Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Kesal


__ADS_3

"Apa perlu ya gue cari nyokap?" pertanyaan Riky membuat Gita yang sedang fokus dengan ponselnya menoleh seketika. Tak menyangka pemuda di hadapannya ini akan membahas masalah tadi, Gita kira Riky belum mau membahasnya.


Baru saja Gita akan membuka suara, Riky lebih dulu menjawab pertanyaannya sendiri.


"Ah enggak perlu sepertinya ya, dia aja udah buang gue, dan pasti sudah enggak inget sama gue," ucapnya.


Gita menghela nafas, dia meraih tangan Riky dan membuat pemuda itu menatapnya. "Keputusan ada di kamu Ky, Kakak selalu dukung apa yang jadi keputusan kamu," ucapnya membuat Riky mengangguk.


"Makasih Kak," ucap Riky tulus.


"Gue enggak habis pikir aja, kenapa mereka nyembunyiin hal sepenting ini? Kecewa banget gue," Riky mengeluarkan unek-uneknya yang sejak tadi ditahan.


Gita menghela nafas mendengar keluhan Riky, dia tahu pemuda di hadapannya ini pasti sangat kecewa.


"Mereka pasti punya alasan tersendiri Ky, percayalah mereka melakukan itu untuk kebaikan kamu," Gita berharap sekecewa apapun Riky, dia bisa memaafkan keluarganya.


Riky mengangguk, "Gue jadi teringat Mami Indah, udah lama banget gue enggak mengunjunginya," ucap Riky, dia teringat dengan seorang ibu yang ikhlas membesarkan dirinya meskipun bukan darah daging sendiri.


"Gue juga pengen kenalan sama Mami Indah, lusa kita ke sana," putus Gita, dia juga ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir Bundanya Indra itu, meskipun tidak pernah bertemu, dia yakin Bunda Indah adalah wanita yang sangat baik.


"Lo tahu Kak, orang yang paling gue sayang itu Mami Indah, karena Mami selalu saja buat gue tidak merasa asing dengan keluarga gue sendiri." Riky mengingat beberapa tahun lalu sebelum kepergian wanita yang sangat berarti dalam hidupnya itu.


"Mami selalu bisa buat gue tersenyum saat tak dianggap sama Oma, tapi setelah kepergian Mami tidak ada lagi yang belain gue, dan itu buat gue males datang ke rumah Oma, karena akan mengingatkan akan tidak adilan itu, tenyata alasan Oma karena benci sama nyokap kandung gue," Riky menghela nafas berat, entah kenapa dadanya terasa sesak saat mengingat semua itu.


"Ayo pulang Kak, gue enggak mau ambil resiko." Riky tak ingin melanjutkan suasana melow tersebut, dia tak mau terlihat cengeng dihadapan Gita. Sebab tiap mengingat Mami Indah, dia lemah, air matanya pasti akan kembali mengalir mengingat wanita baik hati itu.


Gita mengernyitkan dahi, "Resiko?" tanyanya.


"Resiko dapat hadiah bogeman dari dua pengawal Lo." Riky berdiri diikuti oleh Gita.


Gadis itu masih tidak mengerti dengan apa yang Riky katakan, "Maksudnya apa sih Ky?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Bang Hafidz sama Bang Indra," jawab Riky.


Gita menghela nafas dan mengangguk, ternyata malam makin larut dan mungkin itu sebabnya Riky mengajak pulang.


"Gue bayar dulu." Gita berlalu menuju kasir untuk membayar semua makanan yang tadi mereka pesan.


"Ayo!" ajak Gita setelah kembali mendekati Riky.


Mereka pun meninggalkan cafe tersebut menuju apartemen. Selama perjalanan tidak ada perbincangan sedikit pun, sebab Gita sudah memejamkan mata sejak lima menit keluar dari cafe.


"Lo cantik dan baik, tapi sayang bukan gue yang Lo pilih." Riky menatap Gita dan mengelus puncak kepala gadis itu pelan, tak ingin mengangguk tidur gadis di sampingnya ini.


Bohong jika Riky dengan mudah melupakan gadis ini, rasa cinta itu masih ada meskipun tak seperti dulu, sebab Gita adalah cinta pertamanya. Selama ini dia tak pernah menyukai seorang gadis, tapi saat pertama melihat Gita, dia langsung jatuh hati dengan gadis ini. Entah apa alasannya, dia sendiri tidak tahu, tapi kini cinta itu hanya akan dia simpan untuk dirinya sendiri saja.


