Segenggam Rasa

Segenggam Rasa
Kejutan


__ADS_3

Seorang pemuda baru saja turun dari burung besi yang dia tumpangi dari benua lain, perjalanan cukup memakan waktu belasan jam itu membuatnya sedikit pening, bahkan saat menginjakan kaki di bumi, pijaknya terasa masih bergoyang. Tapi semua itu tak menyurutkan langkahnya, sebab di depan sana seseorang utusan dari sang Papa telah menunggu.


"Maaf nunggu lama ya Pak?" tanya pemuda tersebut saat mendapati seseorang duduk di kursi tunggu, seorang sopir pribadi keluarganya.


"Ah enggak Den, baru sepuluh menit yang lalu. Mari Den, kopernya biar saya saja yang bawa." Pria paruh baya itu meraih sebuah koper dari tangan anak majikannya


"Terimakasih Pak," bukan dirinya sekali seperti yang seperti ini, tapi tentu keadaan membuatnya terpaksa melepaskan koper tersebut. Dan mengikuti langkah pria paruh baya itu.


"Papa tadi bilang apa Pak?" tanyanya saat sudah sampai mobil.


"Cuma bilang suruh jemput Aden dan mengantar sampai rumah," jawabnya.


"Kalau saya minta di antar ke Bandung, Bapak tidak keberatan?" tanya pemuda itu yang tak lain adalah Hafidz.


"Siap Den,"


"Terimakasih Pak," setelah mengucapkan itu Hafidz tertidur di jok belakang, rasa pusing masih terus menyerang kepalanya, entah apa penyebabnya dia pun tak tahu.


Perjalanan itu cukup lama, hingga matahari tenggelam di peraduannya mereka baru sampai di kota tujuan. Sambutan sang Mama yang terkejut mendapati putra yang dia rindukan datang tanpa pemberitahuan membuatnya sangat bahagia dan langsung memeluk putra tercintanya itu.


Makan malam yang baru saja di bereskan dari meja makan, kini dengan terpaksa disajikan kembali. Meski kepalanya masih pusing, Hafidz. tetap makan malam dengan ditemani sang Mama dan juga sopir yang dikirim Papanya.


"Kenapa mau pulang enggak bilang dulu sama Mama?" tanya sang Mama saat mengantar putranya ke kamar milik Gita yang sudah setahun ini tak dihuni, tapi tetap bersih dan wangi, sebab setiap dua hari sekali di bersihkan dan tak lupa mengganti spray meski tak dihuni pemiliknya.


"Kan kejutan Ma," jawab Hafidz yang saat ini sedang tidur berbantal pangkuan sang Mama.


"Ish, di sana Indra hanya berdua sama adik kamu aja kalo gitu? Gimana coba?"


Hafidz mengerjakan matanya berulang kali, dia mencoba memahami ucapan mamanya, hingga keterkejutan menghampirinya.


"Emang Indra ke London? Kapan? Sama siapa? Kenapa Mama enggak bilang?" berbagai macam pertanyaan dia lontarkan dengan tak sabaran.


"Mama juga mau memberi kejutan, eh malah kamu pulang. Mungkin dia juga sudah sampai sana sekarang, sepertinya kalian berpapasan di udara," jawab Mama.


"Tapi Mama yakin Indra enggak akan macam-macam sama adik mu di sana," akhirnya Mama menenangkan dirinya sendiri, dia yakin dan percaya pada pemuda itu.

__ADS_1


Hafidz hanya menghela nafas, untung di apartemennya ada Lucy, jika tidak dia juga pasti akan sangat khawatir dengan adiknya itu, ya meskipun dia juga percaya sama Indra, tapi yang namanya khilaf tidak ada yang tahu. Setan bisa membuat manusia lupa segalanya.


🥀🥀🥀🥀


Dibelahan benua lain, dua orang gadis baru saja pulang dari tempat kerja mereka, tanpa sengaja bertemu dengan seorang pemuda dengan rambut pirang khas negara ini. Pemuda itu tersenyum tulus pada keduanya. Tapi kedipan sebelah matanya dia berikan pada gadis berambut hitam yang terurai indah.


"Kenapa kau tidak membukakan pintu untukku tadi pagi?" tanya pria itu.


"Sudahlah Frans, kamu enggak usah ganggu dia lagi. Kamu itu sudah di black list dari kandidat calon gadis manis ini," Lucy sebenarnya tahu jika pemuda ini hanya bercanda, tapi tentang perasaan dia tentu tidak tahu.


"Sekarang aku menyesal kenapa memilih berprofesi sebagai dokter? Mungkin jika aku bukan dokter dia sudah menerima cinta ku, ya," ucap Frans dengan percaya diri.


"Tetap akan di tolak, mau dikemanakan gadis yang setiap malam datang ke unit mu?" Gita sepetinya berbicara serius berbeda dengan Frans yang bercanda.


"Tentu saja kau akan menjadi bagian dari mereka," jawab Frans enteng.


Duhg


Satu injakan mendarat cantik di atas sepatu mengkilap milik Frans, membuat pemuda itu meringis tapi setelahnya justru tertawa saat melihat si pelaku lari.


