Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Mengantar Pulang


__ADS_3

Makan siang kali ini terasa berbeda, biasanya hanya ada mereka bertiga dan makan pun di kantin kampus kadang juga di kafe langganan mereka. Sedangkan kali ini makan di resto mewah dengan berbagai macam pilihan makanan, apalagi makan siang kali ini gratis, menambah selera makan yang menggebu-gebu.


"Kamu pulang sama aku ya, atau kalian mau kemana dulu?" tanya Salman pada Gita yang duduk tepat di sampingnya, sedangkan dua gadis lain mereka sibuk menikmati makanan mereka sambil sesekali bergurau.


"Kalo enggak ke rumah Alya, ya ke rumah Salma Kak, Kak Salman ke rumah sakit aja, aku akan pulang sendiri nanti," tolak Gita, tak enak jika mengganggu pekerjaan dokter itu.


"Yaudah kalo gitu nanti pulangnya aku antar," putus Salman.


Gita hanya mengangguk, sebab Salman keras kepada dan memaksa untuk pulang bersama pemuda itu. Gita hanya merasa canggung saja bukan karena apa pun.


Setelah acara makan siang usai, Salman kembali ke rumah sakit, sedangkan tiga gadis itu memilih untuk ke rumah Salma. Awalnya Gita menolak, dia terlalu malu dengan Mama Salma, apalagi setelah Salman berniat mendekatinya. Ya, meskipun pemuda itu belum mengatakannya, tapi dia bisa menebak dan tentu saja karena Salma yang mengatakannya juga.


"Eh kalian sudah datang ya, maaf Tante baru aja pulang belanja. Tante tinggal ke dapur sebentar ya." Tante Hana, Mama Salma.


"Iya Tan," jawab Gita dan Alya bersamaan.


Wanita paruh baya itu meninggalkan ketiganya yang entah sedang mengerjakan apa di laptop mereka.


"Git, Mama mau minta di ajarin buat kue kaya kemaren. Makanya gue ajak Lo ke sini, dan maaf gue baru bilang, hehe," Salma tersenyum canggung merasa bersalah sebab tidak memberi tahu Gita terlebih dahulu.


"Mama itu pinter masak apa pun, tapi kalau soal buat kue jangan tanya, enaknya enggak ada yang ngalahin, saking enaknya enggak pernah dimakan," tambah Salma dan kembali terkekeh geli membayangkan sat sang Mama membuat kue.


"Em enggak apa-apa deh, ini juga masih agak siang. Nanti gue pulangnya sore dikit juga enggak masalah. Tapi ya itu gue cuma bisa bikin beberapa kue aja, itu pun Mama yang ngajarin. Kalo dulu taunya langsung hap," timpal Gita menyetujui permintaan Tante Hana. Oke sesekali tidak masalah lah, buat kue juga bisa mengurangi kepenatan akibat skripsi yang belum jadi.


"Yuk mari kita langsung ke dapur nyusul Mama." Salma tak kalah semangat, dia juga ingin bisa masak seperti Gita dan Alya.


"Ma! Gitarnya mau ngajarin kita buat kue, Mama udah siap, kan?" Suara Salma menggema di seluruh ruangan, membuat sang Mama hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak gadisnya.


Mereka menyiapkan semua keperluan, lalu mengukur beberapa bahan sesuai permintaan Gita. Sedangkan Tante Hana hanya jadi penonton ketiga gadis itu, dia begitu kagum dengan Gita yang terlihat cekatan saat membuat kue. Tak menyangka anak seorang sultan seperti Gita bisa memasak juga, kekagumannya makin bertambah saat menyadari hal itu. Ya, Tante Hana sudah tahu siapa Gita, tentu saja dari teman sosialitanya yang sering mengghibah para sultan di negeri ini, dan Renaldy Atmawijaya salah satu sasaran mereka juga.


"Kamu pasti bisa masak juga ya?" tebak Tante Hana.


"Enggak Tan, aku kalau masak sama sekali enggak bisa. Goreng telur aja kayanya enggak bisa Tan. Aku bisa buat kue juga belum lama, itu pun karena Mama yang ngajarin," jelas Gita sambil sesekali menatap Tante Hana, sebab dirinya masih fokus mengolah bahan kue.


"Kalau gitu lain waktu Tante ajarin masak deh, mau masak apa saja Tante bisa, tapi kalau buat kue selalu gagal, padahal nih ya resep dan takarannya sama, tapi tetap saja kalau Tante yang buat jadinya enggak enak, kadang bantet, kadang sama sekali enggak ada rasanya, jadi males kalau mau buat lagi," sambung Tante Hana.

__ADS_1


Dan Gita hanya tersenyum menanggapi, dia terlalu fokus dengan adonan dihadapannya.


Cukup lama mereka berjibaku dengan tepung dan kawan-kawannya, hingga menghasilkan dua buah kue bolu yang cukup menggiurkan.


Tante Hana langsung mencicipi kue tersebut dan menilainya. Wanita itu kembali memuji kue buatan Gita seperti semalam. Sedangkan yang dipuji hanya tersenyum canggung, menurutnya Tante Hana terlalu berlebihan, sebab kue buatan Mama lebih enak dan lembur dari buatannya.


