
Indra terlihat gusar tidak fokus dengan pekerjaannya, pasalnya Gita tidak bisa dihubungi sejak dua hari lalu. Memang dua hari lalu gadis itu mengatakan sedang ada kegiatan kampus, mungkin dia tidak bisa dihubungi untuk sementara waktu. Tapi tetap saja perasaan pemuda itu tak bisa dibohongi, dia khawatir.
Tengah hari saat istirahat makan siang, dia kembali mencoba menghubungi gadis yang telah memenuhi hatinya itu, tapi tetap sama bahkan ponsel gadis itu tidak aktif. Padahal biasanya mereka akan berbicara panjang lebar saat makan siang seperti ini, saling mengungkapkan rasa rindu yang kian membelenggu.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu enggak bisa di hubungi? Jangan buat aku khawatir gini dong!" gumam Indra, rasa laparnya telah menghilang tertutup dengan rasa khawatir berlebihan. Makanan yang sudah dia pesan ditinggal begitu saja tanpa tersentuh sedikit pun, tapi dia tetap membayarnya.
"Mbak makanan saya masih utuh, sama sekali belum saya sentuh, jadi masih bersih. Sayang kalau di buang, buat Mbaknya makan siang aja," ujar Indra saat membayar makanannya, mubadzir bukan jika makanan yang masih utuh itu harus di buang.
"Kenapa Mas Indra enggak makan? Makanannya enggak enak ya Mas?" pemilik kantin itu ternyata mendengar ucapannya.
"Ah enggak Buk, makanan ibu selalu juara, hanya saja tiba-tiba lapar saya hilang," Indra mengenal baik wanita pemilik kantin itu, sebab setiap makan siang di kantin dia sesekali mengobrol dengan pemilik kantin itu.
"Ini pasti gara-gara cewek nih," tebak pemilik kantin itu.
"Ah ibu bisa aja," sangkal Indra, padahal dalam harinya dia membenarkan ucapan ibu kantin tersebut. Setelah itu Indra berpamitan dan kembali ke ruangannya.
Untung saja hari ini sang Opa tidak mengajaknya bertemu dengan klien, jika iya sudah dipastikan dia akan mendapatkan tausiah panjang dari sang Opa karena tidak fokus dalam bekerja.
Hingga sore hari, Indra sama sekali belum bisa menghubungi gadis pujaan hatinya itu. Padahal tidak tahu saja dia, jika gadis itu kini sedang asik sendiri di apartemennya. Indra memutuskan untuk pulang lebih awal, biasanya dia akan mampir membeli makanan terlebih dahulu untuk makan malam, tapi sekarang rasanya dia benar-benar belum ingin makan. Meskipun perutnya terasa lapar, tapi semua itu terkalahkan oleh rasa khawatir.
Dia sudah menghubungi Hafidz, menanyakan tentang Gita yang tak bisa dihubungi, tapi pemuda itu hanya mengatakan, "Gita baik-baik saja," seperti tak ada rasa khawatir sedikit pun, membuat Indra hanya bisa menghela nafas kasar.
Perjalanan menuju apartemen entah kenapa menjadi sangat lambat, apa mungkin karena sedang dilanda rasa khawatir, atau memang padatnya jalanan sebab jam pulang kerja, kendaraan lebih padat dari biasanya.
Sampai di apartemen, dengan malas dia membuka pintu apartemen itu. Tapi dia merasa ada yang aneh saat tubuhnya sudah sempurna masuk ke dalam apartemen, indera penciumannya merasakan sesuatu yang berbeda, seperti aroma masakan. Ah tepatnya orang memasak? Tapi siapa yang memasak? Padahal tidak ada yang mengetahui pin apartemennya. Apa dia salah masuk unit? Indra menyadari sekeliling ruang tamu, ini benar unitnya, lalu siapa yang memasak?
Jangan-jangan? Hantu.
__ADS_1
Indra menggidikan seluruh tubuh, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri, merinding membayangkan jika memang benar-benar hantu yang memasak.
"Masak iya tetangga sebelah masak? Tapi kenapa baunya sampai sini?" Indra benar-benar tidak memiliki jawaban yang pas dari semua pertanyaan yang menghinggapi pikirannya.
"Lihat aja lah, kalaupun hantu entar kan bisa lari," gumamnya.
Perlahan dia menuju dapur, berharap langkahnya tak terdengar jika memang ada orang di dapur, meskipun dia tidak begitu yakin jika ada orang.
Dia terpaku saat melihat seorang perempuan dengan rambut tergerai, memakai pakaian putih, membelakanginya. Ingin sekali dia lari, tapi entah kenapa kakinya tak mau diajak kerja sama, justru mematung ditempat.
