Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Lampu Merah


__ADS_3

Seorang gadis berjalan melewati koridor sebuah bangunan yang banyak dipenuhi orang berseragam, tak jarang berpapasan dengan seseorang yang berjalan dengan bantuan dua roda yang menopang bobot tubuhnya. Gadis itu tampak sedikit kebingungan sebab untuk pertama kalinya dia datang ke tempat tersebut dengan tujuan yang tak seperti orang pada umumnya.


"Maaf Mbak, boleh tanya?" ucap gadis itu saat berpapasan dengan seseorang berpakaian serba putih. Dia terpaksa bertanya sebab seseorang yang akan dia temui tak bisa di hubungi, padahal mereka sudah membuat janji sebelumnya.


"Boleh Mbak," jawab seseorang itu.


"Em, dimana ruangan dokter Salman ya?" tanyanya.


Ya, gadis itu adalah Gita, dia datang ke rumah sakit sesuai permintaan sang kekasih yang tidak bisa menjemputnya ke kampus karena masih ada pekerjaan.


"Mbak jalan terus aja sampai mentok, nanti ada dua jalur kanan dan kiri, Mbak ambil arah kiri, Mbak cari aja ruangan atas nama dokter Salman, di sana ada tulisannya. Tapi sepertinya saat ini dokter Salman sedang di ruang operasi, mungkin setengah jam lagi baru keluar," jelas suster tersebut.


"Terimakasih Mbak, saya akan menunggunya." Gita meninggalkan suster tersebut menuju ruangan Salman.


Tak butuh waktu lama dia sudah berada di depan ruangan sang kekasih, tapi dia bingung harus masuk atau tidak. Jika masuk rasanya tak sopan, meskipun tadi Salman sudah menyuruhnya untuk menunggu di dalam ruangan, tapi jika tidak, selama setengah jam bahkan lebih dia akan seperti orang hilang yang tak tau arah tujuan.


"Nak Gita, kamu di sini?" Gita menoleh ke arah sumber suara, dia tadi sempat mendengar ada seseorang yang membuka pintu ruangan sebelah.


"Eh iya Om, Kak Salman yang nyuruh aku ke sini, tapi katanya dia sedang operasi," jawab Gita setelah menyalami dan mencium punggung tangan orang tersebut.


Orang itu mengangguk, "Masuk aja, tunggu di dalam." Orang itu yang tak lain Papanya Salman membuka pintu ruangan sang anak lalu mempersilakan Gita untuk masuk.


"Om tinggal ya, Salman sebentar lagi pasti datang,"


Gita mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih sebelum calon mertuanya itu keluar, yah mereka sudah sedekat itu, apalagi setelah hampir dua Minggu jadian Salman sering mengajaknya ke rumah dengan alasan permintaan sang Mama. Padahal Gita tahu jika itu hanya alasan Salman saja supaya terus dekat dengannya, tak mungkin jika Salman sering berada di rumahnya, sebab merasa kurang nyaman, begitu pun Gita, dia merasa kurang nyaman jika Salman berlama-lama di rumah Papa sambungnya itu. Tapi mereka akan menghabiskan banyak waktu jika berada di rumah Mama, tapi tentu mereka tidak hanya berdua sebab kedua sahabat gadis itu selalu mengekor kemanapun Gita pergi.


Gita melihat sekeliling ruangan tersebut, ruangan bercat putih itu tidak ada yang spesial menurutnya. Hanya ada satu set sofa, satu meja kerja beserta kursinya. Dan ada sebuah pintu, entah di dalam sana ada ruangan apa, tentu Gita tak selancang itu sampai berani membukanya.


Fokusnya kini ke meja kerja pemuda itu yang tampak rapi, di atas meja hanya ada dua bingkai foto, kalender dan buku catatan serta pelengkapnya. Gita meraih sebuah bingkai foto yang terpampang wajahnya, dia jadi malu sekaligus terharu melihat ada fotonya di ruangan sang kekasih. Dia ingat foto itu diambil di pinggir danau setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Foto mereka berdua yang sedang tersenyum menatap kamera.

__ADS_1


Beralih ke bingkai yang satunya, ternyata foto keluarga, sepertinya sudah lama gambar itu diambil, sebab wajah Salma masih terlihat seperti anak remaja yang baru masuk SMA atau mungkin saat gadis itu masih menyandang status anak SMP, entahlah.


Gita duduk di kursi kerja Salman, setelah meletakkan bingkai foto terakhir. Perasaan bosan mulai menerpanya, dia pun memilih untuk membuka ponsel, berharap mengurangi rasa bosan yang menghinggap.


"Maaf ya sayang, kamu pasti udah nunggu lama." Salman masuk ke dalam ruangan tersebut, membuat Gita sedikit terkejut pasalnya tak mendengar pintu itu dibuka, mungkin saking asiknya bermain di dunia maya.


Gita tersenyum lalu menggeleng, "Enggak kok, aku baru aja datang," ucapnya. Gita menatap lelaki itu yang terlihat lebih tampan menurutnya jika mengenakan snelli atau jas berwarna putih itu. Dan ini pertama kalinya Gita melihat penampilan Salman yang seperti itu.


Salman mengacak rambut Gita dengan gemas, "Bentar aku ganti baju dulu ya." Salman berlalu masuk ke dalam ruangan yang tadi tertutup itu.


