Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Bersama Riky


__ADS_3

"Biarkan Riky sendiri dulu Oma, Pi. Dia butuh untuk menenangkan diri. Aku yakin dia sangat kecewa." Terdengar helaan nafas Indra, pemuda itu baru saja datang ke rumah Oma setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Opa setuju sama Indra, Riky pasti kecewa, apalagi dia mengetahui semua itu tidak secara langsung. Besok Opa yang akan coba bicara sama dia, kalian berdua jangan dulu temui Riky." Opa menoleh ke arah Oma dan putra sulungnya.


Keduanya mengangguk setuju.


Makan malam yang telah tersaji di atas meja makan terlihat menggugah selera, tapi tidak untuk Oma, dia justru merasa tidak memiliki selera makan, mengingat semua yang diucapkan tadi pasti akan sangat melukai Riky. Mereka memang ingin memberi tahu Riky tentang siapa ibunya, tapi tentu tanpa menjelekkan nama wanita yang telah melahirkannya.


Oma menghela nafas, semuanya sudah terlanjur sebab mulutnya sendiri. Entah akan seperti apa hubungannya dengan Riky dikemudian hari, yang jelas-jelas sudah tidak baik-baik saja sejak dulu. Mungkin kedepannya akan lebih tidak baik lagi, tapi Oma akan berusaha untuk memperbaiki semuanya, sebelum dia menyesal terlalu dalam.


Dulu memang dia egois, tapi setelah menginjak masa tua dia merasa perlakuannya dengan Riky sungguh keterlaluan, padahal anak itu tidak tahu apa-apa. Berniat untuk memperbaiki hubungan tersebut, tapi Riky lebih memilih menghindar dari Oma.


"Makan Mah, jangan sampai asam lambung Mama naik gara-gara tidak makan." Opa mengusap pundak Oma, dia tahu istrinya itu sedang memikirkan Riky.


Oma mengangguk, benar apa yang dikatakan suaminya, dia memiliki asam lambung, jika asam lambungnya naik bisa saja mempengaruhi kesehatan lainnya, dan dia tak mau itu terjadi.


Selesai menghabiskan makan malam yang terasa berbeda, kini Gita dan Indra berpamitan. Indra akan mengantar Gita pulang, meskipun di sana ada sang Mama, tetap saja Gita harus kembali ke rumah Papa.


"Bang, aku pengen ketemu Riky," ujar Gita saat Indra baru saja melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Oma.


Indra menengok sekilas, lalu dia mengangguk. Mungkin dengan kehadiran Gita, Riky akan sedikit terhibur, mengingat bagaimana hubungan mereka sebelumnya. Sudah dipastikan Riky juga merindukan gadis ini, meski sedikit tidak rela, Indra memilih untuk tidak egois. Dia tahu perasaan Gita terhadap Riky hanya sebatas Kakak dan adik.


Gita tersenyum, tak menyangka Indra akan memenuhi permintaanya. Padahal sejak tadi dia ragu untuk mengatakan hal itu, ragu jika Indra melarang untuk bertemu dengan Riky.


Mobil yang Indra kendarai sudah terparkir manis di basment apartemen, dahinya mengernyit saat mendapati gadis yang duduk di sampingnya terlihat bingung.


"Nunggu di bukain pintu?" tanyanya membuat gadis itu menoleh dengan wajah terkejut.


"Eh, enggak Bang, aku kok mendadak ragu mau ketemu sama Riky, dia marah enggak ya sama aku?" entah kenapa setelah sampai apartemen Indra gadis itu malah ragu, padahal tadi dia sangat bersemangat.

__ADS_1


Indra meraih kedua tangan Gita, menatap wajah gadis itu yang juga menatapnya, "Abang yakin, Riky engga akan marah sama kamu. Percayalah, dia butuh kami sekarang," ujarnya meyakinkan Gita.


Gita mengangguk, seseorang yang dekat dengan Riky selain Papi dan Indra adalah dirinya, dengan Mama juga tidak begitu dekat dan orang yang belum mengetahui tentang Riky sebelumnya juga hanya Gita. Tak mungkin pemuda itu akan marah dengannya.


"Ayo, mikir apa lagi?" Gita terkejut saat Indra sudah berada di luar mobil, bahkan pintu disebelahnya sudah dibuka oleh pemuda itu.


Gita pun turun, keduanya berjalan dengan tangan saling bertautan menuju unit yang Indra tempati. Gita menarik nafas dalam-dalam saat Indra menekan angka password pintu apartemen.


