
Hari minggu pertama di tempat ini, membuat seorang gadis begitu bersemangat mengawali hari, seperti anak kecil yang sedang menikmati libur sekolah, bangun lebih awal dan bersiap untuk main bersama teman-temannya atau melakukan hobinya. Gadis yang sudah menginjak umur lebih dari dua puluh dasawarsa itu juga begitu antusias saat semalam dijanjikan pergi jalan-jalan.
Tapi kebahagiaannya itu harus pupus saat sarapan pagi bersama Abang dan Papanya.
"Nanti Hafidz ikut Papa ketemu sama klien, bersiap ya. Nanti kita berangkat jam sembilan," ucapan sang Papa membuat gadis itu cemberut dan mendengus kesal.
"Hari minggu masih kerja juga Pa? Kapan aku keluarnya? Selama beberapa hari di sini aku sama sekali belum keluar lho," nada protes itu disampaikan oleh anak gadisnya.
"Maafkan Papa ya, kali ini aja. Dua atau tiga hari lagi Papa sudah harus kembali, Abang mu kalau enggak hari libur enggak ada waktu sama sekali, sedangkan klien Papa ini sangat ingin bertemu dengan Abang mu," ternyata tak semudah itu protes dengan sang Papa, keputusan pria yang statusnya sebagai Ayah kandungnya itu tidak bisa diganggu jika masalah pekerjaan.
"Baiklah, aku mau tidur aja." Gita mendorong kasar kursi yang dia duduki dan meninggalkan ruang makan tersebut tanpa kata.
Papa menghela nafas, putrinya itu masih sama seperti dulu, meskipun usianya sudah menginjak dewasa.
"Kamu tahu sifat keras kepalanya itu menurun dari siapa?" tanya Papa pada sang putra.
Dan Hafidz tentu mengangguk, "Dari Papa pastinya," jawabnya yang membuat sang Papa terkekeh, ternyata putranya itu sudah memahami sifat keras kepalanya.
"Tapi Papa bersyukur, setelah semua yang kita lewati dan dia memilih ikut Mama mu, tapi sifatnya masih sama saat bersama Papa, itu artinya rasa sayang Gita ke Papa masih sama seperti dulu." Papa menghela nafas menjeda ucapannya, "Nanti ajak adikmu sekalian, Papa akan ubah jadwal pertemuan di pusat perbelanjaan saja, biar dia bisa belanja sepuasnya saat kita mengadakan pertemuan nanti," putus Papa akhirnya.
Hafidz tentu sangat setuju sekali dengan ide sang Papa, karena dia sebenarnya tidak tega melihat Gita terkurung di apartemen selama beberapa hari ini. Mungkin dengan cara seperti ini gadis itu akan sedikit terhibur.
"Ayo bersiap, Papa mengajak mu ikut serta. Nanti kamu bisa belanja, tapi sendiri dulu ya, kalau Abang sudah selesai nanti Abang nyusul," ucap Hafidz pada sang adik saat dia sudah menyusul ke kamarnya.
"Udah males, Papa gimana sih? Enggak pengertian banget, di sini aku tu mau mendengarkan diri, menghibur diri, eh malah di kurung di tempat ini. Siapa yang enggak kesel coba?" Gita bersungut-sungut, dengan gerakan tangannya meninju udara, kesal.
"Ikut aja, kata Papa kliennya ini punya anak cewek seumuran kamu, dia baru lulus kuliah S1 juga, siapa tahu nanti kalian bisa akrab," Hafidz menyampaikan apa yang dikatakan oleh sang Papa tadi.
__ADS_1
Meskipun sedikit malas, Gita tetap bersiap ikut dua pria itu, dari pada di rumah sendiri, kan?
