Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Miss You


__ADS_3

"Kemarin gue ketemu sama Karin," ujar Gita tiba-tiba disaat mereka sedang menikmati cemilan yang dihidangkan oleh art di rumah Meta.


Atensi dua wanita yang tak lain pemilik rumah dan sahabatnya Arumi kini beralih menatap Gita, "Dimana?" tanya mereka secara bersamaan.


"Di depan hotel Rafles, dia nangis gitu," Gita menceritakan kejadian kemarin sore pada dua sahabatnya. Saat ini mereka sedang berada di rumah Meta, kebetulan Arumi juga sedang libur jadi mereka bisa berkumpul bersama.


"Yang gue tahu pacar Karin itu emang pemilik hotel itu deh, tapi masak dia sampai di usir gitu? Apa mungkin sudah putus ya," Meta yang memang masih sering bertemu dengan Karin, sedikit banyak mengetahui tentang kehidupan gadis itu.


"Entahlah, gue kasihan aja sama dia. Waktu mau gue anterin pulang dia nolak, akhirnya gue pesenin taksi," ujar Gita mengingat kejadian kemarin sore.


"Sebenarnya gue kasihan sama dia, kita dari dulu sering bareng, makan bareng tidur bareng, yang satu susah yang lain pasti saling bantu, tapi entah kenapa Karin malah gitu. Sebenarnya gue pengen bantu dia, tapi setelah kejadian dulu itu Karin milih ngejauh dari kita," Arumi ikut menimpali.


Gita menunduk, semua itu memang terjadi karena pengkhianatan Karin padanya, dan membuat dia tak lagi memercayai bahkan enggan dekat dengan gadis itu.


"Dia juga salah sih, tapi setahu gue setelah kejadian sama Lo dulu itu, hidup dia jadi enggak tentu arah. Gosipnya sih perusahaan bokapnya bangkrut," Arumi menyambung ucapannya yang dia anggap menyinggung Gita.


"Apa ada kaitannya sama bokap gue?" tebak Gita yang memang merasa jawaban dari pertanyaannya adalah iya.


Kedua temannya itu menggelengkan kepala, memang tidak tahu menahu tentang masalah bangkrutnya perusahaan orang tuanya Karin.


"Udahlah enggak usah bahas dia, apalagi masa lalu yang kita tidak tahu kebenarannya. Gini aja, suatu saat kalau dia membutuhkan bantuan kita, harus kita bantu. Sekarang doakan aja yang terbaik buat dia." Meta merasa mereka tak harus melanjutkan cerita tentang Karin, sebab bisa saja menyinggung salah satu dari mereka terutama Gita.


Mereka kompak untuk tak melanjutkan cerita tentang Karin yang memang tak diketahui semuanya.


🥀🥀🥀


Tak terasa hari pernikahan Gita dan Indra tinggal menghitung hari, semua orang yang berperan dalam pernikahan itu pun semakin sibuk, tak terkecuali calon pengantin. Beberapa kali mereka fitting baju pengantin, terutama Gita karena sejak pertama kali fitting hingga hari ini, sudah terhitung tiga kali perubahan. Yang awalnya sudah pas, saat fitting lagi baju itu sempit, tubuh Gita naik beberapa kilogram tentu saja setelah dia sembuh dari sakit.

__ADS_1


Tapi saat ini kenapa ukuran baju itu terlihat kebesaran, ah menyusahkan saja. Mungkin itu ungkapan sang desainer saat ini, tapi tentu tak mau mengatakan secara langsung, dia berhadapan dengan orang terpandang.


Sepulang dari butik, entah kenapa Gita tak ingin pergi kemana pun, dia ingin langsung pulang apalagi saat ini dia sedang kesal dengan Indra, karena kemarin pemuda itu kembali meeting bersama kliennya yang bernama Leoni itu. Padahal kemarin bukan hanya mereka berdua, melainkan ada sekretaris Indra dan sekretaris Leoni, bahkan dirinya juga ikut, tapi rasa cemburu itu tetap saja hadir. Jika sudah seperti itu Indra bisa apa selain pasrah.


"Abang balik ke kantor ya, besok kesini lagi." Indra membuka suara setelah sekian lama keduanya membisu. Dia tak tahan jika harus seperti itu, sudah berbagai macam cara membujuk gadis itu, tapi hasilnya tetap sama.


