
"Bang setelah ini kita pulang ya," pinta Gita setelah mereka berdua menyelesaikan sarapan paginya.
"Lhoh kenapa? Bukannya lebih enak di sini, bisa berdua tanpa ada yang mengganggu?" Indra merasa keberatan jika mereka harus pulang pagi ini, dia masih ingin menghabiskan waktu berdua tanpa ada yang mengganggu.
"Kita pulang ke apartemen, akan lebih nyaman dan leluasa kalau di apartemen Bang, itu menurutku sih, tapi kalau Abang tetep mau di sini ya aku bisa apa?" Gita tak ingin memaksa meski sebenarnya dia merasa tak nyaman tinggal di hotel, menurutnya akan lebih nyaman ketika di apartemen toh di sana juga hanya ada mereka berdua tak ada siapa pun.
"Baiklah, kayaknya juga lebih leluasa di apartemen, kita bisa habiskan waktu selama beberapa hari di dalam apartemen tanpa gangguan siapa pun, ide bangus. Dan poin terpentingnya bisa melakukannya dimana pun, di dapur, kamar mandi, ruang tamu, semuanya." Indra mengedipkan sebelah matanya saat mencetuskan sebuah ide.
Bugh
Gita melempar bantal sofa, tepat mengenai wajah sang suami, "Ih mesum!" ucapnya, padahal Indra tak membahas hal mesum saat mengatakan itu, memang wajah dan tatapan matanya terlihat jika pikiran Indra mengarah kepada hal tersebut.
"Apanya yang mesum sih sayang? Emang apa yang kamu pikirkan tentang ruang tamu, dapur dan lain-lain itu, kok bisa dibilang mesum? Atau jangan-jangan pikiran kamu yang mesum nih?" kilah Indra, bahagia sekali saat melihat wajah cemberut istrinya sangat menggemaskan menurutnya
"Tau ah! Aku mau siap-siap." Gita beranjak dari duduknya meninggalkan sang suami, tapi Indra pemuda itu menyusul istrinya masuk ke dalam kamar.
Pagi ini mereka benar-benar pulang ke apartemen, tapi sebelum pulang sepasang pengantin baru itu memutuskan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari terlebih dahulu, sebab di apartemen tak ada apapun karena Indra meninggalkan apartemen selama beberapa hari sebelum menikah.
Seperti pasangan pada umumnya, Indra mendorong troli dan mengikuti kemanapun Gita melangkah untuk mencari sesuatu yang mereka butuhkan. Hampir satu jam mereka berkeliling mencari berbagai macam kebutuhan hingga memenuhi dua troli belanja. Hingga Indra memutuskan untuk menggunakan kurir untuk mengantar belanjaan mereka.
****
"Bang, bisa diem enggak sih? Kalo Abang gini terus kapan jadinya masakan ku?" ujar Gita lembut. Pasalnya pemuda yang baru satu hari menjadi suaminya itu mengganggu kegiatannya, dengan mengecupi leher jenjang miliknya, kedua tangannya pun tak tinggal diam bermain di area perut ratanya.
"Kamu seharian ini sibuk terus, kapan waktu buat Abang? Kita pengantin baru padahal, harusnya dia hari dua malam ngamar terus, ini malah sibuk di dapur," protes Indra, sebab sejak pulang dari hotel istrinya itu sibuk hingga sore menjelang malam juga masih sibuk terus mengabaikannya.
Gita mematikan kompor, lalu berbalik menatap sang suami, mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan suaminya itu. "Maaf Bang, setelah kita makan malam waktu ku hanya untuk Abang. Aku enggak bisa kalau harus menunda pekerjaan Bang," ucapnya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi biarkan Abang seperti tadi boleh, kan? Kamu silahkan lanjut masaknya." Indra memutar tubuh sang istri hingga membelakanginya. Memeluk tubuh ramping itu dan meletakkan kepalanya di bahu sang istri, kali ini tanpa kecupan kecil di leher jenjang istrinya.
Gita tidak protes, dia juga merasa bersalah sebenarnya. Tapi dia tak bisa membiarkan barang belanjaannya berserakan tanpa di rapikan terlebih dahulu, hingga mengabaikan sang suami untuk beberapa saat.
"Sayang, Hafidz memberi hadiah honeymoon, katanya boleh milih sendiri mau dimana. Kira-kira kamu pengen kita honeymoon kemana?" tanya Indra masih dengan posisi yang sama.
"Em, aku bingung Bang. Abang aja deh yang nentuin," jawab Gita tanpa menoleh ke arah sang suami.
"Kalau Abang pengennya di dalam kamar, yang penting ada kamu. Males juga mau pergi jauh-jauh,"
Gita mendengus mendengar jawaban suaminya itu, niatnya ingin memberi kesempatan pada Indra untuk berpendapat, tapi alhasil kesempatan itu disia-siakan oleh sang suami.
"Baiklah, kita honeymoon ke London, sekalian aku mau urus perpindahan," putus Gita akhirnya.
Indra mengangguk, "Tapi Minggu depan aja ya, seminggu ini kita nikmati kebersamaan di apartemen saja," ucapnya membuat Gita menggeleng tak percaya akan pikiran suaminya itu.
"Malam ini Abang enggak mau kecolongan seperti kemarin malam." Pemuda itu mengotak-atik ponselnya dan ponsel sang istri, mematikan kedua ponsel tersebut sebab tak ingin ada gangguan seperti semalam, bisa jadi kan malam ini ada yang iseng juga? Dia tak akan membiarkan itu terjadi.
