Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Psikiater


__ADS_3

Pagi sekali Mama sudah dijemput oleh suaminya, dan kini hanya tinggal sepasang suami istri itu, keduanya sedang duduk di ruangan yang sama tapi tempat berbeda. Jika Indra duduk di sofa sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya, berbeda dengan Gita, perempuan itu duduk di atas ranjang, bermain ponsel. Ah, tepatnya hanya menatap ponsel dengan tatapan kosong, layar ponsel yang menampilkan sesuatu menarik saat ini sama sekali tak menarik di matanya. Pikirannya melayang entah kemana, tapi sepertinya sang suami belum menyadari akan hal itu.


Terdengar isakan kecil dari bibir Gita, samar-samar sang suami mendengar isakan tersebut, dia pun langsung bangkit meninggalkan pekerjaannya.


"Sayang, kamu masih memikirkan yang kemarin?" tanya Indra yang memang tahu betul seperti apa istrinya jika menyangkut masalah anak.


Gita menggeleng, lalu mengangguk, "Maafkan aku Bang, aku bukan wanita sempurna," ucapnya.


Indra menggelengkan kepala, lalu dia memeluk tubuh istrinya erat, "Di dunia ini tak ada manusia yang sempurna, kita sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan. Menurutku kamu memang bukan wanita sempurna, tapi kamu istimewa," ujarnya.


"Jangan pikirkan masalah itu lagi ya, kita sudah berusaha, jadi jangan salahkan diri kamu sendiri, semua ini sudah digariskan," tuturnya lagi.


"Maafkan aku Bang, aku selalu terbawa perasaan jika menyangkut hal itu, merasa menjadi wanita tak berguna sama sekali." Gita mendongak menatap suaminya yang kini tersenyum.


"Sudah jangan bahas ini lagi. Abang mau bertanya sesuatu sama kamu," Indra tak ingin istrinya larut dalam perasaan bersalah.


"Tanya apa Bang?" Gita melerai pelukannya menatap lekat wajah manis sang suami yang tak pernah membuatnya bosan saat memandang wajah itu.


Indra meletakkan kedua tangannya di bahu sang istri, membalas tatapan istrinya itu penuh cinta. "Dokter Niko menyarankan untuk menemui psikiater, beliau juga yang akan mencarikan psikiater tersebut, kebetulan tadi beliau menghubungi Abang, bagaimana apa kamu mau mengikuti saran Dokter Niko?" Indra berbicara dengan selembut mungkin, tak ingin membuat istrinya itu salah paham.


Gita terdiam, mencerna semua perkataan sang suami, tak pernah terbayangkan dia akan seperti ini hingga harus berkonsultasi dengan dokter kejiwaan. Apakah separah itu hingga Dokter Niko menyarankan hal tersebut.


"Itu hanya saran dari dokter Niko, kalau kamu tidak mau tidak apa-apa, Abang tidak akan memaksa. Tapi menurut Abang, itu juga untuk kebaikan kamu. Pikirkan dulu baik-baik," Indra seakan mengetahui kegundahan sang istri, dia memang tidak memaksa tapi dia berharap Gita mau pergi ke psikiater supaya lebih bisa menerima keadaan ini.


"Dan satu lagi, Papa mengusulkan untuk kita tinggal di luar negeri untuk sementara waktu, supaya terhindar dari kumpul-kumpul dengan saudara atau teman. Papa khawatir dengan kondisi kamu, takut makin down jika terus seperti ini," beritahu Indra, menurutnya Gita harus memberi keputusan secepatnya, dia pun tak ingin istrinya itu terus terpuruk seperti ini.

__ADS_1


Gita terdiam, memikirkan semua hal tersebut, dia masih bingung harus memilih usulan siapa. Tapi untuk ke dokter rasanya dia tidak siap, sebab dia benar-benar baik-baik saja, tak harus bertemu dengan psikiater.


🥀🥀🥀🥀


"Wah senang sekali bertemu dengan Dek Gita ini, salam kenal ya, panggil saja saya Mbak Fen yang lain biasa memanggil begitu," wanita paruh baya yang usianya mungkin hampir sama dengan Mama itu menyambut baik kedatangan Gita dan Indra.


Gita tak menyangka jika psikiater orangnya sehumble dan seramah ini, dia tadinya takut jika psikiater yang akan dia datangi ini berwajah datar dan mengintrogasi dirinya dengan wajah seram.


Setelah berkenalan, Dokter Fenny atau yang sering di sapa Mbak Fen ini mengajak Gita berjalan mengelilingi taman tempat praktiknya.


