Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Ini Dimana?


__ADS_3

Seperti janjinya pada Salman, pagi ini Gita sudah bersiap menunggu pemuda itu yang akan menjemputnya. Keduanya akan pergi entah kemana, sebab Gita tak mengetahuinya, dia hanya mengiyakan saja ajakan Salman untuk jalan-jalan.


Gadis itu nampak cantik dengan dress floral berwarna dasar putih dengan bunga-bunga berwarna pink, tak lupa flat shoes berwarna senada dengan bajunya. Rambut yang dibiarkan tergerai menambah kesan anggun.


Gita bergegas membuka pintu saat ada yang menekan bel rumahnya. Dia sudah menebak siapa yang datang kali ini, sudah pasti orang yang sedang ditunggu.


Gita tersenyum menyambut kedatangan pemuda itu, tapi saat melihat siapa yang ada di luar senyum tersebut langsung hilang, berganti dengan decakan kesal. Dia segera berbalik tanpa mempersilakan orang tersebut masuk.


"Ngapain Lo ke sini?" tanyanya ketus, setelah kembali duduk di sofa.


Orang tersebut yang tak lain adalah adik tirinya, Riky ikut duduk di sisi Gita. Pemuda itu tampak rapi dengan pakaian kasual, seperti hendak pergi kencan.


"Gue mau ngajakin jalan, kayaknya Lo udah siap ya, bagus kalau gitu kita langsung jalan aja Kak," jawab Riky.


"Gue ada janji sama orang lain, lagian gue ogah jalan sama Lo, bukannya untung yang ada gue buntung jajanin Lo," cibir Gita, sebab dia tahu jika kartu ajaib Riky masih disita sang Papi.


"Jangan bilang Lo mau jalan sama Bang Indra? Dia juga udah rapi banget tadi waktu gue ke sini. Enggak adil banget deh Lo Kak, gue ajak jalan aja nolak, giliran Bang Indra yang ngajakin langsung mau. Padahal gue lebih ganteng dari dia," omel Riky tak terima.


"Brisik! Lo cewek apa cowok si Ky, crewet banget kaya emak-emak," cetus Gita yang mana membuat Riky menganga tak percaya.


"Lo tega banget ngatain gue kaya emak-emak! CK!" Riky melirik Gita sekilas, kesal dengan perkataan Kakak tirinya itu.


"Lo mau pergi sama siapa sih Kak! Kalau sama Bang Indra gue enggak rela, mending Lo pergi sama gue aja." Riky tetap melanjutkan ucapannya meski terdengar bel berbunyi.


Sedangkan Gita tak peduli dengan ucapan Riky, dia kembali membuka pintu, dan tersenyum saat melihat siapa yang datang.


"Ayo Kak, kita langsung pergi aja," ajak Gita saat Salman akan masuk ke dalam rumah.


"Lho enggak pamitan sama Ibu kamu dulu?" Salman merasa tak enak hati jika membawa anak gadis orang tanpa ijin terlebih dahulu.


"Enggak usah Kak, Ibu sama Bapak udah berangkat kerja. Aku juga udah ijin tadi," timpal Gita.

__ADS_1


"Baiklah kalau gitu, ayo kita pergi." Salman berjalan lebih dulu menuju mobilnya sedangkan Gita mengikuti dari belakang.


"Kak! Lo tega ninggalin gue sendiri?" seru Riky saat kedua orang itu sudah masuk mobil.


"Enggak! Di rumah ada banyak orang, Lo enggak sendiri. Kalau mau kencan ajak Bik Tun aja, pasti dia seneng." Gita terkekeh saat mengucapkan kalimat tersebut yang mana membuat Riky kesal dan hampir saja melempar sepatunya jika tidak ingat sepatu itu mahal.


"Dia siapa?" tanya Salma saat mereka sudah meninggalkan rumah tersebut.


"Adik ku Kak, dia emang gitu, suka rese dan ngeselin," jawab Gita.


"Tapi kayaknya seru punya adik kaya gitu, pasti tiap hari berantem, kan? Dan kalo enggak ketemu sehari aja pasti kangen," tebak Salman yang menyamakan dirinya dengan Salma saat berada di rumah.


"Ih, rugi banget kangen sama dia Kak, malah kalau enggak ada dia rasanya dunia ini damai sentosa. Karena kalo ada dia, aku selalu dia buat kesal dengan tingkahnya." cetus Gita.


Gadis itu terus menceritakan pengalamannya saat ban mobil miliknya di kempes gara-gara perbuatan Riky, tak lupa sepatunya yang sengaja disembunyikan pemuda itu. Gadis itu menceritakan dengan raut kesal dan sesekali memukul pahanya sendiri karena teringat tingkah Riky.