Wajah cemberut terus terpancar dari gadis yang kini duduk kursi belakang bersama sang Kakak. Senyumnya tak terlihat sedikit pun sejak mereka keluar dari apartemen, membuat sang Papa hanya bisa menghela nafas, pasrah. Putrinya memang seperti itu, sangat bertolak belakang dengan putranya yang selalu siap menerima apa yang diperintahkan. Belajar bisnis di negara ini, itu adalah permintaanya, putranya itu tidak menolak sama sekali, bahkan belajar dengan baik. Mengikuti semua yang dia katakan, untuk memperkuat ilmunya dengan mencari pengalaman secara langsung, dan itu pun dilakukan oleh putranya itu. Meskipun terkadang dia merasa sangat bersalah, tapi toh semua itu juga demi masa depan putranya, kan?
Tapi untuk sang putri, tentu dia tak mau menekan seperti itu, biarlah putri cantiknya itu memilih apa yang dia inginkan. Sebab dia sangat tahu betul seperti apa sifat putrinya, jika di kekang gadis itu akan berontak. Biarlah dia egois dengan memperlakukan berbeda dua anaknya, dan itu semua demi kebaikan.
Tepat seperti yang dikatakan sang Kakak, klien Papa kali ini membawa ikut serta putrinya, gadis bule dengan ciri khas kulit putih dan rambut pirangnya, tapi postur tubuh gadis itu tak setinggi perempuan di negeri ini, bahkan bisa dikatakan tingginya hampir sama dengan Gita.
"Selamat datang tuan Renald. Oh ini putra dan putri anda? Mereka sangat mirip, apakah kembar?" Jhon terlihat antusias saat melihat dua anak rekan bisnisnya itu.
"Iya mereka kembar, terimakasih Tuan Jhon, dan maaf kami terlambat," sambung Papa.
Kedua pria paruh baya itu memperkenalkan anak mereka masing-masing. Seakan sudah mengerti gadis berambut pirang tersebut mengajak Gita meninggalkan tiga pria tersebut.
"Dady bilang katanya kamu baru beberapa hari datang ke sini, dan butuh teman untuk melihat keindahan kota ini, ayo aku siap mengantarmu kemana pun." Gadis ini justru terlihat lebih antusias dari pada Gita yang masih bengong mendengar penuturan gadis berambut pirang itu dengan bahasa ibunya dengan logat Inggris.
"Hey! Jangan seperti orang bodoh gitu. Oh, kamu pasti bingung kenapa aku bisa lancar bahasa Indonesia?" Gita tentu mengangguk.
"Baiklah Lucy, mungkin kita bisa berteman," sahut Gita sambil tersenyum.
"Tentu saja, aku senang berteman dengan mu," Lucy membalas senyuman Gita, "Ayo kita belanja, habiskan uang Dady mu yang kaya raya itu," tentu ucapan itu hanya bercanda.
Keduanya terlihat seperti dua orang yang sudah lama berteman, apalagi sifat Lucy yang ceria dan mudah menerima orang baru itu membuat Gita terlihat nyaman di dekat gadis bule tersebut.
"Aku iri denganmu, di usia mu seperti ini sudah memiliki usaha sendiri, sedangkan aku masih menjadi beban orang tua," ujar Gita saat Lucy menceritakan dirinya sudah memiliki usaha kecil-kecilan, dan sudah dia tekuni saat masih kuliah semester dua.
"Sebenarnya itu karena tuntutan, Dady yang tidak memiliki anak laki-laki, memaksaku untuk belajar bisnis sejak masih sekolah, dan aku tak bisa menolaknya. Mungkin Papa mu juga melakukan hal sama dengan Kakak kembar mu itu," Gita mengangguk, benar apa yang dikatakan Lucy, dan dia sangat beruntung dibebaskan memilih apa yang dia inginkan.
__ADS_1
"Benar sekali, kadang aku kasian dengan Abang, dia kuliah dia juga kerja, padahal Papa selalu memberinya uang jajan. Ternyata dia bekerja juga karena ingin menambah wawasan tentang bisnis, dan aku yakin itu juga atas permintaan Papa," Gita menatap kosong gedung tinggi dihadapannya.