"Nanti malam aku akan ke unit mu, kita makan bersama," teriak Frans yang masih di dengar oleh Gita dan Lucy tentunya, sebab gadis itu masih berjalan di samping Frans.


Sedangkan Frans hanya terkekeh, dan berlalu meninggalkan gadis itu.


Malam belum beranjak larut, bisa dibilang masih sore. Dua gadis ini saja masih asik dengan dunia mereka, belum mengganti pakaian atau pun mandi. Tiba-tiba apartemen yang mereka tempati kedatangan tamu, terdengar dari suara bel yang meraung.


"Lucy, aku mau mandi. Kalau dokter genit itu yang datang, enggak usah dibukakan pintu. Aku malas," tanpa ingin mendengar balasan dari Lucy, Gita sudah melesat masuk ke dalam kamar mandi.


Lucy pun bergegas membukakan pintu, sebelumnya dia mengintip siapa yang bertamu di sore seperti ini? Frans? Tapi kenapa secepat ini? Dia terpaku saat mengetahui orang yang tak dikenalnya berdiri di depan pintu tersebut, tapi dia merasa familiar dengan wajah seseorang itu, siapa? Ah sial, dia tak kunjung menemukan jawabannya. Hingga bel kembali berbunyi, membuatnya tersadar dan segera membuka pintu.


Tamu itu juga terkejut saat melihat siapa yang membuka pintu, seseorang yang sama sekali belum pernah dia lihat. Apakah dia salah alamat? Tapi sepertinya tidak, dia sudah berulang kali mengecek alamat yang tertulis dalam memo ponselnya.


"Maaf anda siapa ya?" tanya Lucy, sebab orang itu terus diam dan terlihat sedikit kebingungan.


"Em, mungkin saya salah alamat," orang itu akan berlalu, tapi dengan segera Lucy mencegahnya, sebab dia sudah mengingat siapa orang itu.

__ADS_1


"Mungkin anda tidak salah alamat, karena saya bukan pemilik apartemen ini, saya hanya teman mereka. Katakan siapa yang anda cari?" orang itu tidak langsung menjawab, setelah cukup lama Lucy menunggu, orang tersebut pun menjawab.


Kini orang asing itu sudah duduk di ruang tamu, Lucy sudah menyediakan minuman dan beberapa cemilan, setelah itu berpamitan untuk memanggil pemilik apartemen.


"Siapa yang datang?" tanya Gita saat melihat Lucy masuk ke dalam kamar.


"Sepertinya malam ini aku akan menginap di apartemen kekasihku lagi," Lucy tak menjawab pertanyaan Gita, membuat gadis itu berdecak bukan karena pertanyaannya tidak dijawab melainkan ucapan gadis itu.


"Tenang saja, malam ini kamu tidak akan kesepian. Aku akan memberi kesempatan untuk kalian berdua," Lucy mengerlingkan kedua bola matanya.


"Hey, jangan ngawur kamu! Kamu tega ya, menyuruh masuk dokter ganjen itu, sekarang malah mau ninggalin aku. Enggak boleh, kamu tetap di sini, akan ku usir dia." Gita kesal apalagi saat melihat senyuman di bibir Lucy, dia meninggalkan gadis itu dan menemui tamu yang tak diinginkannya.


Lucy terkekeh saat melihat Gita meninggalkan kamar tersebut dengan hati dongkol.


"Lihat saja, kamu pasti tidak akan percaya siapa yang datang. Dan aku yakin kamu enggak bakalan mengusir tamu itu," ucap Lucy masih dengan tawanya, tapi tentu Gita tidak mendengar.


Gadis itu melangkah dengan tergesa menuju ruang tamu.


"Apa sih ma..." Gita tak melanjutkan ucapannya sebab dia tidak menyangka seseorang yang duduk di sofa ruang tamu bukan dokter ganjen itu, melainkan seseorang yang dia rindukan.


"Abang? Ini beneran? Aku enggak mimpi, kan?" gadis itu menghampiri pemuda itu yang tak lain adalah Indra.


Indra tersenyum lalu mengangguk, dia berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Gita saat gadis itu sudah dihadapannya. Tak ada penolakan sedikit pun dari Gita, gadis itu justru membalas pelukannya.


"Kamu memang tidak sedang bermimpi," ucap Indra, tentu saja Gita mengangguk. Tak mungkin jika itu mimpi tapi akan senyata ini.


"Hemm, Gita aku pulang, ingat pesan kakak mu ya." Lucy melewati dua orang itu yang sedang berpelukan, tapi Gita dengan segera menarik diri dari pelukan Indra, mengejar Lucy yang hampir menghilang di balik pintu.


"Tetaplah di sini Lucy, ku mohon," tapi Lucy menggeleng.


"Aku sudah janji sama kekasihku, maaf aku tidak bisa mengingkari janji itu." Lucy berlari meninggalkan Gita yang masih terpaku di depan pintu.


Apa yang harus dia lakukan? Hanya berdua di dalam apartemen dengan seseorang yang dia sayang. Ini tentu tidak baik untuk semuanya, apalagi jantungnya yang kini seakan ingin melompat dari tempatnya.


.

__ADS_1


.


🥀🥀🥀🥀


__ADS_2