Tak butuh waktu lama, Salman sudah keluar dari ruangan tersebut dengan pakaian berbeda dari sebelumnya, wajahnya juga terlihat lebih fresh, sepertinya pemuda itu baru saja mencuci wajahnya, terlihat dari rambut depannya yang masih sedikit basah.


"Masih betah di sini atau mau pergi sekarang?" tanyanya, mendekat ke arah Gita yang masih betah duduk di kursi kerjanya.


Gita beranjak dari duduknya sambil tersenyum canggung, "Sekarang aja Kak, aku janjian sama pemilik toko jam empatan, ini udah jam tiga lewat, takut kita telat nanti," ujarnya.


"Bentar." Salman menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


Gita mencubit pinggang Salman, membuat si empunya mengasuh tapi tak sedikit pun melonggarkan pelukannya.


"Bilang aja modus. Udah Kak, kita bisa telat nanti." Gita melepas paksa pelukan tersebut, sebab Salman sepertinya masih enggak melepasnya.


Salman terkekeh, kembali menarik gadis itu dalam pelukannya membuat Gita protes. Tapi hanya sebentar sebab mereka memang mengejar waktu, karena tempat yang akan mereka datangi ini lumayan jauh dan memakan cukup banyak waktu diperjalanan.


Keduanya berjalan bersama, dengan bergandengan tangan. Tak sedikit yang memperhatikan mereka, bahkan ada yang menggoda saat mereka berpapasan dengan rekan kerja Salman. Ada juga yang mengatakan jika mereka berdua sangat serasi, ya meskipun Gita tahu jarak umur mereka cukup jauh. Tapi tentu dia tak peduli dengan hal tersebut.


Dibalik kehebohan tersebut, ada sepasang mata yang terus memperhatikan keduanya yang kini berjalan makin dekat dengannya.


"Dok," Taka menyapa Salman dengan sopan, meski dia cemburu melihat dua insan tersebut, tapi tentu dia tak boleh bersikap berlebihan.

__ADS_1


"Ah iya Yan, Saya pulang dulu. Laporan kalian akan saya periksa besok, bilang sama yang lain juga ya," Salman berhenti sejenak, berbicara dengan Taka.


Setelah Taka mengiyakan, mereka berdua kembali berjalan meninggalkan rumah sakit itu.


Gita sebenarnya tahu jika Taka menatap mereka dengan tatapan cemburu, tapi dia tak peduli. Biarkan Taka sakit hati, toh dia sendiri yang membuat hatinya sakit, kan? Bahkan Gita merasa Taka masih menatap mereka berdua hingga menghilang dibalik tembok.


"Gimana sidangnya? Dapat jadwal kapan?" tanya Salman saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Kayaknya aku sama Salma bakalan bareng deh, kalau enggak ya beda hari lah. Bulan depan, itu pun ditanggal akhir," jawab Gita sendu. Ingin rasanya dia menyudahi skripsi yang membuatnya pusing berbulan-bulan.


Salman mengusap puncak kepala Gita dengan satu tangannya, "Sabar, bulan depan itu enggak lama lagi. Atau jangan-jangan kamu udah enggak sabar pengen dihalalin nih?" tebak Salman.


"Itu sih maunya Kakak," cetus Gita.


Salman tersenyum lalu menatap sang kekasih dengan gemas, untung saat ini mereka sedang berhenti di lampu merah.


"Maaf ya Kak, aku bukannya tidak mau menikah sekarang, tapi aku ingin menikah ketika hatiku sepenuhnya sudah menjadi milik Kakak. Kalau pun misalnya besok hatiku benar-benar sudah menjadi milik Kaka, aku pasti langsung mau diajak menikah. Maaf sekali Kak, aku tahu ini menyakitkan buat Kak Salman," Gita menyesal mengatakan hal itu, sebab raut wajah Salman kini sedikit berubah.


Salman tersenyum, meski Gita tahu senyuman itu tak setulus tadi. "Sudah, jangan pikirkan hal itu," ucapnya.


Tentu Gita tak bisa berbicara apa pun. Yang dia lakukan justru melepas sabuk pengaman di tubuhnya. Membuat Salman bingung sekaligus khawatir, takut Gita keluar dari mobil. Tapi ke khawatirannya berubah jadi gemas setelah tahu apa yang dilakukan gadis itu padanya. Dan lihatlah sekarang wajah gadis itu begitu merona, dan tak mau menatapnya, membuatnya tersenyum kemudian menyentuh wajah manis itu.


"Mau lagi dong, masak cuma sekali," ucapnya menggoda Gita.


Gita merutuki kebodohannya sendiri, sebab dengan beraninya dia mengecup pipi pemuda itu. Entah kenapa melihat wajah Salman berubah jadi sendi, dia ingin wajah itu kembali ceria seperti tadi.


"Lampunya udah ijo Kak, jangan lihat ke sini lagi, atau kita akan kembali ke rumah sakit lagi," celetuk Gita. Untung saja lampu rambu lalulintas sudah berubah warna, itu artinya Salman tidak bisa menggodanya lagi sekarang.


Salman terus menyunggingkan senyuman sambil sesekali melirik ke arah Gita yang masih enggan menatapnya. Dia bersyukur, itu artinya sudah ada kemajuan dengan perasaan Gita, dia jadi semakin yakin jika tak lama lagi mereka akan menjadi sepasang suami istri.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2