🥀🥀🥀


"Kamu jadi mirip Salma, tapi kayaknya dia lebih pendek dan lebih berisi ya, baju dia aja kependekan di kamu dan sepertinya kebesaran dikit," ujar Salman pada Gita.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil. Ya, tadi Gita memilih berganti baju sebab pakaiannya terkena tepung hingga tak berbentuk. Sebab Salma dan Alya rusuh saat membaut kue tadi, kedua gadis itu malah bermain tepung setelah tugas mereka selesai.


"Cantikan Salma kak, dia itu anggun enggak kaya aku," timpal Gita yang sudah tidak terlalu canggung dengan Salman, sebab mereka tadi sempat berbincang saat masih berada di rumah pemuda itu.


"Tapi kamu juga cantik," Salman melontarkan pujian yang membuat Gita merona.


"Eheem! Kagak enak banget jadi kacang! Apalagi kalau kacang lupa kulitnya!" seru seseorang yang berada di jok belakang. Merasa diabaikan oleh dua insan yang duduk di jok depan.


"Ingat woy ada yang duduk di belakang, dan masih jomblo!" tambahnya.


"Ngapain malu coba? Gue masih pake baju lengkap!" ujar Alya.


"Astaga Alya! Mulut Lo!" Gita merasa malu sendiri dengan tingkah Alya yang ceplas-ceplos tanpa filter.


Salman hanya terkekeh mendengar perdebatan kedua sahabat itu, bagi dirinya sudah biasa jika sesama sahabat akan melontarkan kata-kata seperti itu, sebab dirinya juga sama saat bersama sahabatnya.


Tak lama mereka sampai di depan rumah Alya. Ya, mereka mengantar Alya pulang terlebih dahulu, sebenarnya gadis itu ingin pulang sendiri tapi Gita memaksa untuk ikut bersamanya. Dengan alasan tak enak berdua saja dengan Salman.


"Udah sono turun! Udah di tunggu tu sama Mang Acep katanya rindu berat sama Neng Alya," ujar Gita yang membuat Alya berdecak.


"Iya gue turun! Takut amat sih gue ganggu. Dan soal Mang Acep itu emang kerjaannya bukan kerena nungguin gue." Alya keluar dari mobil Salman.


Gita hanya terkekeh mendengar ocehan Alya.


"Hati-hati di jalan kalian berdua, jagain Gita ya Bang Salman, soalnya dia bakalan kabur kalo talinya lepas," ucap Alya lewat kaca jendela yang sengaja di buka oleh Salman.

__ADS_1


"Emang gue monyet?" protes Gita.


"Nah itu Lo tahu." Alya terbahak dan lari masuk ke dalam gerbang rumahnya, tak ingin di serang oleh Gita.


Ternyata Salman ikut tertawa dengan tingkah Alya, membuat Gita cemberut.


"Maaf, aku jadi ikut ketawa, kalian lucu sih," ujar Salman saat menyadari kekeruhan di wajah Gita.


"Terserah Kak Salman lah," jawab Gita cuek.


Salman jadi merasa bersalah membuat gadis itu merajuk, entah benar-benar merajuk atau hanya bercanda entahlah, tapi tetap saja membuat dirinya merasa bersalah.


Tak berselang lama mereka sampai di rumah Gita, tapi gadis itu masih diam, dan sejak tadi Salman selalu bertanya tapi Gita menjawab dengan singkat dan jelas.


"Makasih Kak, aku masuk dulu," ucap Gita saat akan membuka pintu mobil.


"Tunggu, kamu enggak ngajakin aku mampir?" tanya pemuda itu.


Gita menatap Salman sebentar, "Yaudah ayo kalau mau mampir," jawabnya.


Salman ikut turun mengikuti langkah Gita masuk ke dalam rumah.


"Gita, aku minta maaf kalau kamu marah gara-gara gurauan Alya tadi. Serius aku hanya terbawa suasana bukan bermaksud meledek kamu juga, kamu itu cantik enggak seperti apa yang dikatakan Alya tadi," ujar Salman saat mereka sudah berada di teras rumah.


"Eheem!" terdengar suara seseorang dari dalam rumah.


"Makasih udah antar Gita pulang dan sepertinya tidak perlu mampir karena sudah malam," tambahnya dengan wajah datar, seseorang itu tak lain adalah Indra. Entah sejak kapan pemuda itu ada di sana.


"Bang! Apaan sih?" Gita tidak suka melihat Indra bersikap seperti itu, menurutnya sangat tidak sopan, seakan-akan mengusir Salman secara halus.


"Kak maaf atas sikap Abangku ya, dan terimakasih udah ngaterin aku pulang." Gita merasa bersalah dengan Salman karena ulah Indra.


Salman tersenyum, "Enggak apa-apa, Abang kamu mungkin khawatir karena jam segini kamu baru pulang," Salman mencoba berfikir positif dengan sikap Indra, ini kedua kalinya bertemu dengan Indra dan wajah pemuda itu nampak sama seperti saat pertama bertemu waktu itu.


🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2