Tapi tunggu? Apa mungkin hantu bisa masak? Ah enggak mungkin. Akhirnya Indra melihat tubuh perempuan itu dari atas sampai bawah, rambut tergerai tapi rapi, tidak seperti hantu yang ada di film yang rambutnya berantakan. Dia mengernyitkan dahi saat melihat perempuan itu ternyata memakai kaos putih, dengan celana pendek diatas lutut. Fix ini bukan hantu tapi manusia.
"Sia... Gita?" Indra terkejut saat perempuan menoleh, ternyata gadis yang dia rindukan dan dia khawatirkan sejak kemarin. Kini berdiri di hadapannya dengan senyum manis yang selalu dia rindukan.
"Eh Abang sudah pulang? Yah, aku masak belum selesai," celetuk gadis itu berjalan perlahan ke arah Indra.
"Ini beneran kamu, kan? Bukan hantu?" tanya Indra saat memeluk erat gadis itu.
Dug
Gita memukul punggung pemuda itu, "Ya beneran lah, pasti tadi mengira aku hantu ya? Mana ada hantu secantik ini? Abang ada-ada aja," gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Indra.
"Heem, karena setahuku enggak ada yang tahu pin apartemen ini. Eh tunggu, kamu kok bisa masuk? Jangan-jangan beneran hantu yang menyamar jadi Gita." Indra melonggarkan pelukannya, dia menatap gadis itu yang terlihat kesal, pasalnya masih saja dituduh sebagai hantu.
Gita melepaskan pelukannya, "Biasanya kalau orang baru datang itu disambut dengan romantis, dengan kata-kata manis, ini malah dikatain hantu." Gita mengerucutkan bibirnya, tak habis pikir dengan isi pikiran kekasihnya itu.
"Oke maaf sayang, aku hanya penasaran kenapa kamu bisa masuk? Lewat jendela enggak mungkin, secara ini lantai dua puluh, masak iya terbang. Tembus tembok? Enggak mungkin juga, kan?" Indra berusaha meraih Gita dalam pelukannya lagi, tapi gadis itu menolak.
__ADS_1
"Apa sih yang enggak aku tahu tentang kamu Bang? Makanya jangan macam-macam dibelakang ku, aku pasti akan tahu. Pin apartemen mu saja aku tahu," jawab Gita sewot.
Mendengar jawaban seperti itu dari bibir Gita, Indra menjadi kikuk salah tingkah, sekarang dia percaya gadis dihadapannya ini adalah kekasih hati yang dia rindukan. Dia pun kembali memeluk Gita, mengecup puncak kepala gadis itu, menghirup aroma shampo yang menguar dari rambut Indah tersebut.
"Maafkan aku sayang," akhirnya hanya kata itu yang terucap dari bibir Indra. Sebab tak ingin memperpanjang masalah, lebih baik mengalah, bukan?
Gita mengangguk dalam pelukan pemuda itu, entah kenapa rasanya begitu nyaman seakan tak ingin terlepas dari dekapan hangat itu. Tapi kemudian dia teringat dengan masakan yang baru di masak.
"Bang, masakan ku pasti sebentar lagi gosong." Gita mendorong tubuh Indra perlahan, melepaskan pelukan itu. Dia bernafas lega ketika masakannya masih utuh belum berubah warna, untung saja tadi dia sempat mengecilkan apinya jika tidak pasti masakan itu saat ini sudah berubah warna jadi hitam.
Indra mengikuti gadis itu, melihat apa yang sebenarnya dimasak oleh Gita. "Kayaknya enak banget, aku jadi lapar," ucapnya.
Gita tersenyum mendengar ucapan pemuda itu, dia berharap masakannya kali ini benar-benar enak, "Baiklah mari kita makan." Gita menuang pasmol ikan mas dalam mangkuk dan langsung di bawa Indra ke meja makan.
"Sebaiknya Abang mandi dulu, aku akan menunggu," Gita teringat jika pemuda itu baru saja pulang, bahkan belum berganti pakaian.
Indra yang memang merasa gerah, akhirnya menyetujui ucapan gadis itu, tapi bukannya meninggalkan dapur dia justru mendekat ke arah Gita yang sedang mencuci peralatan masak.
Cup
Gadis itu terkejut saat Indra mengecup pipinya sekilas, wajahnya berubah memerah karena malu. Tak urung dia pun tersenyum dan kembali melanjutkan kegiatannya.
Sedangkan Indra berjalan santai masuk ke dalam kamar sambil bersenandung, entah apa yang dinyanyikan pemuda itu. Saat ini dia begitu bahagia, pasti kalian tahu sendiri apa alasannya.
.
🥀🥀🥀🥀🥀
__ADS_1