"Tapi kulihat Kakak mu itu tidak keberatan sama sekali, dia enjoy sepertinya," Lucy bisa menilai meski hanya sebentar melihat Hafidz tadi.
"Benar, dia sangat menikmati kehidupannya sekarang, ya meskipun aku sedikit kesal karena beberapa hari ini dua laki-laki itu seperti tak mempedulikan ku, hanya kerjaan yang mereka urusi," Gita berdecak kesal mengingat semuanya, tapi itu tak berlangsung lama, dia kembali ceria saat Lucy kembali mengajaknya berbelanja.
Sedikit banyak sudah mengalihkan dunia seorang Sagita Atmawijaya yang sedang dalam mode patah hati. Ah, dia rasanya tak ingin memasukkan semua ini dalam kategori patah hati, terlalu berharga hatinya patah hanya karena seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab. Seseorang yang sudah melambungkannya ke langit, lalu menjatuhkannya hingga dasar lautan, sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya jika pemuda itu akan sangat tega dengannya.
🥀🥀🥀🥀
Salman termenung memikirkan semua permasalah ini, menyesal entah kenapa sekarang menghinggapi hatinya. Entah itu karena Gita, atau karena dia yang akan pergi bertugas di luar kota, bahkan luar pulau. Jika seperti itu dia tentu akan sulit bertemu dengan Claudia, padahal dia berharap kali ini tak akan berjauhan lagi dengan wanita itu, cukup waktu itu saja dan membuatnya kehilangan Claudia. Sekarang dia tak ingin kehilangan wanita itu.
"Lau, mari kita menikah. Supaya kita selalu bersama, rasanya aku tak sanggup serjauhan dengan mu," pemuda itu memutuskan mendatangi Claudia di rumahnya.
"Tapi Man, kedua orang tua mu pasti tidak akan setuju. Apalagi dalam situasi seperti ini, aku enggak mau dibilang perebut ruangan orang, ya meskipun semua orang tahunya seperti itu, padahal aku tidak ikut andil dalam masalah putusnya pertunangan mu," tolak Claudia.
Salman menghela nafas, "Apa kamu mau menungguku sampai kedua orang tuaku merestui, kita. Aku akan membujuk mereka, karena aku tak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya," pinta Salman.
Claudia tersenyum lalu mengangguk, "Asal jangan lama-lama, dan diusahakan kamu tinggal di sini lagi, karena aku tidak tega jika meniggalkan ibu dan adik ku. Aku juga tidak mau jauh dari putraku, meskipun hanya seminggu sekali kami bisa bertemu," wajah Claudia berubah sendu saat mengingat putra kecilnya yang kini tinggal bersama sang Ayah, mantan suaminya.
"Secepatnya kita akan mendapatkan restu, aku yakin itu." Salman terlihat yakin, meskipun sebenarnya dia masih ragu apalagi saat mengingat kemarahan sang Papi, ah tidak hanya Papi tadi juga Mami yang selalu bersikap dingin terhadapnya setelah masalah ini terjadi.
"Minggu depan kamu harus mengantarku sampai ke Medan, aku yang akan mengurus ijin kerjamu."
"Kamu selalu seperti itu, baiklah aku akan ijin sama Ibuku, semoga beliau mengijinkan." Claudia tentu menyetujui permintaan bernada paksaan itu.
"Ibu pasti setuju," sambung Salman.
__ADS_1
Sesuai ucapan sang Papi, Salman benar-benar di pindah ke luar kota, mulai minggu depan dia sudah resmi pindah ke kota Medan. Terpaksa dia menurut, sebab itu hukuman yang harus diterima. Tentu dia tahu, sang Papi tak akan membuangnya begitu saja, sebab dialah penerusnya yang akan mengembangkan rumah sakit milik keluarganya itu ke depan. Salma tidak mungkin, apalagi sepupunya yang juga lebih memilih lintas profesi dari para orang tua mereka. Dan itu tentu membuatnya bernafas lega, dan berfikir dia tak mungkin dia buang oleh sang Papi.
🥀🥀🥀🥀🥀