Keduanya sudah masuk tapi tak ada tanda-tanda Riky masih berada di sana. Hingga keduanya berkeliling mencari, dan ternyata Riky sedang duduk di balkon kamar Indra, dengan sebatang sigaret ditangannya, dan sebuah asbak yang telah penuh dengan puntung rokok.


"Riky?" ucap Gita, membuat si empunya menoleh, sedikit terkejut tapi hal selanjutnya Riky kembali menyesap sigaret yang masih setia di tangannya.


Indra mengusap pundak Gita membuat gadis itu menoleh, "Kalian bicaralah, aku mau mandi," ucapnya dan Gita mengangguk tanda setuju.


"Lo kesini karena kasian sama gue, kan? Itu enggak perlu, gue enggak butuh kasihan dari siapa pun." Sarkas Riky, membuat Gita terkejut.


Niatnya tidak seperti itu, dia hanya ingin berbicara dari hati ke hati dengan Riky, tapi kenapa pemuda itu langsung menuduhnya seperti itu.


Riky menoleh sekilas dengan tersenyum miring. Rindu? Ah, dia memang merindukan gadis ini tapi entah kenapa sekarang dia berfikir jika Gita datang hanya karena kasihan dengannya.


"Gue serius!" ujar Gita lagi sebab tidak mendapatkan respon dari pemuda dihadapannya ini.


Riky meletakkan rokoknya ke dalam asbak, lalu berdiri mendekati Gita yang masih setia berdiri, bahkan ada kursi kosong di hadapan Riky tadi.


"Temani gue keluar." Riky menarik tangan Gita meninggalkan balkon tersebut.


Gita menurut, tapi dia menghentikan langkah saat akan keluar kamar Indra, "Gue ijin dulu sama Bang Indra," ucapnya.


"Enggak usah, dia pasti tahu kalau kita pergi." Riky terus menarik tangan Gita hingga ke luar apartemen.

__ADS_1


"Gue enggak mau kalau naik motor, ini udah malam Ky." bukan itu sebenarnya alasan Gita, tapi karena pakaian yang dia kenakan tidak mungkin jika pergi dengan sepeda motor.


Riky menghentikan langkahnya, menatap Gita dengan kening mengkerut. Saat dia akan melontarkan sebuah kata, Gita lebih dulu bersuara.


"Bang, pinjam kunci mobil," ucap Gita saat melihat seseorang yang baru saja masuk ke dalam loby.


Pemuda itu yang tak lain adalah Hafidz, mengerutkan keningnya, "Mau kemana malam-malam begini? Sama Riky? Jangan bilang..." Hafidz tak melanjutkan ucapannya karena Gita lebih dulu memotong.


"Jangan ngaco, aku mau keluar bentar sama Riky, tolong kasih tahu Bang Indra. Dia sedang mandi. Mana kuncinya." Gita menyodorkan tangannya kehadapan Hafidz, tapi pemuda itu tak kunjung memberikan apa yang Gita minta.


"Yaudah kita naik motor aja Ky. Bos kok pelit," ucap Gita sengaja dibuat kesal, karena dengan begitu Hafidz pasti tidak akan tega.


Hafidz menghela nafas, dia melihat penampilan Gita yang hanya mengenakan dress sebatas lutut dan kardigan, tak mungkin membiarkan saudara kembarnya itu naik motor dengan pakaian seperti itu, apalagi ini sudah malam.


Akhirnya Hafidz menyerahkan kunci mobil miliknya, "Kalian hati-hati, jam sepuluh harus sudah sampai apartemen. Apartemenku, bukan apartemen Indra," Hafidz memperjelas ucapannya, sebab dia tahu adiknya itu pasti akan ke unit apartemen Indra lagi. Dan dia tidak akan membiarkan itu terjadi, apalagi ini sudah malam.


"Tenang Bang, kita cuma sebentar," sahut Riky dan mendapat respon anggukan dari Hafidz.


Disinilah keduanya saat ini berada, di sebuah cafe outdoor, dengan suasana masih sedikit ramai meskipun malam makin larut.


"Lo itu masih sama aja ya, suka morotin gue." Celetuk Gita, sebab saat ini pemuda dihadapannya itu sedang menikmati berbagai macam makanan yang dia pesan dengan uang Gita.


"Uang Lo banyak Kak, meskipun gue borong semua isi cafe ini, uang Lo enggak bakalan abis. Cuma segini doang enggak ada apa-apa nya. Katanya kangen," Riky menatap Gita sekilas lalu kembali memakan makanannya.


"Baiklah, mumpung gue lagi baik hati." Gita mengalah, jika hal ini membuat pemuda itu lebih baik, tidak masalah baginya. Yang terpenting Riky tak larut dalam masalah yang ada saat ini.


.


.

__ADS_1


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2