"Hidup itu seperti piano, tahu piano kan? Diam memiliki tuts berwarna putih dan hitam. Artinya jika kunci putih melambangkan kebahagiaan, jika hitam menunjukkan kesedihan. Namun, saat kita menjalani perjalanan hidup, ingatlah jika tuts hitam juga menghasilkan musik. Jadi, kita hidup di dunia ini tak akan pernah lepas dari yang namanya kesedihan, tapi jangan jadikan kesedihan itu sebuah alasan untuk kita terpuruk, justru sebaliknya, sebab hidup kita isinya bukan hanya kesedihan tapi juga kebahagiaan," tutur Mbak Fen setelah mendengar apa yang Gita keluhkan.


Gita merasa tak memiliki beban apapun saat bercerita dengan Mbak Fen, wanita itu begitu mengerti perasaanya dan sama sekali tak menyalahkan apa yang dia rasakan.


Hari ini, pertemuan pertamanya dengan Mbak Fen cukup membuatnya lebih tenang, dia berharap kedepannya akan lebih baik lagi.


Gita tersenyum lalu mengangguk, "Tidak sepeti bayanganku Bang, ternyata psikiater itu bisa mengerti bagaimana diri kita, bagaiman perasaan ku tanpa menyalahkan apa yang aku rasakan, jadi enggak sabar pengen bertemu beliau lagi," jawabnya bersemangat.


Indra bersyukur, bujukannya mengajak Gita ke psikiater berbuah manis, semoga istrinya itu merubah pemikiran pesimisnya menjadi sebuah semangat luar biasa.


"Apa yang Abang bilang, kenapa kemarin tidak mau?" tanyanya, sebab Gita berkali-kali menolak untuk diajak ke psikiater.


"Aku enggak percaya diri Bang, apalagi ini menyangkut masalah pribadi sih, takut bercerita dengan orang lain tentunya," jawabnya.


"Iya, mereka yang bekerja dalam bidang itu, tentu tidak akan membocorkan rahasia kliennya, itu tugas mereka," beritahu Indra.

__ADS_1


Gita mengangguk, mengerti dengan profesi seperti itu. Tak mungkin mereka akan menceritakan keluh kesah kliennya pada orang lain, itu melanggar peraturan dan membahayakan pekerjaannya tentunya.


Gita memang sudah memutuskan untuk menemui psikiater, setelah itu dia akan mengikuti saran sang Papa untuk tinggal di luar negeri, berharap keadaanya akan lebih baik. Sebab di luar sana, semua orang tidak memikirkan masalah orang lain, tidak seperti di negara kita ini. Masalah keluarga saja banyak orang berkoar-koar dan ingin ikut campur yang sebenarnya bukan urusan mereka.


"Makan siang dulu ya, sudah lama kita enggak makan di luar," tutur Indra setelah cukup lama istrinya itu terdiam.


"Iya bang, kita ke resto Korea ya, aku pengen makanan di sana," usul Gita.


"Baiklah," Indra pun mengendarai mobilnya menuju sebuah restoran khusus Korea, yang dulu sering mereka datangi saat Gita sedang merajuk, sebab istrinya itu sangat menyukai makanan dari negeri ginseng tersebut.


Kini keduanya sudah duduk di tempat yang mereka pilih, memesan beberapa makanan halal khas negeri ginseng tersebut karena tidak semua makanan di tempat itu halal untuk dinikmati.


"Gita?" keduanya dikejutkan dengan suara seseorang, mereka pun langsing mencari sumber suara.


"Eh, Alya, apa kabar? Lama banget enggak ketemu." Gita berdiri menyambut kedatangan sahabatnya itu, keduanya saling memeluk.


"Alhamdulillah baik, maaf pas kamu nikah aku enggak bisa hadir," ucap Alya penuh sesal.


"Ah tidak masalah, aku tahu kamu sibuk. Dia suami kamu?" tanya Gita di akhir Kalimantan saat melihat seorang pemuda yang mengikuti dibelakang Alya.


"Iya, perkenalkan Putra namanya. Maaf juga aku enggak ngasih tahu pas nikah, sebab kami hanya nikah KUA," jelas Alya.


Mereka pun berkenalan, lalu Alya dan sang suami pun ikut duduk di meja tersebut.


Indra sejak tadi menatap sendu sang istri, dia tahu apa yang ada dalam pikiran Gita saat melihat Alya berperut buncit, menandakan jika wanita itu sedang hamil. Istrinya itu pasti akan kembali menyalahkan dirinya sendiri lagi.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2