"Bang, serius jam segini? Apa enggak malu sama tetangga?" Gita melihat jam di dinding ternyata baru pukul dua puluh malam, itu artinya masih sangat sore. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa gugup, takut saat teringat cerita di drama yang pernah dilihatnya, jika saat pertama kali melakukan hubungan suami istri pasti sang istri merasa kesakitan hingga tak bisa bangun, bahkan terkahir kali dia melihat diberita sang istri kehabisan darah hingga dibawa ke rumah sakit. Membayangkan itu dia menjadi ngeri sendiri.
"Ngapain malu sama tetangga? Mereka aja enggak lihat kita?" Indra tak peduli meskipun ini masih terlalu sore, baginya malam ini dia bisa memiliki Gita seutuhnya dan menjadikan gadis itu wanita seutuhnya.
"Jangan bilang, kamu takut?" Indra sudah duduk di sisi sang istri yang sejak tadi mengamati kegiatannya, dia mengusap kedua sisi wajah istrinya itu dan menatap dengan tatapan lembut.
"Enggak usah takut, Abang tidak akan berbuat kasar. Abang akan melakukan itu selembut mungkin," ucapnya lagi membuat Gita mengangguk dan tersenyum.
"Sholat dulu bang," ujar Gita saat lagi-lagi Indra tak sabar ingin langsung menerjangnya.
__ADS_1
Indra mengangguk, dia sampai melupakan hal itu. Mereka kembali melakukan sholat Sunnah berjamaah. Berdoa supaya kegiatan mereka berdua nanti tak ada campur tangan setan di dalamnya, dan mendapatkan keberkahan dari kegiatan yang menghasilkan banyak pahala itu.
Selesai sholat dan berdoa, Gita mencium tangan sang suami lalu Indra mengecup singkat kening istrinya. Rasanya begitu damai tak seperti tadi yang begitu di selimuti oleh gairah nafsu.
"Sekarang sudah siap, kan sayang?" tanya Indra menatap manik mata hitam milik sang istri.
Gita tersenyum lalu mengangguk, dia sudah pasrah apa yang akan suaminya lakukan malam ini.
Indra melepas mukena yang dikenakan oleh istrinya, lali menggendong tubuh ramping Gita ke atas ranjang, menjatuhkan tubuh itu perlahan. Keduanya saling menatap penuh damba. Mengucapkan doa sebelum melakukan sesuatu yang dikatakan sebagai surga dunia itu, dan mengawali dengan sesuatu yang paling ringan diantara semuanya.
Indra bersyukur memiliki perempuan seperti istrinya ini, menurutnya apa yang ada dalam diri Gita adalah kesempurnaan, hingga dia begitu kagum akan sesuatu yang baru pertama kali dia nikmati lewat indera penglihatannya itu. Tutur manja gadis itu kini terdengar makin lembut bahkan dia belum pernah mendengar penuturan lembut itu sebelumnya, sungguh dia menemukan sesuatu yang baru dari diri sang istri.
Malam makin larut, bahkan di luar hujan lebat menimbulkan hawa dingin yang menusuk, tapi di dalam kamar itu udara justru begitu panas, terlihat dari sepasang suami istri tersebut. Tubuh mereka basah akan keringat, setelah keduanya mendaki dan menikmati pendakian untuk pertama kalinya.
"Mandi dulu ya, setelah itu kalau mau tidur. Biar Abang siapkan air hangatnya." Pemuda itu turun dari tempat tidur, meraih sesuatu yang bisa digunakan untuk menutup tubuhnya, lalu masuk ke dalam kamar mandi menyiapkan air hangat untuk sang istri.
Gita mencoba untuk duduk, meski area intinya terasa perih tapi dia tetap menahannya. Meraih botol air minum lalu menegakkan, sebab tenggorokannya terasa kering setelah melantunkan nyanyian indah berulang kali yang membuat Indra mabuk kepayang.
"Ayo airnya sudah siap. Biar Abang gendong." Pemuda itu meraih tubuh sang istri beserta selimut yang menutup tubuh istrinya itu.
"Bang, aku bisa mandi sendiri," tolaknya saat Indra akan melepas pakaian satu-satunya yang melekat ditubuh.
"Udah enggak sakit?" tanya Indra khawatir jika istrinya itu masih kesakitan, sebab tadi sang istri sempat menitikkan air mata saat dia berhasil menerobos pertahanannya.
Gita menggeleng, meski rasa perih masih tersisa tapi dia tak ingin Indra memandikannya, terlalu malu akan hal itu. Meskipun dia sadari suaminya itu telah menikmati semua yang dia miliki tanpa tertinggal sedikit pun, dan dia bisa menebak jika kini tubuhnya sudah dipenuhi oleh lukisan indah yang hanya sang suami yang bisa melukisnya.
🥀🥀🥀🥀
__ADS_1
Hey hey, maafkan aku enggak bisa buat konten 21+ kalian bayangkan sendiri sesuai imajinasi kalian masing-masing ya. Sebab aku yakin disini banyak mereka yang belum menikah atau bahkan masih remaja yang membaca novel ini, tidak baik untuk mereka yang belum menikah, kasihan, kan? Jadi aku putuskan untuk tidak membuat konten tersebut.