Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Lemah Tak Berdaya


__ADS_3

Langkahnya begitu berat setelah melihat wajah cantik yang kini terbaring lemah di brangkar rumah sakit dengan berbagai selang kehidupan, tak kuasa untuk kembali melangkah, padahal tadi dia sudah sangat yakin ingin menemui gadis yang menguasai hatinya, tapi kenapa seakan waktu berhenti saat dia melihat wajah itu begitu jelas. Hanya butuh beberapa langkah saja, tapi rasanya tak kuasa.


Tak terasa air matanya lolos tanpa ijin, diusapnya air itu dengan kasar, tak ingin terlihat lemah didepan pujaan hatinya, meski dia tahu gadis cantik itu tak akan bisa melihat keadaanya saat ini. Menghela nafas berulang kali, mencoba untuk menenangkan diri untuk bisa melanjutkan langkah.


Satu langkah


Dua langkah


Tiga langkah, tangisnya pecah saat langkah kakinya tepat berada di samping gadis manis yang kini terbaring lemah itu. Mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang berada tepat di samping brangkar itu, menyeka air mata yang terus lolos dari sudut matanya. Menyentuh jemari yang lolos dari selang infus, lalu mengecupnya berulang kali berharap gadis dihadapannya ini segera tersadar dari tidur panjangnya.


"Lebih baik kita LDR-an dari pada lihat kamu seperti ini, aku tak sanggup," lirihnya.


Beberapa saat dia terdiam sambil menundukkan wajah, menyesali semua yang terjadi pada gadis ini, dia merasa ikut andil dalam hal ini, meski sebenarnya tak ada sangkut paut dengan dirinya, sebab ini adalah musibah yang kita sendiri tak tahu kapan datangnya.


"Jika saja bisa, lebih baik aku yang terbaring lemah di tempat ini, dari pada melihat penderitaannya seperti ini." Air matanya kembali menetes, tak sanggup membayangkan betapa sakitnya gadis ini, pasti di dalam alam bawah sadarnya dia merasakan sakit yang luar biasa.


"Bangunlah sayang, aku menunggumu. Bukankah kita akan menikah?" Indra menatap lekat wajah cantik yang kini terlihat lebih pucat itu.


Indra membelai wajah yang sedang terpejam damai tersebut, sesekali dia mengecup kening gadis itu. Mengusap luka yang terbalut perban di kening tersebut dengan lembut. Semakin lama menatap wajah pucat itu semakin membuatnya tak sanggup menahan sesak di dada, hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari ruang ICU tersebut.


Indra duduk di kursi tunggu, dengan menundukkan wajah. Air matanya masih terus menetes, tak sanggup melihat wajah cantik yang bisanya ceria itu kini berubah menjadi pucat pasi penuh luka.


Tepukan di punggungnya membuat dia menyeka air mata dengan kasar, lalu menoleh ke arah orang tersebut.


"Om yakin Gita akan segera siuman, sekarang kita hanya bisa mendoakan dia." Ternyata Om Renaldy yang duduk di sisinya tersebut, dia pun mengangguk mengiyakan ucapan Papa dari kekasih hatinya itu.

__ADS_1


"Om, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Indra, dia sangat penasaran dengan semua yang terjadi pada Gita dan Riky yang mengakibatkan mereka terluka bahkan Gita sampai koma seperti saat ini.


"Sebuah musibah yang tak kita harapkan, saat kejadian itu Gita sedang tertidur, tak bisa menghindari benturan di kepalanya. Sedangkan Riky dia bisa keluar dari mobil, itu keterangan yang Om dapat dari para saksi di tempat kejadian," jelas Renaldy.


Indra menggelengkan kepala tak sanggup membayangkan seperti apa kejadian yang menimpa Gita dan Riky tersebut.


"Dokter bilang, bisa saja Gita mengalami gangguan ingatan, atau semacam amnesia ringan. Jadi, nanti kalau dia sudah sadar dan tidak ingat dengan kamu misalnya, jangan kaget. Menurut dokter itu hanya sementara, ingatannya akan kembali seiring berjalannya waktu," penjelasan Om Renaldy membuat Indra terkejut, tak menyangka jika akibat dari musibah ini Gita bisa jadi hilang ingatan.


