Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Terlupakan


__ADS_3

Sudah tiga hari Gita terpejam dalam tidur terpanjangnya, belum ada tanda-tanda gadis itu akan membuka mata, padahal dokter memperkirakan jika Gita akan siuman sebelum empat puluh delapan jam, tapi nyatanya hingga tiga hari berlalu gadis itu masih setia dalam lelapnya. Dokter tentu tak boleh disalahkan dalam hal ini, sebab dokter juga manusia, perkiraannya terkadang juga meleset.


Selama itu pula, Indra memilih absen ke kantor, otaknya tak mampu diajak berpikir lebih selain Gita, Gita dan Gita. Bisa dibilang pemuda itu adalah orang yang paling terpuruk atas kejadian ini, dia menjadi lelaki yang tak tersentuh, semua ucapan orang-orang terdekatnya hanya dianggap angin lalu. Entah apa yang terjadi pada Indra.


Tapi dia akan melemah saat berhadapan dengan gadis itu, meski dia tahu Gita tak bisa melihat keadaanya saat ini. Bahkan tak segan meneteskan air mata saat berbicara dengan Gita yang tidak merespon ucapannya sama sekali. Seperti saat ini, lelaki itu sedang duduk di kursi sebelah pembaringan gadis itu, menggenggam tangan pucat milik gadis tercintanya tersebut, belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, yang dia lakukan saat ini hanya menatap rindu gadis pemilik hatinya tersebut.


Cukup lama dia menatap wajah cantik yang terlihat pucat itu, hingga dia mampu membuka bibirnya untuk berucap. "Kamu betah banget sih tidurnya, memang kamu mimpi apa sampai tidak mau bangun?" Mencoba tersenyum, tapi yang terlihat justru senyum penuh kepalsuan, sebab hati dan bibirnya bertolak belakang.


"Apakah ada hal yang indah di sana, yang membuat kamu betah berlama-lama? Atau ada seseorang yang kamu sukai? Aku jadi cemburu jika itu alasannya," lembut sekali tutur katanya, tapi menyiratkan luka mendalam terbukti dari getaran dikedua bibirnya.


"Sayang, kembalilah aku selalu menunggumu. Please jangan buat aku mengalami penyesalan yang sama, kamu harapan satu-satunya. Kamu hidupku saat ini, entah aku akan seperti apa tanpa adanya dirimu." Air mata itu kembali menetes, tak sanggup membayangkan dia akan kehilangan seseorang yang sangat dicintai untuk kedua kalinya, dengan kejadian yang hampir sama.


Pemuda itu menyeka air matanya dengan kasar, mencoba untuk tersenyum kembali meski senyum yang terlihat hanyalah senyum penuh kepalsuan.


"Kamu baik-baik ya, aku pulang dulu sebentar." Indra beru saja melepas genggaman tangannya, tapi urung saat merasakan jari gadis itu bergerak. Dia justru kembali menggenggam tangan itu, bahkan mendaratkan kecupan berulang kali, berharap gadis dihadapannya itu tersadar.


"Sayang," ucapnya penuh harap.


Dia menatap lekat wajah pucat itu, senyuman diwajahnya berubah menjadi sebuah senyuman manis penuh kebahagiaan saat melihat kelopak mata gadis itu mengerjap pelan, dan mata indah itu kini terbuka sempurna, tapi dengan tatapan penuh kebingungan saat melihat wajahnya.


"Bentar aku panggil dokter dulu." Indra menekan tombol yang berada di atas brangkar kemudian kembali duduk disisi gadis itu. Perasaan bahagia dan syukur menyelimuti seluruh tubuhnya, gadisnya kembali membuka mata dan itu tepat saat dirinya berada di sana.


Tapi senyumnya memudar saat mendengar ucapan kekasih hatinya itu.


"Kamu siapa? Dan aku dimana?" tanya gadis itu, terlihat kebingungan diwajahnya.

__ADS_1


Belum juga dia menjawab, seorang dokter dan dua perawat sudah masuk ruangan tersebut, membuatnya terpaksa keluar meninggalkan kekasih hatinya itu. Menghembuskan nafas kasar, saat mengingat ucapan Om Renaldy waktu itu.


"Gita beneran udah siuman?" tanya Hafidz yang memang berada di tempat itu bersama dirinya.


Indra mengangguk, tapi wajahnya kembali murung, membuat Hafidz heran, "Dia lupa sama gue Fidz," ucapnya.


Hafidz ternganga mendengar ucapan sahabatnya itu, setelahnya dia menghela nafas saat mengingat ucapan sang Papa. Menepuk pundak sahabatnya itu, memberi kekuatan yang sepertinya telah menghilang dari pemuda di sampingnya ini.


"Gue yakin itu tidak akan lama, Lo yang sabar. Pasti kalo Gita enggak inget siapa Lo, dia juga enggak bakalan inget siapa gue," meskipun seperti itu kejadiannya, Hafidz kini bersyukur saudara kembarnya sudah sadarkan diri.


