Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Kemarahan Salma


__ADS_3

Mbak Yuni yang biasa bangun di waktu sepertiga malam kini justru terbangun lebih awal. Ternyata waktu belum menunjukkan pukul dua dini hari, dia pun mencari air minum di dapur untuk menyegarkan tenggorokannya. Dirinya mengernyit keheranan saat mendengar suara seperti televisi masih menyala di jam lewat tengah malam seperti ini, tak seperti biasanya. Dia pun bergegas menuju ruang keluarga di mana terdengar suara televisi yang masih menyala.


"Lhoh Mas Indra kok belum tidur?" tanyanya saat mendapati anak majikannya itu duduk di sofa dengan selimut menutup hampir seluruh tubuhnya.


"Eh, iya Mbak. Enggak bisa tidur," jawab Indra, dia terkejut melihat asisten rumah tangganya itu juga belum tidur di jam menjelang pagi.


"Mau sesuatu Mas? Biar saya buatkan," wanita berumur tiga puluh tahun itu berinisiatif menawari Indra cemilan atau makanan apa pun, tapi Indra menolaknya.


"Enggak Mbak terimakasih, Mbak tidur aja," mendengar jawaban Indra Mbak Yuni pun bergegas meninggalkannya menuju kamar.


Di dalam kamar ternyata Bik Astri juga terbangun, mungkin mendengar saat dia bangun tadi.


"Darimana Yun?" tanya Bik Astri dengan wajah yang masih mengantuk.


"Itu, tadi denger ada tivi nyala, ternyata Mas Indra belum tidur," mendengar jawaban Yuni, Bik Astri langsung membuka matanya lebar-lebar, dia pun bangkit dari duduknya. Sedangkan Yuni merasa heran melihat sikap Bik Astri yang tak biasa itu.


"Den Indra pasti lagi sakit Yun, kebiasaan dari kecil kalau sakit pasti begadang. Saya mau buatkan dia jahe anget, kalo diberi obat belum tentu dia mau," Bik Astri seakan mengerti dengan tatapan mata Yuni yang keheranan. Tentu Bik Astri paham betul seperti apa Indra, sebab art yang satu ini sudah lama bekerja di rumah tersebut, bahkan saat masih muda.


Yuni mengangguk, dia baru tahu hal ini. Sebab selama bekerja di rumah ini, baru kali ini Indra sakit. Ya mungkin karena pemuda itu dulu tinggal bersama Oma dan Opa nya di ibu kota.


"Di minum Den, biar anget. Atau mau minum obat juga?" Bik Astri meletakkan nampan berisi segelas besar minuman jahe yang masih mengepulkan asap.


"Eh, Bibik masih inget aja. Aku udah minum obat tadi Bik, terimakasih minumannya pasti aku minum nanti," Bik Astri tersenyum dan dia pun berpamitan.


Pagi hari dua orang yang baru saja menuruni anak tangga di buat terkejut saat melihat Indra tidur di sofa ruang keluarga, terutama sang Papi yang langsung menghampiri putranya itu, menyentuh kening putranya yang sudah dewasa tersebut. Padahal dia merasa baru kemarin anak ini masuk taman kanak-kanak dan selalu ingin berangkat bersamanya, tapi kini dia sudah tumbuh jadi pria dewasa. Dan kebiasaan ini ternyata masih sama seperti saat masih kanak-kanak dahulu.


"Indra, bangun, tidurnya pindah ke kamar." Papi mengguncang tubuh Indra pelan, tapi pemuda itu langsung membuka mata.


"Papi, iya Pi aku ke kamar dulu." Dia pun bangkit tak lupa menarik selimut yang sejak semalam menghangatkannya.

__ADS_1


"Indra kenapa Pi?" tanya Mama.


Papi pun menceritakan kebiasaan putra pertamanya itu pada sang Istri. Dan Mama pun memakluminya, mungkin kebiasaan itu sulit untuk dihilangkan bahkan hingga tumbuh dewasa.


🥀🥀🥀


Plak


Suara telapak tangan bersentuhan dengan kulit wajah menggema di sebuah kamar milik seorang pemuda yang baru saja keluar dari kamar mandi. Bahkan dia belum mengenakan pakaian dengan benar, tapi tamparan itu sudah mendarat mulus di pipinya.


"Aku kecewa sama Abang! Apa maksud semua ini? Katakan Bang? Jangan Abang lebih milih wanita itu dari pada sahabatku sendiri? Tega sekali kamu Bang?" suara itu melengking di telinganya, tapi tak sedikit pun dia bisa membalas atau menajwab pertanyaan bernada tinggi itu.


Ya, mereka berdua Salman dan adiknya Salma. Gadis itu baru mengetahui jika sang Abang sudah mengakhiri hubungannya dengan Gita. Tak sengaja dia melihat kotak bludru berisi cincin pertunangan mereka tergletak di atas meja kerja sang Kakak. Karena penasaran dia pun melihat isinya, betapa terkejutnya saat melihat cincin itu, dia hafal sekali sebab dirinya ikut berperan dalam pemilihan cincin tersebut.


