
"Bik, tolong bawain sarapan buat Bang Indra ya, dia sakit." Gita baru saja keluar dari kamar dan mendapati Bik Astri lewat depan kamarnya.
"Eh anu Non, tapi--" Bik Astri tampak ragu saat akan berkata, entah apa yang membuatnya ragu.
"Kenapa Bik?" tanya Gita.
Baru saja Bik Astri akan menjawab, Indra muncul dari kamarnya yang letaknya tepat berada di depan kamar Gita, dengan setelan rapi. Membuat Gita mengernyitkan dahi, tak percaya.
"Ayo turun sama-sama," ajak Indra
"Bang Indra udah sembuh? Bukannya semalam sakit? Atau jangan-jangan Abang cuma pura-pura sakit ya? Tapi enggak mungkin, aku liat sendiri kalo badannya panas, kok sekarang udah sembuh gitu aja?" Gita tak percaya jika pemuda itu sudah sembuh dari demamnya, sebab semalam terlihat lemah, bahkan berbicara pun sangat pelan.
Indra tersenyum mendengar rentetan pertanyaan Gita, lalu mengacak rambut gadis itu. "Kan, semalam udah ada yang merawat dan jagain," jawabnya.
Gita membuang nafas kasar, lalu meninggalkan Indra yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Bukan karena marah Gita berjalan lebih dulu, sebab perlakuan Indra yang semakin lama justru membuatnya semakin dilema. Tidak tahu saja pemuda itu, jika dirinya mati-matian menahan sesak di dada saat mengingat dirinya tertidur di kamar Indra. Dan pagi ini ditambah dengan Indra yang memperlakukannya terlalu manis, membuatnya makin frustasi.
"Kamu marah?" tanya Indra setelah berada di sisi gadis itu. Keduanya kini sedang menuruni anak tangga.
"Enggak, udah sana Bang Indra sarapan, aku mau balik ke kamar, belum lapar." Gita berbalik arah, memutuskan untuk sarapan nanti saja setelah pemuda itu berangkat ke kantor. Dia harus menormalkan detak jantungnya terlebih dahulu.
"Kalau enggak jadi sarapan berarti kamu marah sama Abang," ucapan Indra membuat Gita mematung, setelah itu dia kembali berbalik dan menuruni anak tangga dengan sedikit berlari meninggalkan Indra yang terkekeh dengan kelakuan Gita.
"Ada-ada saja," gumamnya lalu kembali menuruni anak tangga.
Selama sarapan Gita terus menunduk dan tak banyak bicara, dia berbicara saat ditanya saja. Jika tidak, dirinya memilih menikmati sarapan yang rasanya tidak begitu nikmat. Bukan makanannya yang tidak enak, melainkan tatapan Indra yang lebih banyak fokus dengannya. Entah apa yang pemuda itu pikirkan, apa mungkin masih berfikir jika dirinya marah atau ada hal lain, entahlah.
Sedangkan Riky juga memperhatikan dua insan tersebut, tentu saja dengan pemikiran yang berbeda. Dia yakin jika mereka berdua menyimpan sesuatu, tapi tak tahu apa itu.
Setelah semuanya meninggalkan rumah, kini Gita bisa duduk santai di ruang keluarga, sambil meneruskan mengetik skripsi. Sesekali dia membalas pesan dari grup yang isinya hanya dia dan dua sahabatnya.
"Bik, aku boleh tanya sesuatu?" Gita memanggil Bik Astri saat wanita paruh baya melewati ruang keluarga.
Bik Astri mendekat, "Mau tanya apa non?" ucapnya.
"Duduk sini Bik, kita ngobrol-ngobrol, selama beberapa hari di sini kita kan sama sekali belum ngobrol." Gita menepuk sofa kosong di sisinya.
Bik Astri tampak ragu, tapi Gita meyakinkannya dan membuat wanita paruh baya itu menurut.
"Bik Astri kan udah lama ya tinggal di sini, pasti tahu dong kebiasaan orang rumah?" tanya Gita.
Bik Astri mengangguk. "Iya Non," jawabnya.
__ADS_1
"Emm, Bang Indra kalau sakit gimana Bik? Kayaknya tadi Bibi terkejut pas denger bang Indra sakit," ternyata Gita menyadari sikap Bik Astri tadi pagi saat dia menyuruh wanita paruh baya itu mengantar makanan untuk Indra.
"Setau Bibi, Den Indra dari dulu kalau sakit harus ada yang nemenin tidur. Kalau enggak, dia pasti akan begadang nonton tivi sampe pagi Non. Kadang disuruh minum obat juga susah banget, tapi itu dulu sebelum Ibu tiada, kalau sekarang enggak tahu Non, Den Indra kan belum lama pindah ke sini," jelas Bik Astri.
Gita mengangguk, berarti Indra tidak berbohong tadi malam.
"Tadi pagi Bibik terkejut sebenarnya karena permintaan Non Gita, sebab sebelum bertemu Non Gita, Bibik udah lihat Den Indra yang mau keluar kamar, tapi entah ada apa yang tertinggal dia masuk lagi. Makanya Bibik terkejut dengan permintaan Non itu," jelas Bik Astri lagi.
Gita menghela nafas, "Yaudah makasih Bik, aku mau siap-siap ke kampus dulu." Gita beranjak dari duduknya menuju kamar, mengganti pakaian santainya dengan pakaian kuliah.
Saat sampai di garasi, Gita dikejutkan dengan hal yang sama seperti pagi kemarin, yaitu ban mobilnya kempes.
"Kok bisa sih? Nyebelin banget tau gak!" saking kesalnya Gita menendang ban mobil itu berulang kali, lalu menghubungi sahabatnya Salma.