Cukup lama mereka menunggu dokter keluar dari ruangan ICU, hingga sang Papa tiba dengan Mama Sita, mereka memang berencana untuk menunggu Gita malam ini, sebab Mama Sinta terlihat kelelahan, akhirnya sang suami mengajaknya pulang ke rumah Oma.


"Apa yang terjadi?" tanya Papa saat melihat beberapa petugas kesehatan berada diruang Gita, dia Menag belum mengetahui keadaan terakhir Gita.


"Alhamdulillah Gita udah siuman Pa," jawab Hafidz dengan senyum penuh kelegaan.


"Mama kamu sudah dikasih tahu?" tanya Papa, kabar bahagia ini harus segera diberitahukan kepada Mama Sinta, supaya wanita itu kembali tersenyum dan bersemangat.


Hafidz menggeleng, "Aku takut Mama memaksa kesini malam ini juga Pa, padahal aku lihat tadi Mama kelelahan sekali, tiga hari ini terus memaksa di sini," jawab Hafidz yang tak ingin membuat kesehatan sang Mama drop.


"Tapi kasihan Mama kamu kalau tidak dikasih tahu Nak, dia pasti akan lebih tenang kalau melihat Gita sudah siuman," Mama Sita ikut berbicara, dia sebagai seorang ibu merasakan apa yang dirasakan oleh Kakaknya itu.


Hafidz mengangguk, "Baiklah, aku hubungi Mama dulu," ujarnya dan meninggalkan mereka untuk menghubungi sang Mama.


Dokter keluar ruangan tersebut disusul dua perawat yang tadi bersamanya, dokter itu pun menghampiri sepasang suami istri itu.

__ADS_1


"Nona Gita sudah membaik, dia bisa dipindahkan diruang perawatan malam ini juga. Tapi seperti yang saya katakan sejak awal, dia mengalami sedikit gangguan pada daya ingatnya. Kalian harus bersabar, jangan memaksakan dia untuk mengingat beberapa memori yang dia lupakan, sekarang turuti apa kemauannya dulu, bisa jadi itu akan memicu daya ingatnya lagi," dokter menjelaskan panjang lebar tentang kondisi Gita.


Indra hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan dokter, harapannya kini semoga kekasih hatinya itu segera mengingatnya kembali, dia tak akan bisa menahan untuk tidak bertemu dengan Gita. Apa jadinya jika memaksa untuk bertemu tapi gadis itu menganggapnya orang asing? Pasti akan terasa perih meski dia tahu itu hanya sementara.


Tak butuh waktu lama, Mama Sinta beserta sang suami datang, mereka langsung menuju ruang perawatan Gita, sebab gadis itu sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Hanya Papa dan Mama Sita yang berada di dalam ruang perawatan itu, sebab Hafidz dan Indra memilih untuk pulang, karena mereka sadar Gita belum mengingat keduanya.


Mama Sinta membuka pintu ruang perawatan Gita dengan tidak sabaran, binar bahagia terlihat jelas dari kedua bola matanya. Bahkan dia melupakan rasa lelah yang tadi hampir membuatnya tak berdaya, sebab buah hatinya kini sudah kembali membuka mata seperti doa dan harapannya.


"Sayang." Wanita paruh baya itu langsung menuju ke arah brangkar dimana Gita sedang berbaring.


Gadis itu mengernyitkan dahi, menatap wanita yang sudah berada di sisinya tersebut dengan tatapan penuh kebingungan, "Siapa Pa? Kenapa mirip sekali seperti Mama?" pertanyaan gadis itu membuat semua yang ada di ruangan tersebut terkejut, Papa lupa memberitahu tentang keadaan Gita pada mantan istrinya itu.


"Pa, kepalaku pusing." Keluh Gita sambil memegang kepalanya.


"Sudah ya, kamu tidur dulu." Mama Sita mendekati Gita, sedangkan sang Papa mengajak sepasang suami istri itu keluar ruang perawatan, untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Mas, kenapa kamu tidak bilang? Gita pasti bingung," binar bahagia yang tadi sempat terpancar di wajah Mama Sinta kini berubah menjadi kekhawatiran.


"Yaudah, aku titip Gita sama kamu dan Sita. Kami akan kembali, setidaknya Gita sudah siuman itu membuatku bersyukur, untuk kondisi lainnya pasti akan menyusul." Sinta memilih untuk berpamitan saja, daripada tetap di tempat itu dan membuat sang putri makin sakit karena harus terpaksa mengingatnya.


.


.


🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


Cerita Gita dan Indra akan berlanjut di sini ya, tapi untuk cerita Hafidz nanti aku tulis di komen lanjut dimana. Maaf kalau terlambat, soalnya gak lulus review padahal tidak ada adegan dewasa.


__ADS_2