Salman memilih mengenakan pakaiannya terlebih dahulu, tak peduli dengan tatapan mata kelam milik sang adik. Warna mata yang sama seperti milik sang Papa, nyalinya akan menciut saat tatapan itu di dapat dari sang Papa. Tapi berbeda jika Salma yang menatapnya.


"Kami sepakat mengakhiri semua ini," ucapan pertama yang terlontar dari bibirnya.


Salman terdiam, memang semua ini tidak ada kesepakatan sama sekali, tapi sepertinya Gita bisa membaca apa yang akan dia lakukan, hingga menyerahkan kembali cincin tersebut.


"Apa Abang lupa kalau masih punya adik perempuan? Coba Abang bayangin, kalau itu terjadi sama aku? Apa yang akan Abang lakukan? Apa Abang akan membiarkan lelaki itu hidup tenang? Atau akan menghajarnya hingga tak berdaya?" Salma menoleh ke arah sang Abang yang tetap bergeming.


"Kamu jangan bicara seperti itu?" hanya itu yang mampu Salman lontarkan, sebab dia tak akan sanggup melihat adiknya menderita atau menangis sebab cinta. Tapi dia justru melukai hati gadis lain karena cintanya. Sungguh ironi bukan?


"Tapi aku heran kenapa wajah Abang tak memiliki luka sedikit pun, padahal aku tahu Gita di sayangi banyak orang, dan tak mungkin orang itu membiarkan Abang selamat begitu saja, kecuali ada campur tangan dari sahabat terbaik ku itu," Salma ikut sakit membayangkan bagaimana Gita saat ini, pantas saja sahabtnya itu tak bisa dihubungi sejak tiga hari yang lalu. Tapi kenapa abangnya tak bercerita sedikit pun.


"Kenapa Abang menyia-nyiakan gadis sebaik Gita? Demi wanita yang dulu pernah menyakiti mu. Apa Abang yakin dia tidak akan menyakiti lagi?" Salma menatap Salman penuh kekesalan, ingin rasanya melayangkan pukulan diwajah tanpa dosa itu lagi.


"Aku yakin Papa sama Mama akan lebih murka melihat kelakuan Abang!" Salma tak tahan berada di dalam kamar Abangnya, dia tak sanggup membayangkan sahabtnya seterpuruk apa saat ini.

__ADS_1


"Kok nangis, kenapa sayang?" Salma terkejut melihat sang Mama yang baru saja datang dari arah tangga.


Beberapa hari yang lalu kedua orang tuanya berkunjung ke tempat saudara Mama yang sedang melakukan hajatan, dan baru hari ini bisa pulang. Tapi dia tak menyangka jika sepagi ini mereka sudah sampai rumah.


Salma memeluk sang Mama, tangannya makin menjadi saat berada dalam pelukan wanita tercintanya itu.


"Kenapa sayang? Kamu bertengkar sama Fajar?" Salma tentu menggeleng, dia jarang sekali bersitegang dengan kekasihnya hingga menangis seperti saat ini.


"Lalu?" tanya Mama penasaran.


"Abang," lirihnya.


"Kenapa Abang mu? Kalian bertengkar?" lagi-lagi Salma menggeleng.


"Abang tega sama Gita Ma, di tega memutus pertunangan itu hanya demi wanita yang pernah menyakitinya," meski Salma tidak mengetahui persisi seperti apa kejadiannya, tapi dia bisa menebak jika abangnya itu memang lebih memilih wanita itu dibanding Gita.


Mama Hana terkejut mendengar penuturan putirnya, dia pun bergegas ke kamar putranya di susul Salma dan juga sang Papa yang baru saja sampai di lantai dua.


Salman memang tidak mendapatkan sebuah pukulan dari keluarga Gita, tapi dia mendapatkan beberapa kali tamparan di wajahnya dari sang Papa. Bahkan Mama yang tak pernah menyentuhnya dengan kasar itu pun melayangkan pukulan yang sama, membuatnya hanya bisa pasrah sebab sudah memperkirakan hal ini pasti akan terjadi.


"Kamu itu sudah dewasa! Harusnya bikin bangga Papa sama Mama, bukan malah bikin malu!" hardik sang Mama yang sudah terlewat kesal sebab putranya hanya membisu sejak tadi.


"Sudah Ma, ayo kita pergi. Biarkan dia memilih jalannya sendiri. Sudah Mama enggak usah marah-marah lagi, nanti darahnya naik dan Papa enggak mau itu terjadi." Papa meraih pundak sang istri membawa keluar dia wanita yang disayanginya dari kamar Salman.


"Papa akan mengajukan kepindahan kamu dari rumah sakit," ucapan terakhir sebelum mereka bertiga keluar dari kamar pemuda itu.


Salman tak menyangka jika sang Papa akan setega itu, padahal dia sudah nyaman berada di rumah sakit milik keluarganya itu, tapi apa boleh buat jika harus pindah dari sana akibat perbuatan yang membuat malu keluarga.


.

__ADS_1


.


.🥀🥀🥀🥀🥀


__ADS_2