"Enggak usah kesini, kita enggak boleh ketemu lagi selama satu minggu ke depan." Gita menutup pintu mobil setelah mengatakan hal itu.


Indra baru teringat jika selama satu minggu ke dapan mereka sudah tidak boleh bertemu, membuatnya terpaksa turun. Pekerjaan bisa diselesaikan nanti yang terpenting sekarang adalah Gita.


"Sayang, please maafin aku dong. Kita enggak bisa ketemu selama seminggu, aku pasti tidak akan tenang jika kamu belum memaafkan." Indra meraih tangan Gita, tak ada penolakan dari gadis itu, tapi Gita enggan menoleh sama sekali.


"Ck, aku udah maafin Bang. Lain kali peka sedikit bisa enggak sih? Aku kemarin memang kesal karena Abang kembali bertemu dengan perempuan itu, tapi bukan itu alasan utamanya." Gita masih enggan menatap Indra, meski tubuhnya berhadapan dengan pemuda itu tapi dia menatap ke sembarang arah.


"Lalu apa, ayo katakan sayang?" tanya Indra.


Memutuskan untuk menyusul Gita masuk kedalam rumah, mendapati gadis itu sedang duduk di ruang keluarga sendirian, rumah terasa sepi, mungkin semua penghuni rumah tersebut belum pulang.


"Apa yang kamu mau sayang, beneran Abang enggak ngerti kalau kamu enggak ngomong," putus asa sebab memikirkan cukup lama kemauan Gita tetap saja dia tidak menemukan apa pun.


"Bujuk Bang Hafidz pulang sekarang, aku mau dia di rumah sampai hari H nanti. Aku enggak mau kesepian karena di rumah terus selama satu minggu," jawab Gita tanpa menatap Indra yang duduk disebelahnya.


Indra baru teringat jika beberapa hari lalu gadis itu menceritakan tentang Hafidz yang tidak bisa pulang lebih awal, sebab pekerjaan yang sedang menumpuk tak bisa ditinggalkan cukup lama. Pemuda itu bisa pulang sehari sebelum hari H, dan Gita keberatan akan hal itu.


"Insyaallah nanti Abang akan bujuk Hafidz untuk pulang besok," meski merasa ragu dia tetap mengiyakan permintaan Gita, meski permintaan Gita sangat kekanakan menurutnya.


Entah apa yang dipikirkan gadis itu hingga ingin Hafidz lebih lama di rumah, tapi Indra tak berani bertanya, yang terpenting sekarang Gita memaafkannya.

__ADS_1


"Abang boleh kembali ke kantor sekarang?" tanyanya hati-hati.


"Iya," jawabnya singkat. "Lain kali kalau ada pertemuan sama perempuan itu, minta diganti sama yang lain, aku enggak suka," ucapnya lagi saat Indra hendak beranjak.


"Baiklah, Abang janji yang kemarin itu terkahir kali. Besok-besok biar Opa yang menemuinya. Kalau gitu Abang pamit ya." Indra mengacak rambut gadis itu gemas sebelum akhirnya menghilang dibalik tembok.


"Maaf Bang, aku sebenarnya memang cemburu, enggak tahu kenapa cemburu banget sama pere.puan itu, kayaknya dia suka sama Abang. Aku malu buat mengakuinya," gumam Gita. Itulah alasan sebenarnya dia masih marah, bukan karena Hafidz. Dan sialnya Hafidz kali ini dijadikan kambing hitam, padahal dia tidak tahu apa-apa.


Sedangkan pemuda yang kini dijadikan kambing hitam, sedang terbatuk-batuk saat menyantap makan siangnya. "Kaya ada yang lagi ngomongin gue," gumamnya setelah menelan makanan yang membuatnya terbatuk.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Gita beranjak dari duduknya saat mendengar bel rumah berbunyi, sebab art di rumah itu tak ada yang muncul sama sekali, dengan terpaksa dia yang membuka pintu sendiri.


Dia terkejut saat melihat siapa yang datang, bahkan langsung memeluk orang tersebut, dengan senyum cerah di bibirnya.


"Lucy, i miss you!" ucapnya.


.


.


🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2