"Kesel banget gue Ma, kaya ada yang sengaja ngempesin ban mobil gue deh. Masak iya dua hari berturut-turut, tapi kalau ada siapa?" Gita tak mau menuduh seseorang tanpa bukti, meskipun dirinya sudah menebak siapa pelaku yang mengempeskan ban mobil miliknya.
"Liat CCTV sabi kali Git, enggak mungkin kan kalau rumah Lo enggak ada CCTV?"
Gita mengangguk, "Nanti gue bakalan periksa CCTV, kalo ketahuan siapa pelakunya beneran bakal gue kasih pelajaran dia," ucap Gita menggebu-gebu.
Hari ini Gita kuliah hingga sore, dia memutuskan untuk menghubungi Riky supaya menjemputnya di kampus. Sengaja ingin lebih dekat dengan Riky, sebab pemuda itu seolah menjauhinya setelah kedua orang tua mereka menikah. Tidak seperti sebelumnya yang selalu mengganggu kehidupan Gita.
"Pulang bareng aja Git, tapi gue mesti jemput Abang di rumah sakit dulu, enggak apa-apa, kan?" Seperti biasa Salma selalu menawari tumpangan, sebab rumah mereka yang memang satu arah, meski lebih jauh rumah Gita.
Gita berfikir sejenak, tidak ada salahnya juga nebeng Salma lagi. Apalagi sekarang sudah sore.
"Baiklah kalo Lo maksa," ucap Gita lalu masuk ke dalam mobil Salma. Kali ini mereka hanya berdua, sebab Alya sudah pulang lebih dulu.
"Lo emang enggak pengen pacaran kaya yang lain gitu Ma? Berangkat di anterin, pulang dijemput sama pacar," tanya Gita sedikit penasaran dengan hubungan Salma dan kekasihnya yang jarang menghabiskan waktu berdua.
"Maunya sih gitu Git, tapi gue sadar diri seperti apa kesibukan Kak Fajar. Gue enggak mau nambahin beban pikirannya, biarkan sekarang fokus dulu dengan profesinya." Salma menoleh sebentar ke arah Gita.
"Gue ngerti banget seperti apa kesibukan dokter muda kaya dia, dulu Bang Salman aja jarang di rumah, sekalinya di rumah pekerjaannya tidur, katanya kalo di rumah sakit enggak bisa tidur. Tapi sekarang setelah dia jadi dokter spesialis, pekerjaannya tidak seperti saat koas dulu, meskipun sampe sekarang masih jomblo." Salma terkekeh diakhir kalimatnya, mengingat Abangnya yang usianya hampir kepala tiga itu masih sendiri bahkan belum ada tanda-tanda sedang menyukai seorang wanita.
Gita ikut terkekeh dan menggelengkan kepala, bisa-bisanya sahabatnya itu malah mengghibah abangnya sendiri.
Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit, keduanya memutuskan untuk turun sebab Salma mengatakan ingin ke toilet sebentar.
"Itu Abang gue, kita samperin." Mereka berdua berjalan ke arah seorang pemuda berperawakan tinggi, dengan kulit putihnya. Tak lupa kacamata yang dia kenakan menambah kesan keren seorang dokter muda.
"Bang titip temen bentar, mau ke toilet dulu." Salma meninggalkan mereka berdua yang belum saling mengenal itu.
__ADS_1
Gita bingung harus berbuat apa, akhirnya memilih untuk diam saja.
"Em, kamu Gita apa Alya?" tiba-tiba Salman bertanya dan membuat Gita sedikit terkejut.
"Aku Gita Kak, kok tahu nama ku sama Alya?"
Salman tersenyum, "Salma selalu menceritakan kalian berdua, mulai dari A Samapi Z semuanya dia ceritakan. Ya, saya sedikit tahu tentang kalian berdua," jawabnya santai, seakan mereka sudah saling mengenal cukup lama.
Keduanya kembali melanjutkan obrolan, hingga tak lama berselang seseorang memanggil nama Gita.
"Gita? Kamu ngapain di sini? Kamu sakit?" tanya orang itu sambil mendekat ke arah Gita.
"Eh, Bang Indra kok di rumah sakit? Apa Abang masih sakit?" Gita tak menjawab dia justru balik bertanya.
"Mau nganter ini." Indra menunjuk tas wanita yang di pegangnya, membuat Gita sedikit terkejut, sekaligus dadanya terasa sesak.
"Kamu sama siapa?" tanya Indra melirik sekilas Salman yang tetap duduk anteng di tempat semula.
"Oh, ini Kakaknya temenku Bang," jawab Gita.
Indra mengangguk, "Mau pulang kan? Tunggu bentar, aku anterin ini dulu ke dalam. Jangan pergi, tunggu di sini," perintah Indra telak, tak ingin ada penolakan.
Tak butuh waktu lama Indra telah kembali, tapi Salma hingga saat ini belum kembali, entah apa yang gadis itu lakukan.
"Ayo kita pulang," ajak Indra.
"Maaf Kak Salman, kita duluan ya. Aku pulang bareng Abangku, tolong kasih tahu Salma," ucap Gita sedikit sungkan, pasalnya Indra terlihat tak bersahabat saat menatap Salman, entah apa yang ada dalam pikiran pemuda itu.
Indra tak banyak bicara, hingga mereka sampai di tempat parkir motor pemuda itu.
"Kita jalan-jalan dulu ya, nanti sekalian cari makan," ucap Indra setelah memberikan helm pada Gita.
"Tapi Bang," Gita mencoba untuk menolaknya.
"Enggak apa-apa, ini sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah merawatku semalam,"
Gita tak bisa menolaknya lagi, apalagi saat melihat tatapan Indra. Seakan tak ingin ada penolakan darinya.
🥀🥀🥀🥀
Jangan lupa, like dan komen ya.
__ADS_1