Riky membangunkan Gita saat mereka tiba di basment apartemen, "Udah sampai ya, kok cepet?" tanya Gita, sebab dia merasa baru saja memejamkan mata, tapi kenapa mereka sudah sampai di apartemen saja.


"Orang tidur mana sadar," celetuk Riky kemudian keluar dari mobil dan diikuti oleh Gita.


Benar dugaan Riky, saat sampai di apartemen Indra, pintu apartemen terbuka terlihat ada dua orang yang sedang menunggu kedatangan mereka berdua. Meraka sama-sama menatap keduanya tajam, tapi Riky tidak peduli dia memilih ikut duduk di sofa dan menyandarkan kepala di sandaran sofa.


"Pacaran," jawab Riky asal, membuat Gita melotot.


"Ngaco! Jangan percaya sama dia Bang, aku tadi nemenin dia makan, takut dia nyasar kalo enggak aku temenin." Gita menatap Indra yang juga menatapnya, dia tahu pemuda yang berstatus kekasihnya itu kesal dengan apa yang dia dan Riky lakukan.


"Gitu aja jealous!" sindir Riky.


Sedangkan Hafidz memilih diam menyimak perdebatan sepasang kekasih di hadapannya ini, dia tak berminat untuk membela siapa pun, biarkan mereka menyelesaikan masalah sendiri.


Indra mendengus mendengar ucapan Riky, tapi apa yang dikatakan adik nya itu benar adanya, dia cemburu sebab dia sangat tahu jika Riky dulu pernah mencintai Gita, meskipun Gita tak menanggapinya.


"Abang apaan sih? Sama Riky aja cemburu!" Gita kesal dengan sikap Indra yang menurutnya berlebihan.

__ADS_1


"Ayo pulang Bang, aku ngantuk." Gita menarik saudara kembarnya yang sejak tadi membisu, Hafidz pun menurut dia juga yang berpamitan pada kakak beradik itu sebelum keluar dari apartemen Indra.


Melihat Gita dan Hafidz pergi, Indra hanya bisa menghela nafas, lalu melirik Riky yang duduk dihadapannya, pemuda itu tersenyum miring melihat abangnya melirik tak suka.


"Jangan ulangi lagi!" cetus Indra dan berlalu dari tempat itu.


Riky tersenyum miring melihat kepergian sang Abang, dia baru tahu jika abangnya begitu posesif, padahal dulu dia dan Gita sering pergi bersama dan tidak terjadi apa pun diantara keduanya, tapi kenapa abangnya sekarang bersikap seperti itu, menyebalkan bukan?


Gita mendengus berulang kali, tak habis pikir dengan respon Indra yang menurutnya berlebihan.


"Sama adik sendiri aja cemburu, apa-apaan sih dia," ujar Gita yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


Hafidz terkekeh mendengar ucapan adiknya, dia juga merasa lucu dengan sikap Indra yang terlalu berlebihan.


"Jangan ngetawain!" Gita menatap Hafidz horor tapi abangnya itu justru tergelak mendengar ancaman adiknya.


"Abang!" Gita melempar bantal sofa ke 2ajah Hafidz tapi langsung ditepis oleh pemuda itu.


"Kalian lucu, kaya anak kecil tahu, enggak? Tapi bagus sih Indra, biar kamu enggak gampang deket sama siapa pun," ucap Hafidz.


"Tau ah! Aku mau tidur!" Gita meninggalkan Hafidz yang masih duduk sendirian.


Hafidz menghela nafas, "Semoga Indra laki-laki yang tepat buat kamu," gumamnya, harapannya begitu besar dengan Indra.


Di dalam kamar, Gita melempar ponselnya setelah membaca pesan dari Indra yang meminta maaf, dia tidak mau Indra meminta maaf lewat pesan, menurutnya permintaan maaf palsu jika sepeti itu.


Ponselnya kembali berdering, kini Indra menghubunginya, tapi dia langsung memencet tombol merah, dan mengubah mode pesawat pada ponselnya. Biarkan saja, dia masih kesal dengan Indra.


Indra pemuda itu hanya bisa menghela nafas berulang kali setelah panggilannya dimatikan oleh Gita, dan kini nomor kekasihnya itu tak bisa dihubungi lagi. Dia besok harus bisa membuat gadis itu tidak mode ngambek lagi, apa pun itu caranya, sebab beberapa hari ke depan mereka akan LDR an lagi entah sampai berapa lama.


.

__ADS_1


.🥀🥀🥀🥀


Maaf kemarin tidak up, entah kenapa rasanya kurang semangat mau nulis. Terimakasih yang selalu setia dengan kisah Gita-Indra.


__ADS_2