Indra makin tak sanggup membayangkan jika gadis itu bangun tak mengingat dirinya. Semoga saja tidak sepeti itu, Gita siuman dengan kondisi sama seperti sebelum dia koma, itu harapannya.


"Lo pulang aja, Gita aman sama kita di sini, gue juga lagi nungguin Mama datang." Hafidz menepuk pundak Indra yang sejak dua jam lalu duduk terdiam di depan ruang ICU.


Sejak tadi Oma dan Tante Sita sudah membujuk untuk pulang tapi pemuda itu masih bergeming ditempatnya tanpa menghiraukan ucapan dua wanita itu. Hafidz pun sudah berulang kali membujuknya tapi jawabannya tetap sama.


Hafidz menghela nafas, dia bingung harus membujuk Indra seperti apa, "Baiklah, sampe Mama sama Papi datang, setelah itu kita pulang, biar mereka yang gantian di sini," putus Hafidz akhirnya.


Tak ada respon dari pemuda yang duduk di sebelahnya itu, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Indra, Hafidz tak tahu. Dia juga khawatir dengan Gita tapi tidak sampai terpuruk seperti Indra saat ini.


Waktu hampir menginjak tengah malam ketika dua sepasang suami istri itu datang dengan tergopoh-gopoh, nampak raut kekhawatiran dari wajah keduanya, apalagi wajah sang istri yang sudah memerah seperti menahan tangis.


"Mama," lirih Hafidz saat melihat sang Mama berjalan tergesa ke arah mereka berdua. Pemuda itu pun langsung memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya itu. Tangis sang Mama pecah dalam pelukan putra tercintanya.


"Apa yang terjadi dengan adik mu? Kenapa bisa sampai sepeti ini?" tanya sang Mama ditengah tangisnya, dia memang belum mengetahui pasti tentang kondisi Gita, sebab mereka sengaja tidak memberitahu langsung, supaya Mama tidak terlalu khawatir, tapi yang namanya seorang ibu pasti akan khawatir dengan anaknya meskipun dia terluka sedikit saja.


"Tenang ya Ma, Gita gadis yang kuat, aku yakin dia akan segera sadar dari tidurnya," Hafidz sebenarnya tidak sekuat itu, tapi dia mencoba untuk bersikap kuat di hadapan sang Mama.

__ADS_1


"Mama mau bertemu adikmu." Mama melepas pelukan itu, menatap wajah sang putra yang terlihat sama khawatirnya.


Hafidz mengangguk, kemudian menuntun sang Mama untuk memasuki ruang ICU tersebut.


Sedangkan Indra, melihat kedatangan sang Papi dia langsung menyalami lelaki paruh baya itu, dan mendapatkan pelukan dari Papinya, sebuah pelukan penyemangat yang diberikan oleh sang Papi.


"Kamu juga harus menjaga diri, sekarang pulanglah. Besok kembali ke sini lagi, malam ini biar Papi sama Mama yang menjaga Gita," ujar sang Papi sama seperti semua orang yang membujuknya untuk pulang.


"Ini musibah, jangan salahkan diri kamu sendiri," tambahnya, sebab Papi sudah tahu jika Indra menyalahkan dirinya atas musibah yang terjadi pada Gita, Riky sempat bercerita tadi lewat sambungan telepon.


"Kita pulang Ndra, Gita aman sama Papi dan Mama," sambung Hafidz yang baru saja kembali setelah mengantar sang Mama.


"Iya, nanti Papi akan kabari apa pun tentang keadaan Gita." Papi menepuk pundak putra sulungnya itu sekilas, membuat Indra mengangguk.


Akhirnya mereka berdua keluar dari rumah sakit, dengan perasaan yang masih sama khawatir dan takut terjadi sesuatu pada gadis yang sama-sama mereka sayangi dalam kadar yang berbeda. Harapan mereka sama, gadis itu segera sadar dari komanya, dan kembali ceria seperti sedia kala.


Sedangkan Riky, sudah kembali ke rumah Oma, dengan sedikit paksaan dari sepupunya Erika, akhirnya pemuda itu mau pulang ke rumah Oma.


.


**Mungkin besok enggak bisa up, aku mau menyelesaikan menulis di platform lain. Kayaknya cerita Hafidz akan aku tulis di platform lain yang sama-sama gratis juga, kalian pasti tahu. Nanti aku kabari lagi kalau sudah aku up ya. Terimakasih untuk semuanya.**


.


.🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2