja tanpa masuk ke dalam rumah, tapi jika dengan Tante Sita, dia memang akrab, apalagi Tante Sita itu teman baik sang Mama.


"Hafidz pasti sudah menceritakan semuanya sama kamu, kan?" tanya Om Renaldy.


Gavin mengangguk, "Sudah Om, aku kasihan sama Gita, kenapa bisa begini Om? Semoga dengan hadirnya aku disini akan membuat Gita lekas mengingat kembali semuanya," ujarnya tulus.


"Iya semoga saja. Pesan Om, kamu jangan ungkit dulu masalah penyakit Gita ini ya sama dia, Om takut dia drop lagi," harapan penuh diberikan pada Gavin, semoga pemuda itu benar-benar membatunya dengan ikhlas.


"Iya Om," timpalnya.


Atensi kedua lelaki berbeda generasi itu teralihkan pada pintu toilet yang terbuka, nampaklah dua perempuan yang terlihat sama cantiknya, meski yang satu sudah berusia hampir setengah abad, tapi kecantikannya masih terpancar jelas di wajah wanita paruh baya tersebut.


"Gavin?" lirih Gita, senyumnya terbit saat melihat pemuda yang dirindukannya itu datang, bahkan dia ingin sekali segera menghampiri Gavin, tapi pemuda itu lebih dulu menghampirinya bahkan membantu Gita naik ke atas brangkar.


"Kak, kamu enggak selingkuh, kan? Yang semalam itu bukan kamu, kan Kak?" suara rengekan Gita menyadarkan Renaldy dari lamunannya tentang Indra, dia tak mengerti dengan apa yang Gita ucapkan, tapi memilih diam dan mendengarkan saja.


Menoleh saat sang istri mengusap punggungnya, mungkin berniat untuk memberi kekuatan padanya akan semua yang terjadi saat ini.


Gavin mendengar pertanyaan Gita seperti itu terlihat kebingungan, tapi dia langsung teringat kejadian beberapa tahun silam. Tersenyum lalu menggeleng, "Kamu salah lihat, kalau aku selingkuh pasti sekarang tidak ada disini, kan?" ucapnya sambil menggenggam tangan Gita.


Gavin sadar sekarang, dulu Gita pernah mengalami kecelakaan yang membuat gadis itu pingsan dan harus dirawat selama satu hari, dan penyebab kecelakaannya adalah pemuda itu. Saat itu Gita tanpa sengaja melihat dia sedang bercumbu dengan seorang gadis yang menjadi selingkuhannya, sekaligus gadis yang dia sayangi. Dan setelah kejadian kecelakaan Gita tersebut, mereka putus bahkan Gavin tidak menjenguk Gita sama sekali.


"Makasih ya Kak, dan maaf aku udah nuduh kamu selingkuh," ujar Gita dengan manja.

__ADS_1


Gavin mengangguk, Gita masih sama seperti dulu, gadis manja dan polos, tapi sangat sulit untuk dibohongi. Ah, mungkin Gita yang sekarang sebenarnya tidak seperti itu, dia seperti itu karena sebagian ingatannya hilang.


"Kakak emang enggak kuliah? Atau kuliah siang? Atau bahkan sengaja bolos kuliah karena khawatir sama aku?" Gita menatap Gavin penuh selidik, tapi pemuda itu justru menyengir mendengar pertanyaan Gita.


"Menurut kamu?" tanyanya balik.


"Sengaja bolos kuliah karena khawatir sama aku," jawab Gita penuh semangat, bahkan dia kini memeluk tubuh pemuda itu, membuat Gavin merasakan ada sesuatu yang aneh, entah apa itu.


Ceklek


Tiba-tiba pintu ruang perawatan terbuka, menampakkan sosok seorang pemuda yang wajahnya mirip sekali dengan Gita, siapa lagi jika bukan Hafidz. Pemuda itu kembali menutup pintu saat melihat adegan Gita sedang berpelukan dengan Gavin, dia tak akan membiarkan sahabatnya melihat adegan yang membuat Indra cemburu, sudah cukup Gita tidak mengingatnya tidak usah ditambah lagi beban yang lebih berat, yaitu cemburu. Dia tahu seperti apa Indra, pemuda itu tak akan rela kekasihnya disentuh oleh orang lain.


"Ngapain sih Fidz? Gue pengen lihat Gita bentar aja." Indra mendorong kembali pintu tersebut, seketika matanya membola saat melihat Gavin memeluk Gita, bahkan pemuda itu kini tersenyum miring ke arahnya. Dadanya terasa sesak saat melihat mereka bermesraan sepeti itu, ingin sekali dia memukul wajah Gavin saat ini juga, tapi itu tidak mungkin.


"Udah, enggak usah dilihat. Ayo kita pergi lagi Ndra, gue enggak yakin Lo akan baik-baik saja saat masuk nanti." Hafidz menarik paksa Indra untuk meninggalkan rung perawatan Gita, tak ingin melihat sahabatnya bersedih seperti saat ini.


"Apa gue kuat ngadepin semua ini Fidz?" tanyanya putus asa, melihat mereka berdua berpelukan saja rasanya begitu perih.


"Lo pasti kuat, udah gue bilang berulang kali ini hanya sementara, setelah itu gue yakin kebahgaiaan akan menghampiri kalian berdua." Hafidz rangkul Indra yang tingginya hanya sebatas telinganya. Memberi kekuatan dan mengembalikan kepercayaan diri Indra.


.


.


.

__ADS_1


🥀🥀🥀


__ADS_2