Salman mendengarkan cerita Gita sambil tersenyum dan sesekali melihat wajah gadis itu yang terlihat menggemaskan saat kesal seperti ini. Ingin sekali rasanya mencubit pipi mulus Gita, tapi tentu saja Salman tak seberani itu.


"Ada deh, nanti kamu akan tahu. Untuk sekarang masih rahasia," jawab Salman.


"Baiklah, aku ikut aja yang penting jangan di culik," celetuk Gita sambil terkekeh.


"Maunya sih gitu, tapi sepertinya tidak akan mungkin bisa nyulik kamu dengan mudah," Salman juga ikut terkekeh.


Gita tak mengerti dengan maksud pemuda itu, dia hanya tersenyum menanggapi.


Selama perjalanan mereka lebih banyak mengobrol, tapi lama kelamaan Gita terdiam, membuat Salman menoleh ke arah gadis itu, dan tersenyum saat mendapati Gita sudah memejamkan mata. Entah sejak kapan Gita tidur dengan nyaman sambil bersandar di kaca mobil.


"Tidur aja cantik, pantes banyak yang menyukai kamu. Dan kayaknya Abang tiri kamu juga sebenarnya menyukai mu, tapi dia menolak sadar dan sepertinya kamu juga tidak mengetahuinya. Bagus deh kalau gitu, biar aku lebih mudah dapatin kamu. Jangan sampai kamu tahu jika cinta kamu terbalas, karena sepertinya aku enggak rela," gumam Salman saat berhenti di lampu merah.


"Biarkan aku egois," tambahnya.

__ADS_1


Salman terus menatap gadis itu dengan kagum, hingga suara klakson memekakkan telinga ya, dan dia baru sadar jika saat ini sedang berada di tengah jalan. Beberapa orang mengumpati dirinya, tapi tentu dia tak peduli dan memilih melajukan mobilnya kembali.


Beberapa puluh menit kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Dengan perlahan Salman membangunkan Gita yang masih terlelap.


"Udah sampai ya Kak? Maaf aku ketiduran tadi," Gita tersenyum canggung, malu sekaligus salah tingkah saat mendapati Salman membangunkan dirinya.


"Ini dimana?" tanya gadis itu.


"Ayo turun dulu, nanti aku jelaskan ini dimana." Salman membuka kan pintu mobil untuk Gita, lalu keduanya bersalam bersebelahan. Ingin rasanya Salman menggandeng tangan gadis itu, tapi menurutnya terlalu lancang.


Salman mengajak Gita ke sebuah rumah pohon yang ada di taman tersebut, sekeliling taman itu adalah pohon pinus, membuat kesejukan menelusup seluruh tubuh.


"Ini tempat wisata milik keluargaku, dan di sekitar tempat ini tak boleh ada yang masuk kecuali keluargaku." Terang Salman sambil berjalan menuju rumah pohon yang terlihat cukup besar.


"Pantas saja sepi, aku kira Kakak beneran mau nyulik aku nih," Gita terkekeh saat menuduh Salman menculiknya.


"Enggak lah, di depan sana ada penginapan dan banyak orang, jadi enggak usah khawatir kalau takut aku berbuat yang enggak-enggak sama kamu," Salman mengerti kekhawatiran gadis itu, sebab tempat yang mereka kunjungi ini sangat sepi.


"Ayo naik, di atas banyak foto masa kecilku dengan Salma dan para sepupu. Di atas kita juga bisa melihat pemandangan yang lebih indah." Kali Ini Salman sedikit meraih tangan Gita, menuntunnya menaiki anak tangga menuju rumah pohon tersebut.


Benar kata pemuda itu, setelah sampai di atas rumah pohon itu, pemandangan terlihat lebih indah dan ternyata di dekat sana terdapat sebuah danau.


"Nanti kita ke sana, sekarang masih panas," ujar Salman seakan mengerti apa yang Gita pikirkan.


Keduanya kini mulai masuk ke dalam rumah pohon itu, dan benar saja rumah itu tampak luas dengan banyaknya foto di dinding rumah tersebut, beberapa foto anak kecil dan remaja. Dan salah satu dari foto itu ada foto Salman yang terlihat sudah remaja.


Di sisi lain, seseorang terlihat kesal terbukti dia mendengus berulang kali saat melihat kedekatan Gita dan pemuda itu. Entah kenapa dia merasa seperti itu, harusnya dia bahagia, kan melihat adik yang dia sayangi bahagia. Tapi pada kenyataannya dia justru kesal. Ya, pemuda itu adalah Indra yang mengikuti mereka berdua sejak dari rumah.


Awalnya dia ingin mengajak Gita pergi, tapi sialnya Gita sudah pergi dengan dokter itu. Akhirnya Indra memutuskan untuk mengikuti mereka.


🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


__ADS_2